
"Aku telah berserah diri dengan situasi yang ada. Aku melalui semua ini sesuai kehendakNya. Aku hanya minta satu dariNya, buatlah aku baik-baik saja"
Perasaan pasrah telah ia tanamkan mulai kini. Apapun yang akan terjadi nanti,dia akan jalani dengan ikhlas. Kehilangan keluarganya adalah satu beban yang tidak bisa di timbang. Namun ketika ia kembali berserah diri, ada kedamaian yang tidak bisa digambarkan dengan apapun.
Dua bulan berlalu, tragedi yang merenggut dua bersaudara itu masih menari-nari dalam hayalan Kiki. Perutnya mulai menggembung, dia mengelusnya dengan senyum yang tanpa arti. Antara bahagia dan derita, bahagia janinnya sehat-sehat saja. Sedih saat membayangkan tangan kekar suaminya membelai.
"Hari ini jadwal kontrol?"
"Iya ma," Kiki termenung sejenak.
"Papa akan bersiap, kamu sudah menyiapkan segalanya?"
"Sudah pa,"
"Ehmmm... boleh aku mengantarnya kali ini?" David memberanikan diri menawarkan bantuan.
Ketiga insan saling bertukar pandang. Dan akhirnya papa mertua menganguk.
"Bolehkah aku mengatakan sesuatu?"
Semuanya saling bertukar pandang. Bu Hanny menganguk.
"Aku ingin menggantikan adikku menjadi ayahnya," pandangan David lurus ke arah perut buncit dihadapannya.
Sontak seluruh peserta sarapan menatap kearahnya.
"Maaf sebelumnya ki, aku hanya memikirkan anak itu (menggedikkan mata) aku berharap dia mempunyai keluarga yang lengkap. Percayalah hidup tanpa seorang ayah itu sangat menyedihkan. Bertumpu hanya pada mama itu melelahkan. Mama ada untuk memberikan kasih sayang, sedangkan papa adalah penopang kekuatan." David memberikan penjelasan rinci agar semuanya tidak salah paham.
FLASHBACK ON
Siang itu David mendatangi tempat Kiki berjualan. Dia menenteng tas plastik berisi sebungkus makan siang beserta minumannya. Namun dia berhenti, tidak berani menghampirinya saat Kiki berjalan menuju kedai di dalam pasar.
Bukan karena malu, tapi lebih kepada takut membuat orang lain salah paham dan berakibat masalah pada Kiki.
David memperhatikan langkah Kiki yang mulai memberat dengan sedikit menahan mulutnya yang ingin memuntahkan makanan yang tak lama masuk ke perutnya.
__ADS_1
David menahan air matanya, betapa sulit perjuangan ibu hamil itu. Semakin hari semakin kurus, hanya perutnya yang membesar. Tanpa suami disampingnya, bagaimana dia menjalani malam-malamnya. David sering mencuri pandang dalam kediamannya.
Beberapa kali David membantunya berdiri saat dia muntah di rumahnya. Memijat tengkuknya, bahkan membersihkan wajahnya. Benar saja, Kiki selalu lemas setelah memuntahkan makanannya.
Meski semangatnya menggebu, namun keadaannya tidak banyak membantu. David tidak mengerti mengapa dia begitu peduli dengan adik iparnya. Awalnya karena iba, tapi semakin hari dia merasa rasa itu semakin dalam. Hingga akhirnya timbul keinginan untuk memiliki.
Berkali-kali ia meredam perasaannya, namun semakin ia memandang adik iparnya itu perasaannya semakin tidak karuan. Keinginan memeluk dan mengelus perut buncitnya semakin besar.
Mungkin ini keinginan gila, namun dia tidak ingin anak yang belum lahir itu kekurangan kasih sayang kedua orang tua seperti yang dialaminya.
..........
Bu Hanny terharu mendengar ucapan putranya, dia sangat bahagia dengan ungkapan sang putra. Bukan karena kasihan, Namun demi keutuhan keluarga. Kalimat itu sederhana, namun tidak mudah di ucapkan oleh siapa saja.
Kiki masih diam, perasaannya bergelut dengan akalnya. Betapa besar cintanya pada sang suami benar-benar menutup mata hatinya. Tentu saja, ini belum genap tiga bulan. Bagaimana mungkin seorang istri begitu mudah berpaling. Bahkan ia sedang dalam masa kehamilan, tidak semudah itu ia melupakan siapa pemilik benih di rahimnya.
" Papa setuju, tapi kita kembalikan pada pemilik hati. Nak, yakinkan dia bahwa kamu bisa menjadi pengganti suaminya. Yakinkan dia bahwa kau juga bisa melindungi dan melimpahinya kasih sayang. Tidak kurang dari yang Fahri berikan. Tapi semua itu bisa dilakukan setelah bayinya lahir."
"Mama bangga padamu son. Kau benar-benar telah dewasa."
Kiki masih tidak bisa percaya dengan semuanya. Namun dia telah berjanji untuk pasrah terhadap semua jalanNya. Dia telah benar-benar berdamai dengan takdirnya.
Siang itu dia kontrol ditemani David. Beberapa orang yang mengenalnya dalam antrian berbisik.
"Tumben mbak, suaminya yang antar?"
"Gitu dong mbak, masak mertua terus ya kan? sesekali biar tau itu suami lelahnya mengandung . Biar gak cuma nanem doang."
Dan masih banyak lagi ocehan-ocehan tidak bermutu yang ia dengar kali ini. Kiki meminta duduk di taman setelah mengetahui David mendapatkan no antrian 30. Merasa masih lama giliran mereka, selain itu sengaja menghindari pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh ibu-ibu yang ada disekitarnya.
David mendudukkan iparnya di kursi taman, sementara dia membeli air mineral. Dokter Sam yang sengaja melintas menghampirinya saat melihat ia duduk sendirian. Sebenarnya ada unsur kesengajaan juga, mengapa dokter Sam melihatnya. Ya, sebenarnya pak dokter hafal jadwal kontrol temannya itu. Adik kelas lebih tepatnya. Dia beberapa kali menemui Kiki sebelumnya. Menanyakan keadaan dan terakhir kali menyatakan perasaannya. Lucu, itulah yang Kiki rasakan. Disaat sedang hamil, mengapa orang lain malah tertarik padanya. Di hati kecilnya berkata, mungkin kasihan. Itu sebabnya dia tidak mengindahkan pernyataan sang dokter.
Meski banyak alasan yang disampaikan oleh orang yang mengaguminya sejak lama itu, Kiki tidak lantas menerimanya. Karena Kiki tau tidak akan mudah baginya hidup di lingkup keluarga samudra. Cita-cita orang tuanya begitu tinggi, tidak mungkin bisa menerima dirinya yang seorang janda, sedang hamil pula.
"Sendirian?" suara bariton mengejutkan Kiki dari lamunannya. Ia masih memikirkan pernyataan iparnya pagi tadi yang langsung disetujui oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Tidak, itu dia datang."
"Calon?" suara itu terdengar bergetar.
Tidak ada jawaban, hanya senyuman yang terulas dibibir ibu hamil tersebut.
"Kenalkan ini dokter Sam, dan ini David."
Keduanya saling berjabat tangan.
"Minumlah dulu!" David membuka botol dan menyerahkannya kepada Kiki.
Menyaksikan pemandangan dihadapanya, pak dokter segera berpamitan.
"Kalo gak salah dia dokter yang menangani Bayu kan?" David ingin sekali menanyakan hubungan dokter itu dengan Kiki namun tidak berani.
"Iya, dia teman kecil Fahri. Teman sekampung kami."
Hening, David tidak bisa berkata-kata. Dia ingin berbasa-basi namun dia tau Kiki bukanlah tipe orang yang mudah menerima bualan.
"Mengenai pernyataanmu tadi pagi, aku sudah memikirkannya."
David menoleh kearahnya, Kiki masih meluruskan pandangannya. Terulas seberkas senyum di wajahnya.
Pandangannya masih penuh tanda tanya. Pikirannya menerawang, dia masih tampak mempertimbangkan pilihannya.
Benar saja, karena ini menyangkut kehidupan yang akan ia jalani kedepannya. Ia tidak ingin kesempatan ini hanya akan menjadikannya beban orang lain. Meskipun saat ini dia tidak mempunyai siapa-siapa, bukankah suaminya telah mengajarkan untuk bisa mandiri? terbukti dengan melibatkan dirinya secara langsung dengan salah satu usaha yang digeluti suaminya.
-🌼🌼🌼🌼🌼-
Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.
Sujiwo Tejo
TBC
__ADS_1