Pencarianku

Pencarianku
penolakan


__ADS_3

Sarapan bersama merupakan moment yang selalu dinantikan oleh Bayu. Namun tidak untuk kali ini, Bayu memasang muka kusut di depan kedua orang tuanya.


"Aku belum siap ke Singapura."


Pernyataan itu menghentikan kegiatan makan pagi mereka.


Papa Bayu menelisik mencari alasan apa yang membuat Bayu begitu berat menuruti kemauannya.


"Pa, aku masih ingin di sini. Belajar di sini juga sama saja, menurutku!"


Masih tidak ada tanggapan diantara mereka. Sementara mama Bayu berusaha memilah dan memilih kata untuk mengajukan pendapatnya.


"Tidak ada penolakan!"


kalimat itu membuat Bayu sedikit geram.


"Aku masih ingin....." Belum selesai Bayu berbicara, papanya menggebrak meja sangat keras.


"Selama ini aku membiarkanmu memilih apa yang kau inginkan.


Itu adalah kompensasi waktu yang kuberikan untukmu bersenang-senang. Saat ini waktumu telah habis. Ini saatnya kau serius dibidang yang aku tentukan. Kau adalah pewaris tunggalku, siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan jika bukan kau!" papa Bayu murka sehingga membuat mamanya tidak bisa berkata-kata.


"Apa!!! jadi selama ini adalah kompensasiku? Salah siapa aku tidak punya saudara. Kalian pikir aku suka hidup tanpa saudara, kalian kira aku bahagia dengan semua kekayaan yang berlimpah ini? aku bahkan selalu mengharapkan bisa makan bersama saja itu sangat sulit untuk kalian. Aku tidak akan ke manapun, terserah kalian mau apa!" Bayu meninggalkan ruangan dengan air mata tertahan.


"Pergilah!!! lakukan sesuai keinginanmu. Jangan lupa, semua yang menempel ditubuhmu adalah milikku. Apa kau tidak tahu malu membawanya" Perkataan itu seketika membuat lemas mama Bayu. Ingin sekali dia membela Bayu, tapi lidahnya begitu keluh ketika ingin berucap.


Bayu mengambil kartu identitas dirinya, kemudian menyerahkan dompet beserta isinya. Mamanya menangis sesenggukan memeluk Bayu ketika hendak meninggalkan ruangan.


"Bisakah kau mengalah? bisakah kau menuruti kemauannya papa? ayolah sayang jangan buat mama sedih. Mama tidak bisa kehilangan putra lagi." Mamanya memohon dengan Isak tangis yang menyesakkan dada.


Tapi Bayu sangat marah dengan kata-kata papanya sehingga emosi menguasainya. Bayu keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun termasuk ponsel. Meski ponsel itu hasil kerjanya, namun Bayu benar-benar merasa kecewa dengan sikap papanya yang menurut dia mengungkit harta yang telah dia berikan kepadanya.


Mama Bayu masih memohon kepada suaminya untuk memberikan waktu kepada Bayu untuk berfikir, namun sang suami hanya diam dan mengancamnya agar mengikuti Bayu jika tidak bisa berhenti bicara. Masih dengan Isak tangis, sang mama memeluk foto putranya.


"Sayang.... jangan tinggalkan mama, sayang.... kamu pergi ke mana? bahkan kunci rumahmu kau tinggalkan. Sayang.... maafkan mama tidak bisa membelamu, mama benar-benar tidak berguna. Sayang..... maafkan mama yang tidak memahami keinginanmu. Sungguh selama ini mama mengira kau telah bahagia dengan semua yang kami berikan. Sayang.... apa kau kesepian selama ini? maafkan mama yang tidak pernah ada saat kau sedih. Mama kira kau benar-benar menikmati waktumu selama ini." Mama Bayu terus meracau menyesali perlakuannya terhadap Bayu selama ini. Putra yang selama ini dia kira sangat bahagia ternyata tidak.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak berguna. Sekali lagi, yah sekali lagi aku telah kehilangan seorang putra.


Apa yang harus aku lakukan, apakah ini karma,,, oohhhh Tuhan maafkanlah diriku ini. Aku ingin dia kembali, sayang...


mama benar-benar tidak bisa kehilanganmu. Sayaaang...." Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, tangisnya pecah seketika.


"Mengapa papa tidak mengalah sedikit, lihatlah aku kehilangan dia. Bagaimana dia makan, di mana dia tidur. Aku tidak bisa membayangkan jika dia bersama para gelandangan. Bisakah......." suara itu tak terdengar lagi. Dia pingsan karena begitu tertekan.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼


"Boleh aku tinggal denganmu?"


Fahri begitu kaget melihat kondisi Bayu. Dia sangat berantakan, bajunya kotor, tidak memakai alas kaki, wajahnya penuh peluh. Tanpa banyak kata, Fahri segera membawa Bayu ke kamarnya. Menyiapkan air hangat dan baju ganti untuknya.


Selama Bayu di kamar mandi, Fahri menyiapkan makanan seadanya. Membuat teh jahe panas untuk menyegarkan tubuh Bayu.


Setelah selesai menyiapkan semuanya, Fahri masuk kamar untuk memanggilnya. Namun terlihat Bayu sudah pulas dalam mimpinya.


"Ada apa denganmu, mengapa kau terlihat kacau?" Fahri memandang wajah Bayu setelah menyelimutinya.


"Kau harus makan."


"Mataku sangat berat, aku bahkan tidak bisa membukanya." jawab Bayu memelas.


"Aku bawa makanannya kesini,"


Fahri melangkah menuju dapur.


Akhirnya dengan memejamkan mata Bayu menyelesaikan makan malamnya disuapi Fahri.


Malam ini mereka tidur berdua.


Fahri tidak bisa memejamkan mata. Dia terus memandangi wajah Bayu. Dia terus bertanya-tanya, mengapa Bayu seperti itu.


Suara bising kendaraan membangunkan Fahri. Dia membiarkan Bayu yang masih terlelap. Fahri memutuskan tidak bekerja hari ini. Dia menghubungi anak buahnya memberikan tugas-tugas harian.

__ADS_1


Masakan telah siap dimeja makan. Fahri mandi di kamar bawah kemudian membuka semua gorden rumahnya. Dia juga membersihkan beberapa ruangan serta taman.


"Bang!" Tiba-tiba Bayu mengagetkan Fahri.


Di teras Bayu duduk memeluk kedua kakinya memandang intens Fahri yang sedang beraktivitas. Bayu tampak lesu karena banyak pikiran.


"Sudah bangun? sarapan sudah siap, aku beresin ini dulu." Fahri beres-beres peralatan kebersihannya. Kemudian mengajak Bayu sarapan. Tanpa suara ritual itu berlangsung. Hingga selesai dan Bayu pamit mandi.


Di ruang tengah, Bayu tidur di pangkuan Fahri.


"Bang, gue mendadak gembel."


"Tinggallah di sini, seperti biasanya kita akan melakukan berbagai hal bersama." Tanpa bertanya apa masalahnya, Fahri memberikan ijin untuk menginap.


"Gue butuh kerjaan bang"


"Gampang, urus aja counter yang Q. kalo kamu merasa terlalu jauh dari sini, menginaplah di sana. Aku akan sering-sering ke sana." Seketika Bayu memeluk Fahri sambil berseduh.


"Assalamualaikum"


Suara itu membuyarkan pelukan mereka. Bayu menoleh saat Fahri menyebut ayah. Fahri menyalim tangan pria itu begitupun Bayu. Pria itu memeluk Bayu dan Fahri sekaligus.


"Maafkan kami para orang tua yang egois ini anak muda. Kali ini apalagi yang dilakukan perempuan itu." pak Sahril bergumam.


Pak Sahril mengenal Bayu karena dia adalah teman David saat SMA. Tetapi pak Sahril tidak pernah membahasnya karena tidak ingin melukai hati para anak-anak yang tidak berdosa.


"Ayah akan berapa lama disini?"


tanya Fahri sambil menyeret koper.


"Belum tau, tapi secepatnya kita selesaikan urusan kamu dulu. Insyaallah bulan depan mama melakukan operasi terakhir dan segera kembali ke sini. David juga berencana membuka kembali pabrik textile yang sudah tutup."


"Bayu..." belum sempat pak sahril bertanya, Fahri sudah memberikan kode agar tidak membahasnya.


Bayu mulai sungkan karena merasa kehadirannya mengganggu keintiman ayah dan anak itu. Bayu memutuskan masuk kamar.

__ADS_1


TBC


__ADS_2