
Kedua pasangan muda -mudi itu sampai di kampung halamannya tepat adzan Maghrib. Mereka menginap di rumah salah seorang tetangganya, mengingat rumah neneknya sudah lama tidak berpenghuni. Mereka merasa tidak bisa beristirahat di sana.
Mereka membawa oleh-oleh untuk para tetangga yang dimakan bersama-sama seperti kenduri. Mereka sangat bahagia, bersama para tetangga.
"Paman-paman, bibi-bibi, insyaallah kami akan menikah. Kami mohon doa restu dari kalian. sebagai saudara jauh kami." Fahri mulai menyampaikan tujuan pulang kali ini.
Berbeda dengan Kiki, Fahri beberapa kali pulang kampung untuk mengunjungi makam neneknya. Dengan menyimpan sedikit harapan seandainya Kiki pun pulang mengunjungi makam orang tuanya.
"Setelah menikah kalian tinggal di sini?" tanya salah satu warga.
"insyaallah kami tinggal di kota pak, karena pekerjaan saya tidak memungkin saya pindah."
"Dulu ibumu juga tidak bisa tinggal di sini karena pekerjaan. Sekarang kamu juga tidak bisa tinggal di sini karena pekerjaan. terus rumah nenekmu bagaimana? Apa dibiarkan begitu saja? Kakekmu membangunnya dengan susah payah, sembilan kali panen baru bisa mendirikan rumah. Tapi sekarang malah diabaikan begitu saja." pak Wirya menjelaskan keprihatinannya atas rumah tersebut.
"Saya sudah memikirkannya pak, saya akan menyewakan rumah itu. Agar tetap terawat, karena saya yakin suatu saat saya akan membutuhkannya.
Saya mohon bantu saya untuk mengurus rumah nenek pak Wira! saya akan membagi dua hasil sewanya. Kalau pun pak Wira tidak keberatan. Sama seperti sawah dan ladang saya yang pak Wira jaga, kita akan membagi dua hasilnya. Bagaimana?" Percakapan itu dilakukan Fahri setelah menjauh dari para tamu yang mengunjungi Fahri.
Sejak kepulangan Fahri yang ke dua, sawah ladangnya disewakan oleh pak wira, dari sanalah Fahri punya modal lebih untuk membuka usaha di kota.
Kiki mengobrol dengan teman-temannya yang dulu satu sekolah. Mereka membicarakan hal-hal tentang kota. Kiki menceritakan sedikit tentang kehidupan di kota.
"mas Sam juga jadi dokter di Jakarta kamu g pernah ketemu Ki?" salah seorang teman menyela.
"Ohhh yaaa? Jakarta mana? Jakarta itu luas. Apalagi selama di sana aku g pernah masuk rumah sakit "Nauzubillah" aku gak ketemu mas Sam."
" Sekarang ganteng lhooo si Sam, putih lagi beda jauh sama dulu saat di sini." seseorang menyela lagi.
"Tau dari mana" ada yang nyeletuk.
"Lebaran kemarin dia pulang bawa cewek cantik, kayaknya calon deh" ada lagi suara.
"Uuuuhh...... benar-benar deh si Sam. Dulu gelap gulita sekarang terang benderang. Aku kaget saat dia nyapa aku di warung mbok mi. Sepertinya itu cewek dokter juga." Nah pada ngerumpi.
Segala cerita dan bahan ghibah sudah lolos semua dari mulut para wanita pengumbar berita. Hingga malam makin larut mereka membubarkan diri dan beristirahat.
Â
Pagi ceria di desa, Fahri dan Kiki menyusuri pematang sawah yang dulu mereka lewati setiap pergi dan pulang sekolah. Jalanan yang dulu berlumpur dan menyulitkan perjalanan, kini telah berubah menjadi jalan paving yang nyaman.
Dulu, untuk melewati jalanan tersebut mereka harus melepas sepatu jika musim hujan. Mereka sangat ingat Kiki tidak akan maju selangkahpun bila melihat jalanan becek dan berlumpur. Sehingga Fahri selalu menggendongnya bila musim hujan.
Kiki melompat ke punggung Fahri, Fahri tersenyum melihat tingkah laku gadis dewasanya.
Fahri melangkah perlahan sambil menyanyikan lagu-lagu langgam Jawa sesekali di Sahuti oleh Kiki.
Sripat sripit,lambehane mrak kesimpir
Gandhes luwes, wiragane anglamlami..
Sedhet singset, besus angadi busono
Dhasar ayu, taksih kenyo tan kuciwo
Dak caketi, aduh mesem sepet madu
Ora sronto, ndak gandheng malah gumuyu
Katon bungah,kenyo kang pindho hapsari
Kuciwane, kabeh mau amung ngimpi
__ADS_1
Sedhet singset, besus angadi busono
Dhasar ayu, taksih kenyo tan kuciwo
Dak caketi, aduh mesem sepet madu
Ora sronto, ndak gandheng malah gumuyu
Katon bungah,kenyo kang pindho hapsari
Kuciwane, kabeh mau amung ngimpi
Mereka berdua tertawa mengingat lagu tersebut. Lagu yang sering dinyanyikan Samudera setiap melewati jalan tersebut sambil memutar-mutar sehelai padi yang di ambil di sepanjang jalanan. Sungguh lagu yang tidak sesuai dengan umurnya.
Sam hafal lagu itu karena pamannya seorang dalang dan beliau biasa menyanyikan langgam Jawa di waktu luang.
Setelah sore, pasangan dari kota itu berziarah ke makam. Baru masuk pintu makam, Kiki sudah meneteskan air matanya.
Fahri yang menyadari itu langsung memeluk dan memapahnya.
"pak,Mak...... maafkan anakmu yang tak tau sopan santun ini. Aku baru kemari setelah bertahun-tahun. Mohon doa restu, kami akan segera menikah." Tak bisa berkata-kata lagi, Fahri langsung memimpin doa. Memohonkan ampunan atas kesalahan dan dosa-dosa para pendahulunya. Diikuti serangkaian doa dan dzikir.
Malam kedua di desa.....
Suasana hangat masih menyelimuti mereka, para tetangga mulai hadir satu persatu. Suasana riuh, gelak tawa kian pecah ketika salah seorang warga mengeluarkan gurauan-gurauannya. Tiba-tiba ponsel Fahri berbunyi. "Angkat bang ....
angkat bang...angkat bang...."nada deringnya sangat mengejutkan. Tanpa sepengetahuan Fahri , Bayu menyetel khusus nada deringnya. Fahri menjauh menerima panggilan tersebut.
📱 Bayu
Lu di mana sih, gue kelaparan niii.(ucap Bayu tanpa rasa berdosa)
📱 Fahri
📱 Bayu
What!!! kau pergi tanpa pamit?
oh .... serius kau benar-benar meninggalkanku. Aku bersumpah akan menculik wanitamu membuangnya ke dasar laut China Selatan.
📱 Fahri
Coba saja kalau kau ingin mati muda.( Fahri mengancam)
📱 Bayu
Waaaoooww!!! jadi ini benar kau? aku tidak salah dengar Khan? abangku yang tercinta sedang mengeluarkan ancaman. Wanita itu benar-benar harus aku singkirkan.
📱 Fahri
Katakan!
📱 Bayu
Aku rindu masakanmu
📱 Fahri
Hanya itu?
📱Bayu
__ADS_1
Aku sedang galau.
📱 Fahri
Kenapa?
📱 Bayu
Kenapa? tidak ada alasan. aku hanya butuh kamu.
Fahri
katakan!
Bayu
Aku akan pergi ke Singapura. Papa mau aku belajar lebih banyak dari pamanku.
📱 Fahri
Hah!
📱Bayu
Hah apa? apa sekarang kau mulai takut jauh dariku?
📱 Fahri
Aku akan segera menikah. Apa kau tidak akan menghadirinya?
📱 Bayu
Ooohhh lihatlah! betapa menyedihkannya aku. Bahkan berita sebesar itu aku tidak tahu.
📱 Fahri
Besar apa? kami akan melangsungkan acaranya dengan sederhana. Kau tahu kan mamaku sedang sakit?
📱Bayu
Aku membencimu!
Bayu memutusnya sepihak.
💌 Fahri
Aku akan masak makanan kesukaanmu sepulang dari kampung.
💌Bayu
Gak peduli
Fahri tersenyum melihat balasan dari Bayu.
"kekanakan" batin Fahri
Keesokan paginya, mereka berdua berpamitan dengan para tetangga. Mereka akan kembali ke kota, Kali ini Kiki meminta untuk naik bus. Fahri menurutinya karena Fahri juga nyaman-nyaman saja menggunakan angkutan umum. Fahri memilih bus patas agar tidak terlalu lama diperjalanan.
Kiki menghabiskan waktunya dengan tidur pulas di sepanjang perjalanan karena kurang istirahat saat di kampung halamannya.
TBC
__ADS_1