
Laksita begitu asyik mencari dan mengumpulkan dedaunan dan akar bahan obat, di kaki bukit sebelah timur perkampungan. Dia sampai lupa, bahwa sudah melakukan aktivitasnya tersebut sekitar dua jam lebih, barulah dia beristirahat mengambil minum. Baru saja menenggak dua tegukan. Telinganya menerima kiriman bisikan ;
"adik Laksita, mengendaplah kemari. Dari tempatmu bergeraklah ke kanan, kemudian lurus setelah ketemu pohon nangka"
Laksita membatin ;
"ada apa ya, kak Shinta pakai ilmu meringankan suara segala"
Namun demikian, dia segera melakukan apa yang diminta. Dan benar saja, dilihatnya ke semua gadis selain Werni dan Sari, sedang berkumpul di balik semak tebal, dibawah kerimbunan pohon nangka yang batangnya sangat besar.
Saat mendekat, dilihatnya Kinda memberi kode telunjuk di depan bibir.
"ada apa kakak sekalian adik semua, berkumpul disini?"
"kami sedang mengintai sosok misterius yang secara tidak sengaja kemarin, dilihat oleh kak Ni Luh" demikian kata Widya berbisik.
"kenapa tidak dilaporkan saja kepada kang Daruna?" jawab Laksita.
"itu tadi aku juga usul begitu kak, tapi tahu sendiri kan bagaimana hebohnya dia nanti, kan kita tidak mau membuat semua warga panik" timpal Midya.
"kalau begitu kenapa nggak langsung aja kakak Waseso?"
"iihhhh,....kak Waseso kan sedang mengajar ilmu silat ke warga dan juga ke kak Sari" kali ini Wulan yang menimpali.
"makanya kami tadi di perkampungan sudah sepakat untuk menyelidik bersama, ewh kok malah adik Laksita muncul mendadak" lalu Shinta menjelaskan awal mula kenapa mereka berkumpul, lanjutnya ;
"setelah melakukan pengintaian, kami menduga bahwa mereka adalah pemimpin partai gagak tombak"
Laksita mengerutkan alis ;
"mereka ?"
"tadi kami lihat kelebatan satu orang laki-laki dan memakai jubah bersulam emas, tapi belum bisa memastikan wakil ketua partai atau bukan,...dia selalu berjaga di luar gubuk kecil, dan kami menduga masih ada seseorang di dalam gubuk itu" kini Ni Luh yang menjelaskan. Lalu disambungnya ;
"tapi menurutku, mereka tidak punya niat jahat,...coba saja pikirkan, gubuk kecil itu pasti sudah didirikan disana beberapa hari yang lalu,....terus, kalau memang mereka berniat jahat, pasti sudah merangsek ke dalam kampung"
"benar juga,....tapi kalau begitu, mereka sedang melakukan pengintaian ke kampung, terus tujuannya apa ?" Shinta menyahut.
"dimana sich lokasi gubuknya?" Laksita bertanya.
"ayo ikuti aku" Kinda langsung berkelebat, menuju balik bukit ke arah timur.
"itu yang diatas sungai kecil, kalau dari sini sebelah kanannya pohon pinus yang batangnya paling besar"
Pelan Laksita mengeluarkan kepalanya dari balik pohon pinus yang mereka pakai buat berlindung dan dilihatnya dibawah kejauhan sana, ada seorang lelaki tua mengenakan jubah hitam, namun tidak terlihat wajahnya, sedang duduk di samping gubuk beratap daun-daun kering yang ditumpuk sangat tebal.
Karena dilihatnya tidak ada pergerakan, Laksita mengajak Kinda untuk kembali dengan yang lainnya.
Sesampainya ditempat berkumpul, di dengarnya Midya menyampaikan pendapatnya ;
"menurutku, sebaiknya kita pastikan dulu siapakah mereka, dugaanku setidaknya adalah wakil ketua partai"
Shinta menimpali ;
"setuju,..kalau wakil ketua, saya rasa kita hadapi bertujuh sekaligus, masih mampu mengatasinya. Paling tidak kita menyumbang, mengurangi musuh semua pendekar dan juga negeri,.... sekarang giliran kalian berdua adik kembar, dan berhati-hatilah"
Selanjutnya, Shinta menceritakan hal-hal soal penyelidikan mereka; perihal strategi adu domba pihak partai gagak tombak, hingga keuntungan yang didapat oleh partai tersebut, termasuk soal kekuasaan dan pengaruh mereka terhadap sebagian besar para pejabat tinggi negeri dan daerah.
Laksita berpendapat ;
"kalau memang benar pengaruhnya sampai ke negeri Gunumlatar, berarti kekayaan ketua partai mereka luar biasa"
Kini Wulan juga ikut berbicara;
"memang demikian, bahkan konon kekayaannya melebihi dua kekaisaran,... dan menurut keterangan ayahku juga, ketua partai mereka, malahan tidak pernah tahu menahu atau terlibat dalam urusan partai, karena tidak ada yang tahu dimana keberadaannya beserta putrinya"
Shinta menambahkan ;
"benar, memang demikian. Menurut berita, ketua mereka, yaitu Malaikat Sadis dari Utara telah membawa puterinya pergi keliling penjuru negeri untuk mencari kesembuhan"
Demikianlah, dengan penuh ketegangan mereka bertujuh, saling bergantian mengawasi sosok misterius dari partai gagak tombak tersebut.
Sayangnya keberadaan mereka diketahui oleh yang bersangkutan, karena mereka mendengar suara teguran, yang dikeluarkan dengan nada yang pelan dan dalam, padahal orangnya berada jauh disana, ini menandakan bahwa orang tersebut memiliki ilmu yang sangat tinggi ;
__ADS_1
"kalian bertujuh, jika ada urusan keluarlah"
Tentu saja suara ini, mengagetkan mereka semua,.... dan dengan dipimpin oleh Shinta, merekapun tidak sungkan lagi dan berkelebat mendekat ke lelaki berjubah hitam bergambar gagak mencengkram tombak dan bersulam benang emas,...
Nampak ketujuh gadis saling pandang, seolah menyadari bahwa yang berada di depan mereka kini adalah benar sang wakil ketua partai gagak tombak (saat itu mereka belum melihat keberadaan orang yang di dalam gubuk).
Namun mereka bertujuh tidak menunjukkan rasa gentar sedikitpun, apalagi mereka berpikir bahwa ini adalah kesempatan baik untuk melenyapkan satu musuh yang telah membuat geger dunia persilatan, bahkan menyusahkan kedua negeri sekaligus.
"ternyata hanya tujuh kelinci betina" demikian lelaki itu berkata sinis.
Mendengar perkataan barusan, Wulan yang paling temperamen diantara bertujuh sekalian, langsung mencabut pedangnya dan menyalurkan tenaga dalamnya.
"pedang pembelah langit,... ada hubungan apa engkau dengan keluarga ufuk timur?" tanya lelaki tua itu dengan suara cukup bergetar.
Tentu saja dia tahu seluk beluk sang pedang mustika, yang adalah salah satu senjata paling ditakuti oleh orang-orang golongan hitam pada masanya. Meski malaikat sadis belum lahir pada saat pedang tersebut malang melintang di kolong langit ini, namun gurunya sendiri mengatakan, bahwa dia harus menghindar, apabila bertemu dengan musuh yang memegang pedang mustika tersebut.
Apalagi gurunya juga mengakui, bahwa guru kakek buyut mereka pun, tidak pernah berhasil mengalahkan pemilik aslinya, yaitu Dewa Pedang Ufuk Timur. Namun, bukan malaikat sadis namanya jika tidak mencoba secara langsung kelihaian si pedang mustika, apalagi dilihatnya yang membawa pedang, hanyalah seorang gadis muda.
"engkau tidak perlu tahu,..hiattt"
Wulan menjawab, namun sekaligus juga merangsek maju dan disusul oleh ke enam gadis lainnya.
Maka terjadilah pertempuran yang awalnya tidak seimbang, dimana lelaki tua itu, seperti terlihat terdesak dan selalu berkelit. Karena, memang belum habis rasa kejutnya menghadapi serangan ilmu pedang ? dia dikejutkan pula oleh tiga jenis ilmu silat yang menurut pengalamannya adalah merupakan ciri jurus serangan Lima Belas Ksatria Naga Emas ? kejutan lagi dari jurus ilmu Ratu Sakti Selaksa Hutan ? Kejutan lagi dari jurus ilmu silat negeri utara ? Tentu saja, menghadapi tujuh sekaligus ilmu silat tingkat tinggi, yang sudah dikenalnya membuatnya keteteran. Tetapi, karena malaikat sadis adalah jago tua yang berpengalaman, dia perlahan mampu bertahan, namun juga tidak mampu mendesak ke tujuh lawannya, sehingga malaikat sadis hanya bisa mengandalkan kelihaian ilmunya untuk berkelit.
Sudah puluhan jurus mereka keluarkan, namun keadaan tetap masih belum bisa di tebak, dan mereka tidak menyadari, bahwa pertempuran mereka, sedang diperhatikan oleh dua pasang mata, yaitu seorang gadis yang sebenarnya cantik jelita, namun badannya sangat kurus, kedua kelopak matanya bahkan memerah pucat. Gadis ini kini sudah berdiri di pintu gubuk.
Dan satu lagi adalah Waseso. Ya,.. Saat dia selesai melatih, dan kembali masuk ke rumah sehat, dia merasa heran karena tidak menjumpai Laksita disitu. Apalagi setelah ditunggu beberapa saat masih belum muncul, kemudian bertanya ke Werni dan dijawab bahwa si gadis pergi ke arah bukit dan saat ditanya keberadaan gadis lainnya juga tidak diketahui, maka secepat kilat dia pergi menyusul ke bukit dan segera melihat pertempuran tersebut.
Dan demi melihat jurus yang dimainkan oleh lelaki tua berjubah, adalah memiliki kemiripan dengan ilmu silat dari salah satu gurunya Raja Iblis Puncak Es, namun jurus lelaki tersebut terbilang masih kasar. Dan ketika Waseso mengeluarkan ilmunya Mengukur Dalamnya Laut, dia menemukan identitas tenaga dalam lelaki tua itu, adalah juga benar mirip ilmu tenaga dalam salah satu gurunya tadi. Maka untuk lebih memastikan, dia ingin mencari lebih dalam lagi perihal ilmu silat lelaki tua itu, apalagi dia juga melihat gambar sulaman benang emasnya. Maka si pemuda segera berteriak bak suara halilintar menggelegar ;
"hentikan"
Seketika itu juga, ke tujuh gadis melompat mundur dan demi melihat entah sejak kapan, si pemuda telah berdiri diantara mereka dengan sang wakil ketua partai, mereka pun merasa tenang hati.
Adapun Malaikat Sadis, yang mendengar bentakan si pemuda, tentu saja juga melompat mundur karena merasakan tenaga dalam yang menyertainya;
"sepertinya aku sudah mulai ketinggalan jaman. Tadi tujuh gadis muda berilmu tinggi, sekarang sepertinya ada yang lebih tangguh,....tapi inilah kesempatanku untuk menggempurnya" demikian dia membatin, demi dilihatnya si pemuda seperti tidak siap. Lalu tanpa memberi peringatan, dia segera merangsek ke arah si pemuda.
"eeiitttt,...."
Ketujuh gadis hampir berteriak bersamaan melihat kelicikan musuh,...namun kini mereka baru benar-benar bisa melihat sendiri, kelihaian si pemuda, karena Waseso nampak demikian mudah memghindar jurus maut yang barusan dilepaskan oleh malaikat sadis.
Tetapi serangan berikutnya menyusul, kali ini datang dari atas, dengan gerakan tangannya yang seperti cakar harimau mengoyak kepala dan,.. Waseso juga terlihat sangat enteng berkelit di bawahnya, seolah menggunakan langkah ajaib,...maka marahlah malaikat sadis, karena dirinya yang merasa sebagai jago berilmu tinggi, seperti dipermainkan oleh seorang anak muda, sehingga dia segera mengerahkan semua ilmu tenaga dalamnya.
Adapun Waseso yang merasakan sendiri, bahwa memang serangan dari lawannya ini adalah jurus kasar (yang saat itu belum bertobat) dari salah satu gurunya, ingin mencoba secara langsung tenaga dalam lawannya.
Maka disambutnyalah hantaman kedua tangan lawannya yang mengarah ke dadanya, dan ;
"sreeeeeetttttttt,......blammmm"
Terlemparlah si pemuda ke belakang sejauh tiga tombak.
Tentu saja atas kejadian ini, ke tujuh gadis berteriak histeris dan langsung merangsek maju hendak menyerang Malaikat Sadis, namun yang dilihatnya; lawannya itu terlihat sedang bersimpuh, menekukkan kedua lututnya ke tanah dan badannya terlihat lemas, dengan kedua lengan menggantung lemah.
Melihat itu, ketujuh gadis hanya terdiam, karena tidak mengerti apa yang terjadi, apalagi dari belakang mereka, terdengar suara yang dikenalnya :
"tahan serangan"
Ketujuhnya menoleh dan segera berlari mendekat ke arah Waseso yang kini telah berdiri segar bugar.
Waseso segera berkata ;
"berarti dia adalah ketua gagak tombak"
Semua gadis menoleh dan mereka melihat, ada seorang gadis yang sedang mendekat ke arah Malaikat Sadis. Pada tangan kiri bagian dalam, sekilas terlihat gambar sehelai bulu burung merak warna-warni terlihat sekilas, saat lengan panjangnya tersingkap sedikit.
Barulah mereka sadar.
"pemuda,.. aku takluk padamu" itulah kalimat pertama yang disampaikan Malaikat Sadis. Bagaimana tidak, jika jurus serangan yang dilancarkannya, selalu demikian mudah dimentahkan oleh lawannya.
Dan terakhir, entah kenapa saat si pemuda menerima pukulannya, dia merasakan tenaga dalamnya tersedot keluar, tanpa bisa dia kendalikan, tentu saja dia jadi takut setengah mati. Karena itu, sebelum terlambat dia segera menurunkan saluran tenaga dalamnya, namun ternyata dia justru merasakan semacam tarikan yang semakin kencang, seolah seperti dipaksa untuk menghabiskan seluruh tenaga dalamnya.
Dalam kepanikannya, dia langsung menghentikan seketika itu juga, sehingga timbullah suara seperti dentuman tadi.
__ADS_1
Dan kini, dia merasa bahwa tenaga dalamnya hanya tinggal seperempat kekuatan saja.
Demi menyadari si pemuda tidak menyahut ucapannya, dia segera mengangkat kepalanya dan dilihatnya si pemuda malah sedang memandang anaknya, bahkan ;
"nona, apakah engkau sakit?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut anak muda ini, ibarat air es yang menyiram tubuhnya, otaknya segera berputar dan seperti mendapat kekuatan baru, dia segera berkata kepada si pemuda sambil kedua tangannya dirangkapkannya ke depan dada, seperti memohon dan juga dengan suara bergetar menahan isak tangis ;
"tuan muda, apakah engkau bersedia menolong puteriku?"
Waseso, tidak menjawab dan berbalik ke arah tujuh gadis yang berbisik memanggilnya, dimana Laksita dan gadis sekalian, sedang membicarakan usulan yang paling tepat yang mesti diajukan sebagai ganti syarat menolong puteri si ketua.
Akhirnya disepakati, syaratnya adalah ketua partai harus menarik mundur keterlibatan partainya dalam segala urusan yang berkaitan dengan peperangan negeri.
Kemudian Waseso membalikkan badannya dan mendapati bahwa ayah anak tersebut seperti sedang berbisik-bisik, namun masih bisa di dengar oleh Waseso sekalian meski sangat lirih ;
"ayolah puteriku, aku berjanji ini adalah usaha pengobatan terakhir untukmu"
"aku sudah lelah ayah, sepuluh tahun lamanya aku menurutimu kesana-kemari mencari obat, aku sendiri sudah benar-benar menyerah dengan keadaanku"
"puteriku, aku mohon sekali ini saja melakukan pemeriksaan"
Kini Waseso dan ketujuh gadis, mulai mengerti apa yang terjadi. Tentu saja mendengar kata "sepuluh tahun" dari puteri ketua partai, Ni Luh menjadi terharu atas penderitaan sakit yang telah dialami gadis itu demikian lama, bahkan Ni Luh, tanpa sadar meremas lengan Laksita dan Kinda, tentunya keduanya segera mengerti maksud Ni Luh.
Kinda segera berjalan maju ke samping Waseso dan berbisik ;
"kak, tolonglah gadis malang itu"
Waseso hanya mengangguk dan memberikan kode pada Kinda untuk tidak bersuara, karena dilihatnya ayah-puteri tersebut melanjutkan pembicaraannya ;
"aku mohon,...kal,.." terdengar suara Malaikat Sadis mulai bergetar menahan isak tangis yang mau keluar, tapi tidak dilanjutkannya, karena melihat tangan kanan puterinya diangkat yang menandakan dia harus diam.
"baiklah ayah, aku akan mencobanya tapi ini kali yang terakhir,...dan ada syarat yang harus segera ayah lakukan"
Tentu saja Malaikat Sadis yang mendengar perkataan puterinya sangat senang ;
"katakan dan segera kulakukan,.."
"aku mau, ayah membubarkan partai gagak tombak"
"apa,..apa,..apa,..?!"
"apa,..?!"
Kesemua teriakan terkejut tadi, bukanlah berasal dari Malaikat Sadis yang malah terlihat datar dan kalem saja,... tetapi berasal dari ke tujuh gadis dan Waseso. (tentu saja semua kaget dengan permintaan gadis itu, tadi mereka merencanakan syarat untuk menarik keterlibatan saja, menurut mereka tidak yakin untuk dipenuhi, apalagi malah akan mendapat yang lebih sempurna ?! Tentu saja mereka berseru kaget seolah tidak percaya dengan yang barusan didengar)
Sementara, mendengar teriakan kaget dari kedelapan orang disana, si gadis dan Malaikat Sadis melihat ke arah mereka dan menunjukkan raut muka seperti merasa terganggu.
Tentu saja membuat yang dituju menjadi salah tingkah.
Akhirnya si gadis melanjutkan perkataannya ;
"sejak sedari kecil, ayah selalu berusaha menutupi telingaku agar tidak mendengar perbuatan jahat anak-anak buah ayah,....bahkan, aku selalu dijauhkan agar tidak melihat hasil kekejian orang partai,... Oleh karena itu, aku yang tidak pernah meminta sesuatu pun dari ayah, aku menagihnya sekarang,...agar sebelum aku mati karena penyakit ini, setidaknya ada hal baik yang bisa kulakukan"
"akan aku lakukan puteriku" jawab Malaikat Sadis, lalu dia berjalan mendekat ke arah Waseso;
"anak muda aku mem,..."
kalimatnya belum selesai untuk menyampaikan permohonan belas kasihan dari si pemuda untuk memeriksa puterinya, malah dilihatnya si gadis muda yang tadi bertarung dengannya dengan senjata golok aneh telah berlari mendekati puterinya,.. terlihat berkenalan. Kemudian si pemuda juga berlari mendekat,.. dilihatnya, puterinya sedang dibimbing untuk duduk diatas sebuah batu dan mereka berdua seperti sedang memeriksa, lalu si gadis memberi puterinya minum dari botol guci sangat kecil. Tentu saja, Malaikat Sadis hanya bisa mendelong melihat itu semua.
Keenam gadis juga menyaksikan, bahwa sekarang Laksita nampak sedang melakukan tindakan persis saat dia menolong Sari, namun kali ini yang diambil adalah darahnya Waseso.
Kini puteri Malaikat Sadis, terlihat seperti jatuh pingsan begitu Waseso telah selesai menyalurkan darahnya,....yaaa,.. darah Waseso yang memiliki kecocokan yang sama dengan jenis darah si gadis dan juga mengandung Inti Sakti Empat Dewa, segera memasuki urat nadi si gadis dan kemudian masuk ke jantung, lalu menyebar dan bercampur dengan darah asli si gadis, mengalir ke seluruh peredaran darah dalam tubuh gadis itu. Inilah yang membuat dia langsung pingsan dan membiarkan semua virus penyakit yang berada di dalam sel darahnya, tergempur habis oleh sel darah Inti Sakti Empat Dewa beserta khasiat ramuan Bunga Kembar Inti Es.
Selanjutnya, dari seluruh pori-pori kulit di sekujur tubuh gadis itu, perlahan mengeluarkan butir keringat seperti darah namun berbau busuk.
Tanpa segan, Laksita membawa gadis tersebut ke dalam gubuk dan meminta Ni Luh serta Shinta untuk membantunya melepas semua pakaian si gadis, agar proses penyembuhan tersebut, berjalan lebih sempurna. Kemudian juga terlihat, Ni Luh dan Shinta secara bergantian mengambil air jernih dari sungai dan dibawa masuk ke dalam gubuk.
Selang beberapa saat, Shinta keluar sebentar dari gubuk dan meminta Midya untuk segera mengambil pakaian Shinta serta handuknya di perkampungan. Adapun yang disuruh, segera terbang pergi dan kembali hanya dalam waktu tidak sampai dua puluh menit dan membawa barang yang diminta, serta bergabung masuk ke dalam gubuk.
Sementara itu, Malaikat Sadis duduk berkumpul sembari menunggu dengan Waseso, Kinda, Widya dan Wulan, sambil menceritakan bahwa dia bersama putrinya, sudah berada disitu sejak dua hari yang lalu, karena mendengar kabar dari anak buahnya, adanya tabib sakti di perkampungan pengungsi. Makanya dia mengajak puterinya, namun puterinya selalu menolak apabila akan diajak masuk ke dalam perkampungan, karena puterinya sudah terlanjur merasa putus asa.
Baru saja selesai bercerita, dilihatnya empat gadis yang tadi bersama dengan puterinya di dalam gubuk, sekarang sedang berjalan keluar ke arah mereka sekalian.
__ADS_1
BERSAMBUNG.