Pencarianku

Pencarianku
Kehadiran baby boy


__ADS_3

Subuh, "ma....... mama....." terdengar rintihan Kiki menahan sakit. David lompat dari musholla keluarga yang terletak tidak jauh dari sumber suara diikuti kedua orangtuanya.


Seolah hendak lepas jantung pemuda itu menyaksikan darah meluber di lantai. Tanpa kata dia segera menggendong Kiki.


Pak Sahril menyiapkan mobil, dan Bu Hanny membawa perlengkapan bayi.


Kiki menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Bersandar pada dada bidang David, ia masih memejamkan mata. Kedua tangan bergelayut di leher sang pria, membuat ia refleks mengeratkan pelukannya.


Nafasnya tersengal, Bu Hanny memberikan aba-aba pengaturan nafas. Sejenak, semua yang ia rasakan menghilang. Ia memperhatikan wajah David, ketika ia merasa ada yang membasahi keningnya. Ternyata air mata David mengalir deras.


Kiki tertawa renyah, sontak membuat yang ada di sana tercengang. Kiki mempererat pelukan menghadiahkan kecupan di pipinya.


"Hai kalian! jangan main-main!"


Bu Hanny merasa kesal melihat keduanya. Pak Sahril terkekeh, menggelengkan kepala seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Dalam keadaan seperti ini kalian masih saja berfantasi. Sungguh luar biasa anak muda!"


Kiki kembali mengerang saat melihat darah telah memenuhi dudukan mobil. Kembali Bu Hanny mengisyaratkan untuk mengatur nafas, dan melarang Kiki mengejan.


IGD, sampai sudah pada tempat yang dituju. Kiki segera dilarikan ke ruang bersalin. David masih terus meratap. Kedua orang tuanya sibuk memanjatkan doa.


Hingga terdengar tangisan pecah, mereka mengucapkan syukur bersama.


Kiki melahirkan secara normal, kondisinya lemah. Namun bayinya sangat sehat, dokter menyerahkan sang baby boy kepada kakeknya untuk di kumandangkan adzan dan Iqamah.


"Bayi laki-laki dengan berat 3 kilogram," pernyataan sang dokter membuat semua tersenyum puas. Meski Kiki masih dalam perawatan.


Tubuh David lunglai ia menangis dalam dekapan sang mama.


"Apa ini ma, perasaan macam apa ini?"


David terpukau menyaksikan si baby boy menggelut tubuh ibunya. Kiki tersenyum haru melihat sang baby merayap mencari makanan pokoknya.


"Bersihkan dirimu, agar bisa menggendongnya."


"Baiklah pa!"


Segera ia berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari bekas darah yang menempel dibaju dan beberapa bagian tubuhnya.


"Ma, ngantuk banget. Aku takut dia terjatuh."


"Tahan dulu sayang, jangan pejamkan matamu. tunggu dia kenyang dulu."


Si baby boy melahap makanannya penuh semangat. Seolah tiada lelah ia memompa ASI dengan kuat. Tak terasa akhirnya Kiki terpejam setelah bayinya kenyang.


Masih dengan posisi tengkurap di atas dada sang mommy, baby boy terlelap dengan mulut sedikit mengangah. David mengulum senyum melihatnya.

__ADS_1


Dia merasa gemas melihat pemandangan seperti itu.


Khawatir jatuh, Bu Hanny mengalihkan si baby ke dalam gendongannya. Kondisinya yang tidak bisa berdiri membuat ia sedikit kesulitan.


David segera mengambil babynya, tangannya masih kaku dan canggung menimang si baby. Namun dia tidak menyerah, ia berusaha memberikan posisi ternyaman agar si baby berhenti bergerak.


Dengan telaten dan sabar akhirnya terdengar dengkuran halus.


David mengulum senyumnya, tak henti-henti memandang wujud mungil nan menggemaskan.


"Akhirnya!" David merasa puas bisa menaklukkan bayinya.


"Hahahaha good boy, iihh lucu banget sih!" sembari menghujani kecupan-kecupan lembut di wajah si baby.


"Mendadak gila," Bu Hanny merasa illfil menyaksikan sang putra.


"Iiiihhh cakep bener sih boynya Daddy," berkali-kali babynya menggeliat dan menguap terlihat semakin menggemaskan.


"Wah wah wah! benar-benar tak terselamatkan hahahaha," kedua orang tuanya terus menertawakan aksi David.


Kiki terbangun mendengar Senda gurau keluarganya.


Ia mengulum senyum melihat David bersama putra sulungnya.


.............


Kondisi ibu dan bayi sehat tidak ada keluhan, sehingga dokter mperbolehkan pulang.


"Tunggu!" menatap intens seseorang yang berpapasan dengannya.


"Bu Renny!" yang dipanggil menoleh.


Tatapannya tajam, namun tidak ada tujuan. Pandangan kosong mengarah kedepan.


"David, aku tidak salah kan?"


"Sepertinya tidak!"


Segera David berbalik mengejar Renny dengan tangan masih mendorong kursi roda tentunya.


"Maaf, apa yang terjadi padanya?"


"Pasien mengalami gangguan mental, beliau baru saja menyakiti dirinya. Maaf! kami harus cepat."


Keduanya syock, David mengusap lembut bahu Kiki untuk menenangkannya.


"Kita pulang dulu, aku akan cari tau keadaannya. Jika memungkinkan kita akan menjenguknya."

__ADS_1


.............


Setelah insiden yang merenggut kedua putranya, Renny tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia benar-benar sendirian.


Dia menikah sirih dengan papa Bayu, bersedia menjadi madu ternyata bukanlah hal mudah untuknya. Setelah segala cara ia lakukan demi mendapat pengakuan untuk sang putra, takdir malah merenggut nyawa anak itu dengan kejam. Yang membuatnya semakin tertekan, Bayu tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk menemani di detik-detik terakhir.


Dia menyalahkan diri sendiri atas meninggalnya dua putra yang minim perhatian darinya. Meskipun sang suami telah berusaha memberikan pengertian, namun ia tetap saja menyalahkan keegoannya.


Tidak sanggup menahan rasa putus asa, Renny mencoba menyayat pergelangan tangannya. Tenaga lemah yang ia miliki membuat sayatan itu tidak begitu dalam Namun di khawatirkan infeksi. Karena itu ia segera dilarikan ke instalasi gawat darurat.


Sepanjang malam, Renny menangis, berteriak histeris diakhiri dengan gelak tawa. Dia terus berbicara dengan kedua putranya seolah mereka ada di depan mata.


"Lihatlah putraku sudah dewasa, dia sangat tampan hihihi..... Bayu sayang, Fahri sayang mama rindu.....huhuhu."


Kondisinya labil, tidak bisa diajak komunikasi. Sehingga suaminya memutuskan untuk memindahkan perawatannya di rumah sakit jiwa.


Semakin hari, dia semakin terpuruk. Setelah mendapatkan perawatan medis dan psikologis, kini Renny berubah menjadi pendiam.


Keluarga suami semakin tidak peduli. Akhirnya dia berada di panti sosial kini. Tidak ada lagi yang ia harapkan, selain melewati hari-hari kedepan dengan diam.


Bersama teman-teman yang lainnya, ia bekerja sebagai perajut tas, dompet ataupun baju. Hasilnya dipasarkan online oleh salah satu pengurus panti sosial.


............


Satu orang menghebohkan dunia malam keluarga Pak Sahril. Siapa lagi kalo bukan si baby boy, Sandi Fahri Saputra.


Nama bapaknya ikut serta, karena ia adalah sandi milik Fahri.


Malam-malam keluarga pak Sahril makin tidak tenang. Suara tangis Sandi memekakkan telinga. Namun, tidak seorangpun bisa menenangkannya kecuali calon Daddynya. Ya, masih calon karena sang mommy akan menikah dengan David dua bulan kedepan.


Meski persiapan sudah clear, namun Kiki harus menunggu nifasnya selesai dan juga kesiapan mental untuk bersatu dengan David.


Kedekatan Sandi dan calon Daddynya membuat Kiki tidak lagi ada keraguan akan masalah pengasuhan. David sangat sigap bila Sandi menangis dan siaga bila si boy pup ataupun buang hajat. Dia tidak merasa risih mengganti popok maupun membersihkannya.


Benar-benar di luar nalar bagi seorang David yang selalu memerintah dan gila kebersihan. Bahkan Bu Hanny tidak pernah mengira jika sang putra begitu lembutnya memperlakukan Sandi.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2