Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB 21 - BERITA TAK DINYANA


__ADS_3

Malam itu nampak Waseso bergembira. Dia begitu asyik bercengkrama dengan kakang Daruna yang merupakan suami dari kakak Werni, sepasang suami istri yang dibantu oleh Kinda, serta ditolong Waseso siang hari tadi. Menurut Waseso, mereka adalah benar-benar sepasang pendekar suami istri yang sepadan. Istrinya cantik manis, bentuk wajahnya bulat telur, hidungnya kecil mancung dagu belah, kulitnya kuning mulus cenderung putih, tubuhnya langsing namun berisi di tempat semestinya, badannya tidak terlalu tinggi, namun masih serasi dengan tinggi suaminya. Pembawaannya kalem dan keibuan mirip Ni Luh. Adapun suaminya, seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh dua tahun, badannya cukup tinggi dan berotot, berwajah tampan dengan kumisnya tertata rapi menambah kesan wibawa yang kuat. Pengetahuannya tentang kondisi negara dan juga dunia persilatan sangat baik. Jelas menunjukkan seorang pendekar yang berjiwa patriot dan berwawasan luas. Karena merasa canggung dipanggil Tuan dan Nyonya, mereka meminta kepada Waseso sekalian, memanggil Kakang dan Kakak, lagipula Werni hanya tiga tahun lebih tua dari Waseso yang berusia dua puluh satu tahun. Diceritakan bahwa, sepasang suami istri yang dulunya adalah kakak dan adik seperguruan Elang Biru ini, sedang dalam perjalanan pengembaraan, bersama ke lima orang yang juga merupakan saudara seperguruan untuk mencoba mencari dan menemukan yang lainnya. Namun berjumpa dengan orang-orang gagak tombak, yang mereka anggap tidak lebih dari partai hitam. Oleh karena itu, pertempuran tidak dapat di elakkan, apalagi empat penjahat tersebut juga nyata-nyata ingin meringkus sang istri hidup-hidup. Namun, ternyata mereka memang kalah lihai dua tingkat, jika dibandingkan penjahat. Maka di saat yang genting tersebut, datanglah Kinda membantu, sehingga mereka bertujuh masih bisa melihat hari esok. Belum lagi memperoleh sesuatu yang sangat berharga segalanya, bagi pendekar persilatan, yaitu peningkatan tenaga dalam. Tentu saja mereka sangat bersyukur atas hal tersebut, hingga berulang-ulang menyampaikan rasa terimakasih secara berlebihan terhadap Waseso yang menanggapinya dengan biasa saja.


Saat dibawa oleh Kinda ke perkampungan pengungsi, mereka sebenarnya antara yakin atau tidak, saat berjumpa dan diperkenalkan secara langsung dengan penolong mereka, yaitu ternyata seorang pemuda sederhana dan berwajah biasa. Namun, bila disilangkan dengan kejadian di pertempuran tadi, ciri-cirinya sangat kuat. Meski tidak jelas melihat wajah penolongnya, tetapi mereka masih mengingat cara berpakaiannya yang aneh, pakai celana panjang cingkrang diatas mata kaki dan juga pakai kain seperti sarung, persis sebagai mana dilihatnya pada diri si pemuda. Tentu saja pada bagian ini, Waseso tidak mungkin menceritakan kesulitan dia, dalam upaya menaklukkan mustikanya, makanya celana dobel yang dipakainya sengaja ditarik keatas melebihi pinggangnya hingga dibawah dada, lalu di ikat erat disitu. Adapun bagian luar, dibungkus lagi dengan kain, agar menghambat gerakan manuver sedemikian rupa jika mustikanya terbangun. Adapun mengenai perihal saran yang Waseso berikan, yaitu terhadap penyempurnaan jurus mereka dan juga terkait pendonoran tenaga dalamnya, dengan serius Waseso meminta mereka berjanji, untuk tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapapun, yang tentu saja membuat keduanya, termasuk juga Laksita yang baru mendengar hal ini, tidak habis mengerti dengan prinsip yang dianut oleh si pemuda, yang bagi orang-orang dunia persilatan adalah hal yang tidak umum. Punya ilmu tinggi kok disembunyikan. Namun demikian, mereka mau berjanji untuk hal tersebut, meski kedua sorot mata Kang Daruna secara sekilas terlihat menyiratkan sesuatu, dimana istrinya yang saat itu juga berada di depannya, kebetulan melihat sorot mata suaminya yang demikian. Dan istrinya yang sudah hapal dengan gelagat sang suami, hanya menyimpulkan bahwa biasanya, itu menandakan sang suami sedang bersemangat karena menemukan ide. Sayangnya Werni lupa menanyakan kepada suaminya perihal apa yang dilihatnya tersebut.


Waseso yang selama ini tidak tahu sama sekali keadaan dunia luar, seolah menemukan sumber berita dari orang yang tepat dan mereka berbicara hingga larut malam.


Sejak selesai makan malam, para wanita memisahkan diri mereka dan berkumpul diluar tenda wanita, sambil bercengkrama mengenal satu sama lain. Werni menceritakan asal-usulnya dari mulai awal berkenalan dengan suaminya, kondisi perguruan mereka yang mengenaskan, hingga akhirnya memutuskan ikut mengembara mendampingi suami sejak lima tahun yang lalu, selepas pernikahan mereka. Werni juga bercerita, bagaimana dia merasa selalu berada dalam situasi dan lingkungan yang tegang dan selalu membuatnya cemas memikirkan keselamatan. Sambil meneteskan air matanya, dia jujur mengatakan bahwa ini adalah malam terdamai dan paling menyenangkan bagi dirinya pribadi, karena dia merasa aman berada di tengah-tengah pendekar silat yang berilmu sangat tinggi dan menerimanya layaknya keluarga. Mendengar kisah panjang lebar Werni yang ditutup dengan ungkapan jujur tentang perasaan aman yang dirasakan. Satu persatu dimulai dari Ni Luh, Kinda lalu Laksita memberikan pelukan hangat kepada Werni, serta memyampaikan bahwa dia diterima dengan terbuka bersama rombongan mereka. Werni juga menanyakan, perihal banyaknya orang-orang desa seperti pengungsi yang juga turut makan malam bersama. Mengenai pertanyaan ini, Kinda saling melengkapi penjelasannya bersama Nl Luh, menceritakan asal mula rombongan terbentuk, juga menceritakan bagaimana mereka merasa terbantu sekali mendapat bantuan sukarela dan tanpa pamrih dari Laksita, terutama berkenaan dengan kelihaiannya akan ilmu pengobatan. Namun nama yang disebut terakhir ini, dengan rendah hati menolak memperoleh pujian. Demikianlah perempuan, begitu saling kenal dan ada kecocokan langsung berkumpul dan tidur bersama di tenda wanita, adapun Werni juga membuktikan ucapannya tadi dan langsung tertidur dengan pulas layaknya seorang bayi.


Dengan kehadiran Werni, yang ternyata lihai dalam urusan memasak. Sejak pagi dia langsung menemui bude Sujarna dan ibu-ibu lainnya, lalu dengan begitu semangat turun membantu dan bahkan dia secara khusus yang membumbui semua sayuran yang dimasak, berikut lauknya sesuai dengan jadwal menu hari itu dan hasilnya,... membuat acara makan siang besar, terasa begitu istimewa. Bahkan Waseso dan bapak-bapak pengungsi lainnya menyempatkan diri untuk menambah nasi mereka dan membuat tindakan spontanitas tersebut jadi gempar dan riuh dengan tawa. Hampir semuanya, mengucapkan terimakasih kepada Werni atas rasa masakan yang lebih lezat, padahal jenisnya sama. Bahkan Waseso dan bude Surjana mengakui langsung, bahwa mereka kalah lihai dengan urusan memasak, jika dibandingkan Werni dan Waseso juga menyampaikan rasa terimakasih. Melihat hasil kerjanya disukai, bahkan memperoleh pujian, Werni merasa berguna dan senang luar biasa, bahkan dari lubuk hatinya dia merasa belum pernah mengalami rasa demikian bahagia seperti hari itu, di sepanjang hidupnya. Oleh karenanya, sejak saat itu, dia lebih banyak melakukan kegiatan di dapur umum bahkan tidak segan minta belajar dari kang Aji bagaimana cara memerah susu sapi.


Adapun sang suami, yaitu Kang Daruna juga sama sekali tidak keberatan dengan perubahan aktivitas istrinya, karena dia begitu sibuk menyusun jadwal perondaan dan sering terlihat keluar melakukan patroli keliling perkampungan pengungsi. Dua adik seperguruannya yang telah sembuh total, dimintanya untuk pergi keluar melakukan penyelidikan dan mencoba peruntungan dalam upaya mencari saudara-saudara mereka yang lain. Begitu juga beberapa hari kemudian, menyusul tiga orang sisanya, yang juga telah sembuh, diutusnya untuk keluar melakukan misi serupa. Akhirnya, upaya tersebut menampakkan hasil, karena satu persatu, mereka kembali pulang dengan membawa satu atau dua orang pendekar Elang Biru lainnya.


Walaupun seolah-olah kampung pengungsian menjadi seperti markas kecil, namun Waseso tidak menunjukkan keberatan sama sekali, karena hal itu malah akan meringankan tugasnya dalam mengkoordinir pengamanan bagi para pengungsi. Bahkan Waseso menjadi semakin suka dan percaya kepada Kang Daruna, yang dianggapnya sebagai pendekar yang pintar dan berwawasan luas. Saking percayanya Waseso, juga untuk alasan keamanan pribadi kang Daruna, Waseso juga menambah kemampuan ilmu tenaga dalam kang Daruna, yang tentu saja diterimanya dengan luar biasa bahagia.


Suatu pagi menjelang siang, saat Ni Luh sedang berada di ruangannya dengan ditemani Kinda, dimana mereka berdua sedang mengobrol ringan membicarakan mengenai Wulan, yang lama tidak berkunjung, datanglah Waseso yang menginterupsi pembicaraan mereka dan meminta benang jahit. Ni Luh lantas menunjuk ke arah meja kecil di sudut tenda, lalu dia melanjutkan omongannya yang tadi terputus ke Kinda;


"mungkin Wulan sedang ikut menjaga desanya dari gerombolan penjahat yang sekarang makin merajalela"

__ADS_1


Kinda menjawab " bisa jadi juga, tapi sepertinya nggak mungkin,... karena siapapun penjahat pasti berpikir seribu kali jika berani berurusan dengan pendekar pedang ufuk rimur,...kan Wul,..."


Kinda tidak melanjutkan ucapannya demi dilihatnya Waseso seperti orang yang sedang melihat hantu.


"apa kamu bilang tadi adik bau ? pendekar,..."


"pendekar pedang ufuk timur,....itu adalah julukan pendekar persilatan dan juga gelar temurun kepada ayahnya Wulan,... ada apa kak ?" demi dilihatnya raut muka Waseso berubah cerah dan terlihat senang.


Waseso lalu duduk di kursi kosong dekat Ni Luh. Kemudian dia melanjutkan pertanyaannya ke Kinda ;


"apa yang engkau ketahui tentang pendekar tersebut?"


Waseso yang orangnya memang terbuka terhadap mereka berdua, menceritakan perihal salah satu gurunya yang berjuluk Dewa Pedang Ufuk Timur, juga menjelaskan perihal pedang mustikanya yang dia simpan dan bahkan belum pernah dibukanya sama sekali dari sarungnya. Oleh karena itu, Waseso memperkirakan bahwa ayah Wulan tentunya adalah cucu murid atau bahkan cucu buyut sang Dewa Pedang. Oleh karena itu, jika benar demikian Waseso ingin menyerahkan pedang mustika itu kepada ahli waris Dewa Pedang. Mendengar penjabaran si pemuda, Kinda dan Ni Luh saling berpandangan dan dalam pandangan tersebut, seolah mereka saling menyatakan rasa kagum atas kejujuran dan ketulusan si pemuda. Pedang mustika, bagi masyarakat dunia persilatan adalah merupakan satu-satunya harta tak ternilai, bahkan melebihi nyawa mereka sekalipun, namun kini Waseso dengan begitu semangat menceritakan niatnya untuk mengembalikan? tentu saja hati mereka semakin takluk.


"lalu apa yang akan engkau lakukan?" Ni Luh sekarang ganti bertanya.


"aku akan coba memeriksa ke adik Laksita dan mencari tahu sejauh mana tingkat kesibukan dalam menangani orang-orang yang sakit. Kalau memang sudah tidak banyak, sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan"

__ADS_1


Demi mendengar perkataan tersebut. Kinda langsung bangun berdiri, tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya.


Lanjut Waseso;


"tapi engkau jangan pernah kelepasan bicara kepada Wulan nanti, sebelum aku bisa yakin kebenaran silsilah keluarganya, lagipula menurutku Wulan dan keluarganya, juga tidak perlu tahu bahwa salah satu guruku adalah Dewa Pedang yang memang sudah berniat mengasingkan diri, agar tidak semakin panjang urusan"


"iya kak Waseso,....aku akan melakukan persiapan pedati untuk mengangkut si plentong..." Kinda menjawab pendek, lalu dia segera keluar. (plentong adalah nama panggilan si sapi perah, yang kini sudah mulai bisa memproduksi susu, sehingga tidak boleh dibiarkan berjalan-jalan jauh).


"apakah engkau sudah benar sehat?" tanya Waseso kepada Ni Luh.


Tentu saja pertanyaan yang menunjukkan rasa perhatian tersebut, membuat hati Ni Luh menjadi dag dig dug,...dengan pipi merona merah dia menjawab ;


" sangat sehat,...kan aku juga sudah mulai rajin berlatih silat bimbingan dari adik Kinda dan juga adik Laksita"


"syukurlah kalau begitu, aku keluar dulu" Waseso pun beranjak pergi dan segera menenangkan mustikanya, demi melihat pipi Ni Luh yang tadi merona merah semakin mempercantik wajahnya, apalagi dengan penampilan rambut hitamnya yang sudah tebal dan sepanjang bahu,....


"plakkk,....plakkk,..." Waseso menampar kedua pipinya sendiri kanan-kiri.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2