
Sandi tidak bisa tenang malam ini, ia sedang merasa kesakitan. Badannya panas, David terus menggendong sambil menggoyangkan badannya.
"Good boy! dia sudah tidur."
"Ayo letakkan Dad! istirahatlah," menyiapkan ranjang.
Sandi menangis lagi saat di tidurkan di kasur.
"Ya sudahlah, biar Daddy gendong lagi tapi janji tidur lagi ya boy!" menepuk bokong baby pelan.
"Sini biar sama Mommy deh, Daddy tidur aja besok kerja."
Si boy kembali menangis.
"Hmm gak mau sama Mommy ya? ya sudahlah ayo tidur sama Daddy!" mengayun pelan.
"Dia sudah tenang Mommy!" memeluk dari belakang.
"Ya sudah, ayo tidur!"
"Hmm... bolehkah?" memelas.
"Baiklah!" tersenyum.
Mulailah mereka melakukan penyatuan untuk pertama kalinya.
.........
DUA PULUH TUJUH TAHUN KEMUDIAN........
"Apakabar sayang..... apakabar bos! sayang... maafkan aku, sampai saat ini belum bisa membawanya kemari. Kau tau, hari ini adalah ulangtahunnya. Dia tampan, saat ini dia sedang membantu Daddynya mengurus usaha yang kau tinggalkan. Hmm, David begitu menyayanginya. Dia bilang, kau pernah berkata, " orang baik berjodoh dengan orang baik pula" karena itulah dia berusaha menjadi yang terbaik. Sayang .... putra kita mewarisi sifatmu, dia sangat mencintai adik-adiknya. Penurut, dia tidak pernah menyusahkan kami. Dia ....." tidak dapat menahan tangis.
"Sayang.... aku bertemu dengan ibumu. Saat ini, beliau tidak bersedia ikut denganku. Karenanya, David memberikannya tempat tinggal. Aku mencarikan IRT untuknya, kami membukakan toko kelontong depan rumahnya.
Sayang... maafkan dia, bukankah di dunia ini tidak ada yang sempurna. Bos.... bagaimanapun beliau sangat menyayangimu, tolong maafkan dia." menabur bunga dan memanjatkan do'a.
Deg....
Sandi masih tertegun menatap Mommynya berada di antara dua peristirahatan terakhir.
"Sayang!" menoleh.
"Siapa mereka Mom!" mendekat.
"Mommy memanggilnya sayang dan boss" menelisik.
Kiki terkejut dengan kehadiran Sandi yang tiba-tiba muncul di area makam.
"Apa yang kamu lakukan disini?" berusaha tenang.
"Maaf, aku mengikuti Mommy. Tadinya aku mau jemput, tapi aku lihat Mommy masuk taxi. Aku pikir Mommy pulang jadi aku mengikuti."
__ADS_1
"hah!" membuang nafas kasar. "Mungkin inilah saatnya, kemari sayang!" meraih tangan Sandi. "Dia papamu dan ini adik tirinya." menunjuk.
"Maksudnya?" bingung.
"Sayang, papamu mengalami kecelakaan saat kau berusia sebulan dalam kandungan Mommy," menghapus air mata.
"Lalu Daddy?" gemetar.
"Daddy adalah kakak tiri papamu, dia tidak ingin kau sepertinya. Hidup tanpa seorang ayah, karena itu dia memohon kepadaku agar diberi kesempatan untuk mencurahkan kasih sayangnya kepadamu." membelai.
"Jadi dia bukan Daddyku? dia milik adik-adikku." menangis.
Sandi merasa dibohongi, merasa tidak pantas mendapatkan segala yang diberikan oleh Daddynya. Dia merasa apa yang dia punya seharusnya lebih pantas didapatkan oleh kedua adiknya.
Sandi telah bekerja disalah satu counter cabang milik David. Dia bahkan berhasil memperbesar usahanya tersebut. Selama ini dia sangat bahagia karena telah membuat bangga Daddynya. Dia telah mampu membuktikan bahwa dia bisa melakukan tantangan yang diberikan oleh sang Daddy.
"Bisakah, kau panjatkan do'a untuk mereka mulai sekarang?"
mengelus punggung Sandi.
"Tentu Mom!" berjongkok.
"Sayang....dia sudah datang, mulai sekarang dia juga akan sering mengunjungimu, iya kan!" memastikan, Sandi menganguk meski masih ragu dengan kenyataan yang ada. Jauh di lubuk hatinya, ia bertanya ini mimpi atau nyata.
"Mom, apa papa tau kalo aku ada?" dengan suara parau menelisik.
"Tentu sayang, papa sangat bahagia ketika tau ada dirimu di sini," menunjuk perut. "Kau adalah kebahagiaannya, begitu pula Daddy. Dia selalu bahagia bisa memelukmu, berbicara apalagi bermain bersamamu." mengelus punggung tangan Sandi.
"Kalau begitu aku benar-benar beruntung, Mom!" memeluk.
"Kalau Dad!"
"Dari ayah."
"Ayo pulang sayang, Daddy pasti sedang menunggu. Hari ini Daddy tidak nemeni Mommy karena ada meeting." Berdiri.
...........
Kiki dan David dikaruniai seorang putri dan seorang putra
Masing-masing umur mereka terjedah dua tahun. Jadi, setelah Sandi berusia dua tahun, Kiki melahirkan putri David dan diberi nama zafira rahma dan dua tahun berikutnya melahirkan seorang putra dengan nama Riki Saputra.
Sandi sangat menyayangi kedua adiknya. Dia selalu memberikan apapun yang mereka minta. Sejak kecil, dia selalu jadi korban palak kedua adiknya. Namun Sandi merasa bahagia bisa memberikan apa yang mereka minta. Bahkan saat ini mereka selalu minta jatah tiap awal bulan.
Zafira adalah dokter magang di salah satu rumah sakit di ibukota. Sedangkan Riki masih kuliah semester akhir. Selain kuliah dia juga membantu Mommynya di pasar menjual baju-baju usaha peninggalan almarhum Fahri.
"Dad!" melihat pintu ruang kerja sedikit terbuka, Sandi masuk saat melihat Daddynya sedang duduk memejamkan mata.
"Masuk boy, sini Daddy mau ngomong!" menopang dagu.
"Boy, kamu urus counter Q ya!"
__ADS_1
"Dad, aku rasa tidak pantas menerimanya." lesu.
"Why my boy?" terkejut. Tidak biasanya Sandi bermimik seperti ini.
"Dia sudah tau Dad, tadi habis ngintilin Mommy ke makam," membawa teh.
"Oh sayang, kau sudah kembali?
maaf hari ini aku tidak bisa nemenin," merangkul pinggang istrinya.
"Aku sudah menjelaskannya," duduk di pangkuan suaminya.
"Lalu?" mencium pipi istrinya. David tidak pernah menyembunyikan sikap romantisnya di depan anak-anaknya. Karena dia berharap mereka juga saling menyayangi satu sama lain. Dan putra-putri mereka sudah terbiasa akan hal itu, bahkan terkadang mereka membully kedua orang tuanya.
"Inget umur Dad!" menatapnya jengah.
"Why my boy! meski sudah tua cinta Daddy gak pernah luntur." Mengecup punggung tangan Kiki.
"Hah!" membuang nafas kasar. Berdiri dan meninggalkan area.
"Kenapa dia sayang?" meminta penjelasan.
"Kau ini, dia sedang galau!" mengikuti Sandi.
Davidpun mengekor di belakang mereka. Sandi masuk kamar, merebahkan tubuhnya telungkup di kasur empuknya.
Kiki mengelus punggungnya, "sayang, apa yang kau pikirkan?"
"Katakan my boy, jangan menyembunyikan apapun. Itu bisa melukai Daddy. Kau tau, Dad tidak suka melihatmu bersedih."
"Dad, jangan serahkan counter Q untukku. Fira dan Riki juga berhak."
"Hadddeeeuuuh, jadi itu yang bikin jagoan Daddy galau?" ikut merebahkan tubuhnya. "Dengar boy, itu counter adalah usaha papa kamu. Daddy cuma numpang exist doank. Saat ini, kamulah yang berhak memilikinya," menenggelamkan kepala pada perut istrinya.
"Tapi ini juga jerih payah Daddy."
"Hei boy, kenapa sih harus dipermasalahkan? apa tidak bisa kita biasa saja seperti sebelumnya? Siapapun bapak moyangmu, tapi aku adalah Daddymu! bisakah seperti itu?" menatap serius. Namun Sandi tidak bergeming.
"Sayang,,, dia benar-benar menyakitiku!" tenggelam dalam pelukan.
Sandi bangun, "bukan begitu Dad, mereka harusnya ikut merasakan hasil jerih payah Daddy." Serius.
"Percayalah boy, Daddy membiarkan mereka dengan keinginannya. Fira mengikuti kata hatinya ingin jadi dokter, Riki ingin jadi arsitek. Kamu dari awal sudah enjoy di bidang ini, jadi nikmati saja." menepuk pundak sang putra. "Hei jagoan, sejak kami membina rumah tangga, kami tidak pernah membedakan kalian. Percayalah Daddy sangat menyayangimu, boy!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC