
Terik Surya memancarkan sinar tanpa duka lara. Sepoi angin menghiasi beranda. Suara bising memekakkan telinga. Namun tidak satupun menghiraukannya.
Pria paruh baya duduk menikmati minumannya, memainkan ponsel tanpa peduli sekelilingnya. Beberapa paperbag menghiasi meja dihadapannya.
Seketika dia terkejut saat sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Sendirian?" Bayu mengagetkan Pak Sahril.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Makan siang"
"Aku tidak mentraktir" jawab Pak Sahril singkat.
"Ayolah paman, aku yang bayar"
"Dari mana kau mendapatkan uang?"
"Hehehehe...... Abang yang memberikannya"
"Cih! Itu uang bulanan. Seharusnya kau menghemat. Sudahlah pesan saja aku yang bayar"
Seketika Bayu memanggil weiters memilih menu kesukaannya. Dia terlihat sangat bahagia. Berbincang tanpa arah, sesekali tertawa. Sesekali tangannya menunjuk. Sesekali pria di sampingnya memukul pelan kepalanya.
Seorang wanita yang memperhatikan mereka merasa terguncang. Putranya begitu bahagia bersama orang asing. Tapi tidak dengan dirinya. Perlahan sang wanita menghampirinya.
"Sorry, bisakah kita bicara?" wanita itu mulai bersuara.
"Ma!" terkejut si Bayu.
"Duduklah!" Pak Sahril mempersilahkan.
Wanita itu duduk tapi tidak bersuara.
"Lanjutkan saja, sudah siang aku mau bersiap." Pak Sahril beranjak meninggalkan mereka.
"Bagaimana makanannya?" Bayu spontan menanyakan pembayarannya.
"Aku bayar!" serempak Pak Sahril dan wanita itu menjawab.
"Paman!" Bayu menegaskan berharap Pak Sahril yang membayarnya. Hanya anggukan kepala yang ia dapatkan. Sedangkan sang wanita merasa kesal. Dia mukul tangan Bayu menggunakan tasnya.
"Dasar memalukan!"
Ucapan itu lolos dari mulut wanita itu, tidak disangka bahwa kalimat itu sontak menyulut emosi Bayu.
"Aku memang memalukan, tapi aku tidak peduli. Setidaknya dia tau apa yang saat ini aku butuhkan."
Mendengar ucapan itu, sang wanita sontak memelas.
"Maaf! maafkan mama, sayang... kembalilah. mama tidak bisa kehilanganmu."
"Untuk apa? aku tak sehebat keponakan kalian. Aku tidak cocok duduk di kursi kehormatan. Yang ada malah mempermalukan kalian nantinya."
"Sayang.... setidaknya kembalilah ke rumahmu, agar mama sedikit tenang. Mama benar-benar menghawatirkanmu. Bagaimana kalau kau menjadi gelandangan? membayangkannya saja aku tak mampu" wanita itu menghiba sambil memberikan beberapa kunci dan dompet milik sang putra.
"Tenanglah ma, tidak semua orang di dunia ini acuh. Masih banyak orang-orang baik yang mungkin tidak pernah kalian temui. Yang begitu tulus tanpa pamrih membantu orang-orang sepertiku."
"Sayang .... apa yang kau maksud lelaki tadi?"
__ADS_1
"Ya! dia dan putranya"
Seketika sang wanita melemas.
Terasa sesak dadanya. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. Rasa penasaran kini semakin membesar.
"Sayang...... bisakah kau mengundang putranya?"
Pertanyaan wanita itu seketika mendapat respon penuh tanya dari Bayu.
"Maksudku aku ingin berterimakasih kepada mereka" sang mama berusaha menenangkan suasana.
"Dia sedang tidak bisa diganggu"
"Mengapa?" sikap antusias itu membuat sang putra semakin bertanya-tanya.
"Dia sedang honeymoon"
"Dia sudah menikah?" wanita itu semakin penasaran.
"Ya, kemarin"
Wanita itu menerawang, pandangannya mengabur. Seketika tubuhnya lemas dan seolah kesulitan bernafas.
Bayu memperhatikan dengan seksama, mencoba mencari jawaban disana. Akhirnya dia menemukan ide untuk mengetahui segalanya tanpa bertanya.
"Kapan-kapan aku akan mengundangnya ke rumah." sambil mengambil kunci yang diberikan oleh si wanita.
Wanita itu tersenyum, Bayu merasa mendapat kesempatan.
"Aku akan menghubungi mama jika dia siap"
"Tentu saja! dia biasa menginap dan sering memasak untukku."
"Sedekat itukah mereka? mengapa aku tidak mengetahuinya"
"Aku sudah selesai, aku akan kembali bekerja"
"Jangan lupa janjimu" wanita itu berdiri dan memberikan ponselnya milik sang putra.
Bayu sengaja mengambil barang-barangnya kecuali dompet dan isinya. Semu itu dia lakukan hanya ingin mengetahui apa yang dipikirkan sang mama. Tapi dia tetap tidak ingin menggunakan fasilitas dari sang papa.
πΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Siang itu begitu melelahkan bagi Pak Sahril. Setelah memarkirkan mobilnya, dia segera masuk kamar. Merebahkan tubuhnya, memejamkan matanya. Tapi fikiran terus bekerja. Penuh pertanyaan di sana. Namun nafas kasar ia hembuskan untuk mengakhiri semuanya.
Sementara pengantin baru sedang beberes, bersiap untuk melihat rumah barunya.
"Kamu lanjutkan, aku lihat dulu apakah ayah sudah pulang." Fahri melangkah keluar kamar, yang di balas anggukan oleh Kiki.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Pria itu. Segera membuka pintu.
"Ayah mari kita berangkat"
"Kalian sajalah,aku ingin beristirahat sejenak"
"Baiklah"
Sebenarnya mereka sepakat melihat rumah baru sore ini.
Namun Pak Sahril merasa malas untuk keluar.
__ADS_1
..................................
Setibanya di lokasi, mereka berdua saling bertatapan. Merasa senang dengan hadiah yang mereka dapatkan. Mereka segera masuk melihat-lihat isi rumah yang ternyata sudah lengkap.
Rumah sederhana dengan dua kamar tidur yang masing-masing memiliki kamar mandi di dalam seketika membuat pasangan pengantin baru itu merasa nyaman.
"Kita akan pindah jika mama sudah pulang"
"Apa kita akan meninggalkan mereka disaat mama masih butuh perawatan?"
"Kita lihat nanti, mereka ingin kita mempunyai privasi dan....
segera mendapatkan hasil" tangan kekar itu memeluk pinggang ramping dan mendaratkan dagu di kepala sang empunya.
Keheningan rumah itu membuat keduanya begitu intim menikmati suasana. Sehingga terjadilah pergulatan kecil di sana.
Mereka bercerita tentang keinginan masing-masing di kemudian hari. Mengutarakan impian-impian sederhana yang akan mewarnai kehidupan mereka. Dan banyak lagi pembicaraan yang mungkin menjadi rancangan hidup mereka.
Dua insan itu sedang dilanda asmara. Mereka terus saja berbicara dengan memainkan tangannya. Mencumbu sesuka hati mereka.
Tak seorangpun kini yang mengganggu aktivitas keduanya. Hingga mereka lupa waktu. Mereka merasa baru sekejab saja melewati sore yang indah, namun udara dingin menyadarkan mereka bahwa kini hari telah berganti malam.
Suara ponsel menghentikan aktivitas kedua insan yang sedang dibuai asmara.
π± Fahri
ganggu!
π± Bayu
Sorry, aku balik rumah malam ini. Tapi tenang saja aku masih bekerja untukmu
π± Fahri
Itu saja?
Tanpa peduli jawaban dia segera mematikan ponsel dan segera membersihkan diri.
Pasangan yang kini resmi menyandang gelar suami istri itu mulai meninggalkan kediamannya menuju rumah makan terdekat.
Setelah ritual makan malam usai, mereka kembali ke rumah sang ayah tidak lupa membawakan makanan untuknya.
Setibanya di rumah, sang ayah sedang asyik berbincang dengan istri yang masih berada di negeri orang.
Menantu menyiapkan makanan, sang ayah bersiap di meja makan. sementara ponsel kini berpindah ke tangan Fahri melanjutkan perbincangan dengan sang mama.
Kedua pria itu melangkah ke teras rumah. Sedangkan menantu membereskan meja makan beserta kelompoknya.
"Bagaimana rumahnya?"
"Kami menyukainya, terimakasih"
"Hmm..... seandainya tiba-tiba ibumu ......."
"Sudahlah yah! relakan semuanya."
Tak ada kata lagi yang bisa terucap dari bibir Pak Sahril. Mulutnya terkatup seolah tertimpa lem besi. Hingga tidak mampu membuka lagi.
Suhu dingin kian menerpa, mereka memutuskan untuk masuk mengistirahatkan tubuh mereka. Karena besok pagi sang ayah akan meninggalkan ibukota.
TBC
__ADS_1