Pencarianku

Pencarianku
Sendiri


__ADS_3

KiKi POV


Sore ini terasa sunyi, angin berhembus pelan. Seolah tau derita dalam hati. Sekeras apapun ku berlari, tak akan bisa membawanya kembali.


Batu ini adalah saksi, betapa rapuhnya hati ini. Meski tak ada kata yang ku bisikan, Dia tau aku sedang merindu sosok yang sangat ku dambakan.


Aku sangat berharap Dia memberiku ketabahan. Kekuatan akan hari-hari yang akan ku lewati sendirian. Tanpa dia lagi, hanya sekejap kerinduan ini terobati. Kini, dia pergi lagi bahkan tak kembali.


Rahim ini telah terisi, namun dia malah pergi. Apa yang kini ku rasa? apa yang kini ku damba?


aku tak tau jawabannya.


Pilu sekali hatiku ini, tak mampu aku mengemasi perasaan yang kian menusuk sanubari. Menangis pun tak mampu lagi.


Diam, hanya diam dalam sepi.


.............


"Sayang.......kamu mau kemana?" melihat Kiki membereskan pakaian, Bu Hanny memahami situasi ini.


"Pulang ma"


"Jangan sayang..... tinggallah di sini. Kamu sedang hamil muda, biar kami menjagamu"


"Aku tidak apa-apa ma"


"Sebaiknya kau di sini saja nak. kau akan membuat kami khawatir di sana sendirian." Pak Sahril mencegah Kiki yang akan kembali ke rumahnya sendiri.


Kiki menurutinya karena ia juga tidak yakin bisa bertahan sendirian. Sejak hamil, Kiki sering pingsan di rumah.


"Aku akan ke rumah sakit, apa kau mau ikut? seminggu ini Bayu belum sadar"


Mendengar itu, Kiki terpekik. Dia lupa bahwa suaminya tidak sendirian saat mengalami kecelakaan. Kiki mengikuti papa mertuanya. Sedangkan Bu Hanny menunggu kepulangan David yang mulai hari ini akan tinggal bersama mereka.


David gelisah sejak tau saudaranya meninggal dunia. Namun dia tidak bisa pulang begitu saja karena harus mengurus sisa saham di perusahaannya. Hari ini dia benar-benar melepaskan pekerjaannya. Entah mengapa terasa tenang batinnya, merasa puas bisa menjual sahamnya.


" Ini Kiki istri Fahri, mereka sangat dekat dengan Bayu. Bisakah dia menjenguknya?"


"Masuklah" Reny mempersilahkan keduanya.


"Bos, sory baru dateng. Apa sangat sakit?" Kiki berusaha bicara meski lidahnya keluh.


Tanpa sengaja tangannya menyenggol jari Bayu saat ia mendekatkan wajahnya ke telinga si bos. Air mata menetes dari sudut mata Bayu dan jari telunjuknya bergerak. Bayu mengerjapkan matanya.


"Pa, dia sadar" kata itu membuat orang tuanya mendekat. Segera Pak Sahril memencet bel di atas ranjang pasien.

__ADS_1


"Non!"


Kata pertama yang Bayu ucapkan. Bukan orang tuanya yang ia cari. Kiki menganguk dengan menampilkan senyum manisnya.


"Bagaimana keadaanmu?" Bayu menatap lekat wajah Kiki. Seolah tidak peduli dengan semua yang ada di sana.


Dokter datang, tapi hanya terpaku di depan pintu. Sejenak fikirannya kalut mendapati dua insan yang saling menatap intens.


"Silahkan keluar dulu kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut" dengan sedikit bergetar, suara dokter memecahkan keheningan.


"Jangan pergi, ada yang ingin aku bicarakan" tangan Bayu meraih jemari Kiki.


Kiki memandang sang dokter meminta persetujuan.


"Lima menit, saya beri waktu lima menit setelah itu kami harus memeriksa anda"


"Baiklah periksa dulu, baru aku akan bicara dengannya." Kiki menganguk dan melangkah keluar.


Beberapa saat kemudian, dokter dan asistennya keluar.


"Silahkan masuk nona, ajaklah pasien berbicara agar dia merasa rileks dan segera pulih"


Kiki menganguk kemudian masuk ruangan. Kedua orangtua Bayu saling menatap kemudian beralih pandang ke Pak Sahril.


"Tentu!"


"sejak kapan?"


"Sejak dia SMA"


Reny terkejut mendengar penuturan mantan suaminya.


"Selama itu?"


"Hmm..... dia teman David. Dan aku baru tau beberapa bulan yang lalu dia dekat dengan Fahri bahkan ternyata dia adalah bos Kiki"


"David?"


"Ya, David adalah putra tiriku"


Reny semakin tidak percaya dengan takdir ini. Dia yang menjauh dari kehidupan Pak Sahril, putranya malah begitu dekat dengan keluarganya.


Didalam ruang perawatan.....


"Apa kabar bos!"

__ADS_1


"Hai, bos apa. Kaulah bosnya sekarang."


"Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu."


"Hahahaha nyonya bos bisa aja"


Dalam perihnya Bayu berusaha bersikap normal.


Ketiga orang tua mulai masuk menyiapkan keperluan Bayu. Mulai dari menawarkan minuman dan segala hal yang mungkin dia inginkan. Tapi semuanya sia-sia, Bayu tidak merespon. Dia terus menatap intens ke arah Kiki.


"Maaf!" Bayu meneteskan air mata yang sejak tadi tertahan.


"Tak ada yang perlu di maafkan. Tidak ada yang bisa menolak takdir" dengan lembut Kiki menenangkan Bayu, meski dadanya bergejolak.


"Bisakah menemaniku setiap hari? aku selalu ingin tau kehidupan di kampung. Dulu aku sering bertanya kepada abang, tapi dia hanya tersenyum setiap kali aku membahasnya." Kiki semakin keras menekan dadanya. Meski demikian dia tetap bersikap wajar.


Kiki membenarkan duduknya. David bersama Bu Hanny mengurungkan niatnya untuk masuk saat mendapati seorang dokter berdiri diam tepat di depan pintu.


"Non, apakah dia dulu baik-baik saja? apa dia bahagia? bagaimana dia menjalani kehidupannya?" pertanyaan itu diberondong seolah sedang menginterogasi.


Kiki menampilkan senyum termanisnya. Dia mengelus punggung tangan Bayu, Mencoba menenangkannya.


"Dia adalah pribadi yang hangat, meski tidak banyak bicara. Dia sangat perhatian terhadap semua orang."


"Aku tau! dia pasti disukai banyak orang. Bagaimana dengan Pendidikannya? apa dia siswa yang pintar? dengan apa dia pergi sekolah?" Bayu membayangkan kondisi di kampung sementara dirinya selalu diantar jemput sopir.


"Kami bukanlah orang-orang manja. Kami berjalan dua jam untuk sampai sekolahan. Melewati pematang sawah. Dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Meskipun jauh dan melelahkan tapi kami selalu semangat. Disela-sela perjalanan, kami bermain tebak kata, bernyanyi (tanpa sadar Kiki tersenyum mengingat semua kejadian itu). Ada salah seorang dari kami yang suka melantunkan langgam jawa. Meski kami tidak mengerti dan aku yakin dia juga tidak faham maknanya kami tetap senang mendengarkannya. Hingga kadang kami ikut menyanyikannya meski tak sefasih dirinya." seseorang di luar sana menyunggingkan senyumnya.


Pak Sahril menyimak obrolan kedua insan tersebut dengan antusias. Sementara Reny menahan isakannya.


"Setiap pagi dia selalu kerumah ku dengan seragam rapi. Tapi aku masih tertidur pulas. Dia selalu membangunkaku dengan mengoles garam di bibirku." Bayu tertawa lepas.


"Gak ada akhlak!" komentar itu lolos dari mulut usilnya.


"Dia selalu sarapan di rumahku, dengan alasan tidak mau terlambat karena menungguku."


"Hahahaha modus!" Bayu tergelak tanpa beban. Sementara para orang tua benar-benar kesakitan.


"Setiap kali aku mengeluh lelah, aku minta istirahat. Namun teman-teman selalu menyalahkanku karena tidak mau terlambat. Disaat seperti itu, dia selalu menyiapkan punggungnya untukku. Dia akan menyentilku karena tertidur dipunggungnya."


"Kau juga tidak menyia-nyiakan kesempatan hahahaha...."


Bayu sangat terhibur dengan cerita masa lalu Fahri. Tidak tau betapa sesak dada Kiki mengenang semua itu. Di atas sova sana Pak Sahril mulai meneteskan air matanya. Sedangkan Reny merasa hatinya tercabik-cabik.


TBC

__ADS_1


__ADS_2