
Setelah menaruh balik semua gelas dan piring ke tempat semula, nyonya Sodra segera bergegas ke ruang depan dan memeluk tubuh suaminya yang berdiri di tengah ruangan dengan menyandang pedang di punggungnya. Tangis dan air mata yang sedari tadi ditahan, dia luapkan tuntas di dada suaminya tersebut. Mendengar banyak langkah kaki dan suara tangis anak-anak kecil di luar, perlahan tuan Sodra melepaskan pelukannya dan berbalik menuju pintu keluar. Sang istri menyempatkan masuk ke kamar dan menyambar pedangnya yang tergantung pada dinding kamarnya, lalu mengikuti sang suami yang sudah berada di pinggir jalan depan rumah mereka, melepas kepergian rombongan pengungsi. Dibelakang mereka barulah tampak Ki Sebrang dan beberapa laki-laki seumuran tuan Sodra serta dua orang perempuan dengan masing-masing membawa pedang berjalan mendekat, demikian pula disusul penduduk lain dari arah berlawanan yang juga datang turut berkumpul. Ki Sebrang segera berkata;
"tuan sodra, kami semua yang ada disini datang dengan penuh kesadaran dan kerelaan. Kami tidak bermaksud untuk tidak patuh perintah tuan. Hanya saja, kami juga mempunyai hak untuk mempertahankan desa kita ini dari siapapun yang akan mengancam, meski kami harus kehilangan nyawa sekalipun".
"benar....."
"benar....."
""betul....." demikian yang lain turut menyahut bergantian.
Lalu dua wanita yang turut hadir disitu dan berdiri di samping suaminya masing-masing, salah satu diantara mereka yang berbaju hitam dengan garis putih juga berujar;
"bagi saya adalah lebih baik menemui ajal bersama dengan suami saya daripada harus pergi mengungsi"
"iya, apalagi kami suami istri juga sudah tidak memiliki keluarga" demikian timpal wanita yang berbaju hitam polos.
Nyonya Sodra mengetahui latar belakang kedua pasangan keluarga ini. Sebelum dia dan suaminya menetap di desa ini, konon masing-masing memiliki satu anak lelaki yang telah di renggut secara paksa oleh gerombolan pasukan kekaisaran dan dibawa pergi dari desa mereka, namun keduanya tidak pernah kembali sejak saat itu. Nyonya Sodra kemudian mengeluarkan lipatan kain kecil dari sakunya dan mengambil dua jepit rambut yang terbuat dari besi baja ukuran kecil dengan kedua ujungnya runcing lalu mengulurkannya kepada mereka berdua, serta berkata;
"apabila kalian memerlukan untuk melindungi kehormatan kita sebagai pilihan terakhir"
Keduanya tersenyum dan segera mengambil benda itu dari tangan nyonya Sodra dan setelahnya mereka memasukkan jepit tersebut ke dalam mulut diantara gigi dan bibir bawahnya bagian dalam. Sebagai wanita, mereka menyadari bahwa meskipun mereka berdua adalah wanita dusun dan telah berusia setengah baya, namun dikarenakan mereka terbiasa melakukan aktivitas fisik rutin setiap hari ditambah juga rajin berlatih silat dan kanuragan dibawah arahan langsung nyonya Sodra, sehingga berpengaruh terhadap bentuk tubuh mereka yang masih kencang dan padat, tentunya akan beresiko menarik perhatian gerombolan yang terkenal biadab tersebut.
Setelahnya tuan Sodra,.mengambil alih percakapan;
"saudara-saudara sekalian, untuk menghadapi yang datang ini tidak ada cara lain, selain langsung menggempur pimpinannya sekaligus secara bersamaan. Langsung gunakan jurus pamungkas seperti yang sudah kalian dapatkan dari kami suami istri"
Selesai dengan kalimatnya tuan Sodra segera bergegas menuju jalan masuk desa yang tentunya juga segera disusul oleh sekalian yang berkumpul. Belum sampai tiga rumah dilewati, mereka mendengar derap langkah kuda mendekat dari kejauhan. Tuan Sodra menghentikan langkahnya dan berdiri tegap di tengah jalan, yang lain kemudian menyebar ke kiri dan kanan sehingga mereka dalam posisi berdiri seperti sebuah formasi barisan memenuhi jalan desa.
Suara rintik hujan disertai sesekali kilat di langit membuat ketegangan disekitarnya terasa mencekam. Dari semula yang terlihat sekepal tangan berwarna hitam di kejauhan, kini semakin jelas terlihat barisan sepasukan berkuda dengan gagang tombak panjang mencuat keatas dengan panji warna hitam dengan garis emas yang sesekali nampak masih berkelebat meski kainnya dalam keadaan basah akibat air hujan, menandakan lajunya kuda yang sedang dipacu. Ketika rombongan tersebut memasuki ujung jalan masuk desa, mereka memperlambat kuda-kudanya dan berhenti sejauh sepuluh tombak dari hadapan tuan Sodra dan kawan-kawannya.
__ADS_1
Tampak pada bagian depan seorang laki-laki paruh baya dengan badan yang tegap, bermuka garang dan mengenakan sejenis tutup kepala untuk berperang yang berbentuk seperti kepala burung gagak terbuat dari logam berwarna hitam serta berpakaian ringkas warna hitam dengan sulaman benang emas melingkar pada bagian lengan kanannya, menyapu pandangannya kanan-kiri ke setiap rumah yang terlihat kosong ditandai dengan semua pintu depannya terbuka lebar. Dia lalu menatap acuh pada rombongan di depannya yang berdiri kereng ditengah jalan dalam posisi tegak siap bertempur. Setelah meludah ke tanah dia berkata;
"hei,......kalian disitu, berapa jarak dari sini ke lembah halimun hijau?"
Tuan Sodra yang mendengar pertanyaan tersebut berfikir beberapa saat, jika rombongan ini menuju ke suatu tempat yang disebutkan barusan, berarti mereka hanya sekedar melintas dan tidak bertujuan khusus untuk datang mengacau desa ini. Pasti mereka memiliki kepentingan mendesak yang berhubungan dengan pengobatan, karena lembah halimun hijau memang dikenal oleh dunia persilatan kalangan atas adalah satu tempat bernaung manusia aneh bergelar tabib keping emas. Dijuluki demikian karena selain berperilaku aneh dan sakti, dia hanya mau mengobati pasien yang sesuai dengan kriterianya serta menuntut imbalan sekeping emas tidak lebih tidak kurang. Berfikir sampai disini, dia lalu menjawab;
"silahkan tuan dan rombongan lurus mengikuti jalan ini dan jangan berbelok hingga bertemu sungai dan melintasi jembatannya. Setelahnya, tuan akan bertemu pertigaan kedua, ambil kanan yang mengarah ke sebuah bukit kecil"
Sambil bergeser ke pinggir jalan seolah memberi jalan bagi rombongan tersebut melintas, dia melanjutkan penjelasannya;
"perjalanan dari sini hanya setengah hari dengan berkuda,.......silahkan....."
Sebelum lelaki yang bertanya tadi menyahut, mendadak muncul suara perempuan dibelakangnya menimpali dengan suara genit ;
"aiiihhh.......sudah penat seluruh badanku karena berkuda semalaman,....gerimis begini enaknya mandi lalu menghangatkan badan hihihihi,....."
Selesai berkata demikian nampak dalam pandangan tuan Sodra sekalian, seorang berperawakan dan berpakaian perempuan dengan mengenakan caping hitam kerucut, terlihat sekilas seperti memangku seonggok barang pada pelana kudanya bagian depan, namun jika lebih dicermati ternyata adalah tubuh manusia berperawakan lelaki yang sepertinya telah ditotok jalan darahnya dengan posisi menelungkupkan badan. Sambil mengerling genit kepada penunggang kuda disebelah kirinya, dia membalikkan kudanya dan pergi mengarah ke salah satu rumah di sebelah kirinya. Dengan tangkas, dia lalu turun dan mengikat tali kekang kudanya pada pagar rumah, lalu dengan santainya seolah bukan merupakan barang berat , dia menarik tubuh tadi, memanggulnya lalu melenggang masuk ke dalam rumah. Lelaki disebelah kiri yang tadi di lirik oleh si perempuan, adalah seorang berperawakan kurus, cukup tinggi, pesolek dan bermuka pucat. Meski mengenakan pakaian pengembaraan yang lazim dikenakan oleh para pengelana, namun lelaki ini juga mengenakan jubah sebagai pakaian luarnya dengan sulaman benang emas gambar kepala burung gagak di bagian dada kirinya. Demikian mudah disimpulkan bahwa pria ini tentunya adalah ketua partai. Hal ini terbukti dengan kalimat yang dikeluarkannya;
Lalu tanpa menunggu jawaban, dia juga membalikkan kudanya menyusul perempuan genit tadi. Lelaki yang dipanggil panglima tadi menjawab;
"silahkan ketua,...."
Selesai menjawab, si panglima memandang kepada penunggang kuda disebelah kiri dari orang yang dia panggil ketua tadi seolah meminta pendapat, niatnya untuk membuka mulut belum kesampaian namun orang yang di panggil penasehat oleh ketuanya tadi malahan mendengus dingin dan ngeloyor pergi dengan melangkahkan kudanya ke sebuah rumah diseberang tujuan si ketua dan perempuan genit. Dari belakang barulah terlihat bahwa si penasehat nampak memboncengkan atau lebih tepatnya mengikatkan tubuh seorang anak pada punggung belakangnya dengan sebuah kain berwarna hitam. Pertama dia menambatkan tali kudanya, lalu bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan kejadian yang akan terjadi berikutnya. Setelah menemukan yang dicarinya, nampak dia menenteng satu dipan dan meletakkannya dekat dengan tempat perapian . Setelah memasukkan dan menumpuk beberapa batang kayu bakar serta memyalakannya, dia berjongkok, menurunkan buntalan kain di dekat dipan lalu melepas tali simpul pada bagian dadanya dan membalikkan badannya memutar menghadap anak yang kini berdiri di belakangnya. Dengan perlahan dia melepas selimut dan tudung anti air yang dikenakan pada bagian luar anak kecil tersebut yang ternyata adalah seorang anak perempuan yang memiliki wajah yang sangat cantik namun pucat seperti sedang sakit, berusia sekitar sebelas tahun. Setelah mengusap rambut dan wajah si anak, dia mengangkat si anak serta membaringkannya dengan penuh kelembutan ke dipan. Suara bentakan disusul dengan beradunya senjata di luar sana tidak dia hiraukan sama sekali. Setelah duduk di pinggir dipan, dia memegang kedua belah telapak tangan anak perempuan tersebut, masing-masing dengan kedua tangannya lalu tampak dia berkonsentrasi seperti sedang menyalurkan hawa murninya kepada si anak. Meski wajah si penasehat tersebut terlihat sangar dengan kumis serta cambang yang tumbuh tidak terawat, namun kontras dengan tatapan mata penuh kasih layaknya sinar mata seorang ayah yang ditujukan kepada anaknya. Setelah terlihat kedua pipi si anak mulai sedikit memerah, bersamaan dengan terdengarnya satu jeritan di luar, dia menghentikan penyalurannya. Segera dia merogohkan tangannya ke dalam buntalan kemudian mengeluarkan satu kain kering dan membalutkannya pada kedua telinga anaknya, karena jeritan berikutnya kembali terdengar di luar. Demikianlah terdengar jeritan kematian susul menyusul. Tak lama berselang, dalam pendengarannya terdengar suara teriakan-teriakan gembira diselingi dengan dua suara bentakan perempuan serta beberapa kali suara pakaian robek, kini dia memnyimpulkan bahwa anak-anak buahnya di luar sedang berperilaku seperti kucing yang sedang mempermainkan tikus. Lalu suara teriakan berikut menyusul ;
"aduh pipiku,......mampus kamu.."
"prakk,......aaaaahh...."
Dan dilanjutkan;
__ADS_1
"bangsatttttt,.....satu mataku pecah,.... perempuan laknat,......kubunuh kau,...."
Namun setelahnya langsung terdengar teriakan kecewa dan kemarahan dari beberapa orang anak buahnya yang lain dan sepertinya akan menjadi pertengkaran diantara mereka. Dengan wajah kecut, si penasehat ini berdiri dan berjalan keluar serta dilihatnya ada dua perempuan yang tergeletak di tanah sudah tidak bernyawa, dengan kondisi pakaian bagian atasnya sudah tidak utuh lagi, aehingga seluruh tubuh bagian atas mereka tidak tertutupi. Yang satu mati dengan kepala pecah, sementara yang satunya perutnya ditembusi golok. Pada mulut masing-masing perempuan tersebut menggigit satu senjata rahasia yang bentuknya mirip jepit rambut perempuan. Kemudian dia juga melihat satu anak buahnya sedang berdiri dengan menutup sebelah matanya dimana nampak darah segar masih merembes keluar diantara telapak tangan yang dipakai buat menutupi. Sementara anak buahnya yang kedua sedang beradu punggung dengan yang pertama dalam keadaan pipi kanan terlihat sobek memanjang dan dia seperti tidak menghiraukan lukanya yang masih mengeluarkan darah tersebut dan malahan kini sedang dalam posisi pasang badannya siap untuk bertarung berhadapan dengan delapan orang lainnya yang terlihat sedang mengepung mereka berdua akibat keburu membunuh dua korban yang sebenarnya belum sempat mereka garap hingga tuntas. Demi si panglima melihat bahwa sang penasehat yang dia ketahui bahkan berilmu lebih tinggi dibandingkan sepasang ketua mereka telah berada di depan pintu berdiri mematung dan memasang wajah masam serta menatap mereka bersebelas, maka entah sejak kapan si panglima yang tadinya duduk diatas kuda telah melayang terbang menuju kerumunan pasukan anak buahnya dan terdengar suara tamparan bersahutan sebanyak delapan kali;
"plakk,..plakk,..plakk,..plakk,..plakk,..plakk,..plakk,...plakk,..."
Tidak jelas kapan dia turun dan juga tidak jelas kapan kembali ke pelana kudanya lagi, si panglima mengeluarkan suara;
"barangsiapa yang masih sayang dengan selembar nyawanya bisa segera mencari makanan hangat dan hidangkan terlebih dahulu kepada penasehat dan puterinya,.. yang lain bisa berjaga di rumah ujung masuk maupun keluar desa ini"
Tanpa menunggu suara selanjutnya kesepuluh laki-laki bengis tersebut, dengan tidak menghiraukan pipi mereka yang terasa panas serta beberapa diantara mereka bahkan giginya rontok satu dua butir, segera membubarkan diri dengan cepat dan melakukan apa yang diperintahkan panglima mereka. Dan melihat si penasehat telah kembali masuk ke dalam rumah, si panglima bergumam pada dirinya sendiri;
"untung saja aku segera bertindak, kalau sampai si malaikat sadis dari utara tadi kesalahan turun tangan bisa habis anak buahku,...semenjak puterinya dikabarkan sakit, dia gampang sekali uring-uringan dan karena hal sepele sekalipun sudah berapa lembar nyawa anak buahku melayang.......haduhhh"
Belum begitu lama, pria paruh baya seumuran dengan mendiang tuan Sodra namun berperawakan lebih kurus dan lebih tinggi sedikit tersebut duduk menemani puterinya yang berbaring, terdengar suara ketukan di pintu disusul masuknya dua orang anak buahnya. Masing-masing nampak membawa satu mangkuk besar berisi nasi dan masakan berkuah yang dari uapnya terhirup aroma sup panas. Lalu berikutnya menyusul satu orang lagi membawa masuk dua buah piring beserta minuman panas juga peralatan makan.
"silahkan tuan penasehat",.... demikian orang terakhir mempersilahkan hidangan tersebut kepada malaikat sadis. Meski tidak mendapat hirauan sedikitpun, dia menjura lalu bergegas keluar menyusul kedua temannya.
Malaikat sadis menepuk pelan kedua pipi puterinya yang sesaat kemudian membuka matanya. Sambil mengangkat sedikit punggung belakang puterinya dan mengganjalnya dengan bantal, dia berkata dengan lirih;
"puteriku,....mari makan"
Terlihat kejadian yang apabila disaksikan oleh setiap orang dari dunia persilatan, mereka tidak akan percaya dengan apa yang dilihat kini: seorang pria yang berjuluk malaikat sadis dari utara yang terkenal sangat kejam, berilmu sangat tinggi dan menduduki posisi sebagai penasehat utama dari sebuah partai besar yang saat itu tersebar hampir di seluruh wilayah kekaisaran Muderakali dan Gunumlatar, sedang memainkan peran yang sedemikian berperasaan mendalam, layaknya seorang ayah dari kalangan biasa sedang menyuapi puterinya dengan penuh kasih sayang. Ketika terhitung baru empat sampai lima suapan, sang buah hatinya terlihat menolak suapan berikutnya, malaikat sadis meletakkan piring yang dipegangnya lalu kembali memposisikan puterinya berbaring. Selanjutnya, dia segera beranjak keluar dan bergegas menuju ke rumah penduduk dimana sepasang lelaki dan perempuan yang dipanggil ketua tadi menghilang. Baru saja masuk ruang tamu, telinganya mendengar suara rintihan ****** seorang perempuan dan suara laki-laki berdengus serta terkekeh di ujung ruangan yang sepertinya kamar tidur. Ketika sampai di muka pintu yang terbuka, terlihatlah satu pemandangan langsung dihadapannya yang jika orang lain melihatnya hanya akan menimbulkan dua reaksi, yaitu pertama dia akan merasa jijik dan mual,.. atau reaksi yang kedua menimbulkan nafsu dan terangsang. Namun si malaikat sadis hanya mengeluarkan reaksi yang ke tiga, yaitu tetap dingin datar. Bagaimana tidak, di depan matanya saat ini dia melihat tiga manusia satu perempuan serta dua lelaki dalam keadaan telanjang bulat sedang bertarung. Lelaki pertama adalah si ketua partai sedang berdiri membelakanginya dimana pada punggungnya tergambar seekor burung gagak berbulu emas, sementara rambut si ketua masih terlihat basah sehabis mandi begitu asyik memaju-mundurkan pinggulnya ke arah pantat putih si perempuan cabul yang sedang tidur menelungkup diatas lelaki muda yang dia ketahui adalah seorang prajurit muda yang diculik oleh si perempuan cabul tersebut. Dengan sekilas pandang, malaikat sadis tahu bahwa sepertinya si pemuda tersebut berada dalam pengaruh racun perangsang yang aromanya semerbak di dalam kamar sempit tersebut. Sesekali si ketua menjambak dan menarik rambut si perempuan yang rambutnya juga masih terlihat basah, sementara satu tangannya yang lain sesekali tampak menjangkau dan meremas satu buah dadanya yang besar menggantung disertai tawa binal si perempuan. Adapun si pemuda yang berada paling bawah, meski dengan muka merah padam nampak mendengus-dengus seperti kerbau dan sangat bersemangat menghentakkan pinggulnya keatas berulangkali. Perempuan yang terjepit diantara mereka malahan semakin merintih binal lebih keras serta melolong seperti kegirangan dengan kondisi kedua sarung pedangnya depan belakang menerima hujaman dua pedang sekaligus bertubi-tubi. Dengan pandangan dingin dan suara datar, malaikat sadis mengeluarkan suara;
"ketua, persoalan di luar sudah beres hari juga masih terang tanah, kenapa kita tidak segera berangkat melanjutkan perjalanan?"
Dengan santainya si iblis jantan bermuka pucat masih tanpa menghentikan gerakan pinggulnya memalingkan muka dan menyahut;
"gerimis belum reda, toh tujuan kita sudah tidak begitu jauh, bersabarlah penasehat'",....dia menutup suaranya dengan menampar pantat si iblis betina kanan kiri "plakk,..plakk". Yang ditampar barusan malah terkikik cabul bahkan menyahut;
__ADS_1
"kemarilah bergabunglah dengan kami penasehat, aku masih sanggup melayani kalian bertiga sekaligus.....hihihihi"
BERSAMBUNG