
Bandara Soekarno Hatta, menjadi saksi perpisahan sang ayah. Pria bijak itu meninggalkan putranya untuk kesekian kali. Namun saat ini dengan perasaan bahagia. Tanpa beban kakinya melangkah mengikuti gerakan eskalator kemudian menghampiri pesawat yang telah siap membawanya bertemu sang istri.
Pasangan pengantin baru telah tiba di rumah. Segera melakukan aktivitas sehari-hari setelah berganti pakaian. Sang pria membersihkan taman, sedangkan wanitannya membersihkan ruangan.
Tak terasa panas mentari telah berada di ubun-ubun. Sekilas pria itu melihat sang wanita mengikutinya masuk ke dalam kamar. Namun dia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi tanpa menoleh.
Kiki memilih membersihkan diri di kamar sebelah, kamar tamu lebih tepatnya. Karena dia sudah tidak sabar ingin buang hajat. Setelahnya ia keluar untuk mengambil pengaman saat mendapati tamunya datang.
Dia memasuki kembali kamarnya. Menuju meja rias, tanpa duduk ia memegang laci.
Tiba-tiba tubuhnya menegang saat merasakan hembusan nafas disertai pelukan di pinggangnya. Dia mulai terlena, begitupun sang provokator.
Gerakan lamban berhenti seketika saat mata sayu itu mendapati sebuah pengaman di tangan pujaannya.
"Ada tamu?"
"hmm....." jawaban itu sontak membuat sang provokator lesu.
Wanita itu membalikkan badannya. Sepertinya ia memahami suasana yang sedang menimpanya. Segera ia membuka tabir hitam dihadapannya. Mendudukkan sang kekasih hati di atas ranjang. Kemudian memberikan belaian lembut Merapi yang hampir mendidih.
Seolah dibuai awan, pria itu merasakan tubuhnya berayun. Sang kekasih terus memanjakan pusakanya dengan sentuhan-sentuhan manja.
Raga itu bergetar, kedua tangan mencengkeram erat sisi ranjang. Kepalanya refleks mendongak dan matanya terpejam. Bibirnya tak henti-henti menahan erangan. Hingga Merapi itu benar-benar mendidih dan segera menyemburkan lahar panasnya. Wedhus gembel keluar dari sarangnya.
Serasa melayang di udara, punggung itu terhempas dengan kedua tangan terlentang. Tabir hitam tertutup, sang kekasih beranjak membersihkan diri.
Masih dalam kondisi yang sama. Wanita itu merebahkan tubuh di sampingnya. berbantal lengan kekar yang telah tersedia. Pria itu tersenyum memandangi wajah polos di sampingnya. Senyum kecut antara puas, bahagia sekaligus miris membayangkan kisah kekasihnya. Meski kini telah menjadi wanita yang luar biasa di luar daya nalarnya.
Tubuh itu saling berpelukan, meninggalkan panas matahari yang semakin berkobar. Hingga benar-benar menuju tenggelam.
Tanpa bulan madu kemanapun, pasangan pengantin baru itu melewatkan kesempatan cukup di rumah saja.
Seminggu telah berlalu, kini Fahri kembali dengan aktivitasnya. Layaknya pasangan lainnya, mereka menjalani hari-hari penuh sukacita.
Minggu kedua telah dijejakinya. Kiki mulai bosan di rumah. Sang suami mengajaknya ke pasar tempat dimana baju-baju wanita dijual di sana.
"Uruslah tempat ini!"
"Aku!" sambil menunjuk hidungnya Kiki tercengang.
"Yah mulai sekarang bekerjalah di sini. Urus semua ini untuk menghilangkan kejenuhan." sambil merangkul pundak sang istri.
"Aku tidak bisa" suara itu melemah.
"Bisa itu karena terbiasa. Mulai sekarang aku akan mengajarkan pengaturannya."
Tanpa jawaban sebuah pelukan menjadi hadiah terindah. Keduanya mulai melakukan kegiatannya.
Seusai makan siang Fahri meninggalkan istrinya menemui Bayu.
__ADS_1
"Aku keluar sebentar, ada yang harus aku bahas dengan Bayu."
Anggukan kepala menjadi jawabannya. Kecupan singkat segera mendarat di kening.
.................
"Counter D membutuhkan orang, atur salah satu yang di sini untuk dipindahkan!"
"Kenapa si Jun?" (nama penjaga counter D)
"Mau nikah, balik kampung"
"Baiklah"
Percakapan itu berakhir dengan datangnya seorang pegawai yang menyerahkan laporan.
"Bisakah Abang meluangkan waktu untuk makan malam?"
"Kapan?"
"Sesempatnyalah" jawaban datar itu kemudian mendapat respon tegang. Pandangan Fahri menyelidik, membuat Bayu sedikit gelagapan.
"Hehehehe.... aku hanya rindu masakanmu"
" Sepertinya aku sudah lupa cara masak sekarang"
Fahri berlalu menuju parkiran. Sedangkan Bayu masih melanjutkan pekerjaannya.
Sesuai dengan perkiraan, hari ini Bu Hanny dan Pak Sahril kembali ke tanah air. Ya, secara pemeriksaan medis kondisinya membaik meski harus permanen di kursi roda.
Kabar baik untuk keluarga Pak Sahril. Pasangan paruh baya itu tiba di kediaman tanpa pemberitahuan. Melihat rumahnya rapi terutama taman, Bu Hanny merasa sumringah seketika.
"Kau puas dengan hasil karya mereka?"
"Mereka yang mengerjakan?" Bu Hanny sedikit tercengang karena masih tidak ada asisten rumah tangga di kediamannya. Padahal ia berkali-kali menyarankan agar pengantin baru itu mempekerjakan orang minimal tukang kebun.
Pak Sahril menggedikkan bahu seraya terus mendorong kursi roda.
"Aku mau menikmatinya dulu"
Kursi roda berhenti di depan bunga-bunga yang tertata rapi.
Bermacam-macam anggrek berjajar di undakan, dihias mawar pada bagian bawah. Warna-warnanya begitu menyejukkan mata.
"Minumlah! kita nikmati sunset di rumah seperti dulu."
"Hahahaha..... mana bisa lihat sunset di sini, yang ada mendadak gelap." tawa renyah sang empunya rumah menawarkan keheningan sore itu.
"Kita buat kejutan buat mereka, aku akan memasak. Apa kau mau masuk?"
__ADS_1
"Aku masih betah di sini"
"Hmmmmmmm... baiklah panggil kalo membutuhkan sesuatu" Pak Sahril hendak berlalu. Namun sang istri menyambar lengannya dengan cepat.
"Maafkan aku, selalu merepotkanmu."
"Sayang..... percayalah ini bukan beban untukku. Aku melakukannya karena sudah menjadi kewajibanku."
"Dav akan membuka kembali perusahaan kita yang telah tutup. Jadi sebentar lagi kau bisa menjalankan kewajibanmu seperti semula."
"Dav bisa mengurusnya. Aku disini cukup menemanimu sayang."
"Apa kau tidak jenuh? Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Kau telah melewatkan banyak hal."
"Percayalah sayang, kebahagiaanku adalah melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia."
Keduanya saling berpelukan. Setelahnya Pak Sahril berkutat di dapur mengerjakan keperluan perut.
Dari arah jalan raya, Fahri melihat pintu rumahnya terbuka. Segera motornya dihentikan untuk membuka pagar.
"Kita tidak lupa mengunci pintu kan?" tanya Fahri dengan tatapan panik pada istrinya.
"Aku rasa tidak"
Langkah kaki Kiki mengejutkan wanita paruh baya di sudut taman.
Fahri berlari kecil menyalim tangan mamanya. Kiki mengikuti dan mendapatkan pelukan hangat pertamanya dari sang mertua.
"Kenapa tidak memberi kabar? kami bisa menjemput ma!"
"Papa tidak ingin merepotkan kalian. Sayang..... mengapa masih memakai motor itu? Mobil dianggurin."
"Ahhh lebih simpel ma, lebih cepat pula"
Ketiganya masuk dengan saling menanyakan kabar. Mereka berkumpul bersama. Pak Sahril menghela nafas panjang. Mengingat David sendirian Singapura."
Malam yang hangat, keluarga yang lengkap. Pasangan muda itu terlihat bahagia. Karena begitu lama mereka mendamba suasana seperti ini.
Canda tawa menghiasi perjumpaan mereka. Tidak lupa mereka melakukan Vidio call dengan David. Meski hanya donasi tawa, David merasa hatinya terisi.
Fahri membisikkan sesuatu pada David. Para pemirsa tidak bisa mendengar, rasa penasaran membuat mereka menghakimi bungsu mereka.
"Aku hanya menyuruhnya hati-hati. Iyakan?"
David hanya tersenyum dan menunjukkan dua jari.
"Aku akan baik-baik saja. Kalian tenanglah jangan khawatir, itu berlebihan!"
Obrolan berakhir dengan jatuhnya rintik hujan. Mereka segera masuk kamar masing-masing.
__ADS_1
TBC