Penantian Safara

Penantian Safara
ruang 12


__ADS_3

‘’Kakak ngapain kesini?’’ safa memberikat pertanyaan kepada Wiliam karena merasa kaget Wiliam berada didalam ruang perawatan.


‘’kakak juga ingin memanjakan wajah kaka’’ jawab Wiliam menghampiri Safa


‘’ah pantas saja mereka menyuruhku pindah. Ternyata ulah kaka’’ ucap safa yang masih tengkurap dan bagian belakang yang terbuka


‘’bukanya enak ? serasa milik pribadi bukan?’’ Wiliam sembari menelentangkan tanganya dan memutar mutar tubuhnya ‘’ternyata seperti ini ruangan perawatan wanita’’ sambung wiliam sembari melihat-lihat sekeliling


‘’huh dasar kaka kampungan’’ ucap lirih safa


‘’bagaimana buat salah satu ruang perawatan seperti ini dirumah saf ?’’ sembari duduk di ranjang sebelah ranjang safa


ucapan wiliam menganggetkan safa


‘’apa? Kaka gausa becanda deh’’ melotot kearah wiliam


‘’kan enak saf, kaka gausah nunggu kamu berjam-jam seperti ini bukan?’’ tanya wiliam lagi


Enak sekali menjadi orang kaya apasaja bisa terlaksanakan bukan mimpi belaka. Hiks hiks, aku ingin. Gumam satu pegawai yang sedang memijit safa


‘’bisakan nona jika perawatan dipanggil kerumah?’’ lontaran pertanyaan wiliam kepada pegawai wanita yang memijit safa


‘’jangan, jangan panggil aku nona tuan .saya tidak pantas mendapatkan panggilan itu dari anda tuan’’ jawan pegawai itu

__ADS_1


‘’salahnya apa nona ? kan anda masih single bukan? apa kah sudah menjadi nyonya?’’tanya wiliam lagi


‘’tidak pantas jika tuan memanggil saya nona, saya hanya gadis biasa’’ jawab peagawai itu lagi


‘’aku tidak masalah akan panggilan tentang nona nyonya atau tuan. Baiklah jika kau tidak ingin kupanggil nona maka nama mu siapa ? bukankah menyebut nama juga sopan dari pada nona ?’’ ucap wiliam lagi


Apakah ini modus kaka ? pandai sekali ternyata kaka memodusi para wanita. Gumam safa dalam hati


‘’na nama saya Rere tuan’’ jawab pegawaui itu yang sudah diketahui namanya


‘’okeh Rere, apakah bisa jika perawatan dipindah kerumah ?’’ tanya wiliam lagi


‘’bisa tuan, jika peralatan lengkap maka semua perawatan disini bisa dipindah kerumah. Jika tidak ada peratalatan lengkapnya, maka hanya bisa pijat dan meni pedi’’ jelas Rere


‘’itu bagian dari perawatan kuku tangan dan kaki tuan’’ jelas Rere lagi


‘’wanita wanita terlalu ribet ternyata, kuku-kuku saja ada perawatanya’’ ucap wiliam dengan diri sendiri


‘’kaka memang sangat cerewet ya’’ teriak safa kepada Wiliam


‘’apasalahnya ? kaka juga akan memiliki istri wanita bukan ? jika kaka mengetahui semua masalah wanita. Maka kaka juga akan tahu dan memenuhi kebutuhan istri kaka kelak’’ jawab wiliam memandang safa


enak sekali wanita yang akan menikah denganmu kelak tuan. Aku juga ingin menjadi istrimu tuan . hiks hiks. Gumam Rere dalam hati

__ADS_1


Diruang ruang tempat facial lain, Alicia yang sedang melaksanakan pekerjaan membersihkan wajah wanita yang sedang terbaring cantik dihadapanya.


‘’Alis, kamu masuk ke nomor 12 yah, disana ada pasien yang menginkan kamu memegangnya’’


‘’baik, tapi setelah aku menyelesaikan pasienku ini’’


‘’tidak, itu biar aku ambil alih. Sekarang kamu ke ruang atas keruang 12 disana sudah menunggumu’’


Siapa yang menginginkan aku untuk memegangnya ya ? baru 2 bulan aku bekerja sudah ada yang percaya denganku. Ah senangnya. Gumam Alicia dalam hati


‘’baik, saya akan keluar menuju ke ruang 12, permisi’’


Alicia keluar dari ruangan sebelumnya, dan melangkah menuju ruang 12 yang tepatnya berada dilantai dua.


‘tak..tak…tak..’


Suara sepatu pantofel hitam milik Alicia menggema menaiki tangga persatu, tanga khusus untuk karyawan. Sedangkan untuk pengunjung menggunakan lift sungguh tidak adil.


Sampailah didepan pintu ruang 12. Segeralah Alicia membuka pintu, pikirnya agar seorang yang menginginkanya tidak menunggu terlalu lama.


‘klek’ pintu terbuka


Alangkah terkejutnya Alicia melihat seorang lelaki berada didalam ruangan perawatan, dan satu gadis yang sedang dipijit oleh sesama pegawai.

__ADS_1


Siapa dia ? mengapa menginginkanku ? aku belum pernah memegang pasien lelaki.


__ADS_2