Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB 18 - PENDEKAR SILAT YANG UNIK


__ADS_3

Setelah selesai makan siang. Ni Luh masuk dan duduk di ruangan nya, disebut demikian karena Ni Luh membuat sendiri tenda kain kecil ini, dimana dia bisa bebas bekerja membuat pakaian jadi, untuk anak-anak pengungsi. Dalam ruangan tenda itu, Ni Luh juga menyimpan berbagai bahan kain serta empat baju anak perempuan dan tiga stel baju untuk bocah laki-laki. Sudah sekitar satu bulan ini, rombongan kecil mereka telah berubah menjadi layaknya kampung pengungsian bagi rakyat kecil yang mencari tempat perlindungan.


Sambil tetap menjahit, Ni Luh mengenang perjalanan rombongan kecil mereka yang waktu itu terdiri dari tujuh orang dewasa, seekor kuda, seekor sapi perah betina dan seekor burung kecil berwarna kuning. Namun, begitu meninggalkan rumah kosong dua bulan lalu, berubah menjadi dua puluh empat orang dewasa dan tiga bocah. Meski demikian, perjalanan mereka malahan seperti layaknya sebuah keluarga super besar yang sedang pergi melancong. Bagaimana tidak, karena baik Waseso dan Kinda begitu riang gembara seolah memiliki keluarga baru. Ni Luh juga demikian, perasaannya yang dulu begitu hancur lebur akibat keguguran kandungan, sakit berkepanjangan ditambah kehilangan suami, namun mulai terhibur dengan keberadaan Kinda dan semuanya. Apalagi setelah itu, mulai bergaul dengan tiga bocah pengungsi, dia benar-benar merasa seperti seorang ibu muda berusia dua puluh satu tahun yang sekaligus memperoleh tiga anak. Kang Aji juga telah di nikahkan dengan Kestri yang sebatang kara, oleh karenanya bisa dibayangkan betapa bahagianya pakde dan bude yang bermimpi pun, mereka tidak berani bakalan memiliki seorang mantu cantik ditengah masa pengungsian dan penderitaan mereka berpuluh tahun lamanya.


Pernah terjadi mereka bertemu dengan "pasukan khusus kaisar" yang kira-kira berjumlah dua belas orang berkuda. Warga yang belum mengetahui kelihaian Waseso dan Kinda, tentu saja saat itu langsung ketakutan, apalagi ternyata yang maju menghadapi pasukan itu hanya Kinda seorang. Tentu saja mereka yang melihatnya ragu dan was-was. Tetapi ternyata, hanya dalam dua gebrakan saja, serombongan pasukan gadungan tersebut, semuanya secara sekaligus di bikin keok oleh Kinda, yang ternyata masih bermurah hati untuk tidak menyobek selembar nyawa mereka masing-masing. Tapi dasarnya Kinda memang bengal dan jahil. Mereka harus menyerahkan kuda mereka, beserta semua harta rampasan, serta mencopot pakaian luarnya. Tentu saja semua yang diminta Kinda tadi dengan senang hati dituruti, karena mereka semua sadar bahwa masing-masing tidak memilki serep nyawa.


Setelah kejadian itu, nampak begitu jelas bagaimana plong nya hati semua pengungsi demi mengetahui bahwa pelindung mereka adalah ibarat malaikat penyelamat dan tentu saja berdampak langsung terhadap ketenangan dan kesehatan raga mereka semua. Ingin makan buah apapun, bila memang sedang musimnya dan ada disepanjang jalur perjalanan mereka,...tanpa diminta, Waseso sudah menyediakan. Bagi yang merasa pegal atau capek berjalan karena pedati tetap hanya satu, bisa bergantian menaiki kuda rampasan. Bila ada yang memiliki keluhan penyakit, Waseso bertindak sebagai tabib lihai serta gratis. Hanya saja yang agak menyusahkan mereka adalah air bersih.


Maka dari itu, setelah sebulan kemudian mereka tiba di suatu lembah terbuka dan ada sumber air berupa sungai kecil yang airnya jerniih, mereka sepakat untuk tinggal sementara disitu.


Suatu ketika, saat selesai makan malam dan mereka sedang ngobrol. Ni Luh mengajukan satu pertanyaan yang sama untuk dua orang :


"setahuku, hampir semua pendekar persilatan adalah orang yang memiliki ilmu silat dan mengembara untuk menumpas kejahatan, tapi kenapa kalian berdua malahan lebih memilih mengembara dengan cara seperti ini?"


"aku sudah lakukan pengembaraan seperti itu, selama bertahun-tahun yang lalu,...tapi ternyata membosankan, kalau seperti ini aku merasa berbeda" demikian jawab Kinda.


Jawaban Waseso ;

__ADS_1


"aku tidak mau merasakan kebosanan seperti yang dialami adik bau ini,..." sampai disini, dia nampak kesakitan karena lengannya di tonjok-tonjok oleh Kinda dan tentu saja semua yang melihat jadi dibuat tertawa melihat kelakuan dua pendekar mereka. Tapi setelahnya Waseso menjawab serius ;


"menjadi pendekar kan tidak semuanya harus dengan cara menghunus pedang dan mengadu ilmu silat. Dan aku lebih merasa berguna seperti sekarang ini,... bukankah aku juga sedang menumpas rasa takut dan melawan penyakit,...?"


Hanya Ni Luh, Kinda, pakde dan bude sekalian yang mengangguk karena mengerti maksud yang disampaikan oleh si pemuda.


Sepertinya alam semesta mendengar perkataan Waseso, karena besok paginya ada terlihat satu keluarga muncul dari kejauhan sana, datang untuk meminta perlindungan dan bergabung. Kemudian datang lagi dua keluarga sekaligus, tentunya dengan kondisi dan keadaan yang memprihatinkan,...


Demikianlah, hingga akhirnya sebagaimana saat ini, lembah ini menjadi layaknya kampung pengungsian. Tentu saja dampaknya, bude dan Kestri menjadi sangat sibuk mengatur pembagian tugas para wanita di dapur. Pakde dan kang Aji menjadi pemandu pembuatan gubuk-gubuk darurat.


Namun tentu saja yang paling sibuk adalah ; Kinda, yang tidak pernah mengajar, kini menjadi pelatih silat para bapak-bapak juga ibu, meski hanya sebatas ilmu pedang dan olah kanuragan dasar, yaitu untuk tujuan turut membantu bergiliran mengawasi keadaan. Kinda juga bertugas, untuk melakukan belanja kebutuhan utama, terutama beras dan kebutuhan lainnya ke sebuah kota kecil di depan mereka, sekitar setengah hari perjalanan berangkat dan setengah hari perjalanan pulang. Kinda, bahkan membelikan Ni Luh kain dan alat menjahit karena dia tahu, bahwa sang kakak sangat suka menjahit, disamping untuk sekedar melakukan kegiatan, karena kondisi kesehatannya dan dilarang oleh Waseso untuk melakukan pekerjaan berat.


Sesaat Ni Luh, meletakkan kain yang dia jahit ke pangkuannya, memandang ke luar tenda dan tersenyum melihat anak-anak kecil sedang bergerombol dan bermain di bawah keteduhan pohon beringin, seperti lupa dengan penderitaan yang telah mereka alami selama ini. Dia pun bergumam :


"sungguh pendekar-pendekar yang unik"


Baru selesai dia bergumam, salah seorang yang dia maksudkan tadi, nampak berjalan ke arah tendanya dengan menggandeng seorang gadis jelita berkulit agak kecoklatan, yang sepertinya sebaya dengannya. Pada punggung belakangnya, nampak menyembul gagang pedang yang semakin melengkapi daya tarik gadis muda berbaju putih itu.

__ADS_1


Orangnya belum sampai, namun suaranya mendahului ; "Kakak Niluh,....ini kak Wulan, tadi kami bertemu di kota. Dia membantuku memberi sedekah beras untuk pengungsi". Demikian Kinda berkata seperti berteriak. Adapun Ni Luh segera bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyum ramah, begitu tiba di depannya, Ni Luh mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman ;


"hai aku Ni Luh,...."


Ni Luh dibikin kaget dengan reaksi gadis jelita yang didengarnya bernama Wulan tadi, karena dia tidak menyambut uluran tangannya, tetapi malahan langsung memeluk tubuhnya dengan hangat bahkan juga mencium pipinya kanan-kiri, terus seperti memeluk satu lengannya sambil langsung nerocos seperti kereta kuda, namun seketika saja Ni Luh merasa suka dengan gadis ini ;


"kakak Ni Luh,.....mmmm,...mmmm,... aku senang sekali akhirnya ketemu sama kak Ni Luh,....tadi kak Kinda bercerita tentang kak Ni Luh,...owh ya tempatnya enak ya,...bla..bla...bla...bla"


Demikianlah, ke tiganya mengobrol dengan asyik, meski Ni Luh lebih banyak menjadi pendengar. Dia yang memang sejatinya tidak memiliki saudari perempuan seperti berperan sebagai kakak tertua. Sambil mendengar, dilihatnya Wulan yang ternyata hanya setahun lebih tua dari Kinda yang delapan belas tahun, adalah seorang gadis jelita yang sangat polos hatinya, bahkan melebihi Kinda. Dia suka ngomong apa adanya. Disamping itu uniknya, Wulan ini lebih kenes dan manja dibandingkan Kinda yang luarnya terlihat kalem. Dengan duduk berhadapan seperti ini, mungkin orang lain akan mengatakan bahwa Wulan yang berwajah bulat, lebih cantik dari Kinda, karena mungkin diakibatkan cara berpenampilan si Kinda yang memang unik. Dia seperti merawat wajahnya asal-asalan, suka berada di bawah terik matahari tanpa pelindung wajah, rambutnya acak-acakan dan berpakaian seperti laki-laki. Bahkan, saat pertama Ni Luh bertemu dengan Kinda, malah lebih unik. Badannya, dari pinggang ke atas terlihat besar dan rata antara perut dengan dada + kedua bahu, lengan dan tangan juga terlihat besar namun uniknya telapak tangan yang keluar dari lengan pakaiannya terlihat kecil dan normal selayaknya gadis. Tetapi entah kapan, besoknya tiba-tiba bagian yang besar dan disebutkan tadi, sudah berubah menjadi sedikit lebih susut dan sedikit terlihat normal, seperti orang yang melakukan operasi pelangsingan tubuh dalam semalam. Oleh karena itu, Ni Luh merasakan, ada sesuatu yang di sembunyikan oleh adiknya yang satu ini, tapi dia tidak mau bertanya atau mengusik hal tersebut, takut menyinggung hatinya. Hanya saja karena Ni Luh, awalnya merasa risih dengan selorohan Waseso yang selalu memanggil adiknya itu "bau kuda" maka, khusus hal ini, Ni Luh berlaku keras terhadap Kinda dan tidak ada tawar menawar. Awalnya Kinda masih mencoba memboikot, mungkin karena kecintaannya bergaul dengan binatang seperti kuda dan sapi,.... jika di ingatkan sang kakak untuk mandi serta rajin berganti pakaian, tetapi karena suatu ketika, dia melihat kedua mata kakaknya seperti berkaca-kaca menahan dongkol, sejak saat itupun Kinda berubah menjadi menurut apa yang diperintah sang kakak dan tidak pernah sama sekali terendus bau kuda atau sapi lagi serta rajin merawat rambut dan kuku-kukunya.


Saat dilihat, bahwa Waseso nampak melintas di depan sana, Kinda segera bersuit sebagai kode untuk memanggilnya dan yang dipanggilpun datang, meski menyempatkan diri menyambar seorang bocah kecil, lalu melempar-lemparkannya ke udara, disambung dengan teriakan gembira si bocah. Kinda lalu mengenalkan keduanya. Adapun Waseso hanya membuka mulutya dengan beberapa patah kata lalu berpamitan keluar lagi.


Setelah beberapa saat, Wulan juga berpamitan karena harus mengejar waktu, sebelum matahari tenggelam sudah harus sampai di desanya. Dan dia juga mewanti-wanti kepada Kinda serta Ni Luh agar mereka dan rombongan menyempatkan waktu untuk berkunjung ke desanya yang tidak jauh dengan kota di depan.


Setelah kepergian Wulan, dan melihat tumpukan empat karung beras yang sedang diturunkan oleh Kinda dibantu dengan warga pengungsi di depan sana, Ni Luh menggumam "satu lagi pendekar unik"


Tetapi apa yang di gumamkan oleh Ni Luh, adalah keliru,....karena dua hari kemudian, waktu itu sore hari nampak Kinda sedang melaju diatas kudanya, bersanding dengan seorang gadis cantik jelita dan berpakaian seperti berasal dari negeri seberang di balik gunung Puncak Salju, nun jauh di utara sana. Mereka berdua, sedang menuju ke arah perkampungan pengungsi.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2