Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB 26 - NYARIS SAJA


__ADS_3

Desa Watubok, dulunya adalah merupakan perkampungan yang terbilang ramai, dimana wilayahnya juga sangat luas, tanahnya subur serta sumber air yang melimpah. Adapun mayoritas warganya adalah petani.


Namun, akibat merajalelanya gerombolan penjahat, maka telah berubah menjadi perkampungan mati, karena ditinggalkan oleh para warganya yang memilih pergi mengungsi ke kota terdekat yang berjarak sekitar satu jam dari situ, yaitu kota Watureng.


Namun, semenjak kedatangan rombongan pendekar dan juga pengungsi, dalam waktu tiga hari ini sudah mulai terlihat hidup. Karena, berita tentang rombongan pendekar pelindung dan keberadaan dua orang tabib sakti bahkan gratis, tersebar demikian cepat.


Awalnya yang datang untuk meminta perlindungan ke desa itu, adalah dua keluarga yang sebenarnya adalah warga asli desa Watubok sendiri, yang mengungsi ke kota Watureng, namun akibat keterbatasan uang yang mereka miliki, sehingga mereka tidak mampu untuk membayar masuk kota dan akhirnya terpaksa tinggal di pinggiran pagar keamanan kota dengan mendirikan bangunan liar. Maka bisa dibayangkan bagaimana kondisi mereka, yang lebih mengutamakan keamanan dibandingkan pemenuhan kebutuhan pangan maupun sandang.


Secara kebetulan, saat mereka sedang mengais di tempat pembuangan sampah kota, mereka mendengar secara tidak sengaja pembicaraan perihal rombongan Waseso dari dua orang penjaga keamanan yang sedang berjaga. Dan kemudian, mereka segera kembali ke gubuk masing-masing dan segera mengajak anak istri mereka untuk pulang kembali ke desa mereka. Ternyata benar, bahkan yang menjaga adalah benar-benar pendekar silat. Demi mendengar cerita kedua warga tersebut, dimana Shinta menanyakan keberadaan warga asli lainnya dan dijawab masih ada sebagian kecil warga yang juga kurang beruntung seperti mereka, dan masih tinggal di gubuk-gubuk, hanya lokasinya agak berjauhan.


Seketika itu juga, Shinta mengumpulkan semua pendekar yang ada dan meminta mereka untuk pergi ke kota dan menyebar ke semua pinggir pagar pengamanan kota dan mengajak warga yang tinggal di gubuk kumuh, untuk dibawa dan pulang kembali ke desa mereka. Tentu saja, berita itu ibarat sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan bagi rakyat kecil yang sudah sangat menderita itu. Dan merekapun berbondong-bondong kembali. Bahkan disusul, warga yang sebelumnya mampu membayar masuk kota dan sudah tinggal di dalam kota, serta sebagian besar warga asli kota, namun mereka semua kurang mampu untuk hidup layak dan kalah bersaing dengan kejamnya lingkungan kota,... juga berbondong-bondong pergi dari kota Watureng dan mengungsi ke desa Watubok. Maka bisa dibayangkan, betapa sibuknya Waseso dan ke delapan gadis. Dalam situasi tersebut, ada hal dimana Waseso mulai tertarik dengan Shinta, yaitu bagaimana cara gadis ini membentuk seperti rapat dadakan dan mengumpulkan kang Daruna serta semua pendekar yang ada, membagi tugas, menyusun berbagai hal yang perlu dilakukan menurut skala prioritas, menguraikan apa saja kebutuhan yang perlu disiapkan, termasuk bagaimana cara mendapat bahan makanan beserta uang (khusus hal ini, Shinta meminta kang Daruna untuk menemui pejabat kepala daerah kota Watureng dan menawarkan jasa tambahan tenaga pengaman kota, yang ilmu silatnya lebih lihai dan tentu saja disambut baik, sehingga kang Daruna kembali ke desa Watubok dengan membawa banyak uang, beserta berkarung-karung beras). Kemudian, Shinta juga mengumpulkan semua warga asli desa Watubok untuk segera kembali ke rumah mereka masing-masing, memperbaiki rumahnya dan kembali ke aktivitas mereka yang semestinya. Bahkan Shinta memberi mereka uang modal, untuk membeli kebutuhan bibit, membeli ternak seperti ayam daging, ayam petelor dan sebagainya. Setelahnya hasil ternak dan sawah ladang mereka itu nanti, akan dibeli untuk kebutuhan pengungsi, dengan harga lebih tinggi jika dibandingkan mereka jual ke pasar.


Dengan cara berpikir dan bertindak yang sedemikian rapi dan cerdas,... Waseso mulai menerka-nerka siapakah gadis cerdas, anggun dan cantik jelita ini sebenarnya?


Beberapa hari kemudian, pada suatu sore setelah keadaan mulai reda, nampak ke tujuh gadis pendekar yang semuanya cantik jelita, sedang berkumpul dan ngobrol santai,.. langsung bersorak serentak, demi melihat si gadis ke delapan yang sedang berjalan ke arah mereka, sambil berlenggak-lenggok begitu kenes sambil tersenyum riang dengan kedua mata yang berbinar-binar.


"wah,....wah,...pasti baru saja ketemu pemuda idaman ya,...? Kinda yang mulai menggoda pertama kali.


Wulan segera berlari dan duduk begitu saja diantara Kinda dan Shinta, yang tentunya segera membuat kehebohan karena merusak formasi duduk mereka di atas bangku kayu panjang yang tadinya sudah nyaman. Namun begitulah wanita, demi mengetahui akan tiba sebuah berita penting, mereka saling merapat ke arah Wulan si sumber berita, yang menceritakan bahwa saat kepergiannya ke kota membeli berbagai bahan kebutuhan, tidak bisa segera kembali pulang karena bertemu dan berkenalan dengan pemuda pendekar yang tampan dan terlihat kaya, dari penampilan serta pakaian yang dikenakan.


"terus,..."


"terus..."


"terus,.."


Demikian, biasanya pertanyaan yang selalu keluar dari setiap perempuan.....


"yang sebelum-sebelumnya sich lewat,...." demikian Wulan menambahkan.


"cihuiiii,...."


"suiitt...suiitt,..."


Yang lain menimpali menggoda.


"termasuk dengan pendekar muda yang sempat kelihatan akrab makan bersama denganmu saat di desa sebelum ini?" tanya Shinta ikut menggoda.


"itu tampan sich, tapi selalu ilmu silat aja yang dibicarakannya,.. kalau yang ini beda,..."


"cieeeee,...." disusul tawa mereka sekalian.


"kami sempat makan siang berdua, terus ngobrol di taman kota dan sepertinya kami ada kecocokan,..."


"terus...?"


"yaaa,....dia katanya berada di kota Watureng ini bersama adiknya untuk beberapa hari dan mengembangkan usaha ekspedisi mereka,...nanti adiknya aku perkenalkan ke dirimu adik Kinda "


"iihhhhhhh,...." Kinda langsung menangkis, disusul ketawa yang lain.


"besok lusa, kami berjanji untuk bertemu dan makan malam di kota"


Demikianlah Wulan mengakhiri ceritanya. Namun bukan Wulan namanya, kalau dia tidak membagi informasi lainnya; perihal akan diadakannya pemilihan pemimpin dunia persilatan beberapa minggu kedepan, tentang kekuatan orang-orang partai gagak tombak, tentang kegelisahan warga kota Watureng akibat kejadian seorang gadis melakukan bunuh diri, yang di duga sebagai korban penjahat pemetik bunga, dan lain-lain.


Besoknya secara mendadak, Werni meminta Wulan untuk ke kota, membeli beberapa daging ayam dan Ni Luh juga menitip untuk dibelikan kain serta pakaian anak-anak dimana Kinda yang merasa agak jenuh meminta ikut jalan.

__ADS_1


Akhirnya, mereka berdua beserta dua orang warga desa, pergi ke kota dengan membawa delman. Setelah selesai berbelanja, sementara kedua warga diminta pulang duluan, mereka berdua mampir ke sebuah kedai makan yang cukup luas, dengan penataan tanaman, serta kolam ikan yang cukup menarik.


Saat mereka masuk ke dalam, dilihatnya sepasang muda-mudi yang duduk di bagian sudut agak jauh sana. Akhirnya mereka memilih kursi lainnya yang masih nampak kosong. Setelah memesan makanan ringan juga dua gelas minuman, sambil duduk mereka berdua menoleh kanan kiri ke sekeliling kedai makan tersebut dan sesekali mencuri pandang ke arah sepasang kekasih disana.


"pasangan yang serasi,....pria nya gagah dan tampan,...gadisnya cantik sekali,...anak-anak orang kaya" demikian Wulan bergumam.


"setuju,...tapi sepertinya mereka sedang bertengkar,...lihat saja si gadis sedang menangis" Kinda menimpali. Dan saat Wulan melirik, memang dilihatnya si lelaki sedang berdiri dan seperti marah-marah, lalu si gadis bangun dan berlari keluar dari kedai sambil terisak. Kinda dan Wulan hanya saling pandang serta mengangkat bahu.


Setelah dirasa puas, mereka pergi keluar dan segera menaiki kuda masing-masing dan berlalu dari sana dengan santai sambil menikmati suasana kota. Dan ketika sedang melintas di depan sebuah rumah yang terlihat besar dan mewah, mereka di kejutkan oleh suara wanita yang berteriak minta tolong dari arah dalam rumah, disusul suara tangisan dan kegaduhan. Tentu saja, kedua gadis segera membelokkan kuda mereka dan melenting masuk ke dalam rumah. Setelah di dalam, mereka kaget, karena melihat gadis yang dijumpainya di dalam kedai tadi, sedang tergeletak di lantai kamar dengan bermandikan darah yang keluar dari urat nadi tangan gadis tersebut dan juga disampingnya tergeletak sebuah pisau kecil. Gadis itu sedang dipeluk oleh seorang wanita dan laki-laki yang menangis histeris dan sepertinya adalah orang tua si gadis.


Dengan segera, Kinda bertindak merebut si gadis yang sudah seperti mati kehabisan darah dan segera memeriksa, serta menotok jalan darah gadis tersebut agar aliran darah yang keluar segera berhenti. Sementara, Wulan menjelaskan kepada dua orang tua gadis beserta keluarganya, yang ada di situ tentang diri mereka berdua.


"kita mesti segera membawanya ke kak Laksita dan kak Waseso sekarang juga" tanpa menunggu jawaban, Kinda segera berkelebat dan membawa gadis itu. Wulan kembali melanjutkan ucapannya tadi dan memberitahukan bahwa keluarga si gadis bisa menemui mereka di desa Watubok. Dan Wulan segera menyusul pergi.


"kak Laksita,..kak Waseso,..." Kinda berteriak memanggil sambil melompat dari kudanya dan segera menerobos masuk ke dalam rumah perawatan, serta membaringkan si gadis di atas dipan. Laksita yang ada disitu segera mengambil alih dan memeriksa si gadis, Waseso juga nampak berlari masuk, serta memperhatikan Laksita yang sedang mengambil botol kecil di laci meja dan benda seperti tatakan gelas, lalu menuangkan cairan dari dalam botol tersebut masing-masing satu tetes kiri dan satu tetes kanan, lalu mengambil sedikit darah si gadis dan berbuat hal yang sama. Kemudian dia nampak memperhatikan sebentar lalu mengatakan sesuatu kepada Waseso. Dan si pemuda langsung memandang ke semua gadis yang ada di ruangan itu, satu persatu dan berhenti pada Midya dan Widya, serta berkata; "gadis ini sedang sekarat dan perlu tambahan darah yang sejenis, namun karena jumlahnya,..." perkataanya di potong oleh si kembar ;


"ambillah milik kami" kata Midya


"apakah kalian tidak keb,..."lanjut Waseso, namun kembali di potong kini oleh Widya ;


"kami tidak keberatan"


Lalu Waseso menyerahkan Midya ke Laksita dan Widya di dudukkannya di pinggir dipan. Lalu Waseso melakukan hal yang sama dilakukan oleh Laksita tadi.


Demikian juga sebaliknya dan hampir berbarengan, Waseso dan Laksita berkata "cocok,.."


Lalu Laksita segera mendudukkan Midya, disamping si gadis dan urat nadi tangan Midya disayat sedikit, kemudian ditempelkan ke luka sayatan gadis tersebut, lalu Laksita nampak menyalurkan tenaga dalamnya lewat bahu kanan Midya. Setelah beberapa saat, Laksita menotok jalan darah di tangan Midya. Barulah giliran berikutnya Widya, juga mendapatkan perlakuan yang sama.


Beberapa saat kemudian, wajah gadis yang tadi sangat pucat, kini berangsur mulai terlihat normal.


Beberapa saat kemudian, nampak Waseso sedang berbicara kepada si kembar.


"kami bahagia bisa menolong" jawab Midya.


"tanpa adanya kak Waseso berdua, gadis itu juga tidak akan tertolong" Widya menolak menerima pujian.


Waseso menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan penuh kekaguman.


Akhirnya orang tua gadis tiba. Dan menceritakan kepada Kinda sekalian, bahwa dua hari lalu anak gadisnya yang malang itu telah diperkosa oleh penjahat yang menerobos masuk ke dalam kamar. Kemudian tadi siang, mencoba membicarakan hal tersebut kepada tunangannya, tetapi malah diputuskan secara sepihak.


Semua gadis pendekar, nampak turut terharu atas dua kemalangan yang dialami si gadis. Wulan bahkan terlihat menitikkan air mata dan menggenggam tangan Kinda.


Malam itu nampak, Midya dan Widya sedang berada di kota Watureng dan sedang bersama puluhan pendekar-pendekar muda yang diperbantukan untuk menjaga keamanan di kota tersebut. Mereka sedang mendengarkan penjelasan seorang penjaga keamanan kota yang memang adalah warga asli kota Watureng.


Si kembar yang merasa panik, akibat kehilangan jejak Wulan dan Kinda dalam rencana mereka, untuk mengintai keberadaan penjahat pemetik bunga yang menteror kota, akhirnya meminta tolong kepada penjaga sekalian, untuk terlibat dan sekaligus melakukan pemeriksaan, jika bertemu dengan dua gadis pendekar yang membantu menangkap penjahat.


Ide dan strategi yang dilakukan si kembar, sepertinya menunjukkan hasil, karena seorang diantara mereka melaporkan hal tersebut;


"rumah besar itu, setahuku sudah lama dalam keadaan kosong nona pendekar dan tentu saja saya menaruh kecurigaan, karena saat saya mengintip dari sela-sela pagar rumah, saya melihat sepintas ada kilatan cahaya penerangan yang keluar dari salah satu kamarnya, meskipun posisi dimana saya mengintip agak jauh, karena jarak antara rumah dengan pagar terpisah halaman rumah yang sangat luas"


Demi mendengar informasi yang menurutnya masuk akal, Widya segera berkata :


"kalau begitu engkau paling depan sebagai penunjuk jalan. Dan kalian semua, tolong segera beritahu yang lainnya untuk membuat barisan di sekeliling rumah itu, agar tidak ada peluang meloloskan diri dan ingat untuk berhati-hati, karena menurutku penjahat ini sangat lihai ilmu silatnya".


Dan benar saja, dari tempatnya berdiri di pagar rumah yang mepet dengan jalan raya, mereka berdua yang mengintip dari sela-sela pagar, bisa melihat yang diceritakan. Dikejauhan sana, di dalam salah satu ruangan rumah, mereka masih bisa melihat kilasan sinar penerangan yang kecil dan redup karena selain jauh, juga tertutup pepohonan dan tanaman semak liar yang tumbuh subur di halaman rumah besar, yang memang sudah terlihat tak terurus itu. Begitu Midya mendapat kode letupan api kecil yang dilihatnya dari belakang jauh disana, serta samping kanan-kiri rumah, dia berkata ke orang-orang yang bersamanya ;

__ADS_1


"begitu kita ke dalam, hanya aku dan adik ku yang merangsek masuk, kalian berjaga diluar, di sekeliling dinding rumah"


"baik nona pendekar"


"baik,..."


"baik,..."


Semua penjaga keamanan nampak menunjukkan wajah ketegangan dan gairah semangat.


Lalu, diawali oleh si kembar yang melenting melompati pagar, barisan kedua turut merangsek maju dan melakukan apa yang diperintahkan nona pendekar.


Begitu si kembar tiba di sumber cahaya dan mengintip melalui lobang angin salah satu ruangan yang sepertinya kamar, segera wajah mereka menunjukkan wajah amarah namun sekaligus lega karena mereka belum terlambat.


Dilihatnya dua gadis yang sudah mereka anggap seperti adik sendiri, saat ini keduanya sedang terbaring kaku seperti telah kena totok, pada dipan sebelah kanan sana, dimana pakaian penutup dada yang dikenakan Wulan telah robek dan memperlihatkan isinya yang laksana dua bukit kembar yang begitu ranum. Sementara Kinda, nampak akan memperoleh giliran sebagaimana Wulan, karena dua orang yang berdiri di sebelah kiri sana dan semuanya mengenakan cadar menutupi wajah, kecuali sepasang mata, salah satunya akan bergerak mendekati Kinda. Sambil menutupi hidungnya dengan sapu tangan yang juga diikuti oleh sang adik, Midya berkata;


"aku akan menghajar mereka dan kamu bawa ke dua adik keluar".


Setelah dilihatnya Widya mengangguk, segera Midya mendobrak masuk :


"mampuslah kalian binatang,.. hiatttttt,...."


Sang adik juga berkelebat menyusul dan segera melepas jubah luarnya dan membungkus bagian atas tubuh Wulan, setelah itu membawa keduanya keluar. Sesampainya di halaman rumah yang dikelilingi oleh para penjaga, Widya segera menotok bebas kedua gadis dan mencekoki mereka dengan pil dari saku bajunya. Setelah keduanya sadar dan mengingat apa yang terjadi serta mengetahui mereka baru saja selamat dari kengerian yang lebih menakutkan dari kematian, keduanya bangkit berdiri, memeluk Widya bersamaan dan menangis sejadinya.


Widya yang mengetahui bahwa kakaknya mampu menghadapi dua musuh sekaligus, tidak terburu-buru merangsek masuk, namun dia berusaha memenangkan kedua gadis.


"brakkk,...brakk,..."


Baru saja keluar, dua penjahat bercadar yang mendobrak dinding rumah dan berniat kabur karena tidak sanggup menahan serangan Midya yang meluapkan segenap amarahnya,... namun niat mereka diurungkan, begitu melihat dan menyadari bahwa mereka telah terkepung ketat.


Midya yang mengejar dibelakang mereka, kembali akan mencecar namun juga diurungkan, karena dilihatnya kini Wulan dan Kinda sedang merangsek maju menyerang masing-masing penjahat bercadar tersebut.


Tentu saja, mereka bukanlah tandingan kedua gadis yang dalam keadaan sudah sadar sepenuhnya, tidak lagi berada dalam pengaruh bubuk beracun yang mereka gunakan secara licik sehingga tadi bisa meringkus kedua gadis dengan mudah.


"slappppppp,....aduhhhh"


"pletak,..ampunn,....aduhhhh"


Wulan menghentikan serangannya dan melompat mundur, demi mendengar salah satunya berteriak meminta ampun karena tulang kakinya sudah dia bikin hancur...tapi sebenarnya bukan kata ampun yang menahannya, tetapi suara itu.....


Demikian juga Kinda menghentikan serangannya, karena dia telah berhasil merobek dada lawannya, yang kini sedang terduduk di tanah dengan darah bercucuran dari lukanya.


Nampak kelebatan bayangan dan;


"brettt,.....brettt,...biarlah mereka diadili pejabat kota" setelahnya Widya telah mengenggam dua buah penutup kepala pada tangannya.


"ampun,....aku akan jelask..... aaargghh,....."


"aarggghhhhhh......"


Kedua tubuh mereka hancur direjam oleh keroyokan para pendekar muda, serta penjaga keamanan kota yang berada di situ, karena merasa sudah tidak sabar lagi melampiaskan kegeraman mereka semua selama ini.


Adapun Midya dan Widya juga tidak sempat menahan kekejaman tersebut, karena mereka berdua sedang terfokus kepada dua adik mereka yang berdiri seperti patung, sehabis melihat dua wajah dibalik topeng bercadar tadi.


Tentu saja Wulan terkejut setengah mati, karena salah satu diantaranya yang lebih tua, adalah pemuda calon idaman hatinya, yang kemarin diceritakannya kepada ketujuh gadis.

__ADS_1


Adapun Kinda juga terkejut, karena dia masih mengenali bahwa keduanya, adalah kakak-kakak sepupunya, kedua anak paman bibinya yang serakah.


BERSAMBUNG.


__ADS_2