Pencarianku

Pencarianku
Maaf


__ADS_3

"Ma, aku memang salah. Bukankah aku sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


"Jelaskan siapa wanita itu! yang kau maksud balas dendam. Kepada siapa kau balas dendam?"


David bukan tidak ingin menjelaskan, dia berfikir kondisi pasti memburuk jika mamanya tau siapa wanita itu.


"Ma, bisakah kita lupakan saja?"


"Tidak! kau yang memulainya."


"Dan kau juga menyebut nama ba****** itu. Pasti ada kaitannya, bukan?"


David melihat ke arah Pak Sahril. Seolah meminta pendapat. Anggukan kepala telah di isyaratkan oleh pria paruh baya tersebut.


Dalam keheningan, David masih belum berbicara. Dia masih berfikir harus memulai dari mana.


"Katakanlah nak! Ceritakan semuanya pada kami. Kamu tidak sendirian sayang. Kami selalu di sampingmu."


"Ma, jika aku katakan aku telah gagal. Apa mama akan kecewa, apa mama akan marah?"


Dengan raut wajah memucat dan sedikit gemetar, David mengeluarkan suara seraknya.


"Hahh! Katakan saja semuanya. Apapun itu. Bukankah aku selalu menuruti apa yang kau inginkan. Kemarilah sayang, maafkan mama yang terlalu lama membiarkanmu sendirian." mereka berpelukan begitu erat. David tersedu dalam rengkuhan sang mama.


"Awalnya, aku ingin memulai usaha kita yang telah tutup adalah untuk berbagi saham dengan Fahri. Bagaimanapun dia adalah keluarga kita. Aku ingin dia juga merasakan maaf, harta kita."


"hmm... lalu?"


"Tapi pada kenyataannya, aku telah gagal. 60% Saham perusahaan telah menjadi milik Mr. Robert."


"Apa maksudmu?"


"Para investor telah mendapat hasutan dari pihak lawan, mereka menjual sahamnya. Begitupun saudara mama."


Seolah paham situasi, Bu Hanny merangkul pundak David dan mengelus punggungnya.


"Sayang....... maafkan mama, aku telah memberimu beban yang sangat berat. Lepaskanlah! kali ini kau hanya belum maksimal. Lakukanlah apa yang kau bisa. Apa yang membuatmu nyaman. Lihatlah Fahri, dia bisa bekerja sesuai dengan keinginannya. Kau juga pasti bisa sayang."


Tangis haru pecah diantara mereka.


"Ma, wanita itu...."


"Katakanlah nak!"


"Dia anak tiri mantan suami mama"


Bu Hanny mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Mr. Robert datang padaku untuk bekerja sama. Aku begitu sombong meminta imbalan. Dia memberikan wanita itu. Aku pikir akan membuat nasibnya lebih buruk dari apa yang telah mama rasakan. Aku merusaknya, dan memberikannya kepada teman-temanku. Aku tidak pernah mengira kalau dia akan terus mencariku."


David menyeka air matanya.


"Ma, aku sudah berdosa. Karena itu saat ini Tuhan sedang mengkuhumku. Pekerjaanku berantakan. Aku menghancurkan perusahaan leluhur kita."


David menangis di pangkuan sang mama.


"Nak, tidak semua orang bisa berjalan seperti yang diinginkan. Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Dengan begini kau bisa berada bersama kami. Bukankah kau selalu ingin kita bersama?" Pak Sahril menguatkan pernyataan sang istri.


Rasa syukur David semakin besar. Memiliki keluarga yang seperti ini adalah anugerah baginya. Kini dia telah mantap melepaskan perusahaan yang ada di Singapura.


.........


Di dalam kamar......


"Apa yang terjadi diantara mereka?" Kiki terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara isakan tangis dari luar.


"David sedang curhat" sambil terpejam Fahri menjawab.


Sesungguhnya, dari awal Fahri menguping pembicaraan mereka. Bukannya kepo, tapi dia tidak sengaja mendengar percakapan tiga insan dalam ruang kerja dengan pintu sedikit terbuka.


"Apakah David akan kembali ke sini?"


"Sepertinya begitu?"


"Entahlah, jangan ikut campur.


Konsentrasi pada si jabang bayi saja"


Fahri mengelus perut istrinya, seraya mengendus lehernya.


Malam penuh cerita, kisah petualangan salah satu Arjuna yang menerima kekalahan dalam pertempuran telah usai.


Saat ini, hanya ada permulaan. Dimana seorang David akan memulai semuanya dari nol.


Semangat itu hadir ketika kedua orang tuanya menjadi Soko guru untuknya. Penyangga kelanjutan hidupnya.


-🌼🌼🌼🌼🌼-


Pagi ini sarapan bersama yang selalu di dambakan terjadi sudah. Seluruh keluarga berkumpul menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh pasangan calon orang tua, siapa lagi kalau bukan Fahri dan Kiki.


"Aku beneran iri melihat calon papa bisa begitu lihai memasak."


Fahri tersenyum mendengar ucapan David.


"Lihatlah ma, keturunan memang sangat berpengaruh terhadap kehidupan jabang bayi. kalau begini aku jadi takut mendekati hareem."

__ADS_1


Entah apa yang ada dalam fikiran David saat ini. Dia nglantur tidak karuan.


"Jangan jadikan kesalahan menjadi momok sehingga tidak berani menapaki kehidupan. Jadikanlah itu pelajaran untuk kita melanjutkan hidup lebih baik dan membimbing keturunan kita dengan baik agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang sama." nasehat itu membuat hati tentram seketika.


Bu Hanny lagi-lagi mengucap syukur atas kehadiran suaminya. Dia selalu menjadi panutan dan pelepas dahaga untuk keluarganya.


Pagi itu, pasangan pengantin baru berpamitan untuk pulang.


Sementara David berkemas akan kembali ke Singapura untuk menyelesaikan urusannya.


"Pa, doakan semoga pilihanku ini adalah yang terbaik."


"Yakinlah nak, apa yang telah kau lakukan adalah yang terbaik. Do'a kami tak terhenti untukmu"


Dengan penuh kemantapan, David melepaskan perusahaan warisan leluhur. Kini dia telah siap memulai segalanya dari awal.


-🌼🌼🌼🌼🌼-


"Bang, kalo ada waktu kerumah dong! pingin masak dan makan bareng" disela-sela pekerjaannya Bayu memohon kepada Fahri.


"malming deh! apa ada yang ingin kau bicarakan?" mendengar ucapan Fahri Bayu menganguk cepat.


Bayu ingin memperkenalkan Ambar kepada kedua orang tuanya. Serta memberi kejutan kepada Fahri. Dengan cara seperti ini dia bisa menepati janjinya pada sang mama.


Sejak Kiki memegang ruko di pasar, Fahri semakin sering memesan batik tulis dari Ambar. Kedekatan bisnis itu membuat Ambar sedikit berharap akan Fahri. Namun, akhir-akhir ini pembelanjaan online dilakukan oleh Kiki dan membuat Ambar tau bahwa sang pujaan hati telah beristri.


Kedekatan Kiki dan Ambar membuat mereka saling bersahabat. Suatu hari Fahri bercerita tentang Ambar kepada Kiki. Bahwa Ambar pernah mengungkapkan perasaan kepadanya, tapi dengan sangat sopan Fahri menjelaskan bahwa dia sudah beristri dan kemudian semua urusan yang berhubungan dengan Ambar ia serahkan kepada Kiki.


Lambat laun Kiki memperkenalkan Ambar kepada Bayu. Dan semuanya berlanjut sampai ke detik ini.


"Nanti sore kita ketempat Bayu yi,"


"Oke!" Kiki menjawab mantap


Sore ini sepulang kerja, pasangan suami istri itu bersiap untuk menuju ke rumah Bayu.


Namun detik berikutnya mama mertua menelpon untuk mengajak jalan Kiki. Dan keputusan akhir adalah Kiki diantar ke rumah mertuanya dan Fahri menemui Bayu.


"Apa menunya?"


Fahri langsung masuk menuju dapur. Melepaskan jaketnya dan segera mengenakan apron. Dengan lihai Fahri mengolah bahan-bahan menjadi makanan lezat dan menggoda lidah. Harum masakannya menyeruak hingga keluar rumah.


Bel berbunyi, sementara Bayu baru saja ingin membersihkan diri. Fahri memutuskan untuk membuka pintu.


Hening, tidak ada kata setelah pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya terpaku memperhatikan Fahri. Sedangkan Fahri hanya bersikap datar menghadapi wanita itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2