Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB 27 - NASEHAT KAKAK


__ADS_3

Werni yang sedang duduk di dapur umum, sambil menunggu nasinya tanak, sesekali melihat ke arah luar sana dimana Laksita, Ni Luh, Shinta, si kembar Midya dan Widya sedang berkumpul bersama Kinda, Wulan, dan Sari si gadis malang yang kemarin hampir mati bunuh diri. Werni, Ni Luh, Shinta dan si kembar, memang telah merencanakan untuk menyempatkan waktu bisa memberi penghiburan terutama kepada Wulan dan Sari. Adapun Kinda memang tidak terlalu terpukul, karena dia sudah menceritakan bagaimana watak kedua penjahat tersebut, termasuk tabiat jahat orang tua mereka (bagian dimana kedua kakaknya menjahili Waseso lupa diceritakannya). Hanya saja, dia tidak pernah menyangka, kalau kakak-adik, ternyata bisa berlaku sejahat itu. Dan pagi ini, Kinda sudah bisa merasa lebih tenang.


Shanti, juga si kembar, Wulan dan Sari begitu hanyut dan terharu mendengar masa lalu kelam dan penderitaan yang dialami Ni Luh, yang baru kali ini mereka dengarkan ;


"......oleh karena itu, janganlah kalian merasa putus asa atau merasa sudah tidak berguna lagi,..." Ni Luh berhenti sebentar untuk menyeka pipinya yang basah.


Lanjutnya ;


"percayalah bahwa Sang Khalik akan menuntun kalian.  Dulu,... seujung kukupun, aku tidak pernah menyangka akan di tolong adik Kinda, kemudian dipertemukan dengan kak Waseso (sampai dibagian ini, Kinda memperhatikan kedua mata Ni Luh bersinar lembut, sebagai seorang gadis, dia bisa menterjemahkan maknanya, namun demikian Kinda tidak merasakan cemburu sedikitpun), serta adik Laksita,...yang akhirnya membawa kepada kesembuhanku yang menurutku begitu ajaib,...(Laksita dan Kinda bergantian mencium kedua pipi Ni Luh),


Cobalah untuk melihat hikmah dari cobaan yang sedang kalian alami"


"untuk adik Wulan, kamu mesti bersyukur, karena kamu mengetahuinya sekarang dan belum terlambat.


Untuk adik Sari, aku tahu bagaimana perasaanmu, tetapi setidaknya perbuatan keji yang dilakukan oleh binatang itu, tidak akan membuatmu berada dalam posisi yang jauh lebih sulit lagi, benarkan adik Laksita ?"


"iya benar,.."


Yang ditanya segera menjawab, karena Laksita lah yang berhasil mengorek kejadian detil, dimana Sari menceritakan bahwa saat kejadian laknat itu terjadi, dirinya sedang dalam period bulanannya.


Lalu Ni Luh melanjutkan ;


"selain itu, aku percaya bahwa satu saat nanti, engkau akan dipertemukan dengan laki-laki sejati, yang tidak akan menilaimu hanya dari keperawanan semata.  Dulu aku merasa tidak berguna dan menderita, tetapi sekarang? Lihatlah sekeliling kita,...(saat itu memang terlihat kesibukan beberapa warga asli, yang sedang menyambut kedatangan pengungsi lain ke desa mereka)..... karena kalian akan merasakan sebagaimana yang aku rasakan, bahwa ternyata masih banyak orang, yang jauh lebih menderita dibandingkan aku,.... dan sekarang? aku merasa sebagai wanita yang beruntung dan paling berbahagia, karena walaupun kecil, tapi setidaknya yang kulakukan bisa berguna bagi mereka-mereka,.. Dulu aku putus asa bahkan melebihi kalian berdua, tetapi kini, aku merasa sangat bersyukur berada diantara para pendekar sejati" demikian Ni Luh menutup pembicaraannya sambil menyentuh pipi Kinda, serta menganggukkan kepalanya tanda hormat secara berurutan kepada Laksita, Shinta, si kembar dan,.... Wulan. Yang terakhir menubruk Ni Luh sambil sesenggukan.


Sementara, Sari sambil menangis juga memeluk Laksita, Kinda dan si kembar bergantian sambil mengucapkan terimakasih.


Setelah suasana haru mereda, sambil mengusap ke dua pipinya Sari berkata ;


"apakah kak Waseso adalah pemuda berpakaian aneh itu,.." tanya Sari sambil menunjuk kesebuah tempat agak jauh pinggir sawah sana, ke arah  seorang laki-laki yang memakai celana komprang, juga kain seperti sarung melilit pinggangnya dan terlihat sedang mencoba menaikkan layang-layang yang berukuran besar, serta berekor panjang. Dan laki-laki tersebut, juga sedang dirubung oleh banyak bocah-bocah cilik yang mengitarinya.


Spontan semua gadis melihat ke arah yang dimaksud dan ;


"hihihihihihi,....."


Mereka tertawa bersamaan, melihat tingkah kekanakan si pemuda.


"benar,...dia lah yang telah menyelamatkan nyawamu" kali ini Midya yang berkata, seperti berbisik.


"dia juga yang merubah kami menjadi lebih baik" Widya juga turut berbisik. (Kinda juga melihat tatapan lembut yang keluar dari kedua mata si kembar, dia juga tidak merasakan cemburu).


"yaa,...dia juga mengajariku bagaimana semestinya kita hidup berdampingan" Shinta juga menggumam (Kinda kembali melihat tatapan yang sama, dan dia juga tidak merasakan api cemburu).


Ketika mereka semua melihat, bahwa layang-layang itu sudah mulai terbang di udara, serentak semua gadis berteriak gembira sambil bertepuk-tangan,


"horeeeeee......"


berbarengan juga dengan terdengarnya terikan gembira bocah-bocah disana.

__ADS_1


Tentu saja suara teriakan mereka, menarik perhatian semua orang yang berada disekitar tempat itu, bahkan termasuk ibu-ibu dan Werni yang berada di dalam dapur umum juga ikut pergi keluar dan melihat ke arah sumber perhatian,....sekalian mereka juga ikut berteriak gembira dan bertepuk tangan.


Sungguh sore hari yang menyenangkan, seolah melupakan bahwa saat ini mereka masih berada dalam situasi peperangan.


Kejadian terkuaknya penyebab teror perkosaan bahkan berhasil dibunuhnya kedua penjahat keji, tentunya menjadi berkah tersendiri bagi kang Daruna, (yang sebelumnya telah menerima pesan dari anak buahnya, bahwa semua nona pendekar meminta untuk merahasiakan keterlibatan mereka dalam terungkapnya kasus) dia yang dianggap sebagai pimpinan pendekar, diundang ke kota untuk menerima penghargaan yang akan diserahkan secara langsung oleh kepala pejabat kota Watureng. atas keberhasilannya mengungkap dan membunuh penjahat keji, padahal baru beberapa hari saja semenjak kedatangan kang Daruna menawarkan jasa bantuan pengamanan kepada mereka. Tentu saja undangan tersebut diterimanya dengan sepenuh kesenangan hati. Dan semenjak itulah, kang Daruna terlena pada pergaulannya dengan para pejabat dan petinggi kota.


Malam ini, setelah selesai makan malam. Waseso sedang duduk diluar sendirian dan sekitarnya juga tidak ada orang. Dia sedang melamunkan, perihal keadaan dirinya yang telah tertular kakek harimau sakti. Kesadaran tersebut, baru diketahuinya, setelah dahulu pertama kalinya sehabis memberikan tenaga dalamnya kepada Kinda, adalah kali pertama juga, dia bisa merasakan seperti bangun tidur.


Padahal, tidurnya hanya sekitar lima menit saja.


Oleh karena itulah, dia melanjutkan perbuatannya tersebut hingga menyalurkan juga ke Ni Luh, Laksita, kang Daruna dan isterinya sekalian.


Dan akibatnya saat ini, karena Waseso mencatatnya, bahwa dia sudah bisa jatuh tertidur selama tiga puluh menit.


Selama di pulau, semenjak menelan benda mustika itu, dia memang tidak menyadari hal tidak pernah tidur, tidak pernah merasa kantuk dan bahkan tidak merasakan letih ataupun lelah. Dan dia tidak menyadari, bahwa akibat kondisi tersebut juga menyebabkan perubahan warna pada rambutnya yang mulai putih dibeberapa titik serta raut muka yang tegang penuh kewaspadaan, mengarah ke wajah penuaan. Inilah yang dilihat oleh Kinda saat pertama kali bertemu dulu sehingga kenapa dia memberikan nilai maksimal 6+ dari wajah ai pemuda.


Niat baik menuai hasil yang baik. Ya, itulah yang terjadi terhadap Waseso. Kebaikan yang dia perbuat, ternyata berdampak baik untuknya, sehingga tanpa disengaja dia kembali menjadi lebih normal, yaitu bisa tertidur dan mengendorkan syaraf kewaspadaannya. Dimana hal ini juga berdampak langsung untuk menghambat pemutihan rambut serta penuaan wajahnya.


"Kak Waseso,..."


Didengarnya suara Kinda menyapa dirinya, lalu dia menoleh dan melihat semua gadis turut bersama Kinda, bahkan dilihatnya juga Sari.


Karena si pemuda melihat, bahwa Shinta beserta si kembar menunjukkan ekspresi kegelisahan, apalagi tidak biasanya Kinda memanggilnya namun tidak melanjutkan kalimatnya,...pasti ada hal serius, demikian dia membatin.


"Ya ?,.....ayo duduk"


Lalu semua gadis mengambil kursi dan meletakkan sedemikian rupa membentuk persegi empat panjang, dimana si pemuda duduk sendiri disini, sementara Shinta juga duduk sendiri di ujung sana, dengan Midya disebelah kanannya dan Widya di kiri.


"tadi kak Shinta mengajak kami semua, untuk bertemu kak Waseso, karena ada hal penting yang mau dia sampaikan bersama kakak kembar sekalian"


Melihat Waseso mengangguk, Midya kemudian berdiri dan disusul adiknya.


Midya, sambil melirik ke arah Shinta dan mendapat anggukkan kepala, berkata ;


"kami ingin menyampaikan kebenaran perihal diri kami semua"


Kini giliran Widya yang berkata:


"kami kakak beradik, adalah dua orang diantara lima belas ksatria naga emas"


"ahhhhh,..."


Yang mengeluarkan suara terkejut, adalah mereka yang  mengenal julukan yang barusan disebut, adalah mereka yang sudah berkecimpung cukup lama dengan dunia persilatan, seperti Werni, Kinda, Wulan dan Laksita. Karena lima belas ksatria naga emas adalah merupakan lima belas orang pendekar khusus pelindung kaisar Kamundrajagat, penguasa negeri Muderakali. Kinda membisik sesuatu kepada Waseso dan si pemuda langsung berdiri dan menjura hormat ke arah si kembar, yang lain juga turut mengikuti perbuatan si pemuda. Namun, jelas sekali bahwa si kembar nampak menunjukkan rasa kikuk dan seperti malu mendapat perlakuan demikian.


Kini Shinta berdiri dan berkata;


"sementara,.....saya adalah kamundriashinta, puteri kaisar,.."

__ADS_1


Namun dengan suara panik dan bergetar, menahan tangis dia segera melanjutkan ;


"kalau kalian berlaku seperti itu, aku akan membenci kalian semuanya,...."


Karena setelah selesai menyampaikan perkataan pertama, Shinta melihat reaksi keterkejutan Kinda sekalian dan bahkan dilihatnya, Waseso juga hendak berdiri memberi hormat padanya, makanya dia melanjutkan perkataannya yang kedua.


Setelah dilihatnya yang lain membatalkan niatnya, Shinta tersenyum dan mulai duduk, di ikuti oleh si kembar. Setelah menarik napas dan menenangkan hatinya, Shinta melanjutkan ;


"kami telah pergi keluar dari


istana sejak empat bulan lalu, karena mendapat perintah langsung dan bersifat rahasia dari ayahanda kaisar, untuk mencari tahu keadaan negeri muderakali yang sesungguhnya,...."


Sampai disini dia berhenti sebentar untuk mengambil napas, tetapi suara yang keluar tetap bergetar ;


"pada waktu itu, kami telah mendengar adanya beberapa pendekar yang melakukan pertolongan kepada para rakyat pengungsi,...makanya kami ingin bergabung dan,...."


Shinta berhenti, karena mulai menahan isak. Setelah tenang dia melanjutkan ;


"dan sekaligus untuk menyelidiki kebenaran informasi bahwa,... katanya ada tiga orang asing yang bukan bangsa kami, ada di rombongan tersebut,..."


Sampai disini kedua mata si kembar juga telah sembab.


Kali ini, Shinta tidak bisa menahan air matanya yang mengucur deras,....sambil dirinya mengangguk malu kepada Waseso dan Kinda (yang memang adalah bangsa Gunumlatar) serta ke arah Laksita (orang asing dari bangsa Tartar).


Adapun bertiga yang dimaksud nampak saling tatap dan memahami, namun mereka diam tidak bereaksi dan menunggu perkataan Shinta selanjutnya. Dan benar, dia melanjutkannya kemudian :


"tetapi setelah melihat dengan mata kepala kami sendiri, bahwa kalian semua ternyata melakukan semua hal tersebut dengan hati begitu tulus terhadap rakyat bangsa kami,....kami sungguh benar-benar merasa malu,...oleh karena itu, kami memohon maaf"


Sampai disini, Shinta tersungkur dengan kepala menyentuh tanah, juga di ikuti oleh Midya dan Widya, sambil ketiganya bertangisan.


Tentu saja, Kinda, Laksita dan Waseso dibuat panik dengan kondisi tersebut, mana bisa mereka yang jelas-jelas rakyat jelata malah menerima sujud dari tiga orang bagsawan, bahkan yang satu adalah berdarah biru, puteri Kaisar ?!


Kinda dan Laksita langsung membangunkan dan memeluk mereka bertiga, sambil berkata panik disertai tangis ;


"kakak sekalian, tidak boleh begitu,..tidak boleh begitu"


Mendengar panggilan Kinda dan Laksita yang tetap memanggil mereka "kakak" dan bisa disimpulkan bahwa permintaan maaf diterima, tentunya membuat ketiganya merasa lega dan membalas pelukan mereka berdua, bahkan Shinta kemudian mencium pipi Kinda dan Laksita bergantian ;


"terimakasih adik Kinda,... terimakasih adik Laksita,..."


Ni Luh, Werni, Wulan serta Sari yang dari tadi juga terlihat menangis, kini mulai bisa tersenyum bahagia dan saling berpegangan tangan demi melihat mereka semua.


Akhirnya setelah reda, dimana kini terlihat Kinda dan Laksita duduk mengapit Shinta di bangkunya,.... Waseso yang memang merasa ditunggu, mulai menyampaikan pendapatnya ;


"tu,...(dia hampir kelepasan menyebut tuan puteri, tetapi diurungkan)....ee...adik Shinta, adik Midya dan adik Widya,...perihal kenyataan kami adalah orang asing di negeri ini, hal itu adalah benar semata,...jadi kenapa kami harus perlu menerima maaf ? Keadaan lah yang memaksakan semua orang saling menaruh curiga. Jadi kami sama sekali tidak merasa tersinggung (sampai disini Kinda dan Laksita nampak manja memeluk Shinta),..... Justru saya pribadi, malah demikian menaruh hormat kepada kalian bertiga sekalian, karena telah mengambil pilihan untuk turun tangan membantu dan menolong rakyat kecil tersebut, padahal adalah sah-sah saja bagi kalian bertiga untuk melanjutkan perjalanan penyelidikan, tetapi nyatanya ? Hati nurani kalian bertiga, telah menunjukkan siapa sebenarnya jati diri kalian. (Kedua mata Waseso menyorotkan sinar mata kelembutan kepada Shinta, Midya dan Widya....Kinda yang melihat arti tatapan mata Waseso juga tidak merasa cemburu).


Dan aku bangga terhadap kalian semua" Waseso menutup kalimatnya dengan tersenyum lebar, sambil menatap kesemua gadis.

__ADS_1


Demikianlah, sikap kerendahan hati dan keberanian untuk berlaku jujur dari Shinta, Midya dan Widya, justru membuat mereka memperoleh perlakuan yang lebih hangat dari semua gadis, sehingga mereka merasa sebagai satu keluarga yang teramat sangat dekat.


BERSAMBUNG.


__ADS_2