
"Yi..... aku berencana pulang kampung saat libur Minggu depan. Aku mengambil cuti beberapa hari. Aku mau mengunjungi makam mamak dan bapak." Kiki berkata sambil menahan air matanya keluar.
"Aku akan mengantarmu. Aku juga mau ke makam si Mbah.
sekalian minta ijin kalo kita akan menikah." Sahut Fahri.
"Kamu serius kita nikah tanpa paman?"
"Aku akan minta ayah hadir di pernikahan kita. Tapi aku gak bisa jamin beliau bisa datang."jawab Fahri sambil mengeluarkan ponsel.
Tidak lama kemudian panggilan terhubung.
📱 Sahril
Apa kabar nak?
📱 Fahri
Baik yah! aku sudah melamarnya yah. Belum secara resmi sih. Bagaimana cara melamar yang resmi yah?
Sahril
Ayah akan melakukannya untukmu nak! kita harus mendatangi bibinya, karena dia satu-satunya keluarga Kiki.
melihat Kiki menggelengkan kepalanya.
Fahri
Tidak mungkin yah, dia kabur dari sana karena alasan yang sangat memalukan. Dia tidak mau berhubungan dengan tantenya lagi.
Sahril
Ya sudah, ayah akan meminta langsung kepadanya secara resmi. Kapan tepatnya nak? Ayah akan meminta waktu kepada David untuk menemani mamanya.
__ADS_1
📱 Fahri
Baiknya kapan yah? Aku mau segera!
Sahril
Baiklah nak nanti ayah bicarakan dengan mama dan David.
Fahri
Terimakasih kasih yah, jaga kesehatan ayah. Salam untuk mama dan David.
Sahril
Kamu juga jaga diri baik-baik nak!
sambungan telepon tertutup.
Kiki merasa terharu mendengar percakapan ayah dan anak tersebut. Kiki mendengar kata-kata pak Sahril, "Paman terlihat sangat lembut, sama seperti putranya." Kiki diam-diam membatin.
Sesekali mereka membicarakan tentang masa lalu dan saling tertawa. Suasana yang menyenangkan, sudah lama tidak merasakan kehangatan seperti ini. Karena selama ini Fahri selalu resah memikirkan keadaan kiki, sehingga dia lupa bagaimana cara bercanda.
"Jadi kalo kita sudah menikah kamu yang masak yi!" Kiki menoleh dari arah wastafel. Sedangkan Fahri tersenyum tanpa melihatnya.
"Kamu cukup mempresentasikan hasil karyamu sebagai istri saja nanti hahahaha...." jawab Fahri penuh arti. Kiki mengernyitkan dahi menatap Fahri.
Fahri mendekat, memeluknya dari belakang menyandarkan dagunya di pundak Kiki.
"Kau juga boleh memasak kalau kau mau, hanya jika mau hum."
Fahri berbisik sambil mencium pipinya. Seketika pipi itu merona dan membuatnya malu dengan perasaannya yang tiba-tiba berdesir.
" Setelah menikah kau ingin berapa anak? laki-laki atau perempuan?" Fahri mulai meracau, dia memejamkan matanya, mencium lembut leher . Membuat Kiki begidik dan sedikit menahan nafas.
__ADS_1
"Semampu kita, laki, perempuan sama saja." Kiki mulai salah tingkah, sedangkan Fahri masih bermain di tengkuk lehernya.
karena sudah terbawa arus, Kiki membalikkan tubuhnya. Mengalungkan tangannya di leher Fahri. Menatap intens kedua bola mata Fahri.
"Yi....aku sangat bahagia." Tanpa aba-aba Kiki mencium bibir Fahri Melu*** dengan lembut. Kemudian Fahri menyambut dan membalasnya hingga kini Fahri yang menguasainya. Bibir itu bertaut begitu lama sambil menutup mata mereka. Hingga Fahri mulai merasakan sesuatu yang menyesakkan di bawah sana, merasa matanya berkabut saat membukanya. Fahri menghentikan aksinya, mencium kening Kiki dan mempererat pelukannya sambil berbisik, "apa yang kau rasakan? di bawah sana sudah tidak sabar. Aku benar-benar tidak ingin menunda pernikahan kita." Kiki tidak menyangka Fahri begitu tidak tau malu membicarakan juniornya. Kiki menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Fahri. Sambil menahan tawa.
Mereka melanjutkan aksi memasaknya yang tertunda. Semua bahan sudah dimasak.
Fahri menyiapkannya di meja makan. Sementara Kiki pergi membersihkan diri. Setelah selesai, Fahri pun meninggalkan tempat untuk membersihkan diri. Setelah keduanya sudah segar mereka makan malam bersama. Karena suasana hening Kiki mencoba mencari topik pembicaraan.
"Yi... jadi selama tiga tahun ini paman tidak pernah pulang?"
"Pernah beberapa kali, menyelesaikan masalah perusahaan. Kakek David warga Singapura, punya perusahaan di sana. Ketika masih muda, mamanya berhasil mendirikan cabang di sini. Kemudian menikah dengan orang berkewarganegaraan Australia yang sedang bekerja di sini. Mereka berkenalan saat di Bali dan menetap di sini. Tetapi kehidupan keluarganya hancur saat mengetahui bahwa suaminya telah memiliki seorang istri yang tengah hamil muda." Fahri tidak melanjutkannya karena merasa membuka aib mamanya dan sungguh membuat hatinya merasa tidak nyaman.
Jadi saat itu Mr. Robert mempunyai istri yang sedang hamil dua bulan. Karena sang istri selalu banyak menuntut, Mr. Robert merasa muak sehingga meninggalkannya begitu saja. Akan tetapi istrinya itu tidak menyerah, dia selalu berusaha mencari suaminya hingga bertemu di bar SH.
Alicia, dialah istri pertama Mr. Robert.
Dia mengancam akan melabrak madunya jika Mr. Robert tidak menuruti kemauannya. Kehidupan Mr. Robert yang sudah melimpah ruah membuat dia sering berkunjung ke bar untuk bersenang-senang. Kemudian menyia-nyiakan Bu Hanny, hingga Bu Hanny mengetahui kebusukannya. Dengan segala pertimbangan dan pengertian David tentunya, mereka berpisah untuk selamanya.
Seminggu berlalu sudah setelah acara makan malam itu. Fahri menjemput kiki di kontrakan. Fahri tidak membawa mobil, mereka berencana naik kereta, mereka ingin bersantai menikmati perjalanannya dan menggunakan kereta itu salah satu alternatif yang menarik bagi kiki, karena jujur Kiki tidak pernah naik kereta. Ya, memang Kiki belum pernah pulang sejak kepergiannya dari kampung. Kiki merasa tidak ada tujuan di sana, selain itu dia takut tantenya menemukan dia di sana.
Pukul 15.00 WIB, kereta berangkat mengantarkan kepulangan mereka. Kiki memandang ke arah Jendela, menikmati keindahan alam di sepanjang perjalanan. Dia tersenyum tipis, menikmati betapa indahnya jalan yang dilalui kereta tersebut.
"Yi..... istirahatlah! perjalanan masih dua jam lagi." sambil memberikan ruang agar dia bersandar di pundaknya.
Kiki menggelengkan kepalanya, karena merasa matanya belum puas menikmati pemandangan yang ada. Tapi tidak berapa lama, dia mulai kehilangan kesadarannya dan terlelap bersandar di jendela kaca kereta.
Mendengar dengkuran halus, Fahri memeluk tubuh kurus itu mengalihkan ketubuhnya. Mengecup puncak kepalanya.
Dia merasa bahagia bisa memeluk tubuh gadis kecilnya yang kini telah dewasa.
Fahri terus mengingat kembali masa-masa yang telah dilaluinya bersama-sama. Masa-masa yang tidak pernah bisa di ulang dan tidak bisa terlupakan. Dengan memanjatkan rasa syukur, Fahri berulangkali mengecup puncak kepalanya. Sesekali Kiki menggeliat, dan Fahri merasa lucu. Mengingat kala masih kecil dia sering membangunkan Kiki dengan berbagai cara untuk menjahilinya.
__ADS_1
Sewaktu kecil, Kiki sangat susah bangun pagi. Fahri yang suka numpang makan di rumahnya, selalu mencari alasan agar ibu Kiki mengajaknya sarapan. Fahri selalu mengunjungi rumah tetangganya itu setelah ia rapi dan siap untuk berangkat sekolah. Sedangkan Kiki selalu masih sibuk dengan mimpinya. Bukan karena Kiki terlalu malas, hanya saja Fahri yang sengaja datang lebih awal untuk numpang sarapan. Bukan karena nenek Fahri yang tidak menyediakan makanan, itu semua karena Fahri merasa bahagia bisa makan bersama keluarga mereka yang lengkap.
TBC