Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB 19 - KEKELIRUAN TAK DISENGAJA


__ADS_3

Sore itu, Ni Luh sedang berbicara dengan Waseso, berkaitan dengan usaha yang dilakukan oleh si pemuda, terkait perkembangan kesembuhan penyakitnya. Pembicaraan mereka terputus, demi melihat kedatangan Kinda bersama seorang gadis yang sama tinggi dan berpakaian unik, serta sangat jelas menunjukkan, bahwa dia bukan dari negeri ini maupun negeri Gunumlatar. Dia mengenakan mantel perjalanan yang terbuat dari bulu binatang, berwarna coklat tua. Kepalanya ditutupi seperti mantel kecil, namun berbentuk seperti topi, dengan bagian kanan-kiri membentuk layaknya kuping kelinci panjang dan jatuh menutupi kedua telinga gadis berkulit putih susu itu, sehingga terkesan lucu namun justru mempermanis si pemilik wajah bulat telur, bermata agak sipit.


Pada bagian punggung belakangnya nampak tersembul entah gagang pedang atau gagang pecut, karena tidak jelas. Tetapi gagang tersebut dibebat sedemikian rupa dan ujungnya menjuntai seperti ekor tupai. Gadis itu juga mengenakan celana panjang ketat, yang jelas mencetak bentuk kakinya yang sempurna dari paha hingga ke betis layaknya kaki belalang. Sepatunya juga terbuat dari kulit binatang berwarna hitam putih, berbentuk tinggi hingga diatas tumit. Sungguh perpaduan sempurna, antara kecantikan dan penampilan luar, yang tentunya akan membuat semua mata lelaki, bakalan melirik ke arahnya sebanyak sembilan kali sembilan kali delapan.


Waseso yang mengalami trauma, setelah insiden me-debukan tiga belas kunyuk, sudah mulai sering menggunakan ilmunya "Mengukur Kedalaman Samudera" setiap menjumpai orang-orang dunia persilatan, agar tidak sampai terulang kesalahan tangan. (ilmu ini adalah sebuah pancaran tenaga sakti yang dikeluarkan dari kedua telapak tangan, untuk merasakan tingkat tenaga dalam yang dimiliki oleh orang yang menjadi targetnya). Dalam batinnya Waseso kagum dengan kemampuan gadis ini yang masih dua tingkat diatas Kinda. Namun demikian juga maklum, karena jika tidak memiliki sesuatu tentu saja, tidak mungkin dia berani keluyuran sendirian.


Sambil jalan mendekat, Kinda sudah koar-koar:


"kakak Waseso, kak Ni Luh,...ini temanku Laksita"


"apakah anak itu bisa bicara bahasa asing?" bisik lirih Waseso kepada Ni Luh, maksudnya anak itu adalah Kinda.


"mungkin saja,.." bisik Ni Luh juga.


Begitu tiba didepannya, Ni Luh dengan tersenyum ramah langsung mengulurkan tangannya ;


"hai,....." Ni luh hanya mengeluarkan kata tersebut karena kata itu pastinya diketahui oleh semua bangsa, batinnya.


"hai,...." Waseso membeo, sambil mengulurkan tangan juga.


Nampaknya yang di sapa, memahami keraguan Ni Luh dan Waseso karena mereka berdua sekilas terlihat ragu-ragu, namun dia maklum karena kejadian seperti ini sering di alaminya. Lalu dengan senyum ramah pula, dia menyambut uluran tangan Ni Luh dan Waseso bergantian ;


"hai, senang berkenalan,... saya Laksita"


Tentu saja mendengar suara sang tamu, yang meskipun menggunakan logat yang terdengar lucu, membuat Ni Luh dan Waseso sedikit bengong. Bahkan Laksita melanjutkan;


"saya dari suku bangsa Tartar dibalik gunung Puncak Salju, tetapi ibu saya mempunyai garis keturunan bangsa tyonghong dan muderakali"


Perkataan Laksita barusan, membuat Ni Luh seperti disiram air karena merasa sambutannya barusan sangat tidak sopan, langsung dia merangkul Laksita dan menuntunnya ke salah satu kursi;


"owhya,....ayo,...mari duduk. Maaf kan kurang sopannya kami,..ayo...." Sambil berkata demikian, Ni Luh mengedipkan satu matanya ke arah Waseso yang segera keluar untuk mencari suguhan. Adapun Kinda langsung membantu melepaskan tas punggung beserta senjata sang gadis, yang ternyata berupa pedang golok, karena di bagian ujungnya membentuk cembung, setelahnya di letakkan oleh Kinda di meja dekat kursi. Mereka bertiga lamgsung berbicara dengan akrab. Bahkan Laksita yang usianya dua puluh tahun, tidak segan memanggil kakak kepada Ni Luh. Nampak Waseso kembali berjalan masuk, dibelakangnya ada Kestri dengan membawa minuman dan buah-buahan lokal. Setelah mempersilahkan minum, Waseso ikut duduk dan sesekali nimbrung.


Di ceritakan bahwa Laksita sudah mulai ikut mengembara bersama ayah ibunya serta ketiga saudara lelakinya sejak masih kanak-kanak, karena memang suku bangsanya memang suka berkelana hingga jauh. Saat dia mencapai usia enam belas tahun, dia bahkan di ijinkan untuk mengembara bergabung dengan dua kakak lelakinya dan sepakat berpisah di puncak gunung Puncak Es. Dimana Laksita lebih memilih turun ke arah selatan bersama dengan kakaknya tertua. Tetapi kemudian, sesampai di lembah, sang kakak lebih memilih ke arah timur ke kotaraja dan dia ke arah utara, hingga akhirnya tiba di kota kecil tempat biasa Kinda berbelanja kebutuhan. Namun mereka sepakat, nantinya untuk kembali bertemu di kota Derajati, demikian cerita Laksita dan di lanjutkan Kinda ;


"tadi aku bertemu dengan kak Laksita ini di kedai makan. Lalu kami bicara dan ternyata kak Laksita, juga punya kelihaian soal teknik pengobatan, makanya aku ajak kemari untuk bertemu dengan kak Waseso agar bisa membantu kesembuhan kak Ni Luh,..." sampai disini Ni Luh langsung merangkul sang adik dan menatapnya haru sekaligus berterimakasih.


"tadi nona meng,...." ucapannya tidak di lanjutkan karena keburu kena semprot Kinda;


"nona,...nona,..."


dan segera di ralat;


"eee,...tadi adik Laksita cerita menyeberangi gunung Puncak Es,... apakah ada pernah melihat tanaman langka yang kalau bahasa kami namanya Bunga Kembar Inti Es ? Jadi bunganya itu mempunyai ciri-,...." kalimat Waseso tidak di lanjutkan dan hanya memandang Laksita yang sekarang sedang berdiri, mengambil tas punggungnya dan tangannya seperti mencari-cari sesuatu, lalu mengambil buntalan kain kecil, mirip sapu tangan dan dia mengeluarkan isinya dan,.....ibu jari dan telunjuknya sedang memegang sebuah ranting kecil yang bercabang dengan bunga kering berwarna putih salju, ukuran bunganya hanya sebesar ibu jari. Waseso seperti terkena sihir demi melihat secara langsung bunga yang ditanyakan dan benar persis seperti gambar dan keterangan yang dijelaskan dalam buku wasiat sakti gurunya Dewa Obat. Dijelaskan bahwa tanaman itu, hanya terdapat di satu-satunya tempat, yaitu di bagian puncak dari gunung Puncak Es. Itupun tumbuhnya hanya sekali dalam lima tahun dan jumlah tanamannya mungkin hanya ada dua batang pohon. Ibarat kata, hanya orang yang benar-benar bernasib mujur, untuk mendapatkan bunganya yang hanya bisa bertahan hidup selama lima jam semenjak dari kuncup.


"kalau kakak Waseso membutuhkan nih ambillah,...karena aku tidak tahu sec,...."


Kalimatnya tidak dilanjutkan karena, tubuhnya secara tiba-tiba sudah di peluk Waseso dan diangkat sebentar,...lalu bunga yang ada di tangannya diambil dan si pemuda berjoget sendirian seperti anak kecil.


Tentu saja Kinda dan Ni Luh juga ikut terkejut degan perilaku si pemuda yang seenak perutnya memeluk gadis dan malahan kemudian berjoget-joget,...

__ADS_1


Demi diliriknya ke tiga gadis tersebut memandanginya dengan aneh,.... Waseso segera bersikap serius dan berkata kepada Ni Luh ;


"inilah yang akan menyembuhkan mu"


Mendengar keseriusan nada bicara Waseso, malahan yang melompat gembira adalah Kinda bukannya Ni Luh. Kini giliran Kinda yang memeluk dan menciumi Laksita,.....


Setelah reda, barulah Laksita berkata kepada Waseso;


"tetapi aku tidak mengerti secara pasti bagaimana mengolahnya,..."


"nanti setelah makan malam, kita berdua akan melakukan diskusi untuk membahas hal tersebut, karena aku juga butuh bantuan kelihaianmu"


Mendengar perkataan barusan mendadak Kinda jadi yang paling sibuk;


"owh tidak perlu nanti,...makan malam khusus buat kalian berdua akan segera siap,...kak Ni Luh tolong antar kak Laksita ke tendanya,..." tanpa menunggu jawaban siapapun, Kinda langsung pergi menyiapkan makan sore. Ni Luh juga segera bangkit tentu saja dengan senyum sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat sang adik begitu bersemangat memerintah layaknya juragan, hanya demi kesembuhannya. Dia sungguh jatuh cinta sayang terhadap adiknya ini.


Tidak hanya sampai disitu, Kinda dengan meminta bantuan kang Aji menyiapkan penerangan, meja, kursi termasuk kain tulis dan disiapkan di dalam ruangan Ni Luh. Dan dia juga bersikap seperti pelayan kedai yang menunggu tamunya selesai makan dan langsung menggiring para peserta diskusi itu ke ruangan yang sudah disiapkan. Bahkan ikut nimbrung mendengarkan hingga larut malam, meski tidak mengerti istilah-istilah yang mereka gunakan dan menonton Waseso yang kemudian menggambar seperti tubuh manusia dengan coretan-coretan yang membuat Kinda pusing... lalu berjalan keluar dan duduk di kursi luar tenda dan,...tertidur,...sampai diangkat Ni Luh dengan penuh kasih sayang dan dibaringkan di tenda khusus gadis pun, dia malah,.... semakin tertidur lelap.


"kenapa mesti pakai bubuk obat itu kak Waseso,...apakah ramuan yang kemarin-kemarin ditambah dengan penyaluran hawa saktimu tidak bisa?" demikian Kinda bertanya siang hari itu, saat Laksita dan Waseso baru saja selesai membuat bubuk dimaksud. Ni Luh juga nampak turut mendengarkan.


"ramuan obatku kemarin, sifatnya adalah untuk meredam pertumbuhan inang penyakit, adapun hawa sakti ku juga hanya sebatas menguatkan peredaran darah,... apalagi Ni Luh yang adalah orang biasa, yang belum terisi dengan tenaga dalam, tidak bisa menerima limpahan tenaga sakti secara berlebih karena bisa berakibat fatal"


"owh,...makanya kak Waseso dalam melakukan penyembuhan penyakit para pengungsi itu kok sepertinya lama hingga beberapa hari" kali ini yang berkata adalah Ni Luh.


Laksita juga ikut menjelaskan;


"lebih mudah bagi seorang pendekar sakti ahli pengobatan, menyembuhkan penyakit dalam yang diderita oleh sesama pendekar daripada menyembuhkan penyakit orang awam"


"khusus penyakit Ni Luh ini, hanya ada dua cara, dimana cara pertama akan kita coba dulu. Baru kalau nanti tidak ada perkembangan terpaksa cara kedua harus dilakukan, yaitu pembelekan "


Demikian penjelasan Waseso, lalu dia melanjutkan perkataannya yang sebenarnya lebih ditujukan ke Kinda ;


"nah,... untuk proses pertama yang akan kita lakukan ini, selanjutnya yang akan dikerjakan oleh adik Laksita dengan bantuanmu,.... dan harus di pantau hasilnya lagi tepat dua minggu kemudian"


Sebenarnya Kinda ingin bertanya kenapa harus dia yang membantu dan bukannya mereka berdua saja, Waseso dan Laksita,...tapi Kinda diam saja.


Dan sekarang, begitu dia mendampingi dan membantu Laksita yang sedang menangani Ni Luh yang segera disuruh berbaring,....maka diapun tahu alasannya, kenapa Waseso harus meninggalkan mereka bertiga.


Keberadaan Laksita di perkampungan beberapa hari, sungguh sangat membantu Waseso dalam menangani para pengungsi yang masih terus datang dan dalam kondisi sakit. Bahkan Laksita juga membuatkan semacam cairan pembunuh kuman yang menurutnya lebih bagus dibandingkan arak yang selama ini digunakan Waseso. Cairan ini berwarna kebiruan dan beraroma lebih menyengat, dengan berbahan baku tanaman tebu yang banyak tumbuh di sekitar tempat itu. Dan lagi, Laksita juga nampak senang sekali bisa ikut terlibat untuk menolong orang-orang yang bernasib malang tersebut. Adapun Waseso yang bisa dikatakan lebih sering berduaan bersama gadis itu dalam kegiatan bahu-membahu, sesekali mencuri pandang dan melihat sendiri, betapa si gadis begitu bersemangat dan juga sangat telaten menolong, tanpa menghiraukan bahwa mereka bukanlah kaum sebangsanya. Tiga hal inilah (dengan enteng memberi bunga langka, menolong Ni Luh & menolong pengungsi) yang membuat si pemuda mulai menyukai gadis ini.


Namun demikian, pada suatu hari Laksita ingat sesuatu, bahwa dia telah berjanji dengan kakaknya untuk bertemu di kota Derajati dan harus pergi sekarang juga, agar tidak terlambat sampai di tempat. Dan sebelumnya juga meninggalkan pesan, akan berusaha untuk nanti bisa kembali lagi dan menemui mereka beaerta rombongan.


Sayangnya,....setelah Laksita pergi sekitar dua jam kemudian, barulah Waseso teringat, bahwa besok adalah hari dimana saat terpenting, untuk melakukan pemeriksaan pemantauan terhadap Ni Luh.


Kinda yang memperhatikan sejak semalam Waseso terlihat gelisah, bahkan pagi ini yang biasanya selalu berkeliling menyapa setiap orang pengungsi, tetapi malahan duduk saja seperti orang yang memikirkan sesuatu yang berat, segera menghampirinya. Demi mendengar penuturan yang disampaikan, juga mengingat kembali pengalaman serta situasi saat mendampingi Laksita tempo hari diapun bisa mengerti kesulitan si pemuda. Tapi tidak lama,....karena mendadak, dia memiliki ide dan menyampaikannya ke Waseso, yang selesai mendengar ide Kinda,... kini mulutnya mulai bisa menyunggingkan senyum tanda kelegaan, meski demikian Waseso mengembalikan persoalan tersebut kepada Ni Luh yang memutuskan.


Awalnya, saat Ni Luh duduk dan bicara empat mata dengan Kinda serta mendengar tujuan, alasan, mengapa dan bagaimana ide tersebut mesti dilakukan, Ni Luh merasa malu dan menyampaikan keberatan. Namun demi dilihatnya wajah sang adik melas memohon bahkan kedua matanya juga berkaca-kaca, akhirnya dia pun,...mengangguk dan bersedia.


Maka siang itu, setelah persiapan dilakukan dengan sempurna, bahkan Ni Luh juga sudah berbaring telentang di pembaringan, dengan kedua matanya hanya bisa menatap langit-langit tenda, kedua kakinya pun juga dalam posisi terbuka dan mengangkang layaknya seperti wanita yang akan melahirkan, namun masing-masing kedua kaki tersebut dibebat kain oleh Kinda, mulai dari telapak kaki, hingga naik ke atas di pangkal paha dengan tujuan agar kulit kaki Ni Luh tidak bersinggungan langsung dengan bagian tubuh Waseso. Setelah semua siap, termasuk Kinda juga telah mengoleskan madu yang dicampur dengan sedikit cairan anti kuman pada pintu lubang peranakan Ni Luh, maka Kinda keluar dan menutup kedua mata Waseso dengan kain hitam, lalu membimbing si pemuda yang jelas bagaikan orang buta, untuk menempati posisi di samping persis kaki Ni Luh sebelah kanan. Lalu Kinda nampak mengoleskan cairan anti kuman ke seluruh telapak tangan si pemuda hingga ke ujung pangkal tangannya juga. Barulah Kinda membimbing hanya satu jari tengah sebelah kanan milik Waseso, dan menuntunnya ke lubang peranakan. Dari situ Waseso yang melanjutkan tindakan, dengan mengandalkan simpul saraf perasa yang berada di kulit jari tengahnya. Pelan sekali, Waseso menggerakkan jarinya, meraba seinci demi seinci untuk merasakan benjolan kecil, seperti apa yang di jelaskan oleh Laksita minggu lalu. Dimana katanya, dia telah menemukan pusat inang penyakit tersebut disekitar tempat itu, tanpa memaparkan secara detail soal letaknya yang dibawah, di samping kanan-kiri atau atas pada bagian lorong tersebut. Dengan sangat pelannnn, jarinya bergerak menelusuri bagian bawah terus pelan tapi tidak dirasakan yang dicari, kemudian ditarik lagi hingga tepi, lalu dengan gerakan yang masih pelan menelusuri lorong samping kanan. Sampai disini dia bermaksud menarik jarinya keluar untuk menambah madu pelumas, namun tidak jadi dilanjutkannya, karena jarinya mulai merasakan licin.

__ADS_1


"mungkin kini madunya sudah mulai meleleh" demikian pikirnya, karena saat awal masuk tadi, jarinya hanya merasakan seperti di gigit daging. Masih tidak ditemukan, kini dia beralih ke kiri, pelannnnn. Dan juga tidak ditemukan. Kinda yang dari tadi begitu serius dan berdiri di samping pinggang kiri Ni Luh hanya menatap tegang ke arah Waseso. Merasakan hasil yang nihil, kini jari Waseso ditarik dan diputar ke arah atas, lalu sepeti tadi bergerak sangat pelan, terus,.... dan,......ujung jarinya merasakan adanya satu benjolan kecil. Jantungnya mulai terasa berdetak kencang, karena khawatir. Lalu di rabanya dengan lembut, mengitari benjolan tersebut.


"kenapa ukurannya terasa lebih besar dari yang di uraikan Laksita ya, apalagi ini dibagian tengah seperti ada bekas lubang, tapi bukan lubang,... udah begitu Ni Luh juga diam saja seperti tidak merasakan nyeri kesakitan" demikian lanjut batinnya. Khusus bagian ini, jari Waseso benar-benar menelusuri seolah meneliti sangat cermat. Di korek kecil, di usap pelan,... Hingga dirasakannya jarinya seperti mendapatkan cengkeraman begitu kuat dan malahan jarinya dirasakannya semakin basah. Lalu dia mendengar erangan yang sangat lirih dari Ni Luh dan tangannya dirasakan ditarik keluar oleh Kinda. Spontan dia berkata;


"adik Ni Luh,...apakah kamu merasakan nyeri menyakitkan?"


Malah yang menyahut Kinda:


"tidak,...dia baik-baik saja"


Lalu Waseso berkata lega : "berarti dia telah sembuh", lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Kinda. Tentu saja mendengar kabar tersebut Kinda berteriak gembira sambil menyambut tangan Waseso dan menuntunnya keluar dari tenda. Setelahnya, Kinda langsung menghampiri sang kakak dan sedikit menundukkan badannya. Dia melihat wajah kakaknya dengan terpesona, karena walaupun kayak orang yang mengantuk berat tapi belum pernah sang kakak terlihat begitu cantik seperti sekarang ini.


"kak,...baru kali ini aku melihat engkau begitu cantik,...tapi seperti orang kecapekan begitu, ada apa kak ?"


Wajah, terutama pipi sang kakak, mendadak memerah dan dia memandang malu ke arah Kinda, tapi begitu dilihat wajah sang adik menunjukkan raut muka yang serius dan begitu polos,...barulah dia menyadari kemurnian dan kesucian sang adik, serta berkata sambil menempelkan telapak tangan kirinya di pipi Kinda,


"jangan khawatir adikku yang cantik,.... engkau akan tahu senidiri nanti kalau sudah bersuami,...."


Mendengar itu, Kinda nampak begitu senang dan dia langsung melakukan pekerjaan pemberesan.


Sorenya, saat Waseso mandi di sungai sambil menggosok seluruh badannya. Pada saat ini kesadarannya sudah kembali normal. Tidak seperti saat melakukan pemeriksaan, dimana seluruh pikiran dan emosinya hanya tercurah pada keseriusan penanganan. Saat benaknya kembali teringat perjalanan pengembaraan jari tengahnya tadi siang, perasaannya mulai seperti terbakar aneh yang dia sendiri tidak tahu maksudnya. Bahkan dirasakan pula, anunya pelan dan pasti mulai tegang dan kaku sempurna. Hal ini membuatnya panik dan segera menyelesaikan mandinya dan memakai pakaiannya, lalu kabur dari sungai itu. Tetapi demi dilihatnya tidak ada perubahan, bahkan tonjolan pada celana depannya semakin terlihat jelas padahal dia sudah memakai dua celana sekaligus, maka dalam kepanikannya dia berlaku cepat, dengan cara menambahkan penutup kain yang dipakainya melingkari atas lutut hingga ke pinggangnya. Dan karena hal tersebut sering terjadi, terutama jika dia melihat Ni Luh atau bertemu dengannya, akhirnya diputuskan tetap mengenakan kain tersebut sebagai seragam sehari-hari.


Inilah yang terjadi:




Kinda hanya terlalu fokus memperhatikan Waseso dan sekalipun dia tidak pernah melirik sedetikpun ke arah wajah sang kakak, hingga tidak bisa melihat ekspresi wajah yang semula tenang menjadi penuh ketegangan. Kinda baru bereaksi, setelah mendengar kakaknya seperti melenguh atau menghela napas dan juga memegang tangannya seperti meremas. Kinda sebagai gadis yang sangat murni dan polos, tidak memperhitungkan sama sekali bahwa idenya, akan menimbulkan efek terhadap sang kakak, maupun dampak berkelanjutan terhadap Waseso. Tentu saja Kinda tidak bersalah dalam kasus ini.




Ni Luh, memang pernah bersuami. Namun selama perkawinannya, dia hanya menerima penusukan sebanyak dua kali saja. Yang pertama membuatnya sakit menderita karena penjebolan. Sudah begitu, mulailah dirinya terjangkit sesuatu dari barang penjebol suaminya yang gemar pelesir dan rajin mencolokkan usb nya ke sembarang perangkat yang di jual bebas. Akhirnya, gejala penyakit, mulai muncul sehingga Ni Luh tidak memungkinkan untuk di jenguk. Setelah agak mendingan dan di ijinkan dengan terpaksa, itupun juga menyakitkan,.... dimana suaminya yang sudah menahan hingga sampai ubun-ubun apalagi dengan kecantikan sang istri yang ibarat bidadari, dia bekerja sebagaimana dia saat dilayani petugas pelabuhan. Tentunya berdampak terhadap keguguran kandungan yang sebenarnya tidak begitu dipedulikan si suami. Sudah begitu sakitnya bertambah parah dan si suami yang kecewa berat memutuskan langkah sepihak, akibat pikirannya yang picik ; punya garasi mewah tapi tak pernah bisa dibuat parkir.




Sehingga, tubuh Ni Luh yang sebenarnya sudah sembuh akibat ampuhnya khasiat obat, mendapat perilaku sedemikian lembut dari jari sang pujaan hati, tentu saja langsung dikalahkan oleh naluri kewanitaannya yang sama sekali belum pernah merasakan sensasi aneh dan menyenangkan tersebut. Meskipun sudah sedemikian keras dia berusaha, bahkan ingin segera memberi kode ke adiknya, namun sensasi memabukkan itu begitu dahsyat menerpanya hingga akhirnya dirasakan jebol, disertai lenguhan yang kelepasan sedikit dan bersamaan merasakan seperti terbang. Namun begitu sensasi itu mulai akan bangkit kembali, karena sang jari masih bergerak pelan dan bahkan mencungkil dan mengorek dengan lembut,... diapun sadar akan kelanjutannya dan segera memberi kode meremas tangan Kinda. Inilah mengapa, Ni Luh juga tidak bisa disalahkan.



Waseso ? Sepenuhnya dia sangat berkonsentrasi demi kesembuhan Ni Luh. Dia juga pemuda yang murni dan polos. Maklumlah, karena pada saat proses pertumbuhannya, si pemuda ini hanya berkutat dengan beban berat, penderitaan dan ketakutan. Dan sekian tahun lamanya, boro-boro lawan jenis, manusiapun juga tidak ada disampingnya. Dia juga tidak pernah sedikitpun memikirkan dampak lain akibat perbuatan jarinya.


Jadi dalam hal ini, si pemuda juga tidak bisa disalahkan.


__ADS_1


Akhirnya diputuskan bahwa kejadian tersebut adalah sebuah kesalahan teknis, yang menelan korban si anunya Waseso menjadi semakin terpenjara.


BERSAMBUNG.


__ADS_2