
Seorang wanita berusia sembilan belas tahun lebih dengan bentuk wajah lonjong mendekati bulat, berkulit kuning langsat cerah, nampak baru saja keluar dengan dipapah oleh seorang perempuan setengah baya kisaran seusia enam puluh tahunan dari rumah berobat di kota Bantrah. Sebuah kota propinsi yang cukup besar di negara Muderakali. Sepertinya mereka berdua, sebelumnya telah memesan sebuah bendi (kereta kecil yang ditarik oleh kuda) karena si kusir bendi tersebut, segera datang menghampiri dan membantu memapah untuk menaiki bendinya. Setelah perjalanan sekitar lima blok, tibalah mereka di sebuah rumah penginapan yang bentuknya seperti petak-petak, menandakan bahwa itu adalah rumah sewa. Setelah turun dan membayar ongkos bendi, kedua wanita tersebut berjalan masuk ke dalam salah satu petakan. Tidak beberapa lama, si perempuan setengah baya nampak membawa nampan berisi air putih dan memberikan gelasnya kepada yang muda;
"Silahkan di minum nyonya muda,...". Yang dipersilahkan saat itu sedang duduk di tepi pembaringan dan hanya diam saja, sementara tatapannya kosong melihat keluar jendela. Adapun wanita setengah baya, lalu ikut menemani nyonya mudanya serta duduk di satu kursi dan menatap sedih nyonya majikannya tersebut. Membayangkan bagaimana satu tahun setengah yang lalu, majikannya ini masih terhitung pengantin baru Namun selalu ditinggal pergi oleh suaminya yang katanya adalah seorang saudagar. Pergi dua sampai tiga minggu dan pulang paling lama tiga hari. Dia juga tahu persis bagaimana nasib malang yang dialami majikannya tersebut, karena hanya dia satu-satunya orang yang selalu melayani bahkan menjadi teman curahan hati, termasuk menemani keluar masuk rumah pengobatan. Akibat penyakit pendarahan majikannya kambuh, sang majikan ini pernah mengalami keguguran kandungan setahun yang lalu. Dan semenjak kegugurannya, sang suami malahan tidak pernah lagi pulang. Bahkan enam bulan yang lalu, datang seorang kurir yang mengantarkan surat, yang isinya memberitahukan bahwa sang suami telah meninggal, tanpa sedikitpun diterangkan sebab musabab, serta dimana tempat meninggalnya. Pada bagian terakhir isi surat itu hanya disebutkan bahwa nyonya mudanya itu, dinyatakan sebagai janda dan berhak mendapatkan hak waris sebuah rumah yang juga sekaligus sebagai rumah usaha.
Suatu kali setelah itu, saat dia menemani nyonya nya pergi berbelanja kain, untuk kebutuhan majikannya yang memang gemar membuat dan menjahit pakaian, mereka melihat salah satu jenis kain yang kata nyonyanya adalah merupakan jenis dan bahan yang biasa di jual oleh suaminya ke kota-kota dan saat itu sedang diturunkan dari kereta kuda ekspedisi, ke toko kain yang mereka datangi. Sang nyonya lalu menanyakan perihal asal muasal pengirimannya dan setelah pemimpin ekspedisi melihat buku catatannya dan menyebut nama pengirimnya adalah benar atas nama suaminya, tentu saja sang nyonya kaget. Sesampainya di rumah sang nyonya segera pingsan, seolah tidak mempercayai apa yang di dengarnya dan membuat penyakit pendarahannya kambuh. Dan semenjak itu, sang nyonya sering keluar masuk rumah pengobatan bahkan pergi mencari tabib-tabib hingga ke luar kota namun hasilnya tidak ada. Suatu ketika kakak seperguruan sang nyonya berkunjung dan akhirnya majikannya memintanya untuk mencarikan orang upahan, yang bersedia mencari tahu kebenaran jejak suaminya yang dikabarkan sudah mati. Dan sebulan kemudian datanglah dua orang pendekar datang ke rumahnya atas pemberitahuan kakak seperguruannya tadi, namun dikatakan biayanya sangat mahal karena letak kota yang di sebutkan jauh berada di sebelah barat kotaraja. Namun sang nyonya menyanggupinya dan langsung membayar separuh dari angka yang disebutkan, adapun sisanya akan dilunasi sekembalinya mereka membawa berita. Tiga bulan yang lalu, dua pendekar tadi datang kembali dan memberikan kabar yang mengejutkan, bahwa ternyata sang suami memang belum meninggal dan telah kawin lagi dan keberadaanya benar sesuai dengan nama kota yang disebutkan oleh sang nyonya saat penugasan mereka. Bahkan juga, nyonyanya menerima bukti tanda gelang pemgenal yang tercantum nama suaminya. Setelah kepergian dua pendekar upahan tadi, yang juga telah menerima sisa biaya pelunasan mereka, sang nyonya kembali pingsan dan penyakitnya kambuh lagi.
Dua bulan lalu, datanglah pemilik rumah gadai dan mengatakan bahwa dia datang untuk menagih hutang-hutang sang nyonya, yang memang dilakukan oleh sang nyonya demi untuk membiayai semua biaya hidup, biaya pengobatan yang sangat banyak, serta membayar upah dua orang pelacak. Majikannya pun meminta kelonggaran waktu.
Namun sebulan kemudian, sang nyonya dipaksa pergi dan mengosongkan rumahnya yang disita secara paksa dan akhirnya sang nyonya tinggal di rumah penginapan petakan ini.
Demi dilihatnya sang majikan sedang menghela napas, maka wanita paruh baya tadi secepatnya kembali mengulurkan segelas air tadi ke dalam genggaman sang nyonya. Setelah meminumnya sang nyonya lalu berkata;
"bude,...hari ini kita berpisah ya,...dan ini ada uang gaji bude beserta sedikit tambahan sebagai tanda ucapan terimakasih dari saya" sang nyonya juga sekaligus mengambil kantong kain yang berisi uang dan mengulurkannya ke gengaman sang bude atau pembantunya yang setia itu. Sang pembantu nampak tidak kuasa menahan air matanya, dan agak lama dia menatap nyonya mudanya yang meskipun badan dan wajahnya terlihat kurus akibat sakit yang diderita, namun masih tetap menunjukkan kecantikannya.
__ADS_1
Lalu dia berkata :
" nyonya Ni Luh hendak kemana?"
"saya harus pergi untuk membuktikan dengan mata kepala saya sendiri"
"tapi bagaimana dengan kondisi nyonya?"
Mendengar jawaban tersebut si wanita setengah baya hanya bisa memandang iba kepada nyonya mudanya.
Maka demikianlah, walau dalam keadaan sakit, Ni Luh melakukan perjalanan yang sangat panjang. Semua uangnya yang tersisa, dibelikannya kuda dan digunakan untuk semua biaya pengeluaran selama di jalan. Perjalanan yang begitu berat dan melelahkan selama satu bulan, namun akhirnya membuahkan hasil. Kota dimaksud ditemukannya, termasuk suaminya yang telah mati dilihatnya sedang melayani pelanggan mereka dibantu oleh istri barunya yang meski tidak secantik dirinya namun tidak penyakitan, serta dua pembantu mereka. Saat itulah dia berharap langit runtuh dan menimpa dirinya,....dengan membawa luka hati yang teramat dalam, Ni Luh pergi dari sana dan pergi tanpa tujuan. Kudanya juga pergi entah kemana. Pada saat dia berada di suatu tepi jurang dan sedang berpikir untuk mengakhiri hidupnya, dia di totok dan diringkus oleh penjahat yang memang sudah mengikutinya sejak dari dalam kota, karena penjahat tersebut sangat terpesona dengan kecantikan calon korbannya itu. Masih untung baginya, seorang padri wanita yang sakti menolongnya dan merebutnya dari penjahat yang rupanya adalah salah satu anggota partai gagak tombak. Akhirnya setelah beberapa bulan Ni Luh tinggal di biara pengasingan, dia pun memutuskan untuk menjadi biarawati dan menggundul kepalanya, meski sebenarnya tidak mendapat restu sang padri.
Namun malang baginya, sehari kemudian penjahat yang dulu dikalahkan oleh sang padri wanita, menemukan biara mereka. Dengan dibantu oleh empat orang temannya, yang ilmunya lebih tinggi darinya, akhirnya mereka mengeroyok dan membunuh sang padri beserta murid-murid lainnya, meski dua orang temannya juga ikut tewas akibat kelihaian sang padri.
__ADS_1
Adapun Ni Luh mereka culik dan dibawa untuk dijadikan persembahan buat pemimpin mereka. Agar tidak menarik perhatian, kedua orang penjahat sengaja masuk ke kota untuk membeli dan mengganti pakaian korbannya, sementara yang satunya menunggu dan menjaga korbannya. Namun kegiatan mereka berdua, malah ternyata mengundang kecurigaan Kinda, hingga akhirnya diselamatkan.
Sebenarnya Ni Luh sudah benar-benar merasa tidak ingin hidup lagi dan seolah tidak peduli dengan keadaanya yang telah ditolong. Namun pada suatu kesempatan, saat dia hanya tinggal berdua dengan Kinda dan terpancing dengan perhatian serta ketulusan yang diberikan oleh Kinda, maka diapun menuturkan kisah perjalanan hidupnya kepada Kinda. Dan yang membuat dirinya terharu, adalah Kinda begitu polos menunjukkan rasa ibanya dan langsung menangis sesenggukan serta mendekapnya erat serta memanggilnya kakak. Hal inilah yang membuat hatinya tersentuh dan langsung mencintai Kinda serta memintanya untuk tetap memanggilnya kakak. Karena bagi Ni Luh dengan panggilan itu, dia merasa seperti memiliki seorang adik perempuan, demi menyadari dirinya juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.
Ni Luh akhirnya juga tidak keberatan dan mengijinkan adiknya itu untuk menceritakan jenis penyakitnya kepada Waseso. Dan hasilnya, setelah dia meminum ramuan obat yang diberikan oleh Waseao, tubuhnya menunjukkan adanya perubahan kesembuhan yang lebih baik. Apalagi sesekali Waseso membantu melawan penyakitnya itu dengan cara menyalurkan hawa murni melalui punggung belakangnya, meski Waseso secara jujur mengatakan bahwa ramuan obat serta penanganan melalui hawa murni sifatnya hanya sekedar untuk meredam.
Namun bagi Ni Luh yang dirasakannya kini, adalah jauh lebih baik. Tergores nya hati Ni Luh terhadap Waseso, bukan dikarenakan faktor penampilan atau wajah Waseso, namun dia tergores oleh kebaikan dan ketulusan yang ditunjukkan oleh Waseso semata. Bagaimana dia mendengar cerita bude Surjana tentang awal perkenalan mereka sekeluarga, juga asal muasal mereka bisa ikut menemani perjalanan si pemuda, bagaimana cara Waseso menangani peesoalan dengan Kestri yang menurutnya itu adalah sikap selayaknya seorang pria sejati tidak seperti watak suaminya yang telah mati. Ditambah lagi,.... yang terutama,... dia menyaksikan langsung kemurahan hati Waseso kepada pengungsi tambahan, meski dengan kejutannya yang unik dan sempat membuatnya ketakutan hingga menangis memohon.
Namun demikian, rasa yang dia miliki terhadap Waseso itu, bukanlah suatu rasa yang menuntut adanya kepemilikan ataupun keinginan untuk dibalas dengan rasa yang sama,.... Tidak.
Karena dia sadar sepenuhnya siapa diriinya dan justru dia sangat berharap, agar nantinya Waseso bisa menjadi pendamping adiknya. Itulah perasaan tulus Ni Luh bagi Kinda adiknya dan Waseso. Memang sungguh rumit hati wanita ini.
BERSAMBUNG.
__ADS_1