
Kiki POV
Aku, bukanlah orang yang mudah jatuh cinta. Namun untuk anakku, aku akan mencobanya.
mencoba? seperti mainan saja.
Aku akan berusaha menjalaninya. Menapaki jalan yang berbeda dengan impianku.
Selama hidupku hanya ingin memperoleh kasih sayang dari Fahri. Orang yang selalu ada saat aku membuka mata. Selalu ada saat aku menderita.
Jauh darinya adalah nestapa. Ribuan detik aku memikirkan tentang dia. Kini aku harus merelakan kepergianya, seperti mimpi baru saja aku merasakan kehangatan darinya. Bahkan benih telah bersarang di rumah impiannya. Dia, tidak kembali.
.........
"Hai my boy, Daddy sudah pulang. Main yuuuk!"
"Mandi dulu Dad!" nyengir kuda.
Kiki telah terbiasa dengan setiap perlakuan David, Begitupun sebaliknya. Bu Hanny selalu mengembangkan senyum setiap kali melihat interaksi tiga insan itu, mereka sudah tampak seperti keluarga kecil yang harmonis.
"Daddy da wangi, sini Daddy yang gendong," mengambil dari ranjang.
"Jangan gendong terus Dad, ntar kebiasaan," sedikit sewot.
"Ahh sebentar doank," menampik.
David terus mengecup seluruh wajah si baby boy. Kiki memukul punggungnya, "hentikan! dia baru saja istirahat."
"Sayangnya Daddy mau main apa? mobil-mobilan, kereta, atau bus?" tidak menghiraukan.
"Laptop Dad!" sahut Kiki.
"Waaah belum waktunya sayang, nanti kalo kamu sudah dewasa gantikan Daddy di depan laptop. Daddy mau bergelut di kasur hahahaha..." mulai ngelantur.
Bulir bening jatuh membasahi pipi wanita paruh baya yang terus menatap lekat dari arah ruang keluarga. Ya, Bu Hanny sang mama sangat tersentuh melihat putranya begitu menyayangi keluarganya, calon lebih tepatnya.
Kehawatiran yang selama ini ia rasakan musnah seketika. Bagaimana tidak, selama ini sikap David cuek, dingin, pemarah persis bapak moyangnya. Tapi kini dia benar-benar berubah.
"Hmm malaikat papa sedih gini kenapa ya?" memeluk dari belakang.
"Lihat mereka deh pa," menggedikkan dagu.
"Semoga bahagia selamanya."
"Amiiiiinnnnnn."
................
Hari ini yang di nanti telah tiba,
David ingin mengadakan resepsi pernikahan. Namun Kiki menolak, "dulu aku tidak menikah dengan meriah. Sekarang pun tidak, buatku yang penting kesakralannya terjaga. Resepsi bikin capek nguras tenaga, kasihan Sandi."
"Bukankah seorang wanita selalu memimpikan tema pernikahannya?"
"Aku bukanlah wanita pemimpi, tidak ada waktu bagiku untuk bermimpi," mengecup baby boy.
"Hah! ya sudahlah."
Sebenarnya David ingin memberikan kebahagiaan dengan adanya resepsi, namun bahagia yang di inginkan wanitanya bukanlah sesuatu yang mewah.
__ADS_1
David sudah siap dengan setelan batiknya, terlihat tampan dan menawan. Segera Kiki keluar dengan menggunakan kebaya berpadu rok batik senada dengan kemeja batik David.
Untuk kedua kalinya, pak Sahril menjadi saksi pernikahan putranya. Namun kali ini untuk putra tirinya, terlintas sejenak ketika Fahri mengucapkan ijab qobul dihadapannya.
"Tenanglah, ada yang menjaga keluarga kecilmu," menyeka air matanya.
David mengucapkan ijab qobul dengan lancar. Ruangan dipenuhi rasa haru, para tamu saling mengucapkan selamat. Tidak banyak yang di undang, hanya sahabat dan kerabat.
Air mata Bu Hanny terus mengalir bagai anak sungai tanpa bisa dibendung.
"Meski janda, dia terbiasa mendapat kelembutan. Jadi berhati-hatilah jangan tergesa-gesa," membisikan kata-kata yang mungkin tabu didengar orang lain.
"Sesuai kemauan mama! katakanlah ingin cucu berapa? aku usahakan tiap tahun ada hahahaha," menjawab asal.
"Manusia gak ada akhlak! kau pikir peternakan apa!" menahan senyum.
"Biar rame."
"Plak!" pukulan kecil mendarat di kepala David.
Pak Sahril menghampiri dua orang yang asyik tertawa.
"Pada ghibahin siapa?" matanya menelisik.
"Ghibah? aku hanya menasehati anakku yang minim akhlak." Bu Hanny menepuk pundak David.
"Memang apa yang perlu di nasehatkan? sepertinya dia sangat berpengalaman hahahaha...."
"Ooohhh papa menyakiti ku," pura-pura terluka.
Kedua orang tuanya memutar bola mata jengah.
"Pa, apa perlu bulan madu?"
"Bulan madu? urus anak dulu sana. Ingat! dia itu janda yang masih rentan. Jangan seenak jidatmu ngajak bulan madu." Bu Hanny seolah tidak setuju.
"Aku sangat ingin membuatnya bahagia, tapi apa daya wanitaku tidak suka foyah-foyah."
"Siapa suruh menikahi janda kembang baru lahiran?"
"Ma, dia istriku. Ingat! dia menantu mama satu-satunya."
"Oh son, semoga saja dia memang satu-satunya!"
"Aku jamin!"
"I love you so!"
"Me too, mom!"
- πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ-
David masuk kamar, mendapati istrinya telah meletakkan baby boy di ranjang. Baru saja berdiri tegak, Kiki di kejutkan oleh pelukan suami barunya.
Ya, David memberanikan diri mendekati Kiki lebih intens. Kiki berusaha membalas perlakuan David meski canggung.
"Apa dia sudah tidur?" berbisik tepat di telinga Kiki.
__ADS_1
"Hmm"
"Boleh aku menciumnya?" mendekatkan hidung di pipi Kiki.
"Heh! sudah melakukannya. baru minta ijin," mencibir.
"Terimalah aku sebagai pengganti suamimu. Jangan sekali-kali memikirkan suamimu saat bersamaku!" suaranya di buat selembut mungkin.
"Mantan, dia mantan suamiku. Dan perlu kau tau dia masa laluku, kau masa depanku." Menangkup wajah David.
"Aku senang mendengarnya!"
"Bagaimanapun dia cinta pertamaku Sandi dari anakku, ijinkan aku berdo'a untuknya disetiap sujudku. Ijinkan aku mengunjungi makamnya."
"Tentu! dia adikku, jangan lupa itu!"
"Terimakasih!" mengecup pipi David kemudian memeluknya.
David tertegun, bagaimana wanitanya begitu cepat merespon dirinya. Apakah ini pertanda jika dia sudah mendapat kode penerimaannya?.
Rasa yang terpendam begitu dalam muncul sudah. Hasrat lelakinya menyeruak, menghadirkan senyar-senyar halus. Namun ia masih bisa menampik perasaannya, dia masih dikendalikan kesadaran akan status wanitanya. Meskipun sah-sah saja melakukannya, namun ia memilih waktu yang berbicara. Dia menunggu kesiapan sang wanita agar tidak menyakitinya.
Malam pertama tidur bertiga, hah! bukan masalah. David memilih tidur di belakang Kiki agar lebih mudah memeluknya.
Selama itu ia terus menempelkan wajahnya di tengkuk sang istri. Kiki menyadari ada sesuatu yang tiba-tiba mengeras di bawah sana. Namun ia tidak mempedulikannya, karena Sandi tengah asyik melahap makanan pokoknya.
"Maaf!" kata pertama untuk suaminya.
"Untuk apa?"
"Aku belum bisa memberikan hakmu."
"Aku mengerti, biarkan aku menenangkan diri."
Malam panjang terlewati dengan hanya berdiam. Hingga Surya menampakkan diri, mereka belum keluar. Kedua orang tuanya membiarkan mereka dengan pikiran yang sudah sangat terkontaminasi.
"Bagaimana rasanya?" bisikan sang mama mengejutkan David yang baru saja menutup pintu kamarnya dengan hati-hati.
"Oh! ayolah ma, aku tidak tergesa-gesa."
"Oh ya, tapi wajahnya tidak terlihat begitu." Pak Sahril ikut serta menggoda anaknya.
"Pa! pliissss..... papa jangan buka kartu," memanyunkan bibirnya.
Pagi ini mereka sarapan bertiga. Sejak Kiki melahirkan, ia sering sarapan sendiri. Menunggu sang baby melepaskannya. Pagi hari adalah waktu yang sulit untuk melepaskan diri dari Sandi si baby boy. Begitupun hari ini, tapi yang membuat berbeda adalah mulai pagi ini ada yang membantu dirinya membereskan kamar tempat tinggal mereka bertiga.
.
.
.
.
Terimakasih buat teman-teman yang selalu memberikan inspirasi selama saya menulis kisah ini.
Terimakasih selalu support saya baik di real dan media.
peluk online buat kalian π€π€πππ
__ADS_1
TBC
"