
Fahri menemui Bayu di kafe area mall tempat Bayu bekerja. Mereka membuat janji makan siang bersama, kebetulan Fahri sedang belanja kebutuhan pokok untuk persediaan kulkasnya.
Di kafe z, mereka membicarakan hal-hal unfaedah. Fahri setia mendengarkan cerita konyol Bayu yang sedang melirik salah satu pramuniaga di mall tempat dia bekerja.
"shit! gue ditolak lagi bang," panggilan Bayu berubah sejak Fahri sering menginap di rumahnya. Ia merasa punya seorang kakak.
Fahri hanya tersenyum menanggapi ocehan Bayu. Sesekali tertawa sambil menggelengkan kepala tatkala Bayu bercerita tentang dirinya yang selalu ditolak saat mengajak gadis itu makan ataupun nonton.
Bayu pribadi yang ramah terhadap setiap orang, dia sangat dikagumi rekan-rekan kerjanya, baik atasan maupun bawahan.
Bayu sering mentraktir anak buahnya, entah makan siang ataupun sekedar ngopi dan berbagi Snack. karena itulah, para pramuniaga di mall itu sangat mengaguminya. padahal semua itu dia lakukan karena ada motif terselubung, yaitu ingin mendekati salah satu anak buahnya.
"Hais! angin apa yang membawanya kemari?" ucap Bayu seraya tersenyum, saat melihat seorang gadis berjalan kearahnya.
"Bang, gue oke kan?" sambil gugup merapikan penampilannya. Sedangkan Fahri hanya terpaku.
"kiki!" Fahri terkejut. Gadis yang selama ini dicari tiba-tiba muncul dihadapannya. Namun, dalam Susana yang kurang tepat menurutnya. Karena Kiki adalah wanita yang diidamkan Bayu selama ini.
Sejak beberapa bulan yang lalu, Bayu mulai memperhatikan kiki. Mulai tertarik dengan sikap riang dan terbukanya dalam bergaul.
Di setiap kesempatan, Bayu sering mendekati Kiki, namun Kiki sedang membatasi diri karena merindukan seseorang, itulah yang membuat Kiki selalu menolak ajakan Bayu. Kecuali jika pergi bersama dengan teman-temannya.
"Maaf, mengganggu bos!"
"Saya hanya ingin mengembalikan ini, tadi tertinggal dimeja resepsionis." Ucap Kiki sambil menyerahkan kunci mobil milik Bayu. Karena sebelum ke kafe, Bayu sempet menggoda Kiki di dekat meja resepsionis hingga kunci mobilnya tertinggal.
Bayu merasa penasaran ketika
melihat Kiki yang tidak fokus, karena dari tadi melirik kearah Fahri. Begitupun Fahri, ia terlihat gugup sehingga terus menundukkan kepala.
"Terimakasih, duduklah!" menyeret kursi. "Makan siang bareng yuk!" kali ini Kiki tidak menolak karena penasaran dengan pria disebelahnya.
__ADS_1
"Mengapa dia diam saja, apakah dia tidak mengenaliku ?" gumam Kiki dalam hati.
"Pesan apa?" Bayu mencoba memecah keheningan.
"Samakan dengan pesananmu." Kiki memang tidak basa-basi dengan si bos, mereka sudah akrab karena Bayu sering menggodanya.
Sambil menunggu pesanan, suasana kembali hening. "Bro, kenalin ini cewek itu," menggedikkan mata.
"Fahri!" mengulurkan tangan.
"Kiki!" menyambut tangan Fahri.
"Benarkah ini? jadi dia telah melupakanku. pantas saja tidak menjemputku. ahhhhhh apa ini hatiku sakit sekali. Hanya aku yang selalu merindukannya. Tuhan, apa ini? aku berusaha mencarinya. Ketika do'aku terjawab dia malah mengacuhkanku." Hati Kiki menjerit, menyebabkan manik hitamnya berair.
"Apa yang harus aku lakukan, aku ingin sekali memeluknya. gadis yang selalu kurindukan siang dan malam. Tapi bagaimana dengan Bayu, dia sangat menyukai gadisku. Tuhan berikan aku kekuatan dan juga jalan keluar!" tidak jauh berbeda, batin Fahri meronta membuat ia mengepalkan tangannya diatas paha.
"Apakah mereka saling mengenal?" Bayu masih bingung mengartikan mimik dua insan dihadapannya.
"Selamat menikmati." Weiters menghidangkan makanan
Tanpa suara mereka menikmati hidangan dengan pikiran masing-masing yang menyimpan tanda tanya.
Karena rasa penasaran Bayu sudah tidak terbendung lagi, akhirnya Bayu mengajak Kiki makan malam, "non! malming main ketempat Fahri yuk!" mengunyah. "Ajak yang lain juga, kita barbeque mengisi malam Minggu. hahahaha biar sedikit terisi waktu para jomblo ini." Bayu Berusaha tenang dan tetap tersenyum melantunkan gombalannya.
Bayu tidak mengatakan itu rumahnya karena takut ditolak lagi, dan karena dari awal Kiki berkali-kali melirik Fahri seolah tertarik dengan Fahri.
Merasa mendapat kesempatan, Kiki mengangguk cepat. "Oh ya, alamatnya bos." Kiki langsung menanyakan tanpa sungkan.
"Kompleks griya permata blok D no. 3, Taukan?" dijawab anggukan oleh Kiki
karena jam istirahat hampir habis, Kiki berpamitan untuk kembali bekerja. Diikuti Bayu yang juga kembali ke tempat yang sama. Mereka berjalan beriringan dengan saling bercanda. Fahri memperhatikan mereka berdua hingga menghilang sambil membuang nafas kasar.
-🌼🌼🌼🌼-
__ADS_1
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB, Kiki telah melangkah keluar dari tempat kerjanya. Dengan gelisah dia memesan ojek online menuju alamat yang diberikan oleh Bayu. Kiki tidak sabar ingin berbicara dengan Fahri atas sikapnya tadi siang.
Sesampainya di alamat yang dituju, Kiki memencet bel berkali-kali tanda kemarahannya terhadap Fahri.
Fahri berlari ke arah pintu meninggalkan masakannya, sedangkan Bayu melanjutkan langkahnya menuju kamar di lantai atas setelah mengetahui Fahri berlari menuju pintu depan rumahnya.
Tanpa basa-basi Kiki menerobos masuk setelah Fahri membuka pintu. Entah setan apa yang merasukinya, dengan wajah kesal penuh amarah, Kiki langsung menubruk bibir Fahri menciumnya kasar, melampiaskan amarahnya.
Kata-kata dan berbagai umpatan yang sedari tadi berkecamuk dalam hatinya sirna begitu saja setelah melihat pria yang selama ini ia rindukan. Fahri terkejut, seketika matanya melotot seolah hampir keluar dari sarang. Namun, detik berikutnya Fahri membalas ciuman Kiki dengan lembut dan menuntut. Hingga kiki terlena dan berbalik Fahri yang menguasai permainan.
"Damn! kukira gadis polos. Ternyata kucing liar." memukul tembok. "Hah kucing liar?" sedikit ragu. "Apa mungkin abang bermain dengan kucing liar?" berpikir, "aahh shit! apa-apaan ini," Bayu terkejut menyaksikan pemandangan tidak senonoh itu. Ia hanya bisa diam menyaksikan mereka sambil mengacak-acak rambutnya.
"Tak!" suara penanak nasi menyadarkan Fahri, ia menghentikan aksinya. Fahri menuntun Kiki dan mendudukkannya di sova.
Sambil mengatur nafas, Fahri berjongkok di hadapan Kiki dan bertanya, "dari mana kau belajar hal-hal seperti itu?" menatap intens. "Kau tau! itu sangat tidak sopan," merendahkan suara. "Jangan mengulanginya lagi, oke!" Kiki mengangguk dengan sedikit ketakutan, karena dia juga tidak menyangka akan melakukan hal tersebut.
"Tan..teku selalu memaksaku melihatnya ketika bermesraan dengan omku," tergagap. "Kalau aku tidak melihatnya maka dia akan memukulku, menjambak rambutku hingga aku benar-benar melihatnya." Menunduk.
Fahri sangat terkejut mendengar penjelasan Kiki. Namun, tiba-tiba Kiki histeris sambil memukulnya dengan tenaga lunglai. "Kau jahat!" terus memukul. "Kau bilang akan menjemputku," berderai air matanya. "Tapi apa? kau bahkan melupakanku,"
dasar kamp**t! pembohong!" keluarlah kata umpatan-umpatan yang sedari tadi terpendam. "Sial**! kau sudah menipuku," Fahri masih tetap diam. "Gob**nya aku mempercayaimu," nafasnya tersengal. "Mengharapkan kedatanganmu, mencarimu, merindukanmu siang dan malam." Mengusap kasar air matanya, "kamu jahat!" Kiki
kembali histeris dalam dekapan Fahri. Dia menangis dalam pelukan orang yang sangat dia rindukan.
Terjawab sudah rasa penasaran Bayu, "ternyata dia..... lalu, bagaimana sekarang?" bingung, "gue harus mengalah. Abang lebih dari apapun untukku." Berusaha menepis perasaannya.
"Apalah arti semua ini, dia hanya seorang wanita. Gue pasti bisa mendapatkan gantinya". gumam Bayu dalam hatinya.
.
.
.
__ADS_1
TBC