
tanpa pikir panjang, karena memang ini tuntutan pekerjaan. Dilangkahkan kakinya melangkah kedepan dan menyapa tiga orang yang berada didalam.
‘’Permisi, apakah disini yang meminta saya yang merawatnya ?’’ tanya Alicia wanti-wanti
‘’oh tidak nona. Ini suami saya memang sengaja saya suruh kedalam kasian dia harus menunggu’’ jawab wanita yang sedang dipijit dengan sesama rekan pegawai
‘’oh baik terimakasih’’ jawabnya dan bergegas meninggalkan ruangnya dan bergegas meninggalkan ruang
Kembalilah Alicia ke ruangan sebelumnya, dimana Alicia masih memfacial pelangganya.
‘’bagaimana si kamu, ruang 12 gada yang pesen aku buat pegang hu’’ bisik Alicia
‘’eh aku tadi bilang ruang 12 emang?’’ jawab teman sesama pegawai
‘’iya ih pelupa’’
‘’nomer sebelas Alic, SEBELAS. Kau tuli ya ? atau terlalu senang dipeluk sitampan ’’ tegasnya
‘’his kau ini. Yang salah siapa yang disalahkan siapa. Jelas-jelas kau tadi bilang lantai 12’’ gerutu Alice
Kembali Alice menjuju lantai dua, dimana ruang nomor 11 berada disana.
Sesampainya didepan pintu ruang 11 Alice mengatur nafas dalam-dalam setelah tiga kali bolak-balik mlewati tangga.
‘ceklek’
Setelah pintu terbuka, mata Alice hanya mandapati satu pelanggan yang sedang di pijat oleh Rere sahabatnya.
__ADS_1
‘’permisi, apa disini ada yang meminta saya untuk ……’’ sapanya sopan terpotong
‘’iya akuu’’ jawab lelaki yang berada di bilik ganti
Cih, kaka ternyata benar ingin melakukan perawata juga. Gumam safa
Apa pelangganku ini termasuk lelaki tulang lunak ?. gumam Alice menahan tawa setelah mendengar suara lelaki.
Gorden ruang ganti terbuka, terlihat seseorang lelaki tampan yang dari tadi berdiam diri disana.
‘’wiliam?’’ kaget Alice
*****
Safa mengayuh sepeda kesayanganya, ya memang setiap pagi dihari libur rutinitasnya untuk selalu bersepeda di pagi hari.
Pagi berganti Sore Safa sudah rapi dan berlenggak lenggok didepan cermin dengan pakaiannya yang terlihat modis, dengan menggunakan celana jumpsuit levis pendek tanpa lengan dengan slingbag kecil hitam melingkari tubuhnya.
‘tok..tok…’ suara ketukan pintu dari luar ruangan
‘’ya masuk aja’’ jawab Safa singkat
Pintu terbuka, didapati gadis yang seusinya tak lain adalah Widya sahabatnya.
‘’astaga, Safa ?’’ tanyanya kaget
‘’kenapa kaget Wid?’’ ucap Safa
__ADS_1
‘’kau benar Safa ? atau aku salah masuk kamar ?’’ tanya Widya lagi sembari melangkah mendekati
‘’kau bagaimana ? aku Safa masa kau tak mengenaliku’’
‘’aahh sungguh kau terlihat berbeda sekali Saf’’
‘’bagaimana penampilanku sekarang ?’’ melontarkan pendapat kepada Widya, memutar badan setengah kekiri dan kanan.
‘’perfect’’ jawab Widya sembari menepelkan Ibu jari dan jari telunjuknya sementara tiga jari yang lain dibiarkan berdiri
‘’sini ku poles wajahmu sedikit dengan make up’’ ajak Safa melihat sahabatnya yang berwajah polos tanpa sedikit make up
‘’aah jangan Saf, kau tau aku ini hitam’’
‘’siapa yang bilang kau hitam?’’ tanya safa
‘’kau itu manis sahabatku’’ sambung Safa memuji dan tersenyum kepada Widya, dan Widya membalas senyuman safa dengan senyuman
‘’kau cat rambutmu ?’’ tanyanya Widya, merasa berbeda dengan rambut Safa yang sekarang terurai yang sengaja dibuat keriting gantung dan bewarna perpaduan hitam dan abu-abu.
‘’iya Widya, kau ingin? Biar aku traktir sahabatku ini’’
‘’ah tak usah, traktir makanan saja. Heheh’’
‘’Ayo berangkat’’ Ucap mereka bebarengan
‘’Mbok aku pergi dulu’’ teriaknya pada simbok yang berada di dapur
__ADS_1