
Kedua mata saling bersirobok tepat sasaran. Tidak ada kata, hanya hening. Terasa tertimbun salju, suasana diantara keduanya membeku.
"Silahkan masuk!" suara itu terdengar datar.
Satu langkah wanita itu mendekat. Kedua tangannya terulur menggapai wajah tampan dihadapannya.
"Fahri....... sayang. Maafkan mama"
Deg......
Perasaan itu dirasakan oleh dua orang. Ya, Bayu yang tadinya ingin kekamar membersihkan diri memundurkan langkahnya saat ia mendapati pintu terbuka sedangkan sang tamu tidak segera masuk.
Fahri mengenal sang tamu, dia berusaha tenang agar tidak terjadi keributan. Karena Bayu sudah mengetahui kisahnya.
Masih dalam mode senyap, Fahri mengajak masuk wanita itu.
"Silahkan duduk, sebentar lagi Bayu selesai."
Bayu melihat Fahri masuk, dia segera berlari kekamar dan menyeka tubuhnya. Segera ia keluar setelah mengganti pakaian.
Dalam kondisi yang menegang, terdengar bunyi ketukan pintu. Semua orang menoleh dan mempersilahkan masuk.
Ambar menjabat tangan Fahri dan wanita yang baru saja mendaratkan bokong di sova. Bayu baru saja turun.
"Mari ke meja makan!"
Semuanya bergerak ke meja makan dan mengambil duduk masing-masing. Bayu memperkenalkan satu sama lainnya.
"Perkenalkan ini Fahri, sahabat rasa saudara buatku. Dia selalu menjadi rumah untukku pulang, berteduh dan bersandar." Bayu tersenyum kecut menyaksikan mimik wajah sang mama. Sedangkan Fahri masih dengan wajah datarnya. Ambar bingung dengan suasana yang ia rasa.
"Mama sendiri?"
"Papa sedang ada urusan sayang" suara itu terdengar bergetar, namun semuanya masih berusaha bersikap wajar.
Ritual makan malam tampak sunyi dan tegang. Detik berikutnya, bunyi ponsel memecah keheningan. Mama Bayu menerima panggilan itu dengan wajah sedikit cemas.
"Maaf, aku tidak bisa lama-lama. Sayang...... papa akan keluar negeri. Mama harus mempersiapkan segalanya. Semuanya maaf! aku pamit dulu."
Mama Bayu meninggalkan tempat terlebih dahulu. Mereka bertiga berbincang entah apa saja yang dibahas. Hanya satu yang masih berkecamuk dalam hati Bayu. Baginya semua sudah jelas. Namun, mengapa sahabatnya itu tidak angkat bicara meski dia telah membahasnya.
Ada perasaan senang karena telah mendengar percakapan mamanya, namun perasaan canggung sangat mendominasi dalam diri Bayu. Beberapa hal telah ia utarakan, namun Fahri selalu menghindarinya.
Ambar pamit pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Setelah membersihkan semua piring kotor. Fahri juga pamit pulang.
__ADS_1
Namun kondisi seolah tidak mau bersahabat. Entah mengapa tiba-tiba motornya mogok.
"Ya sudahlah bang, gue anterin yuk! kita kemana ini? gue agak pusing bang, lu setirin bang!"
Tanpa bicara, mereka melesat menuju kediaman Pak Sahril. Banyak hal yang ingin Bayu bahas, namun sedari tadi Fahri mengacuhkannya.
ciiiiiiiiiiitttttt braaaakkkkk duuaaarrrr
Detik berikutnya sunyi, tak ada suara. Mobil terbalik, suara riuh bersahutan. Bayu meraung dengan wajah penuh darah.
"Bang..... bang"
Dia terus memanggil nama Fahri. Proses evakuasi sedikit alot, karena kaki Fahri terjepit body mobil.
Bayu masih terisak dia menolak ditandu, karena belum melihat Fahri keluar dari mobil. Dan......
"Bang....bang"
Bayu mengguncang tubuh Fahri, namun tak ada jawaban. Memeluknya erat, meraung tanpa henti. Hingga dia lemas, pandangannya menggelap dan tidak sadarkan diri.
Seperti tersambar petir disiang bolong. Tubuh mungil itu merosot perlahan ke lantai.
"Sayang.... Kiki ada apa nak?"
"Fahri kecelakaan ma,"
Hujan air mata membanjiri kediamannya. Pak Sahril segera membawa kedua wanita itu menuju rumah sakit.
........
Di rumah sakit.....
Seorang wanita meraung memeluk tubuh Fahri.
"Sayang......... maafkan mama, mama telah menyia-nyiakanmu selama ini. Mama begitu keras kepala, mama selalu merindukanmu sayang. Kita baru saja bertemu, mama masih ingin makan bersamamu lagi. Mama ingin bicara banyak denganmu." Tangisnya pecah lagi.
Seorang pemuda merasa pedih, batinnya seperti teriris menyaksikan kenyataan bahwa Fahri adalah kakaknya. Dia sangat bahagia, namun semuanya terlambat sudah.
Keluarga Fahri baru saja tiba. Mereka tercengang menyaksikan pemandangan dihapanya. Ya, Reny histeris memeluk Fahri seolah tidak rela dengan kenyataan yang ada. Dia terus berbicara dengan tubuh yang telah terbujur kaku dihadapannya.
Kiki tidak mampu berkata-kata. Syock atas kejadian yang merenggut nyawa suaminya.
"Sayang.... ikhlaskan dia pergi. Agar dia mendapat kemudahan dan ketenangan disisiNya." Pak Sahril mencoba menenangkan istri dan menantunya.
__ADS_1
Mendengar suara itu, Reny menoleh dan menghampiri mantan suaminya.
"Maafkan aku, maafkan aku"
Reny bersimpuh di kaki Pak Sahril. Sedangkan sang mantan hanya diam.
Perlahan Kiki menghampiri suaminya. Seolah mengering, air matanya tidak mau keluar meski hatinya menjerit. Mulutnya terkatup rapat tak bersuara. Ia mengecup dalam kening lelaki yang sudah mendingin. Tangannya mengusap wajah calon ayah dari anak dalam rahimnya.
"Sayang.... apa begitu sakit? mama bersyukur kamu mengabulkan permintaan mama. Lihatlah akan ada yang memanggilku oma. Sayang...."
Bu Hanny tak sanggup lagi.
Reny tercegang mendengar ucapan Bu Hanny. Betapa iri dia melihat kemesraan mantan suaminya. Dia bahkan belum pernah merasakan perhatian seperti itu dari papa Bayu. Sejenak terlintas dalam benaknya, betapa lembut mantan suaminya itu saat masih bersama.
Bayu kembali ke kamar perawatan. Dia menumpahkan seluruh air matanya. Dia merasa bersalah membayangkan semua yang telah terjadi. Dan seketika gelap dunianya.
..........
FLASHBACK ON
Malam itu keributan terjadi pada kedua pasangan yang baru saja menyandang gelar ayah dan ibu.
"Aku tidak bisa bertahan hidup di sini. Ini terlalu sepi dan membosankan. Ayoolah kita ke kota."
"Bagaimana mungkin aku meninggalkan ibu sendirian. Pekerjaanku bagaimana? apa yang akan aku lakukan di sana? Lihatlah aku telah berhasil mengembangkan pertanian di desa ini. Kita tidak kekurangan apapun disini."
"Tapi aku tidak bisa bertani, aku sangat menyukai pekerjaanku. Apapun alasannya aku tetap pergi!"
"Kenapa kau sangat keras kepala, baiklah kalau itu yang kau mau. Sekali kau keluar dari rumah ini jangan pernah kembali lagi. Kita sudahi pernikahan ini. Aku bisa mengurus Fahri meski tanpa mu" perdebatan itu berakhir setelah seminggu lamanya tiap hari tanpa henti.
Meski menyadari talak tiga telah ia jatuhkan. Melihat betapa Fahri mendamba pelukan sang ibu, Pak Sahril berangkat ke kota.
Setengah tahun sudah ia mencari keberadaan sang mantan, hingga suatu pagi di sekolah David ia bertemu dengan Reny yang sedang mengantar Bayu.
Lagi-lagi pembicaraan keduanya tidak menemukan ujung. Karena status Reny yang telah menikah dan mempunyai putra, ia menolak untuk menemui Fahri. Karena Pak Sahril pernah mengatakan bahwa mereka bisa hidup tanpa dirinya.
Karena tidak berhasil membawa Reny pulang, Pak Sahril memutuskan untuk bekerja di Jakarta agar terhindar dari pertanyaan-pertanyaan putranya.
"Pengecut" itulah kata yang ia sematkan untuk dirinya sendiri.
Setelah menyadari bahwa Fahri juga bagian dari hidupnya. Pak Sahril membawanya ke kota.
................
__ADS_1
TBC