Pencarianku

Pencarianku
Terima kenyataan


__ADS_3

"Assalamualaikum!"


Dua saudara tiba di rumah, mereka langsung masuk kamar kakaknya karena terlihat semua berkumpul di sana. Rumah David di desain sangat sederhana. Hanya satu lantai dengan kamar berjajar mengitari ruang keluarga. Belajar dari pengalaman, David ingin keluarga kecilnya bersatu saling mengetahui pribadi masing-masing. Terbukti dengan cara mereka tidur, walaupun telah memiliki kamar pribadi masing-masing, mereka bertiga tetap sering menghabiskan waktu sekamar.


"Astaga Dad! makin tua makin mesum aja. Gak kasihan sama para jomblo," celetuk Riki.


"Kak! betah banget sih jadi nyamuk," Fira bersuara.


"Hah! susah sama orang tua puber kelima," Sandi menanggapi malas.


"Sayang, mengapa mulut mereka sangat pedas?" David memelas dihadapan istrinya. Namun Kiki hanya tersenyum menyaksikan perdebatan keluarganya.


David memutuskan untuk membangun rumah sendiri sesuai impiannya. Orang tuanya tidak mau ikut, karena mereka ingin melihat putranya menjalani kehidupan sesuai dengan keinginannya. Tidak ada yang lebih berharga bagi Bu Hanny selain kebahagiaan putra semata wayangnya. Sebagai orang tua, mereka hanya memantau saja. Dan selama ini tidak ada masalah yang membuat mereka meributkan hal yang tidak berguna.


"Kak! ngemall yuk!" Fira mulai beraksi, menunggangi punggung sang kakak.


"Kak! tambahin dong uang jajan, nipis nih!" Riki merangkul leher Sandi, berusaha melihat wajah kakaknya yang sedang bersembunyi dibalik bantal.


Tanpa suara, Sandi mengeluarkan dompet dari kantong celana. Melempar asal di atas kasur.


"Jangan ganggu kakak sayang, dia sedang capek berat," Kiki mencoba mengusir para penganggu. Bukanya pergi, mereka berdua malah menggerayangi tubuh sang kakak. Menyentuh dengan pijitan-pijitan pelan di kaki dan punggungnya.


"Kak! kenapa sih diem aja, minta kawin ya!" Fira mencengkram bahu kakaknya.


"Auw! apaan sih," terlihat pipinya basah. Semua orang tercengang.


"Gak niat banget sih mijitnya!" merajuk.


"Maaf! sory!" berbarengan.


"Lu nangis?" sargas Fira.


"Hadyuuuuh, dibilang gue capek, ngantuk berat." Kembali telungkup. keempatnya saling bertukar pandang.


Fira merangkul leher kakaknya dengan posisi berbaring. "Kak, maafin kita-kita udah bikin kakak kesel. Kita janji deh gak akan malakin kakak lagi." mengecup telinganya.


Sandi berbalik, memposisikan dirinya menatap sang adik. "Udah dikasih gak mau ya udah, nih buat kamu aja." Menyerahkan kartu debit pada Riki. Namun Riki menggelengkan kepalanya, mereka belum pernah melihat kakaknya menangis seperti itu. Mereka ikut sedih, meski tidak mengerti permasalahannya.


"Sayang, sebaiknya kalian bersenang-senang biar kakak juga bersemangat lagi." Kiki berusaha memberikan pengertian.


"Atau kita bareng-bareng ni ngemallnya?" David bersuara.


"Asyiklah kalo ada yang traktir," Sandi mulai bergegas agar keluarganya tidak larut dalam kesedihannya.

__ADS_1


........


Di mall......


"Pesen apa?" membolak-balikkan daftar menu.


"Kakak mau gurami asam manis?"


"oke!"


Dalam kebersamaan mereka, tiba-tiba Kiki melihat sepasang suami istri juga sedang makan di resto yang sama.


"Dad, aku gak salah lihat kan?" menggedikkan dagu menunjuk seseorang.


"Sudah Mom, biarin ajalah suka-suka dia."


Kiki melihat papa Bayu Sedang asyik makan bersama dengan seorang wanita cantik. Namun disaat ia serius dengan pandangannya, seorang lelaki tua menghampiri mereka.


"Malam! maaf ganggu, bisakah kita bicara sebentar?" menatap David.


Mereka binggung, David terkejut dengan dandanan lelaki tersebut. David menjauh dari keluarganya demi menemui lelaki tersebut.


"Apa yang kau inginkan sekarang?" geram.


"Maaf! hanya maaf yang aku inginkan darimu," memelas. "Aku menderita Tumor paru-paru, aku akan melakukan pengobatan dan tidak tau hasil akhirnya. Sebelum aku pergi, maafkan aku atas segalanya."


"Mereka cucuku? bisakah kau memperkenalkan mereka padaku?" memohon.


David berpikir sejenak, "baiklah!" dengan segenap keikhlasannya, semoga papa brengseknya bisa pergi dengan tenang untuk mendapatkan pengobatan.


"Sayang, kenalkan ini mantan papa Daddy. Beliau akan berobat, jadi berikan salam dan do'a kalian untuknya." Masih dengan nada kesal.


Mereka menyalim tangan pria tua itu bergantian. Mereka masih kaget dengan kata "mantan papa" namun mereka tetap diam karena tau Daddynya tidak suka membahas tentang pria tua yang di anggapnya brengsek itu.


Bagi mereka yang penting semuanya bahagia, yang lain biarkan saja. Itu adalah motto hidup keluarga David yang dibina dengan kasih sayang tulus seorang ayah.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


The end


.


.


.


.


.


Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada


Indra Bayu A.S. yang telah mensupport karya ini dalam hal penulisan.


Mengapa di skip 27 tahun kemudian, karena adegan Kiki dan David paling banyak di atas ranjang 🀭🀭🀭, takut tidak lolos review itu jadi pertimbangan.


Kisah ini adalah cerita keluarga tanpa bumbu pelakor jadi mungkin terkesan lempeng alurnya, tidak banyak konflik😊.


Terimakasih buat teman-teman yang telah bersedia memberikan kritik dan saran di G.W. terimakasih juga kalian bersedia menuangkan komen di sini, walaupun sebelumnya kalian tidak punya apk ini.


Terimakasih


@Tunggadevi


@Yuchi


Dan teman-teman online lainnya yang tidak terdeteksi πŸ™πŸ™πŸ™


Kenapa sudah end aja?


Sebenarnya cerita ini hanya 25 chapter, namun karena ada penambahan kisah yang direkomendasikan oleh salah seorang teman, maka episodenya bertambah😊😊

__ADS_1


Terimakasih banyak teman-teman, lain kali kalo ada waktu senggang saya akan mencoba menulis lagi. Tau kan, author sedang apa sekarang 😊


Bye sampai jumpa dikisah lainnya πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2