
Sesuai dengan jadwal hari ini Fahri berangkat ke solo menggunakan mobil ayahnya.
Dalam perjalanan, Fahri menikmati segala pemandangan yang ia lewati. Sambil membayangkan Kiki tentunya.
Dua kali Fahri beristirahat di rest area, karena Fahri tidak terbiasa menyetir sendiri. Setiap keluar kota Fahri lebih suka naik bus ataupun kereta. Namun kali ini, dia ingin membawa mobil sendiri karena berniat membawa oleh-oleh lebih untuk gadis pujaannya.
Rencana itu muncul karena kota solo adalah kota yang terkenal dengan batiknya. Dia memutuskan untuk membeli banyak baju-baju batik. Selain untuk oleh -oleh, dia juga ingin menjualnya.
Setelah meninjau ruko yang akan digunakan untuk counter, Fahri langsung mencari alamat produsen batik yang terkenal di solo. Beberapa kali bertanya akhirnya sampai juga pada sebuah rumah yang halamannya sangat luas. Rumahnya juga besar disertai galeri juga disana. Dengan sangat ramah Fahri di persilahkan masuk untuk melihat langsung proses pembuatan batik tulis dan cap.
Mulai dari persiapan bahan dan berbagai macam alat sampai proses pembatikan.
Fahri tercengang, pantas saja harga batik tulis mahal.
Prosesnya panjang dan melelahkan menurutnya. Setelah selesai menyaksikan para pekerja dengan begitu antusias, Fahri mulai melangkahkan kakinya ke arah galeri.
"Silahkan tuan, ini galeri batik kami." Membukakan pintu. "Non Ambar akan menunjukkan jenis-jenis batik yang kami miliki." tutur pak Santo yang dari awal menemani Fahri ditempat itu.
"Silahkan, saya Ambarwati." Mengulurkan tangan. Setelah memperkenalkan diri, si nona langsung menunjukkan satu persatu jenis batik sesuai dengan bahan dan harganya.
Fahri membeli berkodi-kodi batik dengan bahan yang berbeda.
"Terimakasih, ini kartu nama saya. Bila Anda ingin melakukan pembelian online bisa melalui yang dibawa ini." Ambar menjelaskan transaksi yang mudah sesuai jaman sekarang.
"Baik, terimakasih kembali." Fahri yang tidak mudah berbasa-basi hanya menjawab singkat.
"Hmmmm......... penasaran hihihi." Gumam Ambar. "Bisakah saya minta nomor telepon anda?" sedikit ragu, "untuk memberitahukan bila ada model-model terbaru."
"Baiklah nanti akan saya hubungi jika saya membutuhkan barang lagi." Jawab Fahri singkat kemudian Fahri masuk dan mengemudikan mobilnya.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Di Jakarta, Kiki yang beberapa hari di jemput si bos merasa tidak nyaman. Karena alasan Fahri mengkhawatirkannya, akhirnya iapun menurut dengan berat hati.
"Besok libur bos!"
"Hmmmm.....kamu libur Sabtu?"
Bayu masih fokus dengan jalanan yang agak macet.
"Iya bos."
"Makan dulu yuk! masih macet ini." Bayu memutar kemudi dan memarkirkan mobilnya disebuah kedai makan dekat taman kota.
Bayu memilih tempat itu karena dia tau Kiki akan menolak jika di ajak ke resto. Maklum orang kampung, selalu bilang pemborosan jika berurusan dengan segala sesuatu yang berbau mahal.
"Drt....drtt" ponsel Kiki bergetar.
"Hai, sampai mana?" sarkas Kiki pada si penelpon. "Hmm..... hati-hati" ntah apa yang dibicarakan lawan bicaranya, setelah beberapa menit hanya kata itu yang terucap.
Bayu menebak si penelpon adalah Fahri, dia langsung mengambil ponsel Kiki.
"Kami lagi dinner hehehehe," sambil memperlihatkan suasana tempatnya.
"Kenapa gak langsung pulang?"
"Ohhh PDKT dululah hihihi..." jawab Bayu usil.
"Sudah malam, gak baik nanti dilihat tetangganya." Fahri menasehati.
karena takut si bos makin usil,
Kiki mengambil paksa ponselnya. "Jalanan masih macet, ada kecelakaan kayaknya."
"Ya udah hati-hati." Fahri mengakhiri percakapan dengan dibalas senyuman oleh Kiki.
Seusai ritual mereka, Kiki mulai beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Tanpa sengaja menyenggol seorang weiters di belakangnya. Membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Dengan sigap Bayu menangkap tubuhnya. Membuat adegan itu serasa romantis. Tapi kemudian membuat keduanya makin canggung. Sesekali Bayu menggoda Kiki untuk mencairkan kecanggungan mereka.
"Yah, sudah siaga aja ni gue hehehe," mulut Bayu cengengesan tapi tidak dalam hatinya. Percayalah degup jantungnya berpacu lebih cepat hingga ingin menceburkan diri ke kolam ikan di sebelahnya. Tapi Kiki makin tertunduk malu. Dalam perjalanan, tak sepatah katapun terucap di antara keduanya.
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di kontrakan. Kiki cepat-cepat keluar dari mobil karena sudah tidak tahan dengan suasananya.
"Terimakasih bos.... selamat malam."
"Selamat malam." Bayu tak kalah kikuknya.
FAHRI POV
Setelah menutup panggilannya, Fahri terbayang akan wajah Bayu yang sangat senang bisa makan malam dengan Kiki. Fahri paham, karena selama ini dia selalu ditolak oleh gadis itu.
"Apapun akhirnya aku bisa terima."
Fahri pasrah saja dengan kehendak Tuhan. Langkah selanjutnya adalah meyakinkan dirinya tentang perasaannya dan juga Kiki. Dia yakin apapun akhirnya Bayu pasti bisa menerima kenyataan ini.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
DI SINGAPURA....
David berkunjung ke rumah sakit. Menanyakan kondisi mamanya kepada dokter, karena Bu Hanny ingin pulang ke Jakarta. Tapi ayahnya tidak mengizinkan karena tidak ingin mengambil resiko.
Sebenarnya Bu Hany mengkhawatirkan Fahri karena telah lama hidup sendirian. Meskipun bukan anak kandung, tapi perasaannya sebagai seorang ibu tetap tidak akan bisa tenang meninggalkan putranya seorang diri.
"Pa, kalo aku tidak boleh pulang. Sebaiknya papa saja yang pulang." Memohon. "Lihat Fahri, sudah lama kita meninggalkannya sendirian."
Permintaan Bu Hany membuat suaminya sulit untuk mengambil keputusan. Mengetahui hal itu, David langsung menawarkan dirinya untuk pulang. Dengan rasa bangga dan lega pak Sahril mengucap syukur atas tindakan anak sambungnya yang telah mengganggap Fahri sebagai saudara.
"Besok jemput aku di bandara"
pesan itu masuk dan langsung mendapat panggilan dari Fahri.
๐ฑ Fahri
๐ฑDavid
Belum tau, akan aku hubungi setelah landing.
๐ฑ Fahri
Oke!!!
Percakapan itu berakhir. Kini Fahri merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang jarang ia gunakan. Karena lebih sering tidur di sova atau menginap di rumah Bayu.
๐Kiki
Sudah sampai?
๐ Fahri
Sudah semalam.
๐Kiki
Aku libur, jalan yuk!
๐ Fahri
Maaf aku mau menjemput abangku di bandara
๐Kiki
๐๐๐๐
Kemudian Fahri menghubungi kiki
__ADS_1
๐ฑ Fahri
Jangan gitu ahh!
๐ฑKiki
Huuhhh!!!
๐ฑ Fahri
Kenapa?
๐ฑKiki
Tetap sama.
๐ฑFahri
Maksudnya?
๐ฑKiki
Tidak peka.
๐ฑ Fahri
Jangan berbelit-belit.
๐ฑKiki
Sudahlah!
Panggilan berakhir.
" Aku tau kau merindukanku, tunggu sebentar lagi, aku akan memberikan kejutan untukmu."
Fahri telah sampai di bandara Soekarno-Hatta. Setelah beberapa saat yang lalu menerima pesan dari saudara tirinya, matanya menelusuri setiap sisi area bandara mencari David. Tidak berapa lama, mereka saling berpelukan kemudian menuju area parkir.
"Antar aku ke hotel X." David tiba-tiba tidak ingin pulang.
"kenapa bukan ke rumah?" tanya Fahri sambil mengerem mobilnya.
"Mau bertemu mantan, hehehehe."
"Tidak bisakah ke rumah dulu?" menelisik. "Sebenarnya dia ke sini untukku atau untuk mantannya? dasar tidak jelas!" Fahri bergumam.
"Kau pulanglah dulu, aku akan menuntaskan masalahku. Dan yah, bawa barang-barangku tapi jangan di turunkan oke!" meninju lengan Fahri. "Aku punya sesuatu untukmu." Menunjuk tas. Fahri memicingkan mata, sementara David menggedikkan bahu.
Fahri memarkirkan mobil di garasi. Kemudian ia merebahkan tubuh kembali ke sova, melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda gara-gara menjemput David. Sementara David sedang asyik maksyuk dengan mantan kekasihnya di dalam hotel mewah.
Tidak ada yang tahu perilaku David yang sebenarnya. Karena dia selalu bisa menutupinya dengan sempurna. Hanya Bu Hanny mamanya yang paham akan situasi putranya, namun Bu Hanny tidak membicarakannya dengan siapapun. Antara takut dan malu, Bu Hanny tidak tahu akan memulai dari mana untuk bercerita. Bu Hanny mengira sifat itu diturunkan dari Papanya. Karena perilaku papanyalah yang membuat Bu Hany harus berpisah disaat David masih balita.
.
.
.
.
.
Bagaimana karakter David?
kita akan bahas di bab selanjutnya.
terimakasih telah mampir di karya pertama saya, tolong tekan rate bintang lima,like, dan tanda hati di kolom komentar.
__ADS_1
terimakasih ๐ค๐๐