
Papa Bayu terkejut ketika merasakan ada yang membelai rambutnya. Menatap intens kedua bola mata istrinya. Disana masih ada air mata yang entah sampai kapan akan terhenti. Papa Bayu memeluk sang istri sambil meminta maaf. Semua dia lakukan demi masa depan putranya. Tapi ia lupa bahwa putranya memiliki sifat yang berbanding terbalik dengannya.
Sebenarnya Bayu bukan tidak mau menuruti kemauan sang papa. Hanya saja Bayu ingin menjadi saksi pernikahan sahabatnya. Karena Bayu tau jika sudah meninggalkan tanah air, maka tidak mudah baginya untuk kembali. Karena sang papa akan menganggap dia tidak mampu menjalankan tugas dari sang papa.
Papa Bayu selalu memuji putra pamanya dalam hal pekerjaan. Seberapa keras Bayu berusaha, seolah tidak ada artinya didepan sang papa karena menganggap masih jauh dari keponakannya.
Bayu bukanlah seseorang yang akan berusaha jika sudah dibandingkan-bandingkan. Semakin banyak perbandingan dia semakin menepi. Inilah alasan mengapa papanya selalu menekankan dirinya.
"Pa, bagaimana putraku hari ini? apa dia sudah makan? ............(menarik napas panjang) hehehehe kenapa baru sekarang aku menanyakan hal ini. Kemana saja aku selama ini." Mama Bayu kembali terisak.
"Maaf ma, maafkan sikapku selama ini. Tapi anak itu tidak akan dewasa kalo kita terus membiarkan dia semaunya."
"Pa, kita yang salah selama ini.
Kita membiarkan dia sendirian.
Kita terlalu sibuk dengan urusan kita." Racau sang mama.
"Jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri ma, kita sudah memberikan yang terbaik untuknya." Papa Bayu terus menyangkal pernyataan-pernyataan yang terlontar dari mulut sang istri.
Karena lelah memberikan motivasi, papa Bayu mengakhiri percakapannya dengan berjanji akan mencari Bayu.
Selama ini kedua orang tua Bayu tidak tau menahu tentang kehidupan sehari-harinya. Papa Bayu merasa kesulitan mencari sang putra.
ย ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Bayu membersihkan kolam renang belakang rumah keluarga pak Sahril. Karena dia keluar tanpa membawa apapun, maka Fahri membawakan beberapa stel pakaian dari tokonya.
Layaknya seorang anak kecil, Bayu berjingkrak bahagia ketika menerima paperbag dari Fahri.
Pak sahril tersenyum kecut melihat pemandangan itu.
Seperti biasanya, Fahri memasak untuk makan sehari-hari. Malam ini dia memasak gurame asam manis dibantu Bayu walaupun hanya menyiangi ikan saja.
"Masak apa nak? sini ayah bantu."
"sudah selesai ya, mari makan bersama." Fahri menyiapkan nasi di atas piring masing-masing. Sementara Bayu masih sibuk dengan jus lemon yang ia siapkan.
"Mari paman," Bayu meletakkan gelas yang berisi jus lemon tersebut. Pak Sahril hanya mengangguk. Bayu tidak pernah mengerti, pak sahril selalu hangat dan penuh kasih kepada kedua putranya bahkan teman-teman David dahulu, tapi tidak kepadanya. Beliau bersikap acuh terhadap Bayu. Bahkan jarang menyapa ketika Bayu bermain di sana. Tetapi pak sahril tidak pernah tau kalau Fahri bersahabat dengannya selama ini.
"Lahap sekali makanmu." Pak Sahril menatap kearah Bayu.
"Tentu saja paman, abang masak makanan kesukaanku." Dengan penuh semangat Bayu menjawab pak sahril. Tapi disertai perasaan canggung kemudian. Tiba-tiba pak sahril menambahkan nasi di piring Bayu. "Habiskan! Lihatlah tubuhmu sangat kurus seperti anak gadis saja.
"OMG!!!! (sambil mendelik ) apa paman ingin aku memperjelas genderku?" Bayu ngegas.
"Kalo kau seorang pria, mengapa kau suka tidur di pangkuan anakku pakai peluk-peluk pula." Pak sahril masih mengejek sifat manja Bayu terhadap Fahri.
__ADS_1
"Hah! bang, apa aku terlihat seperti yang paman katakan?"
"Bahkan lebih dari itu." Fahri turut jahil dan tertawa di ikuti pak sahril.
Meskipun merasa dibully, Bayu sangat senang dengan adanya pembicaraan yang menyatukan kebisuan saat makan malam.
Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Tiga pria itu bersatu di teras menikmati indahnya malam. Tidak berapa lama, ponsel Fahri berdering. Fahri menerimanya dan memperlihatkan kedua orang pria didepannya. Kiki tiba-tiba mengakhiri panggilan tanpa bertanya. Bayu bertanya, namun Fahri hanya mengidikkan bahu.
Pak sahril mengobrol dengan gayanya yang hangat dan menyenangkan. Bayu sangat menyukai suasana saat ini.
"Apa saja yang perlu di siapkan ya?" Fahri menanyakan persiapan pernikahannya.
"Kiki ada tinggal dengan siapa?"
"sendirian yah, di kontrakan"
jawab Fahri.
"Besok kita beli keperluan lamaran, agar suatu saat nanti kalo kamu sudah mendapat gelar ayah bisa mengurus keperluan seperti ini. Percayalah bisa melakukan hal-hal sepele ini begitu menyenangkan dan sebuah kebanggaan tersendiri buat ayah pribadi. Karena kamu tau di luar sana banyak orang tua yang tidak bisa melakukan hal-hal yang mereka anggap remeh seperti ini.
Bayu mulai mengangkat tangan. "Paman, bolehkah aku ikut? aku juga ingin menikmati hari-hari seperti ini kelak."
"Boleh, apa kau tidak bekerja?"
pak sahril menganggukan kepala.
Pak sahril memandang dua pemuda itu bergantian. Pak sahril tersenyum kecut menyaksikan adegan tersebut.
Disepanjang malam itu Bayu dan Fahri terus bercanda. Saat itu pula Bayu menyadari betapa lucunya Fahri. Sosok yang selama ini telah dia kenal ternyata mempunyai sisi yang sangat luar biasa menurutnya.
Fahri yang pendiam dan dewasa kini terlihat sangat konyol, meskipun demikian tidak menghilangkan sifat dewasanya yang penyayang dan sabar. Sosok yang renyah kalo kata Bayu.
Mereka mengobrol hingga larut malam.
Hingga pak Sahril lupa menghubungi Bu Hany.
๐ฑDavid
pa.......
๐ฑpak sahril
Bagaimana keadaan mama?
๐ฑBu Hanny
Aku baik-baik saja pa. Bagaimana Fahri?
__ADS_1
pak sahril memberikan ponselnya pada Fahri
๐ฑFahri
Mama sehat?
๐ฑBu Hanny
Iya sayang...... kamu gimana?
nervous tidak?
๐ฑFahri
Belum ma, gak tau ntar hehehehe...
๐ฑBu Hanny
Mama selalu berdoa untuk kalian semoga semuanya berjalan dengan lancar.
๐ฑ Fahri
Makasih ma.
kini ponsel beralih pada David
๐ฑ David
Itu anak ngapa ngintilin lu mulu
si!!
๐ฑ Fahri
Udah kayak cicak yaaa!
Obrolan itu terus berlanjut hingga pada taraf bully. Mereka tertawa lepas tanpa beban.
Pak sahril melihatnya dari jauh, sungguh pemandangan yang sangat menarik untuknya. Hingga tanpa terasa air matanya lolos begitu saja.
Malam kian larut, semua sudah masuk di peraduan Masing-masing. Fahri yang sekamar dengan Bayu menatap intens pada wajahnya.
"Malam ini sepertinya kau tampak lebih muda. Kerut di antara alismu menghilang. Apakah bebanmu juga telah lenyap? Ada apa denganmu, mengapa kau begitu kacau saat datang dan mengapa kau begitu bahagia dalam sekejap." Fahri membenarkan selimut Bayu, dia melihat Bayu tersenyum. "mimpi indah yaaa?"
Fahri melangkah ke kamar mandi mengambil wudhu untuk melakukan ritual malam. Fahri mulai terbiasa melaksanakan sholat malam akhir-akhir ini. Selain ingin mendekatkan diri kepada sang Khaliq, dia juga ingin menjaga diri dari nafsu yang hampir lolos beberapa saat yang lalu.
Bersambung dulu yaaa.......
__ADS_1
happy reading ๐ค๐ค๐ค๐๐๐