Pencarianku

Pencarianku
Sendiri lagi


__ADS_3

Bayu tersedak saat tertawa lepas. Dengan sigap, Kiki memberinya minum.


"Berapa usianya saat ini?" tanya Bayu melihat perut Kiki yang masih terlihat datar.


"Empat minggu."


Air mata Bayu menganak sungai tanpa bisa dibendung lagi. Raut wajahnya berubah muram. Ia menangis sesenggukan meluapkan emosinya.


"Dua kali dia menyeretku dari pintu maut. Dan kini, gerbang kematian seolah tidak menerima kehadiranku. Mengapa harus dia ya Tuh......an!" Bayu meraung hebat. Kali ini dia tidak mampu menahan untuk tidak mengeluarkan isi hatinya. Dadanya terasa sesak tak terkira.


"Lihatlah dia baru saja menemukan kebahagiaannya. Dia akan menjadi seorang ayah, mengapa bukan aku saja....." seketika dia memeluk Kiki yang ikut menangis karena tidak mampu bertahan.


"Dia kakakku, aku sangat bahagia saat mengetahuinya. Tapi mengapa dia malah mengacuhkanku. Bahkan tidak mau bertemu denganku lagi. Dia memilih meninggalkanku saat tau aku adiknya. Aku sangat sedih......."


Semua orang yang ada di sana terkejut mendengar penuturan Bayu terutama Kiki. Pak Sahril masih membisu, Reny berlari mendekati putranya. Namun langkahnya terhenti saat Bayu menolaknya. Kiki termenung.


"Apakah itu benar?"


Bayu menganguk dengan deraian air mata.



Bayu menghempaskan tubuh seketika setelah mengusap air matanya. Dia merasa lemas tak berdaya, tangannya mengusap perut Kiki pelan.


"Keponakanku yang hebat, tumbuhlah menjadi seseorang yang kuat. Jaga mamamu dengan baik. Maaf, maafkan aku yang telah merenggut kebahagiaan kalian." Kata itu membuat Reny terduduk di lantai terkulai lemas.


"Jangan bicarakan yang tidak penting. Semua ini bukan salah siapapun. Berdamailah dengan takdir." Kiki masih mencoba mensuport Bayu, melihat kondisinya semakin melemah.


Perlahan dokter memasuki ruangan. Bayu meraih jemari Kiki tak henti-hentinya ia meminta maaf. Dan.............


seketika jari lentik itu terhempas perlahan dia menyebut Tuhannya untuk terakhir kali. Bayu menutup matanya lekat dan benar saja dia tidak membukanya kembali.


Dokter terus berusaha melakukan tindakan medis. Segala cara telah dilakukan, namun Bayu benar-benar enggan membuka matanya. Hembusan nafas terakhir membawanya dalam kedamaian. Senyum tipis terulas di bibir sexinya.


Dokter mengumumkan kepergian Bayu dengan berat hati. Reny tersungkur dihadapan putra keduanya.


Papa Bayu baru datang memeluk tubuh istrinya yang tidak sadarkan diri. Segera Bayu dipindahkan untuk persiapan pemakaman.


............


Kiki mendaratkan bokongnya di kursi taman rumah sakit.


" Baru seminggu yang lalu aku melepas dia di sini. Taman yang sama, bangku yang sama. Hembusan angin yang sama, terik mentari yang telah lelah. Jadi mereka bersaudara? lelucon dunia benar-benar tak terduga. Anaknya menanti kedatangannya, setiap detik, setiap hembusan nafasnya (terbayang saat Fahri memandang ke arah sungai saat hatinya kalut merindukan kedua orang tuanya) begitu pentingkah sandang pangan papan mewah? huuufft!!"


Perlahan seorang pria berseragam putih duduk disampingnya.

__ADS_1


"Siapa dia? mengapa ayah dan ibu Fahri ada di sana?" suara itu mengejutkan lamunan Kiki.


"Mas Sam?"


Sang dokter menganguk dengan menampilkan senyum manis. Sejenak Kiki termenung kemudian terisak. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Dia adik tiri Fahri."


"Oh! lalu dimana Fahri? aku belum melihat dia sejak adiknya dirawat." Pertanyaan itu membuat Kiki semakin terisak.


David terhenti di sisi taman saat hendak memberikan air mineral untuk Kiki. Dia melihat seorang pria memeluk adik iparnya. Jauh di lubuk hatinya ingin mengetahui hubungan mereka.


Namun sikap cueknya mendominasi sehingga dia memilih diam.


Sedangkan disisi lain, seorang wanita berseragam putih mengamati keduanya penuh amarah.


"Fahri mendahuluinya seminggu yang lalu." Dokter Sam terperangah tidak percaya. Kiki menganguk melihat ekspresi sang dokter.


"Mereka mengalami kecelakaan bersama" tangisnya pecah kini. Mereka saling berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain.


Teman kecil mereka telah berpulang terlebih dahulu. Pria itu merasa terpukul mendengarnya. Ya, dokter itu adalah samudra. Seorang teman yang gemar melantunkan langgam Jawa. Kesehariannya hidup di lingkungan keluarga dalang. Sehingga dia fasih melantunkan kidung karena sering mendengar kru saat latihan.


"Dia bilang keponakan! apa kau sedang mengandung putra si culun itu?" Samudra memanggil Fahri culun karena seringnya dia membela Kiki yang banyak kemauan. Kiki menganguk sambil mengusap perutnya.


"Lihatlah betapa culunnya dia hingga menikah dengan adik kelas yang selalu merepotkannya." Dokter itu memandang nanar kedepan mengusap kasar wajahnya.


Samudra selalu membully Fahri karena cemburu. Dulu, Kiki selalu mengacuhkannya saat Sam memberikan perhatian terhadap dirinya. Kiki selalu berlari kepada Fahri saat dia punya masalah. Karenanya Sam selalu mengejek mereka.


Dokter Sam melihat jam di pergelangan tangannya. Dia pamit karena ada tugas. David mulai melangkahkan kakinya mendekati Kiki. Namun langkahnya kembali terhenti melihat sosok wanita yang sedang dipenuhi amarah.


Wanita itu pergi mengejar sang dokter. Kini, David duduk menggantikan sang dokter.


"Bagaimana keadaanmu?" David bertanya dengan hati-hati.


Senyum Kiki mengembang.


"Aku baik-baik saja."


"Syukurlah!" jawabanya singkat namun sedikit dingin.


" Kapan kau datang?"


"Pagi ini, mama langsung mengajakku kemari."


"Bisakah aku minta tolong?"

__ADS_1


"Tentu!"


"Bisakah kau mengurus counter-counter suamiku?"


"Dengan senang hati. Jangan pikirkan apapun, kau cukup fokus dengan perutmu." Senyum tipis terulas di bibir David menanggapi keinginan Kiki.


"Ayo kita pulang, papa sudah menunggu di mobil." Sejenak David melihat ponselnya kemudian menerima panggilan.


"Papa mengurus pemakan Bayu. Kita pulang yuk! mama sudah di mobil." David melangkah namun Kiki masih diam. Calon ibu itu merasa kakinya berat sehingga susah untuk berdiri.


Entah karena lelah atau masih syock, dia merasa benar-benar sulit menggerakkan kakinya. David menoleh kepadanya, dia masih berusaha menggerakkan kakinya.


"Adaapa dengan kakiku?"


Pertanyaan itu tidak ditanggapi oleh saudara iparnya. Tanpa banyak kata David menggendongnya. Sontak Kiki menggelayut di leher kakak iparnya.


Canggung, itulah yang mereka rasakan. Namun, David tak mengerti mengapa dia melakukannya.


Kedua orangtuanya terheran melihat kelakuan sang putra. Seketika mimik wajah mereka berubah menjadi khawatir.


"Ada apa sayang?"


"Mungkin dia masih syock ma, dia merasa lemas. Aku khawatir dengan kandungannya bila ku biarkan dia berjalan."


Penjelasan itu bisa diterima dengan baik oleh orang tuanya.


Kiki masih enggan berbicara. Meski mertuanya terus menanyakan keadaannya saat ini. Semua pertanyaan itu di jawab dengan gelengan ataupun angukan saja. David menyetir sembari memperhatikan wajah Kiki dari spion.


Dengan hati-hati, David menggendong kembali adik iparnya. Membawanya ke kamar, memberikannya minum. Membasuh peluhnya. Bahkan merendam kakinya dengan air hangat. Semua itu ia lakukan sesuai permintaan sang mama.


Percayalah, dia sangat bahagia melakukan itu semua. Entah berasal dari mana, yang jelas perasaan itu menghangatkan sudut hatinya. Dia benar-benar menikmati aksinya tersebut.


Dia merasakan kehawatiran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ketika mendapati keringat dingin mengguyur pelipis Kiki. Dia seolah diserang sindrom panik saat menggendong wanita dengan bayi di perut yang masih datar tersebut.


.


.


.


.


Terimakasih atas


supportnya wahai para sohibku sekalian.

__ADS_1


Happy reading 🤗🤗😍💖💖


__ADS_2