Pencarianku

Pencarianku
Aku memilihmu


__ADS_3

David masih menunggu keputusan sang ipar. Sembari menikmati debaran jantungnya yang semakin kencang Dia membuka sebungkus kue, menyiapkannya untuk cemilan wanita hamil itu.


Kiki menatapnya intens, penuh dengan keyakinan. Dia telah memantapkan hatinya. Perlahan nafasnya dihembuskan setelah dia mengambilnya cepat.


"Aku menerimamu sebagai ayah putraku!"


Keduanya saling berpandangan, entah mengapa David merasa debaran dadanya kian cepat.


"Setidaknya, alasan yang kau berikan masuk akal. Aku memantapkan hati karena alasan utamamu adalah putraku. Selebihnya kita akan berusaha bersama."


Senyuman puas dan malu membuat David tersipu.


"Dia putraku? aku akan menjaga kalian!"


Sontak David mendekati perut buncit itu. Dia berjongkok demi bisa berkomunikasi dengan si jabang bayi.


"Hallo my boy! kau bisa mendengarku? aku dadymu, aku akan menjagamu! boleh aku mengusapnya?" Kiki menganguk, namun David menahannya. Dia tertawa ringan, jemarinya gemetar.


Kiki tersenyum tipis menyaksikan seorang David yang biasanya terlihat keras dan pemarah ada saatnya gemetar hanya untuk mengusap perut buncitnya.


Tangan itu tertahan di udara, Kiki menyambar dan mendaratkan di permukaan perutnya. Kejutan tercipta di sana, Kiki menyaksikan air mata iparnya mengguyur pipi. Dia menangis dalam tawa, dia menatap pemilik perut buncit itu dengan menggelengkan kepalanya.


"Beginikah menjadi seorang ayah? benar saja, ini sangat membuatku bahagia. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata."


Kiki benar-benar tidak percaya, dengan apa yang di saksikannya. Ia hapus air mata pria itu. perlahan ia membantunya bangun agar duduk di sampingnya.


"Seperti yang dikatakan papa, hubungan ini hanya bisa dilangsungkan setelah anak ini lahir."


David mengangguk mantap. Menyuapkan kuenya ke mulut Kiki, senyum termanis ia persembahkan untuk pertama kalinya. Membuat jantung sang pria makin kencang berdegup.


"Aku akan menunggumu my boy! setelah itu aku akan melamarmu secara resmi. Selama itu, aku akan menjaga sikapku. Namun untuk membelainya, kau tidak keberatan kan?"


Anggukan kepala kembali mengurai senyumnya.


"Oh my God! beginikah rasanya jatuh cinta?" pernyataan itu membuat Kiki mendelik.


"Kau belum pernah jatuh cinta?"


Diselimuti penuh rasa malu, David menyembunyikan wajahnya dibalik tangan kekarnya. Sontak saja Kiki tertawa lepas sambil menggelengkan kepalanya.


"Hati ini perih sekali melihat dia begitu bahagia. Mengapa aku tak dapat menjangkaunya, dulu dan kini."

__ADS_1


Sesak mendera batin dokter yang luar biasa itu, ketika menyaksikan pujaan hati melepaskan beban hidupnya bersama pria lain. Pupus sudah harapan keduanya, setelah yang pertama berlabuh pada teman sebangkunya. Kini berganti kepada pria tak dikenalnya.


"Aku rela asal kau bahagia"


Hanya itu yang bisa ia lantunkan untuk menghibur hatinya.


"Panggilan ditujukan nomer urut tiga puluh dipersilahkan untuk masuk."


Mendengar panggilan, kedua pasangan yang belum resmi itu masuk. Debaran hati calon Dady itu mengencang, belum bisa ia memenangkan batinnya. Dia mendadak dilanda gelisah menyaksikan pemandangan langka yang belum pernah ia rasakan.


Kiki menarik pelan tangan pria itu, yang masih terbengong dihadapan pintu.


"Duduklah! tenangkan dirimu."


Tergagap David mendengar bisikan calon ibu itu. Segera ia mengambil posisi duduk di sebelah Kiki.


Setelah dokter memeriksa tensi darah dan berat badannya, Kiki dipersilahkan berbaring di ranjang perawatan. Asisten dokter mengoleskan gel dipermukaan perutnya. Mulailah alat semacam kursor digerakkan. Terlihat sesosok bayi mungil yang belum sempurna di layar monitor yang tertancap di dinding ruangan itu.


Sumpah demi apa, David menangis seketika tanpa bisa berkata-kata. Dia tidak paham akan perasaannya. Dia terus menatap lekat layar monitor tanpa berkedip.


Ada secuil rasa bahagia kini membuncah di sudut hati Kiki. Benar saja, David yang baru saja mendekatinya terlihat begitu terpesona dengan benih yang ada dalam rahimnya. Meskipun itu bukanlah darah dagingnya.


"Aku belum puas melihatnya."


Ketiga wanita disana tertawa, dokter mengambil print hasil pemeriksaan kemudian memberikannya kepada David.


"Bapak, ini sebagai pemuas anda selanjutnya. Silahkan dipandangi sembari mengelus perut istri anda. Itu sangat membantu perkembangan janinnya."


Perkataan dokter membuat keduanya bertukar pandang dan tersipu malu. Sungguh kupu-kupu di hati David beterbangan tak terkendali. Dia keluar ruangan dengan menenteng tas Kiki, seolah dia adalah seorang suami.


"Kita mampir ngemall bentar ya, aku ingin membeli perlengkapan bayi kita."


"Jangan dulu, masih terlalu dini untuk mempersiapkannya."


"Kapan waktu itu datang, aku benar-benar tidak sabar."


Wanita hamil itu tidak henti-hentinya memandangi wajah calon pendamping hidupnya. Dia melihat ada pancaran sinar yang menyeruak dari tatapan matanya.


"Tuhan, jika ini kehendakMu, maka biarkanlah ini terjadi dengan rencanaMu yang agung."


Tak ada kata lagi yang bisa terucap dari mulut wanita hamil itu. Selain syukur dan syukur.

__ADS_1


Mobil telah terparkir di halaman. David berlari meninggalkan calon pendamping hidupnya. Kiki mendapatkan kejutan sekali lagi. Ya, melihat tingkah David hari ini benar-benar membuatnya tak henti-henti mengulum senyumnya.


"Pa, lihat ini! oohhhh lucunya."


David memamerkan print pemeriksaan medis hari ini. Bu Hanny tertawa lepas menyaksikan tingkah putranya.


"Lihatlah ma, ini sangat menggemas........" terhenti katanya tatkala melihat Kiki yang masih berjalan menuju pintu masuk.


Dia tersenyum geli melihat tingkahnya sendiri yang meninggalkan wanita hamil tertatih.


"Maaf aku begitu bersemangat"


Senyuman mengembang di bibir wanita itu.


"Apa kalian sudah memutuskannya? apakah ini pertanda bagus?" sang mama ingin memastikan obrolan tadi pagi. Wanita itu mengangguk cepat, lagi-lagi David tersipu malu.


Bu Hanny mendadak melow, ia memeluk suaminya di depan anak-anaknya tanpa ragu ia mengecup singkat bibir pria itu.


"Terimakasih telah hadir diantara kami. Selanjutnya beralih ke arah Kiki, ia mengusap perutnya.


"Jagoan Oma, sehat yaa sayang! terimakasih telah memberi hadiah terindah ini." Ia mencium kedua punggung tangan Kiki.


"Son, mama bangga padamu!" ia memukul pelan lengan putranya.


"Dia akan menjadi kebanggaan kita ma,"


Semuanya mengangguk bertukar pandang.


"Tuhan...... jangan jadikan keindahan ini hanya di permulaan. Jagalah kami agar selalu dalam kebahagiaan ini.


Sayang...... tersenyumlah, lihat betapa kami sangat bahagia. Kau selalu mengajarkanku berdamai dengan keadaan. Lihatlah aku telah melakukannya, dan ya.....


kau benar ini terasa ringan dan mudah. Aku berdo'a agar kau juga mendapatkan kebahagiaan atas keihlasanku ini."


Hati kecil Kiki tidak bisa perpaling dari suasana yang penuh Senda gurau itu. Air wajahnya bersinar meski menahan sakit akibat kram diperutnya.


Kakinya semakin hari semakin membengkak. Kondisi inilah yang menyebabkan nyeri di setiap malam. David selalu merendamnya dengan air hangat, setelah pernyataannya diterima oleh Kiki tentunya.


Entah bagaimana caranya David bisa melakukan hal-hal seperti itu, sementara dirinya selalu jadi pihak yang memerintah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2