Pencarianku

Pencarianku
"Aku butuh kalian disampingku"


__ADS_3

"sebenarnya, aku sudah merasa puas dengan adanya kalian di sisiku. Kepergianku, tidakkah membuat kalian merasakan sedikit kekosongan di ruang hati yang paling dalam? Mengapa hanya aku yang merasa demikian. Sebenarnya kalian bekerja keras untuk siap? Saat aku meminta sebuah rumah kecil sebagai hadiah ulang tahunku, apakah kalian tidak merasa kalo itu berlebihan? Mengapa tanpa berat hati menuruti kemauanku? tidakkah kalian berfikir dengan sedikit jauh dariku kalian akan merindukanku? mengapa tidak menjengukku ketika aku tidak berkunjung kemari? Adakah sedikit kekawatiran di hati kalian? hehe..... bahkan dua kali aku hampir kehilangan nyawaku, kalian tidak tau." sambil berjalan menyusuri seluruh ruangan di rumah orang tuanya, Bayu melantunkan melodi kepedihan dalam hatinya. Hingga ia berhenti di depan frame besar di ruang keluarga.


"Ma, pa, mengapa aku tidak punya saudara? mengapa kalian tidak menambah momongan saat aku balita? Lihatlah ma, pa, aku sendirian. Aku tidak bisa menghabiskan uang jajan yang kalian berikan. Lalu untuk apa kalian bekerja siang malam, kalau semua itu hanya membuatku kesepian. Aku juga butuh kalian di sini, aku ingin bercerita tentang prestasiku. Aku ingin bertanya tentang wanita yang baik itu bagaimana? apa yang bisa dilihat pertama kali dari seorang wanita yang baik? hhhhaahhhh!!!!" seketika nafas beratnya ia hembuskan. Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya. Karena tidak bisa memejamkan mata, Bayu menghubungi Fahri. Namun di seberang sana, sang Abang kebanggaannya sedang melakukan panggilan pada orang lain.


"kosong adalah isi, isi adalah kosong" Bayu mengutip perkataan pendeta disebuah film kolosal.


Bayu merebahkan tubuhnya dengan kasar. Matanya berkedip-kedip tanpa ada pergerakan. Hingga nafas halusnya terdengar, menandakan ia telah terlelap.


Β 


Pagi telah tiba, Bayu membersihkan diri. Dengan gontai ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Setelah bersiap-siap, ia turun menuju dapur. Tapi seorang asisten rumah tangga menghampirinya.


"Sarapan sudah siap Tuan!!!"


"hhhuuhhhhh" kembali nafas itu dikeluarkan. Dia lupa kalau sedang berada di rumah orang tuanya. Setelah sarapan Bayu langsung berangkat bekerja meninggalkan kediaman orang tuanya.


Sesampainya di tempat kerja, Bayu melihat sekilas Fahri sedang menghentikan motornya. "Haiiiihhh,,,,, gue benar-benar sendiri sekarang." Tanpa menyapa dia melewatinya. Bayu memperhatikan dua insan yang sedang dilanda asmara berbincang di tempat parkir.


Ketika Fahri sadar bahwa ada yang memperhatikan dirinya Fahri segera memutus percakapannya. "Yi.....nanti aku jemput, aku ingin menunjukkan sesuatu." Kiki mengangguk dan Fahri menyuruhnya masuk.


Bayu menghampiri Fahri setelah Kiki meninggalkannya. "Gue benar-benar telah dicampakkan" Ekspresi Bayu dibuat seolah-olah sedang merajuk. Fahri hanya tersenyum


"Aku ada urusan, aku akan mampir bila ada waktu" Fahri menyalahkan motornya dan meninggalkan area tersebut.


"Ooooh Tuhanku,,, limpahkanlah keberkahan untuk saudaraku. Berikanlah segala yang terbaik untuknya." Do'a Bayu dalam hati.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Fahri mengeluarkan batik-batik dalam begasi mobilnya. Dengan bantuan seorang pegawai, dia mendisplay dan menyusun batik - batik tersebut sesuai harga dan jenisnya. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Fahri menerima telepon dari Kiki dan beranjak menjemnya dari tempat kerja.


Dan kemudian mengajaknya ke sebuah ruko di area pasar di Jakarta.


"kita mau ngapain ini?" tanya Kiki binggung.

__ADS_1


"Masuk dulu yuk!


mereka masuk kemudian Fahri menyuruh Kiki mengganti baju kerjanya dengan daster batik pilihannya.


"Wooooow!!! sudah cocok menjadi ibu." Fahri berteriak hingga pegawainya menoleh saat sedang melayani customer. Kiki begitu malu dilihat beberapa orang yang ada disana. Spontan Kiki kembali ke ruang ganti. Fahri yang sangat canggung dengan suasana tersebut, mengetuk pintu dan memberikan dress batik kepada Kiki yang tangannya terulur keluar.


Fahri melihat keatas dan kebawah bergantian. Setelah Kiki keluar dari kamar ganti. Kemudian Fahri mengajaknya naik kelantai atas.


Dalam ruangan yang penuh dengan barang-barang dagangan, Fahri mempersilahkan Kiki duduk di lantai yang beralaskan karpet. Tempat itu digunakan bersantai ketika jam istirahat.


"Yi.... menikahlah denganku!" Fahri tanpa ragu melamar Kiki di tempat yang sepi tersebut.


Sejenak Kiki berfikir dalam diam.


"Deg.... benarkah?" Tiba-tiba bibir Kiki keluh. Fahri mengangguk kemudian Kiki menghamburkan dirinya ke pelukan Fahri.


"Aku masih tidak percaya"


(Dih g romantis banget yaaa


nembak kok di gudang πŸ˜‚)


"Setelah habis kontrak kerjamu, maka keluarlah dari sana. Aku menyiapkan tempat ini untukmu."


"Benarkah?" Sambil terisak, Kiki memeluk Fahri lagi.


"Kita akan menjalani kehidupan ini sesuai dengan yang kau inginkan. Tapi orang tuaku sedang berada di luar negeri. Sedangkan aku tidak ingin menunda rencana pernikahan kita. Maka, kita akan melaksanakan sederhana saja. Aku janji setelah mereka kembali aku akan mengadakan resepsi yg sederhana juga hehehe....."


"Apa tidak menunggu mereka saja? sepertinya kurang baik kalau tidak dihadiri keluarga. Apalagi aku sudah tidak ada yang mendampingi." kiki berpendapat.


"Sayaaang, apa kau tidak tahu seberapa berat aku menahannya? Aku takut khilaf, takut tidak sanggup menahannya hehehehe..." gurau Fahri.


Setelah percakapan yang begitu panjang, Fahri mengajak Kiki makan di kedai area pasar. Banyak ibu-ibu sesama pedagang yang merasa patah hati ketika melihat Fahri berjalan melewati mereka.

__ADS_1


"Mas Fahri,,,, potek hati mamak. mau dijodohin sama putri mamak kok yah sudah ada gandengan aja." celetuk salah seorang ibu-ibu. Sedangkan Fahri tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Fahri memang akrab dengan beberapa pedagang di pasar tersebut. Biar bagaimanapun persaingan di pasar sangatlah ketat. Jadi, untuk menghindar dari praktek curang apalagi sampai menggunakan cara hitam, Fahri berusaha bersikap baik dan terbuka kepada para pedagang di sana.


Melihat keakraban Fahri diantara para pedagang, Kiki tersenyum. Inilah sosok Fahri yang sebenarnya. Yang selalu hangat kepada semua orang. Bukan sosok yang dingin dan cuek seperti beberapa saat yang lalu.


Kiki merasa sangat bahagia,


kini dirinya tidak akan sendiri lagi. Kiki juga memperkenalkan dirinya kepada semua yang ada di sana. Hanya dalam hitungan detik saja mereka sudah akrab.


Kiki membeli beberapa keperluan dapur, hari ini Fahri mengajaknya makan malam di sebuah resto. karena dia ingin merasakan masakan Fahri lagi, dia meminta agar Fahri memasak untuknya.


Kiki sangat takjub melihat rumah Fahri. Dia tidak menyangka kalau pak Sahril sekaya itu. Dia kira selama ini pak Sahril cuma seorang supir.


"Hebat juga yaaa paman!!! pantas saja bibi tidak betah hidup di kampung. Ternyata di kota rumahnya sangat mewah."


Gumam Kiki yang masih bisa didengar oleh Fahri.


"Rumah mama, bukan rumah ayah." jelas Fahri.


"Iya rumah bibi!"


"Bukan bibi yang kau pikirkan, tapi mamaku bukan ibuku." Fahri memperjelas pernyataannya. Kiki semakin bingung dengan maksud Fahri.


"Huuufft,,,, ayahku menikahi majikannya. Ini adalah rumahnya. Saat ini mama sedang dirawat di Singapura karena kecelakaan yang dialaminya. Sudah tiga tahun mereka di sana. Kakak ku juga di sana mengurus perusahaannya. kemarin dia pulang untuk menjengukku, itulah sebabnya aku sampai lupa untuk menghubungi dirimu.


Ditambah sahabat manjaku yang ngrusuh di sini hingga membuatku pusing."


"Lalu bibi?" dengan mulut tercekat Kiki bertanya dengan hati-hati takut menyakiti Fahri.


"Belum ketemu. Yah sudahlah ikuti takdir aja." sambil berlalu menyiapkan sayuran yang akan di masaknya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2