
"Sayang, aku tidak pernah mengingkari janjiku. aku menjemputmu, hanya saja aku terlambat." Jawabannya lirih.
Kala itu Fahri memang datang menjemput kiki. Sesuai janjinya, Fahri akan menjemput kiki ketika lulus SMA dan mencarikan pekerjaan di kota untuknya. Tapi karena Fahri sedang sibuk dengan distro dan mulai mempunyai beberapa counter HP, dia sengaja menunda seminggu dari jadwal keberangkatannya. Fahri menyelesaikan pembukaan counter barunya, di Jakarta terlebih dahulu.
Sesampainya di halaman rumah neneknya, Fahri dikejutkan dengan pemandangan sebelah rumahnya. Rumah pak parno habis terbakar. Fahri bertanya kepada tetangga terdekatnya, mengapa rumah itu bisa habis terbakar. Penyebabnya sepele, karena keluarga pak parno menggunakan obat nyamuk bakar dan tidak sengaja membakar selimut yang dipakainya.
Pak parno dan istrinya meninggal karena kebakaran itu. Sedangkan Kiki selamat, tapi ia menderita luka bakar di kaki dan punggungnya.
Akibat dari kejadian itu, Kiki dirawat tantenya yang telah lama menetap di Bandung. Sedangkan alamatnya, tak satupun tetangga yang tau.
Dulu, ketika ada waktu luang Fahri sering berlibur ke Bandung. Berharap tiba-tiba bertemu dengan Kiki. Namun, sejak kecelakaan yang menimpa mamanya tiga tahun yang lalu, dia sudah tidak pernah menginjakkan kaki di Bandung. Karena ia telah pasrah akan gadisnya itu.
"Mengapa tantemu memaksa untuk melihat adegan romantis mereka?" suaranya tercekat.
"Aku tidak tau. Yang sering aku dengar, mereka akan menyiapkanku untuk mendapatkan uang yang banyak. Mereka akan memberikanku kepada teman omku, tapi sebelum itu aku harus mahir agar tidak mengecewakan." Sambil sesenggukan Kiki menjelaskan semuanya kepada Fahri.
Sementara Fahri sudah mengerti arah pembicaraan itu, tapi tetap diam dan mengumpat dalam hati. Merasa bersalah? ya! sangat merasa bersalah. Bagaimanapun Kiki adalah gadis yang selalu menemani hari-harinya di kampung. Dan dari keluarga pak parno juga Fahri mendapatkan kasih sayang orang tua yang hilang darinya. Apakah Fahri mengganggap Kiki sebagai adiknya? entahlah, mungkin kemarin-kemarin iya. Tapi, ciuman Kiki barusan menyadarkan dirinya bahwa dia menganggapnya lebih dari itu.
Bayu masih menyimak obrolan mereka. "Aku telah menghabiskan uang mereka untuk biaya perawatanku. Maka dari itu, aku harus membayarnya. Setiap hari mereka melakukan asyik maksyuk dihapanku. Membuat aku mual dan muak. Sampai suatu saat mereka lengah dan aku lari." Menyeka air matanya. "Aku ke jakarta mencarimu. Tapi apa, setelah dua tahun aku disini dan menemukanmu aku hanya melihatmu diam." Kiki kembali histeris dan refleks menggigit lengan Fahri. Tempat yang sama dengan bekas luka yang sering dia pandangi.
Fahri hanya diam, tidak mampu berkata apapun. Dia tidak menyangka gadisnya mempunyai kisah yang begitu menyedihkan. Fahri hanya mampu memeluk dan membelai rambut gadisnya. Tanpa merasakan gigitan sang gadis dilengannya. Karena dia juga merindukan hal konyol itu, setiap kali Kiki marah dia selalu menggigit lengan Fahri hingga membekas.
Setelah merubah posisi duduk, Fahri menyadari ada yang diam-diam menyimak dari lantai atas. Dengan segala kecanggungan, Fahri berusaha melepaskan pelukan Kiki. Bayu yang mengetahui hal itu, melangkah turun kelantai bawah. Sedangkan Kiki tersentak kaget melihat bos yang selalu menggodanya berada didalam rumah itu.
"Bang, aku lapar!" Bayu melangkah setenang mungkin untuk menghilangkan rasa canggung diantara mereka. Fahri mengangguk dan langsung menuju ke dapur melanjutkan aksi memasaknya. Kiki hanya diam walaupun bosnya mengajak ngobrol dengan santai. Padahal didalam hatinya berkecamuk. Sementara Kiki hanya mengangguk dan menggeleng saat diajak bicara.
untuk menghilangkan rasa canggung yang amat sangat, Bayu menyalakan televisi dengan memilih acara talk show, karena dia juga tidak tau harus melihat apa.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, Fahri mengajak Kiki dan Bayu makan. Karena ritual masaknya sudah selesai dan sudah terhidang di meja makan.
Di meja makan, Fahri menjelaskan kepada Bayu siapa Kiki. "Bay, dia adalah orang yang aku cari selama ini." Mempertegas pandangannya. "sorry! aku tidak bermaksud berebut, tapi aku benar-benar merindukannya," menghela nafas berat. "Aku... tidak mungkin mengalah!"
Bayu sudah faham, sesekali bertingkah konyol terhadap Kiki hingga membuat Fahri marah. "Baiklah, aku tidak perlu berebut denganmu. Asalkan kau berjanji tidak akan meninggalkanku," sambil mengedipkan sebelah mana.
"Haiss! menjijikkan!"
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Hari ini malam Minggu, Kiki mengajak teman-teman satu shiftnya kerumah si bos yang dia anggap sebagai rumah Fahri, pujaan hatinya.
Mereka merasa sangat bahagia dengan acara yang diadakan si bos anak big bos. Tanpa tau betapa perih hati Bayu setiap kali melihat adegan romantis Kiki dan Fahri yang saling memberi perhatian satu sama lain.
Walaupun masalah Fahri dan Bayu sudah clear tentang kiki, tapi rasa manis dihati Bayu terhadap Kiki tidak semudah itu bisa dibuang.
Alhasil Bayu selalu sok ramah dan sok ceria menutupi rasa pilunya. Bagi dia, apa yang ia rasakannya belum seberapa dibandingkan apa yang telah mereka lalui (Kiki dan Fahri).
"Kau ingin bibir sexiku Jontor apa ya? masih panas disuruh makan." Tawa Kiki pecah diikuti semua yang hadir saat mendengar ucapan Bayu.
"Sory boss!! maksudku sambil ditiup-tiuplah bos," masih dengan tawa lepasnya Kiki menjawab Bayu.
Disitu Bayu menyadari betapa bahagianya gadis idamannya malam ini. Tertawa yang sebenarnya, tanpa ada beban sama sekali. Berbeda dengan ketika dia menggodanya setiap saat disela-sela mereka bekerja. Begitupun Fahri, terlihat bahagia meski sedikit ada rasa canggung terhadapnya. Tapi percayalah, Bayu sangat ikhlas mereka bersatu.
"Non, aku akan kehilangan seorang chef kali ini." Bayu bercanda dihapan Kiki dan beberapa temannya. Kiki mengerutkan dahi, tanda bertanya mengapa.
"Itu si abang pasti bakalan jarang kemari, kamu tau? aku sangat menyukai masakannya." Menatap intens ke arah Fahri. "Dia selalu memasak dengan penuh kasih, makanan apapun yang dia sajikan selalu terasa nikmat di lidah bujangku ini." Dengan asal Bayu menjawab kode yang Kiki berikan. Sementara Fahri yang mendengar ocehannya menanggapi dengan melempar sosis yang baru saja matang.
__ADS_1
Mereka saling bercanda, saling membully satu sama lain membuat suasana malam itu terasa sangat singkat.
Keesokan paginya, Kiki dan beberapa temannya yang menginap di rumah si bos disambut dengan sarapan pagi ala chef Fahri. Mereka sangat memuji masakan Fahri yang sederhana tapi memuaskan lidah.
"Maaf aku harus segera bekerja," berdiri.
"Yi!" panggilan sayang Fahri terhadap Kiki, sejak kecil memanggilnya yiyi karena lidah kecilnya yang blm bisa berbicara dengan benar. Ee malah keterusan hingga dewasa. "Aku gak bisa nganterin kamu, ojol aja yah!" pamit Fahri. Kiki mengangguk mengerti.
"Jhiiiiaaahhhh.... kau membuat hati para jones makin tersiksa bang!" insting jahil Bayu bekerja. Para pemirsa yang ada disana spontan tertawa.
"Tenang bang, ada sopir online yang siap mengantar kakak ipar sampai tujuan!" memegang dada, Bayu menawarkan dirinya.
"Oke! makasih dedek tengil. Tolong antarakan kakak ipar sampai tujuan dan jangan lupa pastikan keselamatannya." Menepuk bahu Bayu, Fahri memberikan ijin.
"Sendiko gusti!" (baiklah paduka) Bayu menyatukan kedua telapak tangannya tanda patuh atas perintah Fahri. Sedangkan Kiki dan teman-temannya hanya bisa tertawa mendengar obrolan bos konyolnya.
"Yi!" panggilan Kiki terhadap Fahri, samalah dulu Kiki juga tidak bisa memanggil Fahri dengan benar. Dia memanggilnya payi, dan itu terbiasa hingga dewasa. Kiki menyerahkan handphone Fahri yang ketinggalan. Para pemirsa pun bersuit ria melihat kemesraan dua insan itu. sementara Bayu memegang dada dan berpura-pura seolah kesakitan, "jantungku ingin lepas dari sarangnya bang!" para pemirsa pun bersorak tertawa.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC