Pencarianku

Pencarianku
Karena aku Dadynya


__ADS_3

kamar yang sama, yang menjadi saksi bisu malam pertama pasangan pengantin baru kini tidak pernah tertutup. Ya, mertuanya tidak pernah mengijinkannya. Agar mereka bisa sigap bila ada hal-hal yang tidak diinginkan.


Hampir setiap malam ibu hamil itu merasakan nyeri pada kakinya, dan di pagi hari tak luput dari mual dan muntah. Terhitung tujuh bulan sudah usia kandungannya kini. Perut buncitnya kian membesar, morning sick masih saja mengganggunya. Namun tidak ada satupun kata yang membuat dia mengeluh.


Pagi ini seperti biasanya ritual sarapan telah siap, namun entah mengapa perut bumil itu mendapat guncangan luar biasa hebat. Dia belum keluar, membuat keluarga memasuki kamarnya untuk memastikan kondisinya.


Benar saja dia kini terlihat lemas di depan wastafel. Wajahnya pucat, salah satu tangannya memegang perut dan yang lainnya bertahan disisi wastafel. Sontak keluarganya panik, David segera menyambar tubuh ringkihnya. Dengan telaten ia memapahnya ke ranjang, mendudukkannya dengan benar. Mengatur posisi senyaman mungkin, agar bisa rileks.


"Sayang.... katakan apa yang kau inginkan? bukankah adakalanya setiap ibu hamil mengidamkan sesuatu? katakanlah kami akan berusaha menurutimu" penuturan Bu Hanny membuat David melongo, sedangkan Pak Sahril segera mendekati menantunya.


"Nak, geser ke depan posisinya. Kau, duduklah di belakangnya. Topang tubuhnya menggunakan dadamu (mengambil tangan David) usap seperti ini!" Pak Sahril mengarahkan David untuk mengelus secara merata perut buncit menantunya.


Oh sumpah demi apapun, bagaikan bunga-bunga bermekaran. Hati David nyaris tidak bisa mengungkapkan apa yang terjadi dengannya. Tiada ungkapan yang pantas untuk mengimbangi rasa yang hadir di dirinya.


"Oh my God!!! pa, dia menendangku." Bulir bening melompat sudah dari pelupuk matanya.


"Bagaimana denganmu?" pandangan Pak Sahril terpatri pada Kiki yang sedang syock atas sentuhan David.


"Apa masih mual?" sang mertua masih ingin memastikannya.


Kiki segera menggelengkan kepalanya. Sementara David masih bermain-main di sana, menikmati setiap tendang-tendangan si jabang bayi. Kemanapun tangannya mengarah, refleks tendangannya seolah mengikuti.


"Pa, lihatlah dia terus saja mengikutiku."


"Dia sangat aktif, hehehehe sepertinya dia mewarisi sikap ayahnya,"


"Apakah dulu Fahri juga seperti itu saat di dalam kandungan?" pertanyaan itu sontak keluar dari mulut Bu Hanny.


"Hmm, dia sangat menyukai belaian seperti itu" senyum tipis mengembang di bibir pria tua itu.


"Aku cemburu! bahkan aku tidak pernah diperhatikan saat hamil." Wajah muram Bu Hanny tiba-tiba diperlihatkan.


"Kalau begitu mari kita perbaiki segalanya. Kita buat menantu kita menikmati bahagianya. Ya, hanya bahagia," Pengantin tua itu berpelukan dan saling memberikan kecupan. Tidak peduli dengan dua pasang mata yang sedang memperhatikannya.


David masih dengan permainannya, masih berderai air matanya. Tangisan itu bercampur antara bahagia dengan apa yang ia rasakan kini dan sedih, betapa malangnya mama juga dirinya kala itu. Sementara Kiki malah keasyikan tidur dalam rengkuhannya.


Ketiganya tertawa, sang mertua meninggalkan mereka. Memberi ruang untuk bisa saling memantapkan hatinya.

__ADS_1


"Temani dia istirahat, sepertinya dia sangat lelah. Aku akan ke pasar memberikan kunci pada karyawannya." David menganguk, segera ia menghubungi anak buahnya untuk memberikan perintah jadwal harian.


"Beginikah rasanya berkeluarga? ini benar-benar sesuatu!"


Pernyataan dalam hati seorang David benar-benar tidak terungkap.


"Pa , kita seharusnya mengatur acara tujuh bulanan Kiki."


"Benar, bagaimana kalau Minggu ini?"


Pak Sahril mengiyakan semua keinginan istrinya. Mulai dari pengaturan jamuan dan segala rentetan acara.


.........


Acara tujuh bulanan Kiki di adakan secara sederhana dengan mengundang beberapa sahabat saja, tidak lupa ibu Sri juga tentunya.


Sengaja tidak dirayakan secara terbuka karena status Kiki yang belum memungkinkan untuk di ekspos pada tetangga. Khawatir akan beban mental yang akan ditanggung oleh sang menantu, Bu Hanny tidak mengijinkan sedikitpun peluang negatif terdengar oleh calon ibu tersebut.


Segala doa dipanjatkan oleh pemuka agama untuk kesehatan dan keselamatan ibu dan bayinya serta selalu dilimpahkan kebagian atas keluarganya. Kiki tak henti-hentinya menangis dipelukan sang mama mertua.


Sang mertua memberikan support, dan doa terbaik untuknya dan suaminya yang telah tiada.


Kiki mengucapkan beribu-ribu terimakasih, atas perhatian keluarganya saat ini.


Setelah semua selesai menyantap hidangan yang telah disajikan. Bu Hanny meminta agar semua yang hadir berfoto.


Dalam kesempatan ini, Bu Hanny meminta putranya untuk foto berdua dengan menantunya.



Tanpa ragu Davidpun menurutinya. Kiki terlihat sexi dengan perut buncitnya. Sementara David benar-benar tampak seperti seorang suami yang sedang mendampingi istrinya.


"Sepertinya dia sangat gembira, tak henti-henti dia menendang setiap kali kau menyentuhnya," senyum lebar Kiki tampilkan tanda bahagianya.


"Tentu saja sayang.... karena aku adalah Daddynya!"


Sayang , satu kata itu membuat Kiki seolah terkena serangan jantung. Dia menegang, asanya melayang mengingat kembali dimana suaminya sering menyebut kata itu.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan?" pertanyaan David membuat Kiki tergagap.


"Bu...bukan apa-apa," ia menggelengkan kepalanya untuk meyakinkan David.


Semua tamu berpamitan, Bu Sri pun tak mau melewatkan kesempatan untuk mendoakan mantan anak kosnya itu. Pelukan mengantarkannya untuk menaiki mobil yang telah menungggu di halaman.


Masih di ruang keluarga, didepan orang tuanya David tidak ada rasa canggung sama sekali. Dia memeluk Kiki demi bisa berinteraksi dengan baby boy dalam perut mamanya.


"Jaga batasanmu anak muda, ingat! kau belum resmi menjadi Daddynya."


"Hehehehe.... Piss!" dengan mengangkat dua jari David menanggapinya santai.


Bu Hanny menjitak kepala putranya yang makin hari makin tidak jelas kelakuannya ketika berhadapan dengan perut buncit calon pendamping hidupnya. Tapi sang empunya hanya nyengir kuda.


KiKi sangat canggung dengan perlakuan David yang tidak tau malu, namun mertuanya malah memberi kesempatan kepada mereka untuk saling mengenal.


Lebih kepada pribadi masing-masing maksudnya.


Dengan kondisi berpelukan tidak adakah yang mereka rasakan? hanya manusia munafik yang mampu berkata tidak. Mereka manusia normal, namun David telah berjanji untuk tidak macam-macam.


Karenanya dia selalu melakukannya saat di hadapan orang tua saja. Geli memang tapi itulah kenyataannya, sekali saja David melanggarnya bisa-bisa sang papa murka. Dan yang lebih penting lagi, dia menjaga perasaan Kiki. Dia sedang mendekatkan perasaannya, mencoba mengisi ruang kosong yang telah ditinggalkan almarhum suaminya. David tidak ingin terlihat memaksakan dirinya. Dia berusaha diterima dengan segenap jiwa dan raga sang kekasih. Sehingga ia sanggup menahan segala hasrat yang sebenarnya sudah meronta-ronta.


.


.


.


Hai🤗🤗🤗maaf ya mbak sis dan mas bro yang telah setia di sini demi saya🤧🤧🤧


terlambat up lagi ......


Terimakasih yang setia mengetuk jendela w.a untuk mengingatkan up😂😂


Happy reading 🤗🤗😍💖💖


TBC

__ADS_1


__ADS_2