
Waseso tertegun di pinggir sesuatu yang menyerupai jalan (lebih tepatnya bekas jalan umum yang sangat jarang di lewati, karena selain kondisi tanahnya lebih keras dan bersih dari tumbuhan liar, namun tidak nampak sedikitpun jejak kaki kuda ataupun bekas kotorannya), dia sedang berpikir arah mana yang akan diambil. Kalau dia memotong jalan ini dan mengambil arah lurus, jelas sekali bahwa dia akan menempuh jalur dunia persilatan, karena daerah di depannya itu merupakan padang rumput dengan beberapa pohon liar yang tumbuh, ada yang besar dan kecil, persis seperti jalan padang rumput dibelakangnya yang barusan dilaluinya, setelah sekitar sepenanakan nasi tadi dia berjalan santai meninggalkan batas luar lautan rawa beracun dan akhirnya sampai ditempat ini. Kalau dia ke kiri atau ke kanan menelusuri jalan ini berarti dia mengambil jalur orang biasa. Masih dengan rasa bimbangnya, dia menoleh ke arah sebuah pohon kapuk liar yang batangnya benar-benar sangat besar, namun semua daunnya rontok dan gundul dan hanya menyisakan dahan-dahan kering. Selain pohonnya besar, ada keanehan yang dilihat oleh Waseso yaitu; bentuk batang tersebut tegak berdiri layaknya pohon kebanyakan, tetapi setelah ketinggian sekitar tiga orang dewasa ditumpuk berdiri, batang tersebut seperti di tekuk belok, ke arah jalan dibelakangnya, lalu seperti di tekuk lagi tegak, ke arah atas dan barulah dahan-dahan lainnya tumbuh rimbun dari sana. Waseso tersenyum sendiri demi ditemukannya sebuah penanda itu. Setelah menarik napas, barulah dengan ringan dia menghadap kanan dan menelusuri bekas jalan tersebut. Menyadari sinar matahari yang menentang langsung kedua matanya dari arah timur laut dan lumayan menyengat kulitnya, segera dia berlari seperti terbang mengalahkan seekor kuda balap yang sedang dipacu.
Entah sudah berapa lama dia berlari seperti itu, namun demi dilihatnya atap yang terbuat anyaman jerami kering sudah dekat di depannya, segera dia melompat naik ke atas pohon dan memilih jalan tempuh dari pucuk pohon satu, ke pucuk lainnya hingga akhirnya dia berhenti agar bisa mengamati secara lebih jelas. Dari pucuk pohon ketapang yang dipakainya bertengger, dia melihat dibawah sana sebelah kanan jalan, ada sekitar delapan rumah kayu yang seperti dibiarkan terbengkalai. Kondisi sekitarnya sangat sunyi dan lengang, bahkan suara hewan peliharaan pun tak di dengarnya sama sekali. Pemandangan ini mengingatkannya dengan kondisi perkampungan desanya yang telah ditinggalkannya dua belas tahun yang lalu. Menyadari bahwa ini hanyalah bekas perkampungan dan tidak ada bukti secuilpun yang menunjukkan adanya kehidupan, segera dia melenting dan sudah hinggap di pucuk atap rumah ke dua dan seterusnya hingga meluncur turun kembali ke jalan dan lari lagi. Tapi,... belum ada tiga kedipan mata, nampak batang hidungnya kembali lari berbalik menuju ke bekas perkampungan tersebut. Terlihat beberapa kali kelebatan tubuhnya keluar masuk setiap rumah, tetapi hingga tiba di rumah terakhir tak ditemukan juga apa yang dicari, barulah dia berhenti dan diam termenung sambil memandang sekelilingnya. Ketika matanya sekilas melihat kelebatan kecil kain di bawah tangga terbawah salah satu rumah, diapun meluncur kesana dan segera memungut kain yang sebagian besar potongannya tertimbun debu tebal. Kain itu adalah kain hitam yang ukurannya cukup lebar, dan ternyata adalah sebuah bendera panji dengan gambar burung gagak dan sebuah tombak bersulam benang putih, yang meskipun sudah buluk dan usang, namun masih terlihat kuat. Setelah dia pungut dan dikibaskan ke udara sebanyak empat kali untuk menghilangkan debu-debunya, barulah kain tersebut dilingkarkan ke pinggangnya dan berhasil menutupi bagian bawah perutnya hingga ke atas kedua lututnya. Setelah dirasanya cukup, barulah dia celingukan mencari sumur dan segera dia mengeluarkan buntalan kainnya untuk mengambil bubuk busa dari dalam buntalan kain tersebut. Sebentar dia melongok ke dalam sumur karena dia tidak menjumpai adanya timba. Pedang Pembelah Langit dan buntalan kainnya, dia letakkan di dekat bibir sumur. Lalu ;
"byuurrrrrr,.......sreggg,...sreggg,...sreggg."
Penulis sangat yakin bahwa si pemuda itu, sekarang sedang mencuci kain di DALAM sumur.
Selepas tengah hari, terlihatlah seorang Pendekar Setengah Waras sedang berjalan santai, menelusuri jalan dan bergerak menjauhi perkampungan tadi. Bagaimana tidak,..... sambil tangan kanannya memasukkan sebatang buah pisang ke mulutnya, tangan kiri menenteng setangkai pisang yang beberapa sisirnya sudah menguning. Hartanya berupa buntalan kain, menggantung di depan dadanya dan sebilah pedang, lengkap dengan sarungnya nampak menempel di punggung belakangnya dan jelas terlihat, bahwa pedang mustika tersebut hanya di ikat pakai potongan kain, yang memiliki corak yang sama, dengan kain yang saat ini melingkari pinggangnya.
Jadi kalau dilihat secara singkatnya; bagian atas telanjang dada, sementara bagian bawah sampai atas lutut pakai rok bekas bendera, menyandang pedang di punggung sambil sepanjang jalan makan pisang. Itulah Pendekar Setengah Waras Tapi Punya Rasa Malu.
Sudah menjelang sore hari. Baru saja Waseso berlalu meninggalkan bekas perkampungan yang telah dua kali ditemuinya hari itu, pendengarannya yang jauh lebih peka dibandingkan orang kebanyakan, seperti mendengar suara perempuan menangis di sebelah kiri jalan di balik kelebatan dan kerimbunan pohon-pohon besar agak jauh disana. Segera dia mengemposkan napasnya dan telah mencapai pucuk pohon nangka, lalu melenting lagi ke depan dan hinggap di pucuk pohon pepaya. Sejenak dia diam menatap ke sebuah bangunan ala kadarnya, karena semua dinding sebelah belakang, kanan dan kiri terbuat dari potongan batang bambu, bagian depan terbuka lebar, sementara atap daruratnya juga terbuat dari potongan bambu dan ditutupi dengan tumpukan sejenis daun tebu. Ketika didengarnya lagi isakan tangis tersebut berasal dari gubuk tersebut, Waseso segera turun dan hinggap di depan gubuk, serta melihat seorang laki-laki tua sedang berbaring lemah seperti orang sakit, di atas balai-balai atau bangku yang cukup dipakai berbaring untuk tiga orang dewasa. Dibawah bangku tersebut, nampak seorang pemuda yang lebih tua dari Waseso sedang duduk di tanah bersandar pada bangku dan menghadap ke arahnya, namun kedua matanya tertutup. Meski baru sekilas melihat, Waseso segera tahu bahwa pemuda itu sedang terkena racun binatang berbisa. Adapun yang terakhir adalah seorang wanita, yang wajahnya tidak terlihat dan sedang bersimpuh di tanah dengan muka dan kedua tangannya di letakkan di bangku, serta sedang sesenggukan meluapkan penderitaannya.
"permisi bu,...bolehkah saya menolongnya ??,...srett,..brett,..."
Si wanita tersebut tentu saja terkejut serta terperanjat lalu duduk tegap, demi mendengar suara Waseso barusan. Baru saja berniat mengumpulkan seluruh nyawanya sebelum menjawab. Sekejap dilihatnya, secepat kedipan mata seseorang telah berjongkok di samping sebelah kiri putranya, lalu disusul suara robekan kain. Seseorang ini seperti sedang melukai sedikit bagian kaki kiri diatas tumit putranya. Kemudian menangkupkan telapak tangannya di bagian paha kiri, lalu secara perlahan seperti mendorong ke arah bawah disertai keluarnya gumpalan darah hitam dari luka yang dibuatnya tadi, hingga saat telapak tangannya telah sampai di atas luka, darah yang keluar telah berubah berwarna normal layaknya darah segar. Seseorang itu kemudian nampak seperti menotok sesuatu diatas luka tadi dan menabur semacam bubuk diatas luka. Setelahnya, seseorang tadi telah berkelebat dan kini telah duduk di samping suaminya yang sedang terbaring, memegang satu tangan suaminya persis diatas pergelangan tangan, lalu meletakkan ke dua tangannya sebentar saja di atas perut lalu tampak suaminya menjadi sadar dan membuka kedua matanya. Seseorang itu, lantas mengeluarkan benda bulat kecil yang ukurannya lebih kecil dari butiran kotoran kambing, lalu menyambar gelas dari tanah liat yang berisi air, memasukkan benda bulat tadi ke dalam gelas, menggoyangkannya sebentar, lantas dengan satu tangannya menegakkan tubuh atas suaminya, lalu meminumkan air gelas tersebut kepada suaminya dan belum ada lima kedipan mata setelah gelas diletakkan kembali:
"duuttttttttt....."
Suaminya yang sudah dua hari ini sakit, bahkan sejak siang tadi diam tak bergerak dan dikiranya telah mati, kini baru saja di dengarnya buang angin. Juga dilihatnya bahwa sang suami, sedang menatap seseorang tersebut sambil berkata: "terimakasih anak muda".
Padahal dia sendiri, sampai semua tadi telah selesai dikerjakan dan diperbuat oleh seseorang itu, sama sekali seperti tidak diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan atau lebih tepatnya, tawaran bantuan yang diajukan oleh seseorang itu ketika dia datang. Bahkan kini putranya sedang dilihatnya telah membuka kedua matanya dan wajahnya juga tidak lagi pucat membiru,......tentu saja hal itu, langsung membuat si perempuan tersebut pingsan dan ambruk seketika.
Sambil menuntun seekor sapi perah betina, dia membayangkan bagaimana hatinya kemarin begitu merasakan bahagia. Bukan karena satu keluarga ini telah dua kali bersujud di depannya, tetapi karena;
SATU. Telah menyelamatkan nyawa putranya yang terkena gigitan mematikan ular berbisa + menyembuhkan penyakit ayah atau suami keluarga ini.
DUA. Karena dia telah mengijinkan mereka ini, yaitu keluarga Sujarna untuk mengikuti pengembaraannya. Keluarga ini, dulunya merupakan termasuk golongan diatasnya keluarga miskin. Namun dikarenakan kondisi negara semakin memburuk demi mengumpulkan uang untuk membiayai perang, tentunya hal tersebut berpengaruh luar biasa terhadap rakyat. Pajak keamanan di naikkan tiga kali lipat, sehingga banyak sekali keluarga yang jatuh melarat, termasuk keluarga ini. Beberapa kota kecil, berangsur menjadi kota miskin dan desa menjadi perkampungan kosong. Hal ini mulai terjadi sejak sembilan tahun yang lalu, satu tahun setelah Waseso diculik.
Harta keluarga mereka secara berangsur habis, demi untuk membiayai dan melindungi satu-satunya putra mereka di berangkatkan perang. Sayangnya, kejatuhan kota kecil dimana mereka tinggal, juga berangsur menjadi kenyataan akibat tidak mampu menggaji prajurit keamanan kota. Demi tidak lagi mendapat perlindungan keamanan, maka mulai masuklah secara bebas gerombolan pemeras dan perampok ke dalam kota. Hingga membuat kota kecil itu mulai ditinggalkan oleh penduduknya yang pergi mengungsi. Beruntung bagi mereka yang memiliki uang berlebih, mereka mampu membiayai ijin pindah ke dalam kota yang lebih besar dan lebih aman. Namun tidak demikian untuk si miskin, mereka harus berjuang sendiri dalam mencari tempat perlindungan yang semakin susah didapat. Demikianlah termasuk keluarga Sujarna ini, telah hidup berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain selama bertahun-tahun dan dikarenakan mereka sudah merasa putus asa, akhirnya mereka memilih tinggal agak tersembunyi, namun juga agak dekat perkampungan yang meskipun sudah tidak berpenghuni, dimana keluarga ini masih bisa memanfaatkan air bersih dari sumur.
__ADS_1
Selain alasan sebagaimana no satu diatas, mereka sekeluarga merasa lebih baik menumpang hidup kepada pemuda ini dengan mengikuti perjalanan pengembaraannya, karena mereka yakin bahwa pemuda ini, adalah salah satu pendekar berilmu tinggi, dibuktikan dia telah menolong nyawa mereka, bahkan juga nampak membawa pedang di punggungnya. Sehingga pastilah, berada di dekat si pemuda mereka sekeluarga akan aman.
Jika mereka tetap tinggal di gubuk, mereka merasa bahwa kejadian sakit atau di gigit ular berbisa atau bahkan gubuk mereka dan juga persembunyian satu-satunya harta mereka yang tersisa ; seekor sapi perah betina,.......nantinya hanya tinggal menunggu waktu untuk ditemukan oleh gerombolan penjahat.
Inilah perasaan bahagia yang dirasakan oleh Waseso, ketika melihat satu keluarga ini saling berangkulan satu sama lain dan menangis bahagia begitu Waseso mengijinkan mereka untuk ikut mengembara bersamanya. Waseso merasa iba, terlebih setelah mendengar penuturan panjang lebar tentang kondisi negara dan rakyat serta pengalaman penderitaan yang dialami oleh keluarga ini selama meninggalkan kota kecil mereka hingga akhirnya dirinya menemukan mereka. Perasaan bahagia inilah yang membuat hati Waseso merasa ketagihan untuk menolong orang lain, yang kecil kemungkinannya bisa membalas budi balik kepadanya.
Sambil berjalan santai, nampak bibir Waseso mengulas senyum geli, ketika saat itu mengingat ekspresi wajah keluarga ini, saat melihat penampilan luarnya. Dan akhirnya dia tidak kuasa menolak pemberian satu pasang kasut dan dua stel pakaian bekas putra mereka Kang Aji, yang salah satunya dipakainya sekarang.
Lamunannya terhenti ketika telinganya mendengar suara dentingan senjata si kejauhan depan sana. Lalu dia berkata;
"kang aji, kemarilah ke depan"
Perkataan ini mengagetkan Pak Sujarna yang duduk diatas pedati reyot yang ditarik oleh sapi mereka, sedangkan istrinya juga segera bangun dari posisinya berbaring di dalam pedati dan duduk mendampingi suaminya. Sementara yang dipanggil nampak segera berlari ke depan dan menemui Waseso.
"ada apakah nak?" demikian pertanyaan dari Bu Sujarna. Dan ketika Waseso melihat raut muka khawatir pada wajah ibu tersebut, dia tersenyum untuk menenangkan hati mereka.
"kang aji sekarang berjalan di depan ya,.. dan tidak perlu buru-buru, saya akan memeriksa keadaan disana"
"baik dik waseso,..."
"sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk mencoba ilmu Membagi Kekuatan"
demikian batin Waseso, demi dilihatnya pemuda berbadan yang lebih besar darinya itu, sudah mulai terlihat kedodoran dalam menghadapi keroyokan langsung, tiga lelaki paruh baya yang semuanya memakai jubah hitam dengan sulaman benang merah bergambar gagak tombak. Tadi Waseso telah membantu pemuda tersebut, dengan cara memberikan instruksi langsung atas gerakan-gerakan jurus yang dimainkan sang pemuda melalui ilmu mengirimkan suara kepadanya. Dampaknya memang langsung terasa, dengan sedikit merubah gerakan jurusnya, si pemuda tersebut nampak kembali diatas angin serta mampu menekan mereka bertiga, hanya saja dikarenakan pemuda itu nampak masih minim pengalaman tempur, apalagi dikeroyok tiga orang sekaligus dan juga yang terutama tenaga dalam si pemuda belum sempurna, maka seperti yang barusan tadi dilihat Waseso, si pemuda nampak mulai kedodoran. Akhirnya dia segera berkata melalui ilmu mengirimkan suaranya:
"sobat,.... segeralah engkau mencari posisi menghadap selatan,....nah benar begitu,...saat aku bilang sekarang, engkau harus melengking sekuatnya dan segeralah melompat mundur tiga langkah dengan taruh tangan kiri di belakangmu dan juga buka telapak tanganmu itu,..."
"sekarang,..." maka dilihatnya si pemuda melakukan yang dimintanya. Lalu lanjutnya;
"buka jalan darah hawa murni di telapak tangan kirimu,.....nah sekarang tahan sebentar"
Tentu saja si pemuda tersebut menurut apa yang dikatakan si pembisik, karena hasil bisikannya selalu memberikan keuntungan buatnya dan dia merasa yakin bahwa si pembisik pastilah seorang pendekar yang ber-ilmu sangat tinggi, bahkan tebakannya; masih melebihi gurunya.
__ADS_1
Dan kini dirasakannya, telapak tangan kirinya terasa panas seperti terbakar sinar matahari namun hanya sekedipan mata. Dari telapak tangan tadi, kini menjalar masuk hawa dingin menyejukkan dan dengan sangat cepat segera bergulung menyatu, dengan pusat hawa murninya sendiri diatas perut. Dampaknya napasnya menjadi demikian ringan, pandangan matanya juga lebih terang dan dia menyadari bahwa tenaga dalamnya telah bertambah dua tingkat. Dia tersadar kembali ketika mendengar bisikan selanjutnya:
"dengan kekuatan seperempat saja, maju dan hantamlah laki-laki paling kiri, karena dia yang terkuat diantara mereka, dan berbarengan salurkan juga tenaga dalammu ke pedang dan sekaligus ayunkan ke arah pinggang laki-laki ditengah,...."
Karena yang diperintah barusan, terlalu bersemangat dengan keadaan yang dirasakanya sekarang, dia malah menyalurkan serangannya kelewat berlebihan, yaitu setengah kekuatan hawa murninya, maka dengan melompat maju dia langsung menyerang;
"hiattttt......"
"blammmmmm,.........pletak......"
Malang bagi laki-laki yang berada paling kiri, sebenarnya dia sudah membaca serangan yang akan dilakukan oleh si pemuda, ketika lawannya itu tiba-tiba melompat mundur dan seperti sedang menghimpun kekuatan terakhir, seperti lawan yang biasanya sedang akan melakukan serangan mengadu jiwa. Makanya dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam ke kedua telapak tangannya dan bertujuan untuk segera menyelesaikan musuhnya yang menurutnya sudah kehabisan tenaga,.... dia pun maju menyambut hantaman satu tangan kiri sang pemuda;
"blammmmmm,......." seketika tubuh laki-laki tersebut hancur berkeping-keping dan pecahannya berhamburan kemana-mana. Adapun laki-laki yang ditengah terhitung beruntung, hanya pedang mustikanya saja yang pecah hancur, meski tak urung seluruh tangan kanannya hingga ke pangkal bahu dirasakan lumpuh. Adapun laki-laki yang paling kanan saat kejadian serangan tersebut, agak sedikit terlambat datang menyerang, meski dia sempat merasakan sambaran angin pedang pada bagian pinggangnya, andai saja dia datang berbarengan serentak dengan kedua kawannya tadi, maka bisa terjadi badannya sudah terbelah dua bagian.
Demi melihat hasil yang terjadi, segera laki-laki yang paling kanan tadi menghentikan pertempuran dan memapah kawannya yang tangan kanannya lumpuh serta dengan cepat membawanya pergi berlari dari tempat itu. Adapun sang pemuda, demi melihat akhir dari serangannya tadi menimbulkan hasil yang sama sekali diluar perkiraannya, hanya berdiri bengong dan baru sadar ketika mendengar suara rintihan di belakang sebelah kirinya dan segera menghampiri seorang biarawati muda yang sedang duduk memunggungi pohon, dimana jubahnya koyak di beberapa bagian terutama pundak dan sedikit perutnya, sehingga tidak bisa menyembunyikan kulit tubuhnya yang terlihat kuning mulus.
Waseso yang juga melihat hasil akhir dari pertempuran tadi mulanya juga terkejut, dan seperti termangu beberapa saat namun kemudian setelahnya, wajahnya berubah menjadi gusar karena pemuda itu tidak menuruti perkataannya, dia merasa sudah mengatakan seperempat tenaga, tetapi mengapa dia malah mengeluarkan setengahnya?
Lalu dia keluar dari persembunyiannya dengan mendongkol dan berjalan menghampiri pemuda yang dilihatnya sedang jongkok memeriksa keadaan seorang biarawati. Saat sudah dekat, pemuda yang dibantunya tadi nampak berdiri lalu berbalik dan menyambut kedatangannya serta mengambil sikap seperti menjura ;
"ka...." sebuah kata yang belum lengkap dikeluarkan Waseso, tetapi tidak dilanjutkannya ketika dia lebih dulu mendengar suara si pemuda itu;
"saudara......terimakasih banyak atas pertolonganmu tadi" si pemuda yang sudah ditolong membuka perkataan.
Adapun yang diajak bicara malah seperti bengong mendengar suara ucapan terimakasihnya dan kini berjalan maju mendekatinya tanpa suara, tetapi bersikap sangat tidak sopan terhadapnya karena bertingkah seperti mengendus sesuatu, yang tentu saja perbuatan ini menjadikannya naik pitam dan bermaksud mendampratnya, namun di urungkannya, demi mendengar:
"bau kuda......apakah betul ini engkau?"
Tentu saja si pemuda sangat terkejut, karena seumur hidupnya hanya ada satu-satunya orang di dunia ini yang memanggilnya demikian;
"si sedeng,...?"
__ADS_1
"benar,....aku si sedeng"
BERSAMBUNG.