Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB I - MATA RANTAI


__ADS_3

Di suatu belahan dunia timur, terbentang daratan yang begitu luas dengan keadaan alam yang mempesona.


Sisi sebelah barat, selatan dan timur dibatasi langsung oleh samudera dengan ombaknya yang begitu besar dan dahsyat. Adapun sisi yang sangat jauh di utara, berbatasan langsung dengan daerah pegunungan yang melintang dari barat ke timur dengan bagian ketinggian tertentu hingga di puncaknya, selalu diliputi dengan hamparan salju serta es abadi. Dengan kondisi geografis yang nyaris sempurna dan seimbang ini, hanya terdapat musim kemarau dan hujan. Belahan dunia ini sungguh memiliki karunia yang tak ternilai, baik tanah maupun air memberikan sumber kekayaan alam yang melimpah.


Pada awal sejarah sebelum masa ini diceritakan, terdapatlah dua kekaisaran besar dan berkuasa yang hidup berdampingan, dengan masing-masing cakupan luas wilayah kekuasaan yang nyaris sama. Keduanya hanya dipisahkan oleh sebuah sungai besar yang disebut sebagai sungai Mahadam oleh masyarakat ke dua kekaisaran. Membujur mulai dari sebelah utara, yaitu daerah pegunungan pada bagian hilir, kemudian turun mengikuti kontur alam ke dataran rendah hingga ke selatan menuju samudera. Kekaisaran Muderakali menguasai wilayah sebelah barat sungai, sementara Kekaisaran Gunumlatar menguasai wilayah sebelah timur sungai.


Ada keistimewaan khusus pada sungai Mahadam ini, yang apabila dilihat dari ketinggian tertentu akan nampak laksana seekor ular yang sangat besar meliuk dan berkelok, dengan bagian kepala yang sedang menganga pada ujung jauh sebelah selatan sana dan bagian ekor yang mengerucut pada sisi sebelah utara. Tidak seperti layaknya semua daerah pinggiran sungai yang dipenuhi dengan kelebatan pepohonan besar-besar yang begitu rimbun, anehnya pada bagian tengah akan terlihat satu-satunya daerah pinggiran sungai yang melebar di kedua sisinya, ditandai dengan jarangnya tumbuhan serta pepohonan yang hidup menghampar di pinggir sungai tersebut. Kembali jika dilihat dari ketinggian tertentu, ular besar tadi pada bagian badan atau perutnya seperti menggembung besar. Pada wilayah yang cukup luas dan memanjang hingga puluhan kilometer inilah merupakan satu-satunya daerah yang bisa menjadi penghubung akses bagi kedua kekaisaran. Pada musim kemarau, masyarakat bisa berjalan kaki atau menaiki kuda tunggangan sebagai sarana transportasi penyeberangan langsung. Namun sebaliknya, jika musim hujan, area ini berubah layaknya dua pelabuhan perahu di kedua sisinya. Rakyat menyebut wilayah ini sebagai Sungai Putus. Hal ini bukan tanpa sebab, namun dikarenakan terjadi keunikan alam dari terbentuknya rongga dalam perut bumi sehingga membentuk sungai bawah tanah, maka pada saat musim kemarau mengakibatkan air sungai dari sisi utara sebagian besar akan tertelan bumi dan kembali dimuntahkan keluar menjadi air terjun di sisi ujung sebelah selatan. Kedalaman air di wilayah sungai putus ini akan perlahan menyusut dan mengering karena tidak dialiri air, sehingga terlihat seperti lembah pasir dan bebatuan kerikil yang menghampar sepanjang mata. Akan berlaku sebaliknya  saat musim hujan datang, air sungai akan melimpah dan rakyat kedua kekaisaran akan memerlukan perahu sebagai sarana penyeberangan maupun mencari ikan.


Konon, entah siapa dan rakyat dari pihak mana yang memulai, terjadilah sebuah perselisihan kecil antar penduduk seberang sungai yang saling memperebutkan wilayah pencarian ikan maupun kegiatan penambangan batu kali maupun pasir. Kejadian yang awalnya hanya merupakan percekcokan biasa ini, lambat laun mulai melibatkan para prajurit penjaga perbatasan wilayah kekaisaran, yang masing-masing membela rakyatnya dan bersikeras menegaskan klaim atas wilayahnya. Demikianlah, perseteruan ini terjadi berulangkali, hingga akhirnya berujung dengan pecahnya peperangan terbuka antara kekaisaran Muderakali dengan Gunumlatar. Sungai Putus yang dulunya bisa berfungsi sebagai sumber nafkah bagi rakyat sekitar dan menjadi pelabuhan penghubung, kini telah berubah menjadi lokasi medan perang. Ketika satu pihak kekaisaran berhasil menyeberangi dan menguasai medan di seberang lembah sungai, pihak ini akan merayakan kemenangan, sementara pihak lawan bergerak mundur dan menyusun strategi serta kekuatan selanjutnya untuk merebut kembali wilayah yang sebelumnya telah lepas, hingga di kemudian hari mereka berhasil mengusir balik lawannya bahkan bergantian menduduki sebagian wilayah seberangnya.


Demikianlah silih berganti para pasukan dari kedua kekaisaran ini berperang hingga tidak terasa telah berlangsung hingga seratus delapan puluh tahun lamamya. Sudah hampir tiga generasi kekaisaran telah berganti, namun demikian belum juga ada tanda-tanda kedamaian akan terwujud. Ratusan ribu bahkan jutaan nyawa telah melayang akibat perang tersebut. Harta dan kekayaan masing-masing kekaisaran terkonsentrasi secara penuh untuk membiayai peperangan, mulai dari pembelian perangkat perang seperti baju perang, pedang, tombak, tameng, kuda perang, hingga kapal perang yang tentunya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan strategi perang saat musim hujan. Kemudian masih ada satu lagi pengeluaran berbiaya luar biasa besar, dimana tujuan utama dari strategi ini adalah untuk mengurangi jumlah korban prajurit, yaitu dengan cara mengupah orang-orang dunia persilatan. Mulanya taktik ini dijalankan oleh kekaisaran Gunumlatar, dimana saat dijalankan langsung terlihat keberhasilannya, yaitu satu jago bisa mengalahkan lima sampai delapan prajurit lawan sekaligus. Namun beberapa hari berikutnya kekaisaran Muderakali menerapkan strategi yang sama, yaitu dengan mengupah jago-jago silat mereka tanpa memandang aliran hitam dan putihnya, semakin tinggi ilmunya maka upahnya pun semakin besar. Adalah satu taktik yang sepertinya  bagus, namun sayangnya tanpa memikirkan dampak lain yang  ditimbulkan. Selain dari biaya langsung yang sangat besar sebagai konsekuensi, hampir semua orang-orang dunia persilatan adalah individu yang sangat susah diatur dan lebih mengutamakan ego pribadi serta golongan masing-masing. Mereka lebih mengutamakan perangainya, sehingga tidak jarang diantara mereka sendiri yang sebenarnya berada dalam pihak yang sama, bisa saling serang dan bermusuhan, hanya karena ego dan sekedar mengadu kekuatan untuk membuktikan siapa lebih sakti diantara mereka, meski dengan hasil salah satunya bisa mati atau setidaknya luka dan kalah, kemudian pergi dengan berbekal dendam untuk melakukan pembalasan di kemudian hari, bisa sendiri atau malah mengajak kroninya. Sungguh satu pengeluaran biaya perang yang luar biasa sangat mahal yang sayangnya susah terlanjur dijalankan meski tidak efektif namun tidak mungkin dihentikan.


Begitu hebatnya peperangan yang berkepanjangan ini terjadi, mengakibatkan berapapun jumlah prajurit yang dikirimkan pasti jumlahnya akan kembali berkurang akibat luka maupun kematian. Lambat laun namun pasti, masing-masing kekaisaran mulai kekurangan pasokan prajurit, sehingga entah siapa yang mengusulkan keluarlah perintah kaisar yang kembali nantinya kaisar sebelah juga akan memberlakukan, bahwa atas nama demi menjunjung kejayaan bangsa maka, setiap laki-laki dengan kriteria tertentu diwajibkan untuk ikut berperang dan selanjutnya tiap keluarga yang ditinggal berperang akan diberikan uang pengganti. Namun demikian, ketentuan yang dikeluarkan dalam kondisi darurat ini dimanfaatkan oleh sebagian besar pejabat-pejabat korup yang dimulai dari pemerintahan pusat kemudian turun ke pejabat daerah dibawahnya yang hampir semuanya juga korup, sehingga terjadi penggerusan sedemikian rupa. Biaya yang semestinya diperuntukkan sebagai kompensasi tersebut tidak sampai kepada golongan rakyat kecil. Dengan kondisi kenyataan yang terjadi di semua daerah adalah hampir semua laki-laki yang terlihat masih sehat dan kuat dipaksa untuk menjadi prajurit. Bahkan, setelah itu, banyak muncul juga kelompok-kelompok berkuda yang masuk ke daerah-daerah yang menyebut mereka sendiri sebagai pasukan khusus kaisar  yang melakukan penggeledahan ke tiap-tiap rumah di semua kota dan desa-desa, untuk mengumpulkan laki-laki yang akan direkrut sebagai prajurit. Parahnya kemudian, ketika stok menipis remaja lelaki yang sebenarnya dari sisi umur masih tergolong anak-anak, akhirnya dibawa serta. Belum lagi ditambah dengan munculnya para tengkulak dadakan, yang menyediakan dan menjual sejumlah anak lelaki kepada pejabat pasukan khusus kaisar  tentunya dengan banderol harga tertentu berdasarkan umur dan kondisi fisiknya. Namun demikian, berbagai hal diatas tidak berlaku bagi rakyat yang berkecukupan. Mereka dari golongan berada ini bisa memperoleh keringanan kewajiban perang, dengan cara membeli surat ijin yang dikeluarkan oleh pembesar-pembesar di kotanya masing-masing. Demikianlah segala carut marut yang terjadi di kedua kekaisaran, dimana semua ketimpangan dan penyelewangan dari berbagai sisi seolah menjadi suatu hal yang lazim terjadi, sehingga di banyak tempat menimbulkan gejolak masyarakat dan ketidakpuasan. Bagi mereka yang punya nyali membuat kelompok kecil menyulutkan pemberontakan dan ini terjadi hampir di setiap wilayah dari kedua kekaisaran tersebut. Adapun bagi mereka yang mempunyai nyali namun bermental rendah lebih memilih untuk bergabung dengan kelompok perampok, menjadi antek tengkulak dan sebagainya demi untuk dapat menikmati hidup dengan cara mudah, yang penting punya modal sedikit ilmu silat.


Ketika nafsu duniawi, ketamakan dan kekuasaan merajalela, maka rakyat kecil yang tidak memiliki harta, tidak bernyali dan tidak memilki ilmu silat menjadi satu-satunya pihak yang menjadi korban. Mereka sudah sangat menderita akibat perang berkepanjangan, kembali dibuat lebih merana dengan berlakunya hukum rimba yang berlaku secara otomatis di daerah manapun.


Hujan gerimis yang turun sejak semalam di sebuah desa kecil yang hanya terdiri dari dua puluh lima rumah sederhana di wilayah pinggir kekaisaran Gunumlatar, bagaikan curahan air mata sang dewi langit atas datangnya malapetaka yang segera akan menimpa seluruh penduduk desa, pada siang hari yang dilingkupi mendung kelam tersebut.


Tampak dari ujung jalan masuk desa sebelah timur, seorang laki-laki paruh baya berlari mendekat dengan mengerahkan semua ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sambil mengeluarkan suara siulan yang melengking sebagai tanda bahaya bagi semua penduduk desa. Dalam sekejap, dia telah sampai di halaman salah satu rumah yang terletak di bagian tengah kampung yang terlihat sedikit lebih tinggi dari rumah-rumah lain di sekitarnya. Belum sampai dia menginjak anak tangga pertama dari lima anak tangga keseluruhan yang ada di rumah itu, daun pintunya terbuka dari dalam. Seorang laki-laki sederhana namun berperawakan gagah berusia sekitar empat puluh tahunan berdiri di depan pintu tersebut dan menyongsong kehadiran si pendatang yang terlihat seperti akan menyampaikan sebuah berita sangat penting berkaitan dengan lengkingan yang dia bunyikan tadi.


Saat si pendatang akan membuka mulutnya, si pemilik rumah memberikan kode untuk menahan ucapannya demi melihat satu persatu kepala keluarga dari masing-masing penduduk desa tersebut berlarian berdatangan dan bergabung dengan mereka berdua.

__ADS_1


Saat si pemilik rumah terlihat seperti menghitung jumlah orang yang hadir, istri pemilik rumah terlihat muncul dan berdiri di belakang suaminya. Setelah menghela napas, si tuan rumah langsung berkata kepada laki-laki paruh baya;


"silahkan ki sebrang, sampaikan laporanmu"


Tidak langsung menyahut, laki-laki yang disebut sebagai Ki Sebrang tadi kemudian melihat orang-orang di sekitarnya, barulah dia menjawab;


"tuan sodra, sepertinya ini telah waktunya bagi kita semua. Terpantau dalam pengintaian saya sepasukan berkuda orang-orang dari partai gagak tombak panji emas akan tiba di desa kita ini paling lama satu penanakan nasi dari sekarang"


Terdengar bergumam sahut menyahut nada ketakutan dan kekhawatiran dari semua yang hadir.


Demi mendengar laporan yang disampaikan barusan, raut wajah Tuan Sodra yang tadi terlihat tenang, sekarang berubah menjadi tegang ditandai munculnya kerutan pada dahinya. Dengan perlahan dia menuruni anak tangga rumahnya dan bergabung dengan semua yang hadir di halaman rumahnya. Setelahnya dia berkata;


"saudara-saudara sekalian, telah beberapa kali kita berjuang bersama menghadapi berbagai kelompok dan gerombolan yang datang untuk merampok dan menyengsarakan kita, tetapi sejauh ini kita berhasil mengusir mereka semua. Namun demikian, sebagaimana dahulu pernah saya katakan bahwa khusus orang-orang dari partai gagak tombak adalah partai golongan hitam yang paling kejam dan terkuat pada masa ini, apalagi menurut laporan yang akan datang ini adalah berpanji emas,......ini adalah kelompok kasta tertinggi diantara pasukan mereka, karena biasanya dipimpin langsung oleh ketuanya, yaitu sepasang iblis pembetot sukma, dengan pengawalan panglima mereka yang terkenal karena kedigdayaannya"


"oleh karena itu, saya meminta dengan sangat agar saudara semua untuk segera berkemas dan secepatnya meninggalkan desa ini melalui jalan rahasia yang telah kita buat bersama. Keselamatan saudara sekalian dan keluarga masing-masing, serta anak-anak adalah lebih penting. Saya dan istri sungguh merasa terhormat dan bangga telah mengenal serta bergaul dengan anda semua. Oleh karenanya kami mengucapkan terimakasih"


Setelah menyampaikan kalimat tersebut, tuan Sodra menjura dengan hormat kesemua orang yang hadir berkumpul dan kemudian membalikkan badannya dan naik menuju ke dalam rumah. Demikian pula setiap orang tanpa mengeluarkan suara sepatah katapun, membalas hormat dan segera bergegas kembali ke rumah mereka masing-masing.


Setibanya di dalam rumah, tuan Sodra menghampiri istrinya yang sedang berjongkok di depan anak lelaki mereka semata-wayang yang berumur sekitar delapan tahun. Sambil memegang kedua bahu anaknya, nyonya Sodra berkata dengan suara bergetar karena menahan tangis sekuat tenaga agar tidak keluar. Seolah menyampaikan pesan terakhir kepada anak tersebut;


"anakku, engkau harus berjuang agar tetap hidup dan buat sejarahmu sendiri untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang bagaimanapun keadaanmu. Dan ingatlah bahwa kami akan senantiasa menyertaimu"

__ADS_1


Selesai dengan perkataanya, dia memeluk erat sang anak cukup lama lalu menciumi wajahnya dengan penuh perasaan kasih. Menyadari suaminya berdiri di samping mereka, dia melepas pelukannya dan kemudian berdiri untuk memberi kesempatan bagi suaminya. Dengan sepenuh kuasa karena menahan emosi, tuan Sodra berganti jongkok di depan anaknya, lalu tangan kirinya terulur dan memegang lembut tengkuk sang anak.


Sambil menatap kedua mata anaknya dalam-dalam, dengan penuh wibawa dan kasih sayang barulah dia membuka mulutnya;


"waseso anakku,...turutilah semua perkataan ibu mu tadi dan aku akan menjadi ayah yang sangat bahagia. Maukah engkau berjanji?"


Waseso, walaupun terbilang anak kecil namun dia tumbuh sebagai seorang anak yang cerdas dan pemberani. Sorot matanya bening dan sangat tajam. Semenjak bisa berlari, dia telah mendapatkan bekal dasar-dasar ilmu olah kanuragan dari ayahnya, yang merupakan seorang jago silat beraliran putih dan memilih menetap di desa tersebut sejak sembilan tahun yang lalu bersama dengan istrinya yang merupakan seorang murid perguruan yang cukup ternama. Sedangkan ilmu baca, tulis, termasuk ilmu aktivitas keseharian yaitu ilmu dapur dan mencuci pakaian dia dapatkan secara langsung dari didikan ibunya. Kejadian datangnya perusuh ke desa mereka, bukan hanya terjadi kali ini saja tetapi sudah beberapa kali jumlahnya, namun selama itu dia tidak pernah mendengar ayahnya berbicara kepadanya dengan nada sangat serius serta sangat dalam seperti barusan dia dengar. Bahkan ibunya, biasanya masih menyempatkan untuk memerintahkan dirinya membereskan dan menyimpan buku yang sedang dia baca atau tulis seperti kegiatan yang sedang dia lakukan sekarang. Namun tidak untuk kali ini. Oleh karenanya dia menyimpulkan bahwa keadaan saat ini begitu genting, sehingga dia tidak mau untuk buru-buru menjawab, melainkan dia menatap ibunya yang juga sedang memperhatikannya. Setelah itu kembali membalas tatapan ayahnya dan berkata dengan sungguh-sungguh;


"baik ayah, aku berjanji"


Mendengar jawaban tersebut, mata tuan Sodra berkaca-kaca dan segera memeluk sang anak dengan sangat erat.


"pergilah sekarang nak"


Lalu tuan Sodra berdiri dan menyerahkan Waseso kepada istrinya untuk dibawa ke pintu rahasia bawah tanah.


Sesampai di ruang makan yang berbatasan langsung dengan dapur, nyonya Sodra menuju ke almari kayu biasa yang tidak terlalu tinggi namun cukup panjang, tempat menyimpan segala jenis perkakas makan minum rumah tangga. Apabila diperhatikan, tidak akan kelihatan sesuatu yang mencurigakan dengan almari tersebut karena pada bagian depan serta sisi kanan kiri ridak ada yang tertutup, sementara bagian belakang ditutup dengan papan kayu sebagai dindingya. Semua piring dan gelas beling yang jumlahnya tidak banyak dan berada dalam rak almari tersebut segera di keluarkan olehnya, lalu tangannya menarik sebuah kait kecil pada bagian sudut di dasar almari. Selanjutnya secara otomatis terlihat papan bagian belakang bergerak ke bawah menampakkan lubang yang lumayan besar untuk dimasuki bahkan tubuh orang dewasa. Sebelum Waseso merangkak masuk ke lubang tersebut, kembali nyonya Sodra memeluk erat tubuh sang anak dan kembali berpesan;


"ingatlah anakku,....apapun yang terjadi dan kamu dengar, jangan pernah sekalipun engkau buka kuncinya dari dalam serta keluar dari persembunyian ini hingga aku atau ayahmu yang  memberi isyarat padamu"


"baik ibu"

__ADS_1


Dengan penuh kasih sayang nyonya Sodra mencium pipi dan kening Waseso, lalu menghela sang anak untuk merangkak masuk ke dalam lubang dan menuruni tangga pijakan ke arah bawah tanah. Demi dilihat kepala sang anak sudah tidak terlihat, kembali dia menarik tuas yang sama, sehingga dinding belakang almari tertutup.


BERSAMBUNG


__ADS_2