
Sementara wiliam dan keysi sedang asyik di mall menonton film yang sedang ramai didunia perfilm-an. Samapi film selesai, mereka tetap bergandeng tangan membuat iri yang melihatnya.
‘’wili, kita mampir kebutik itu yuk’’ ajak keysi tanpa jawaban menarik tangan wiliam yang menggenggamnya
Keysi terus memilih baju-baju yang menurutnya ia suka, sekitar 4 gantungan yang berisi diantaranya dress coklat tanpa lengan selutut , rok jeans diatas lutus, baju Sabrina kuning, kemeja hitam lengan panjang berkerut.
‘’totalnya 2.800.000 nona’’ ucap kasir di butik itu
‘’ini mba kartunya’’ wiliam lebih mendahului menyodorkan kartu di atas meja kasir, sementara keysi kalah cepat menyodorkan kartu miliknya.
‘’tidak usah wili’’ ucap keysi lembut
‘’aku memaksa, sudah letakan kembali kartumu key’’ jawab wiliam tak kalah lembut
‘’makasih wili’’ jawab keysi dengan bibir tak hentinya tersenyum
‘’ayok makan key’’ ajak wiliam
‘’di cafe lantai bawa saja yah, itu enak loh. Tempat langgananku dan temanku nongkrong’’ keysi menyarankan dan setujui oleh wiliam.
Kemudian keduanya berjalan dengan tetap melengketkan geganggam tangan keysi.
Sementara di restoran Dio dan safa sudah mendapatkan menu yang mereka sebelumnya pesan. Dio tak hentinya memandangi wajah safa yang sedang asyik melahap mie ramen pedas dihadapanya.
Kenapa anak ini manis sekali jika makan. Gumam Dio dalam hati
Safa yang sedari tadi mersa diperhatikan oleh dio merasa canggung dan memberhentikan makanya
__ADS_1
‘’yo, kok ga makan?’’ tanya safa malu-malu
‘’eh iya abis kamu makanya lucu. Baru kali ini ada gadis yang tak malu-malu dihadapanku’’ jawaban Dio spontan membuat safa merasa malu
‘’eehh maksudnya tuh kan selama ini gadis dihadapanku itu suka malu-malu’’ sambungnay dio tetap membuat safa bertambah malu, padahal maksud Dio gadis yang berkencan dengan Dia selalu menampilkan sifat Jaim termasuk Keysi saat pertama kali kenal.
‘’ohiya kamu kelas XI apa?’’ tanya dio, untuk mencairkan suasana kembali
‘’XI A’’ jawab safa singkat dan melanjutkan ritual makanya kembali
‘’oh sekelas sama keysi dong?’’
Mendengar kata keysi membuat safa kaget hingga tersedak, sontak membuat Dio khawatir dengan safa yang tersedak makanan. Menyodorkan minuman jus stawberry berada dihadapan safa.
‘’kamu gapapa?’’ tanya Dio setelah menurutnya safa sudah tidak tersedak
‘’aku kepedasan tadi’’ jawabn safa selesai menyedot jus stawberry yang disisakan setengah gelas.
‘’Jadi benar kamu sekelas dengan keysi?’’ ulang dio
Safa hanya menganggukan kepalanya.
‘’sudah dua minggu ini keysi berubah, sudah tidak mau berkencan denganku. Aku tak tau mengapa dia gitu, aku ngerasa kaya ga pernah ngebuat salah deh sama dia’’ jelas dio
‘’terus?’’ tanya safa penasara
Aduh **** banget si kamu dio. Kamu ga kenal banget siapa dia dio arghh kenapa bisa curhat sama dia si. Gumam dio dalam hati
__ADS_1
‘’enggak terus terus si, Cuma sedikit curhat’’ jawab dio tenang dan menyantap spageti dihadapanya yang sedikit dingin
Siang berganti malam, safa sudah mengenakan baju piyama dan sedang duduk di kursi taman halaman depan rumah sendirian, dengan tangan tak hentinya mengambil snack diatas meja kemudian memberi makanan kepada mulut dan mulut yang tak hentinya mengunyah.
Dengan laptop yang sengaja diletakan diatas meja dihadapanya sedang memutar film drama kesukaanya.
‘’gimana tadi di klinik” tanya wiliam sudah duduk disamping safa yang baru saja datang menhgampiri safa
Safa melirik wiliam sekilas, tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
‘’kamu marah ya dek?’’
Safa tetap diam dan memandangi layar laptopnya
‘’kaka lagi PDKT tau sama cewe, cantik orangnya’’
Safa tetap diam berubah menjadi masam
‘’kaka minta maaf ya adeku yang cantik ini’’ ujar wiliam memelas
Safa masih terdiam
‘’yaudah kalo gamau maafin kakak, kaka bakal ngadu..’’ ucap wiliam tegas
‘’iya iya, aku ngantuk mau kekamar’’ jawab safa singkat dan spontan ‘’beraninya ngancem’’ sambung safa lirih dan beranjak dari tempat duduknya dan membawa laptop.
Keesokanya safa sudah siap dengan sepedanya, dengan kaos warna abu-abu yang menempel dan celana trening ketat bewarna hitam.
__ADS_1
Dengan semnagat safa terus mengayuh sepeda biru miliknya, sampai ketempat tujuan, Taman Bundar milik kota yang bearada tidak jauh dari rumahnya. Taman cukup lenggang hanya beberapa saja yang berada ditaman ini, karena memang hari ini bukan hari libur hanya hari libur untuk anak-anak sekolah.
‘’hay’’ sapa seseorang