Pencarianku

Pencarianku
Kabar gembira


__ADS_3

Dua purnama kini telah melintasi garis cakrawala. Senyum para gemintang masih setia menghiasi angkasa. Perlahan biduk awan mendekat. Mereka bertanya, apakah gemuruh akan ikut serta?


apakah riuh taufan meributkan angkasa? Semua kepanikan tak terkira.


Bulan bundar masih terbit dari timur. Menampakkan wajah ayu sang penyuluh malam. Denting angin semilir berdesir. Menambah dingin relung rindu.


"Aku menagih janji"


Senyum tipis tak kasat mata tercipta di wajah suntuk Bayu. Sejenak fikirannya menerawang. Tapi masih tidak mampu menemukan jawaban.


"Secepatnya, tunggu kabar dariku"


Malam yang sepi, menghiasi ruang rapi tanpa secuilpun rasa. Hanya suara jendela meneriaki raga. Raga yang sedang haus akan dahaga. Kekeringan terlalu lama. Gersang menapaki suasana setiap harinya.


Dua purnama, rasa yang pernah singgah telah lenyap selama itu. Meski dia selalu bertemu. Rasa yang dulu pernah terasa manis, kini menjadi sedikit hampa.Memang begitulah dunia, kadang enggan menyapa.


Fahri call.......


πŸ“±Bayu


Ada angin apa?


πŸ“± Fahri


menurutmu?


πŸ“±Bayu


.........


πŸ“± Fahri


Sudah di rumah?


πŸ“± Bayu


Hmm.....


πŸ“± Fahri


Lagi ngirit pulsa?


πŸ“± Bayu


Haaah!!!!


Fahri mengakhiri panggilan, karena merasa ada yang sedang gundah gulana.


"Sayang.... aku keluar sebentar"


"Kemana?" Kiki mengambil jaket dan memakaikannya pada sang suami.


"Mau ke tempat Bayu"


"Dia kenapa?" Kiki masih sedikit penasaran.


"Sepertinya jomblo akut itu sedang galau"


"Kenalin aja sama Ambar, siapa tau berjodoh."


"Ide bagus"


Sebulan yang lalu pasangan pengantin baru itu memutuskan pindah ke rumah barunya. Seperti perkiraan kedua orangtuanya, mereka memang butuh privasi.


Jarak rumah mereka tidak jauh dari tempat Bayu. Tetangga kompleks. Bayu sering datang ke tempat Fahri. Hingga membuat Kiki semakin akrab dan memahami Bayu secara garis besar.


Ada rasa nyaman saat Bayu berada di tengah-tengah pasangan muda itu. Tidak jarang pula mereka mengajak Bayu berkunjung ke rumah orangtuanya. Seolah kini telah menjadi bagian dari keluarga itu. David semakin mencibir saat mendapati Bayu berada di kediamannya.

__ADS_1


Meski David tidak berada di sana, dia sering melakukan voice call dengan sang papa.


Untuk mendapatkan saran dalam mengambil keputusan baik masalah pribadi ataupun masalah perusahaan.


Sejak pertemuan terakhirnya dengan Fahri. David tidak lagi bermain dunia malam. Pak Sahril pun telah mengetahui kebiasaan putra tirinya yang telah tersembunyi rapat selama ini. Pak Sahril selalu mengingatkan David agar menjauh dari tempat yang tidak pernah tidur dalam kegelapan malam.


Seperti yang mereka inginkan. David benar-benar mengabulkan permintaan mereka. Kini, bila ada pertemuan yang mengharuskan ia melangkahkan ke club malam, dia selalu beralasan tidak bisa.


Di sisi lain, sang papa yang telah haus akan keserakahannya selalu mengintai putranya yang semakin sukses menapaki dunia bisnis. Ya, papa biologisnya. Yang pernah mengkhianati sang mama. Yang meninggalkannya ketika ia sangat mbutuhkan gandengan tangannya.


"Apa aku sedang bermimpi?"


Fahri menyentil kening Bayu yang mematung di depan pintu.


Tanpa dipersilahkan masuk, Fahri menggeser tubuhnya melangkah kedalam rumah si bujang merana.


"Kulkas kosong " suara pintu terbanting.


Fahri membanting pintu kulkas setelah mendapatinya kosong.


Hanya tersisa beberapa minuman di sana.


"Maklum tanggal tua"


"Kek pemiliknya" ejekan itu terdengar pilu, namun mampu membuat mereka tertawa.


"Ngemall tanpa istri dosa gak sih?"


"Let's go!" Fahri faham akan arah pembicaraan sahabatnya.


πŸ’Œ Fahri


yi.... aku nemenin jomblo akut belanja. Kamu nitip sesuatu?


πŸ’Œ Kiki


testpack


πŸ’Œ Fahri


What?


πŸ’ŒKiki


sepertinya aku terlambat bulan ini.


πŸ’Œ Fahri


Semoga yaaa Tuhaaan


πŸ’Œ Kiki


Amiiiiinnnnnn 🀲🀲


Mereka sangat berharap kecebong-kecebong piaraan Fahri sukses bersemai dalam rahim sang istri.


πŸ’Œ mom


Apakah sulit sekali mengajak orang makan malam?


πŸ’Œ Bayu


πŸ€”πŸ€”πŸ€”


πŸ’Œmom


Huuufft

__ADS_1


πŸ’Œ Bayu


sabar!


πŸ’Œmom



πŸ’Œ Bayu


πŸ™„πŸ™„πŸ™„


Sejak peristiwa memilukan itu, sang mama lebih sering menemui Bayu. Menanyakan kabar sang putra. Menghubunginya meski sekedar menanyakan makan. Hingga mengundang rasa cemburu sang papa.


"Akhir-akhir ini mengapa dia sering terlihat sumringah. Tak jarang dia tersenyum setelah membaca pesan. Atau berbicara mesra ditelpon.Apa yang dia sembunyikan?" pertanyaan itu selalu muncul dalam benak papa Bayu saat memergoki istrinya.


Papa Bayu sedang menyelidiki istrinya.


"Ma, bisakah aku meminjam handphone sebentar?" sang istri mengernyit, mendapati sang suami bertingkah tidak seperti biasanya.


"Handphoneku lowbat" berusaha menjelaskan. sementara sang istri masih dalam mode bingung.


"Aku mau menghubungi mommy" sang istri akhirnya mengalah dan memberikan ponselnya.


Ada pesan yang selalu nangkring di rooftop ponsel sang istri. Disana tertulis "si degil" pria itu segera membuka kolom pesan itu. Disalah satu chatnya tertulis "mom" ia merasa lega. Kemudian dia memeriksa log panggilan. Ternyata banyak sekali log panggilan tertuju pada "si degil" pria itu menggelengkan kepala dan senyum tipis menghiasi wajahnya. Dalam relung hati yang paling dalam, ia merasa bahagia. Merasa lega karena sang putra baik-baik saja. Merasa puas karena wanitannya kembali bahagia.


Di sebuah mall........


Duo cowok macho berjalan beriringan. Mereka terlihat sigap memilah dan memilih bahan makanan. Puluhan pasang mata menyelidik hubungan mereka. Biasanya mereka tidak menghiraukannya. Namun kali ini entahlah, Fahri merasa risih dengan tatapan mereka.


Dalam antrian panjang kasir, Fahri menghubungi wanitanya.


Berbincang sedikit mesra, untuk menghindari tatapan mata para tukang ghibah.


-🌼🌼🌼🌼-


Setelah berlama-lama menghabiskan malam Minggu dengan si jomblo akut, Fahri segera melajukan motor kesayangannya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak sabar untuk mengetahui hasil cocok tanamnya di dua purnama.


Tanpa memencet bel, pria itu menghampiri istrinya yang ternyata sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Diletakkannya alat itu di atas nakas. Dan ia mengikuti jejak sang istri dalam mimpi indahnya.


Hingga sang fajar kini menyingsing menyibak temaram purnama. Kiki mengambil Beker di nakas. Matanya berbinar saat mendapati sebuah testpack telah tersedia di sana.


"Inilah saat yang tepat!"


Segera ia berlari kecil ke arah kamar mandi. Ia menghitung denting detik jam yang terdengar tanpa saingan kicauan burung.


Wajah itu bersinar seketika, meninggalkan keterkejutannya.


Segera ia keluar kamar mandi dan menghujani ciuman pada wajah lelaki yang masih asyik dalam buaian mimpi.


Fahri tersentak, tapi tangannya malah membuat sang istri tenggelam dalam pelukannya.


"Yi.... sayang, lihatlah"


Alat itu di tunjukkan kepada suaminya. Mata yang setengah tertutup itu mendelik seketika. Ribuan ciuman mendarat di wajah wanitannya.


Kebahagiaan kini melimpahi pasangan muda itu. Keduanya larut dalam suasana. Saling berterima kasih, saling memuji, saling menghujamkan ciuman. Dan ntahlah ....... hingga erangan juga terdengar.


Setelah bersiap dan rapi, keduanya mengendarai motor untuk menemui dokter.


"Kira-kira usianya satu Minggu, belum terlihat. Tapi berkembang dengan baik."


Kata-kata dokter membuat bunga-bunga bersemi dalam hati keduanya. Mereka memutuskan segera mengunjungi kedua orang tuanya. Membagikan kabar gembira yang selama ini mereka nantikan juga.


Kebahagiaan kini menyelimuti pasangan tua, mereka memberikan pelukan hangat untuk keduanya. Perasaan yang sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata


TBC

__ADS_1


__ADS_2