Pencarianku

Pencarianku
pembicara unfaedah


__ADS_3

Hari sudah menjelang siang, Bayu mengantarkan Kiki pulang ke kontrakannya. Suasana hening di dalam mobil setelah satu persatu turun di alamat masing-masing. Kini tinggal Kiki dan Bayu menelusuri jalanan ibukota yang terik.


"Non, bagaimana perasaanmu?"


Bayu mulai memecah keheningan. Tapi Kiki hanya menoleh dengan wajah penuh tanya.


"Maksudku, perasaanmu terhadap Fahri ?" Bayu memperjelas pertanyaannya.


"Entahlah, tapi untuk saat ini jujur aku bahagia bisa melihatnya lagi." Kiki tersenyum menunjukkan isi hatinya.


"Eeehh.... tunggu, aku kok gak lihat kedua orang tua kalian yaaa?" tiba-tiba Kiki mengeluarkan uneg-unegnya.


"Hmmm..... Bonyok gue sibuk kerja, dan tinggal dirumahnya.


kalo nyokap Fahri masih dirawat di Singapura." ucapan Bayu membuat Kiki semakin tidak mengerti.


"Maksudnya?" Kiki bingung.


"Maksudnya?" Bayu malah balik bertanya.


"Maksudnya kalian bukan saudara?" Akhirnya Kiki mengeluarkan rasa penasarannya.


"Andai saja kami bersaudara, aku akan sangat bahagia. Bersamanya, aku merasa damai. Tapi, beginipun aku sudah bahagia." Senyum Bayu mengembang saat menjawab pertanyaan Kiki.


"Lalu, kalian tinggal bersama. Kalian bukan pecinta sesama jeniskan?" pertanyaan bodoh itu tiba-tiba terlontar begitu saja. Segera Kiki membekap mulutnya.


Bayu senyum sinis melirik Kiki.


sedangkan Kiki masih bertahan dengan tatapan menelisiknya.


"Hah! aku masih normal, dan aku juga yakin kalo kesayanganmu itu juga normal. Kami tidak mungkin bermain pedang-pedangan, buktinya dia melahap gulali yang kau berikan." Ucap Bayu dengan nada kesal.


Kiki menundukkan kepalanya, dia sangat malu mengingat kejadian itu.


"Di sini kan?" Bayu memastikan alamat Kiki.


"Iya" Kiki menjawab cepat.


"Kakak ipar, kau tidak mempersilahkanku mampir?" basa-basi. "Maaf aku ingin istirahat, nanti aku shift sore." Kiki menolaknya secara halus.


"Kakak ipar! crreek!" Bayu memotret Kiki dengan ponselnya saat Kiki menoleh.


"Ini bukti kalo aku sudah mengantarkanmu dengan selamat." Sambil tersenyum Bayu menjelaskan perbuatannya ilegalnya.


Tampak kesal, Kiki melempar kulit kacang yang sedari tadi telah ia nikmati di dalam mobil.


"Iiiihhhh dasar joyoook!" Bayu kesal karena Kiki berlalu begitu saja.


Sepulang dari tempat Kiki, Bayu melajukan mobilnya ke tempat Fahri. Maklum hari Minggu, Bayu libur. Fahri, owner ma suka-suka liburannya. sedangkan Kiki, libur bergilir sesuai shift.


πŸ“±Bayu menghubungi Fahri.


Bang , lu dimana?


πŸ“±Fahri


Distro Q.


πŸ“± Bayu


Gue kesana.


πŸ“± Fahri


Jangan, aku mau keluar, ke counter Q.


πŸ“± Bayu

__ADS_1


Kalo gitu gue ke counter.


πŸ“± Fahri


hmm...


Sambungan telepon terputus.


"Irit amat." gumam Bayu.


Β 


Bayu mulai berfikir dan melamun setelah pertemuannya dengan Fahri.


Tanpa Fahri sadari, Bayu selalu memperhatikan mimik wajah Fahri saat di counter sambil merapikan segala sesuatu yang ada di sana.


Bayu melihat Fahri begitu bersemangat dalam bekerja. selain itu wajahnya tampak berseri bahagia. Bayu melepaskan semua beban pikirannya dengan menghembuskan nafas kasar berkali-kali.


Ini yang terbaik menurutnya, dia harus menghapus perasaannya akan wanita yang ia idamkan dari ruang yang paling tertutup didirinya. Bayu lebih mengutamakan kebahagiaan Fahri. Mengingat perjalanan hidup Fahri tidaklah mudah. Mulai dari ditinggalkan ibu kandungnya pada saat masih bayi. Kemudiaan disusul ayahnya yang juga meninggalkannya ketika dia mulai meninggalkan usia balita. Tekanan-tekanan saudara tirinya yang tidak menyukainya karena cemburu atas ayahnya. Ditambah Pencariannya terhadap Kiki, sang bidadari dari desanya.


Bayu berfikir ini saatnya Fahri menuai segala kesabaran dalam dirinya. "Baiklah!!! cukup sudah, aku harus berbahagia dengan semua ini. Agar aku tidak kehilangan Fahri." Bayu membatin sambil mengamati setiap gerak-gerik Fahri.


"Bay..... mungkin seminggu kedepan aku gak bisa mampir. Aku ada urusan ke solo. Mau lihat tempat baru. Kamu jangan telat makan yaaa!" ucap Fahri sambil sibuk mengutak-atik ponselnya.


"Dia bagaimana?" Bayu sambil mengerlingkan matanya ke arah ponsel Fahri setelah mengirimkan jepretan ilegalnya.


"Titip kakak ipar yaaa," Fahri menatap Bayu dengan senyum yang sangat istimewa.


"Boleh incip gulalinya yaaa, Hmmm... sepertinya sangat manis hehehe"


goda Bayu. Yang mendapatkan tonjokan kecil di lengannya.


"Adik ipar durjana" olok Fahri.


"Bisakah kau mengantarkannya pulang setelah kerja? Dia shift sore, aku khawatir kalo dia pulang malam." Pintanya.


"Jhiiiiaaahhhh....... khawatir? bukankah selama ini dia juga pulang sendiri? hah...yang benar saja. Gak usah lebai deh."


"Hah.......kalo aku ingat semua itu aku makin khawatir terhadapnya," Fahri mulai serius.


"Bekerjalah dengan tenang abang sayang. Gue pasti jaga kakak ipar dengan baik." Bayu meyakinkan Fahri.


"Tapi, bagaimana kalau dia jatuh hati kepadaku?" memperlihatkan tampang gesreknya.


"Percayalah furgoso! dia tidak semudah itu melupakanku." Fahri meyakinkan sahabatnya dengan penuh rasa percaya diri.


"Ooooohhhhh shhhiiiit!!!!!" jawab Bayu sambil disahuti tawa Fahri yang menggelegar.


🌼🌼🌼🌼


Waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Fahri standby di depan mall tempat Kiki bekerja.


Kiki melihat pujaan hatinya duduk di atas motor, dia mempercepat langkah kakinya menghampiri. Wajah bahagia itu tidak dapat disembunyikan olehnya. Teman-temannyapun menyorakinya. Tapi Kiki tidak menghiraukan mereka dia terus berjalan sambil menundukkan kepala.


Tanpa mampir ke mana-mana, Fahri mengantar Kiki ke kontrakannya.


Sesampainya didepan kontrakan, Fahri memberitahukan keberangkatannya ke solo.


Kiki mengiyakan Fahri. Mengingatkan agar berhati-hati dan cepat kembali. Serta mendoakan agar selamat pulang pergi. Perbincangan mereka terlihat begitu mesra.


Karena sudah malam, Fahri pamit dan menyuruh Kiki segera beristirahat.


"Ehm ehm....." goda tetangga kontrakan yang masih berada diluar kamar. Kiki hanya tersenyum sambil lalu meninggalkan mereka.


"Traktiran traktiran guys, ada yang punya pacar baru nih," celetuk salah seorang tetangganya.


"Ki! traktiranlah biar cepat kepelaminan," sahut yang lainnya.

__ADS_1


Tanpa basa-basi Kiki mengambil beberapa lembar uang dan memberikan kepada salah satu teman kos-nya.


"Atur aja, aku ngantuk."


Dengan cepat Kiki masuk kamarnya karena sedikit malu.


"Jhiiiiaaahhhh makasih Ki, moga langgeng Ampe kakek nenek."


"Moga banyak anak banyak rezeki." Dan masih banyak lagi celotehan-celotehan teman-temannya.


Kiki sudah diatas ranjang, tapi matanya tidak bisa terpejam.


Dia mulai memainkan ponselnya, tapi dia bingung mau apa.


Sedangkan di rumah, Fahri juga tak kalah kalut ingin menghubungi Kiki tapi takut mengganggu istirahatnya.


setelah mencoba mengetik chat berkali-kali dan di hapus, akhirnya dengan segala keberanian Kiki menelpon Fahri.


πŸ“± Kiki


Belum tidur?


πŸ“± Fahri


Belum.


πŸ“± Kiki


kenapa?


πŸ“±Fahri


Belum ngantuk.


πŸ“± Kiki


Yaaaaa....... mengecewakan.


πŸ“± Fahri


Hah?


πŸ“± Kiki


Ku pikir merindukanku.


πŸ“± Fahri


hmmm.... manjanya masih


dipiara.


Dan entah apa saja yang dibicarakan malam itu, tentunya hal-hal unfaedah yang mengantarkan keduanya hingga ke peraduan masing-masing.


Sementara itu, di rumah yang terlihat sepi tanpa penghuni. Bayu masih terjaga membolak-balikan ponsel miliknya. Main game sampai bosan, melihat siaran TV sudah tidak ada yang menarik. Tidak ada teman yang diajak bicara.


Biasanya dalam keadaan seperti ini, Bayu menghubungi Fahri. Mengajaknya bercanda walaupun hanya sebentar atau bercerita tentang pekerjaan yang kemudian merembet ke masalah gebetan. Tapi malam ini Fahri tidak membalas chatnya. Dan Bayu tidak mau mengganggu. Karena Bayu berfikir mungkin sedang asyik dengan Kiki. Bayu hanya bisa membolak-balikan badan nya agar segera terlelap.


.


.


.


πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2