Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB 14 - SINGKAT NAMUN TERPATRI DI HATI


__ADS_3

"inilah dia menu utama makan malam kita, kalian harus merasakan resep masakan bude Temoto...." Waseso nampak berjalan keluar dari ruangan dapur sambil membawa nampan berisi sayur tumis kangkung hasil masakannya sendiri, dan segera diletakkannya di atas meja makan kayu reyot berbentuk persegi panjang, dengan jumlah enam kursi yang diletakkan sedemikian rupa mengelilingi meja tersebut. Sepiring besar tumis kangkung itu diletakkannya bersanding dengan sebakul nasi yang masih terlihat mengepulkan asap, sepiring kecil sambal uleg, dan delapan ekor burung puyuh bakar. Dia kemudian duduk pada kursi makan yang berada di ujung kanan. Di ujung satunya berseberangan adalah Kang Aji, kemudian disebelah kiri Waseso adalah pakde Surjana dan istrinya. Duduk disamping kanan Waseso adalah teman nya yaitu Kinda, lalu disampingnya lagi adalah teman baru mereka Niluh si biarawati muda dan sangat cantik meski rambutnya telah dicukur habis. Dia yang tadi siang telah ditolong oleh Kinda.


"sebelum mulai makan, saya ingin mengucapkan terimakasih dulu kepada pakde dan bude Surjana serta Kang Aji, karena berkat merekalah yang meminta ikut mengembara, sehingga dalam perjalan kami yang santai namun akhirnya malah membawa saya bertemu dengan satu-satunya teman saya waktu kecil dulu" nampak Waseso mengerling ke arah kanannya. Semua yang ada disitu segera tertawa lantang mendengar kata sambutan dari Waseso dan gerakan bibir Kinda yang nampak dimonyongkan ke arah Waseso.


Setelah puas tertawa, barulah Waseso melanjutkan;


"mari kita makan" sambil tangannya maju hendak meraih piring di depannya. Namun dibatalkannya, demi mendengar Pakde Surjana berkata;

__ADS_1


"eittt,... nanti dulu, aku juga ingin mengatakan sesuatu. Saya dan keluarga berterimakasih kepada nak Waseso yang telah menolong kami dan mengijinkan kami sekeluarga untuk menumpang hidup bersamanya, semoga kami tidak menjadi beban sepanjang perjalanan"


"beban bagaimana sich pakde ini, kan tadi barusan saya bilang. Justru kalau kita tidak jalan bersama, tentu saya sudah mblangsak dan tidak bakalan bertemu dengan orang terpenting dalam hidup saya,...ahahaha" Waseso tertawa karena lengan kanannya ditinju oleh Kinda. Mereka semua ikut tertawa demi melihat kelakuan kekanak-kanakan sepasang sahabat itu.


"aku juga berterimakasih, karena si sedeng ini telah membuat ilmu silatku menjadi lebih tinggi dan terutama tenaga dalamku juga telah naik dua tingkat" demikian Kinda juga turut andil berkata, disusul dengan dua kali tinjunya menyusul dilayangkan, tepat mengenai lengan kanan Waseso lagi, demi dilihatnya sang pemuda menirukannya memonyongkan bibir.


"aku juga ingin berterimakasih kepada nona Kinda,.....maaf,...adik Kinda, atas pertolongannya sehingga aku bisa terbebas dari para penculik" demikian Niluh juga ikut membuka suara. Perkataannya tadi dia ralat, demi melirik yang dimaksud sedang memelototkan mata kepadanya karena memang sebelum ini, atas permintaan Kinda dia harus memanggil adik kepada nona penolongnya tersebut yang usianya memang lebih muda setahun darinya.

__ADS_1


"waktu itu aku sedang di kota, setengah hari perjalanan dari sini. Saat aku membeli pakaian, aku melihat gerak-gerik mencurigakan dua orang penjahat gagak tombak yang juga sedang membeli pakaian, namun yang dibelinya kok pakaian wanita, jadi yaa aku membuntuti mereka sampai ke tempat ini dan ternyata benar dugaanku,...kakak Niluh ini ditawan mereka bertiga dan akan dipersembahkan kepada pimpinan mereka". Selesai berkata nampak dilihatnya Waseso sedang memandangnya penuh rasa terimakasih. Tentu saja hati Kinda merasa senang dan bangga. Yang lain juga memberikan tatapan pujian kepadanya.


"aku juga ingin berterimakasih atas yang disampaikan ayah tadi dan juga kepada pemilik rumah ini yang telah meninggalkan sekarung gabah, tanaman cabe,....bumbu-bumbu,... tomat,.... kangkung,....serta terimakasih untuk burung puyuh liar yang akan menjadi lauk istimewa kita semua malam ini" demikian kata kang Aji, dimana semuanya mulai tertawa lepas ketika mereka mendengar disebutnya jenis sayuran. Setelah tertawa, semuanya kini memandang ke arah bude Surjana, satu-satunya orang yang belum menyampaikan pidato. Dengan senyum seorang ibu, dia berkata;


"aku bersyukur kepada Sang Khalik karena menjadi saksi atas apa yang kalian semua tadi katakan dan terlebih aku sangat bersyukur karena diberi kesempatan untuk bisa menikmati makan malam bersama dengan orang-orang yang aku kasihi tanpa ada rasa khawatir atau takut sedikitpun selayaknya kehidupan normal". Selesai dengan perkataannya dia menengok kanan-kirinya karena tak didengarnya suara sedikitpun diantara mereka dan malah pada diam membisu,.... bahkan dilihatnya kedua mata Kinda dan Niluh telah sembab menahan haru, bahkan mata Waseso pun nampak berkaca-kaca.


Kalimat bude Surjana tadi, mengembalikan kenangan indah sang pemuda dan juga sekaligus membangkitkan semangatnya untuk bertindak aneh di kemudian hari, dimana hal tersebut tidak selayaknya dikerjakan oleh seorang pendekar tulen, apalagi yang dikaruniai kesaktian sangat tinggi sepertinya.

__ADS_1


"mari kita makan,....keburu burung puyuh nya terbang,..." demikian celetuk pakde Surjana memecah keheningan dan di susul oleh tawa bahagia ke lima orang lainnya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2