
Keempat gadis berjalan mendekat ke arah mereka yang sedang berkumpul. Wulan baru akan membuka bibirnya untuk bertanya, tapi tidak dilanjutkan karena melihat Laksita menempelkan telunjuknya di depan bibir.
Beberapa saat kemudian, nampak si gadis kurus sedang berjalan pelan, keluar dari gubuk dengan memakai baju putih bersih milik Shinta. Wajah yang tadinya pucat pasi, sekarang terlihat segar dan menyiratkan semburat merah pada kedua pipinya, memperjelas raut wajah yang demikian cantik mempesona. Tentu saja, Malaikat Sadis dibuat ternganga dan segera berlari sambil menangis untuk menyambut puterinya yang tersenyum padanya,... Tetapi sebelum sampai, dia berbalik kembali ke hadapan si pemuda sekalian dan,.. dia langsung tersungkur sampai jidatnya menyentuh tanah dan mengucapkan terimakasih berulang-ulang. Setelahnya, barulah dia berlari memeluk puterinya dengan linangan air mata membasahi pipinya yang telah keriput. Tentu saja, Malaikat Sadis merasa bahagia dan bersyukur seolah memperoleh keajaiban pada usianya yang sudah tua,... satu-satunya orang yang selama ini paling disayangi melebihi dirinya sendiri, dilihatnya tersenyum untuk pertama kalinya.
Rasa bahagia tak terhingga, juga dirasakan oleh semua gadis yang juga menitikkan air mata haru dan langsung berpelukan demi melihat pemandangan mengharukan tersebut. Tentu saja Waseso sekalian langsung menyukai gadis welas asih itu, terutama semenjak dia mengajukan syarat luar biasanya kepada ayahnya tadi, hanya orang yang memiliki hati mulia yang bisa melakukannya.
Saat emosi haru yang menyelimuti mulai berangsur surut, mereka di kejutkan dengan suara seperti gemericik logam beradu dan empat tapak kaki berlari mendekat. Ternyata, disamping kanan Malaikat Sadis, telah berdiri dua orang lelaki paruh baya berpakaian seragam jubah hitam, bersulam benang emas. Yang berdiri paling depan memiliki wajah seram, namun mukanya begitu bersih dan licin. Hampir semua bagian tubuh luar yang lazim diberi pemanis perhiasan, seperti; leher, pergelangan tangan, jari manis,...dikalahkan oleh lelaki ini. Karena lehernya dikalungi oleh rantai besar emas berkilau dan tiga rantai sedang, juga terbuat dari emas. Seluruh ruas jari, termasuk dua jempol diberi cincin emas berukuran besar. Kedua daun telinga juga dipasangi bukan anting, tetapi lebih tepatnya, gelang tangan emas yang digantungkan di kedua daun telinga kanan-kiri. Kedua pergelangan tangan juga demikian, masing-masing ada tiga gelang berukuran besar, berwarna kuning berkilau melingkari kedua pergelangannya kanan-kiri. Bahkan diatas kedua mata kaki sebelum betis, juga melingkar seperti ular, rantai besar terbuat dari emas.
"inilah perhiasan emas memakai orang, bukannya orang memakai perhiasan emas" demikian Shinta membatin.
Sementara lelaki kedua, meski sama berpakaian jubah hitam bersulam benang emas, wajah dan penampilannya biasa saja dan bertolak belakang dengan yang pertama. Bahkan dia berdiri agak menjaga jarak dan bersikap santun terhadap ayah-puteri.
Keduanya tampak memberi hormat kepada Malaikat Sadis beserta puterinya, setelahnya lelaki pertama berujar :
"salam hormat kami untuk ketua dan tuan puteri"
Selesai berkata, dia melirik acuh kepada Waseso sekalian yang berdiri berkelompok disebelah sana. Lalu setelah menatap wajah ketuanya yang masih terlihat basah, dia melanjutkan perkataannya ;
"apakah ketua sehabis menangis?"
Tetapi Malaikat Sadis, sepertinya tidak mau berbasa-basi karena dia langsung berkata ;
"wertadilaga,...aku memintamu untuk membubarkan partai gagak tombak"
"ketua,.."
"ketua,.."
Kedua orang tersebut berteriak kaget, terutama yang memakai perhiasan, wajahnya juga langsung memerah dan berkata ;
"ketua, tanpa angin ataupun hujan,..." sampai disini, dia tidak melanjutkan bicaranya dan malah melangkah membelakangi Malaikat Sadis dan menghadap ke arah Waseso sekalian, serta berkata pelan menunjukkan kegeraman :
"pasti tangisan ketua kami ada sangkut pautnya dengan kalian,.."
"wertadilaga,.."
Perkataan ketuanya tidak digubrisnya, malahan kini dengan gaya pongah melanjutkan ucapannya ;
"katakan padaku,.."
"wertadilaga,.."
"siapa kalian semua, sebelum kubuat ka,....aaaarrgghhhhhb" kalimatnya tidak bisa dilanjutkan, karena pedang Malaikat Sadis telah menusuknya dari punggung dan tembus ke dada,... dengan mata melotot dan tidak sempat lagi kelojotan, mantan panglima gagak tombak yang terkenal sangat cerdik dan sangat berpengaruh itupun ambruk ke tanah.
Kejadian barusan sungguh diluar dugaan, tetapi Shinta sekalian bisa memahami kemarahan Malaikat Sadis, yang tadi seperti diabaikan wakil ketuanya. Selain itu, mereka menaruh hormat kepada ayah gadis itu yang sungguh melakukan apa yang telah dijanjikannya.
"kertabarata, segera urus mayatnya dan tunggu perintahku" demikian Malaikat Sadis memberikan perintah kepada lelaki satunya, yang tadi juga dibuat keder oleh tindakan ketua mereka.
Secepat kilat dia membawa mayat rekannya wakil ketua satu ke bawah pohon beringin sebelah kiri sana, melolosi semua perhiasan yang dipakai, lalu memasukkannya ke dalam kantong kain dari saku jubahnya, kemudian menguburkan temannya. Selama dia mulai membawa rekannya tadi, Malaikat Sadis berbicara kepada puterinya, tetapi sebenarnya lebih tepat ke dirinya sendiri ;
"kira-kira siapa yang bisa mengerjakan perintahku ya,..."
Namun puterinya menyahut ;
"tentunya kepada orang yang masih punya hati nurani"
"tapi siapa? engkau tahu sendiri sudah sepuluh tahun lamanya aku tidak pernah berkecimpung dengan urusan partai, lagipula sulit mengenali orang dengan ciri-ciri yang engkau sebutkan"
"sangat mudah,.. ayah bisa memulainya dari anak buah ayah yang memiliki keluarga, pastilah dia mempunyai hati nurani dan rasa tanggung jawab"
Shinta dan semua gadis, saling berpandangan memuji kecerdasan gadis tersebut.
"mana ada orang yang berkeluarga di dalam partai hitam sem,...." Malaikat Sadis menghentikan ucapannya dan menoleh ke arah laki-laki yang saat ini sedang menutup lubang dengan tanah. Setelah dilihatnya yang beraangkutan menyelesaikan pekerjaannya, dia memanggil ;
__ADS_1
"kertabarata,....kemarilah"
"ada perintah ketua?" yang dipanggil segera menyahut sesampainya di depan Malaikat Sadis. Dan dia juga mengulurkan kantong kain, yang berisi semua perhiasan mendiang Wertadilaga.
Malaikat Sadis menolaknya dan membatin kejujuran Kertabarata, lalu katanya ;
"nanti kumpulkan bersama harta partai,....sekarang aku bertanya padamu dan katakan padaku dengan jujur, mengapa engkau selalu pergi ke kota wediwesi bahkan sampai berhari-hari?"
Yang ditanya mendadak gemetar dan segera tersungkur ke tanah sambil meminta ampun ;
"ampunkan hamba ketua,... hamba,...hamba menengok anak istri,..." ujar Kertabarata tidak berani bohong.
"ahahahaha,..."
Sejak dia bergabung sangat lama dengan partai gagak tombak, bahkan saat itu ketuanya ini masih sebagai penasehat partai, belum pernah sekalipun dia melihat sang ketuanya ini apalagi tertawa, senyum saja tidak pernah. Oleh karenanya, dia semakin ketakutan, bahkan menempelkan dahinya ke tanah;
"ampunkan hamba ketua"
"rupanya setelah berkeluarga itulah, kudengar dari wertadilaga engkau tidak lagi berlaku kejam seperti dulu?"
Yang ditanya tidak berani menjawab, karena memang begitulah yang sebenarnya. Semenjak dia bertemu dan jatuh cinta dengan istrinya, dia terbawa oleh watak istrinya yang welas asih, apalagi saat dia mempunyai anak. Karenanya, Kertabarata sering mendapat sindiran bahkan ejekan dari wakil ketuanya, namun tidak pernah digubrisnya. Dia memang lebih memilih untuk mengerjakan administrasi partai, apalagi ketua mereka dan wertadilaga, mengenalnya sebagai orang yang jujur terhadap pengelolaan keuangan partai.
"bangkitlah dan terimalah ini"
Kertabarata bangkit berdiri menunjukkan kebingungan, sambil menerima satu-satunya cincin pengenal tanda kuasa, milik ketua partai gagak tombak.
"mulai sekarang, engkau lakukan apa yang tadi aku perintahkan,.. bubarkan partai gagak tombak, apakah engkau sanggup?"
"tetapi,...tetapi hamba tidak tahu darimana harus memulainya"
"kau tunjukkan cincin itu sebagai tanda bahwa akulah yang memerintah ke markas pusat juga seluruh cabang. Namun, engkau juga harus menentukan, siapa yang masih bisa engkau ajak untuk bekerja"
"maksud ketua?"
Mendengar uraian panjang lebar ketuanya, Kertabarata menjadi jelas-sejelasnya, kenapa tadi dia ditanya soal harus menjawab jujur tentang statusnya,.... perlahan wajahnya berubah sangat cerah;
"baik ketua,...akan hamba laksanakan"
"karena pekerjaan ini tidak mudah dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, maka nantinya engkau bisa melapor kepada Bening puteriku"
"baik ketua,...hamba permisi..."
"paman kertabarata"
"hamba tuan puteri?"
"sampaikan salam hormatku untuk isterimu,.... hanya isteri luar biasa yang bisa merubah seorang lelaki menjadi lebih baik"
Kertabarata, tidak menjawab langsung, karena kedua matanya berkaca-kaca.
Adapun Malaikat Sadis langsung terkenang mendiang isterinya, persis seperti barusan yang didengar dari puterinya.
Ketujuh gadis juga saling berpandangan, karena semakin merasa takjub mendengar perkataan tadi.
"terimakasih tuan puteri, nanti akan saya sampaikan kepada isteri, kalau begitu hamba permisi"
Baik Malaikat Sadis maupun puterinya, hanya membalas dengan anggukkan kepala. Dan Kertabarata pun segera berlalu dari situ, setelah sebelumnya juga menjura hormat kepada Waseso dan ketujuh gadis sekalian.
Kinda yang sejak tadi, menaruh respek tinggi terhadap Bening dan ingin sekali berkenalan dengan puteri Malaikat Sadis itu, segera melangkah ke depan si gadis dan mengulurkan tangan kanannya :
"kakak bening, aku kinda, apakah kakak sudah merasa sehat?"
Tentu saja Bening merasa kaget dengan hal tersebut, apalagi sejak kecil, dia tidak pernah mempunyai teman bermain sama sekali dan kini ada seorang gadis muda, berpakaian laki-laki namun tidak bisa menyembunyikan kecantikannya yang menggemaskan,...serta menyapanya demikian hangat. Sontak membuat hatinya merasa hangat dan tidak menyambut uluran tangan Kinda, namun langsung memeluk tubuhnya ;
__ADS_1
"iya adik kinda sayang,..kakak merasa sehat" tentu saja Kinda merasa bahagia dan membalas pelukan Bening, setelahnya Kinda mengenalkannya kepada Ni Luh dan seterusnya, karena sebelumnya Bening telah berkenalan dengan Laksita dan Waseso.
Malaikat Sadis seolah melihat dua keajaiban hari ini, yaitu: pertama melihat puterinya sehat dan tersenyum. Kedua melihat puterinya bergembira bertemu dengan teman-teman barunya. Apalagi ketika di dengarnya Kinda berkata kepada puterinya ;
"kakak Bening, untuk memulihkan tubuhmu, maukah engkau tinggal bersama kami ? Tetapi bersama dengan para pengungsi juga"
Puterinya menoleh kepada Malaikat Sadis seolah memohon, yang tentu saja ayahnya mengangguk sambil tersenyum bahagia.
"iya adik kinda sayang, tentu saja aku mau"
"horreee,..."
Semua gadis berteriak gembira dan segera mereka saling berangkulan.
Setelahnya, Malaikat Sadis kemudian mendatangi puterinya dan berpamitan untuk pergi mengasingkan diri ke Puncak Gunung Salju.
Dia juga berpamitan kepada Waseso dan juga semua gadis.
Itulah hari, sebagai awal sejarah baru, bagi seluruh negeri dan juga dunia persilatan. Sebuah partai hitam yang demikian besar dan paling berkuasa, ditaklukkan oleh hati nurani seorang gadis muda. Bukannya melalui pertempuran pertumpahan darah atau pun adu kelihaian ilmu silat antara golongan putih melawan golongan hitam, sehingga tidak perlu mengorbankan ratusan ribu nyawa di kedua belah pihak.
Setelah kepergian Malaikat Sadis, Waseso juga segera kembali ke perkampungan, tetapi sebelumnya berpesan, agar mereka semua kembali dengan berjalan kaki saja, sekaligus melatih kekuatan otot kaki Bening. Tentu saja pesan si pemuda diterima dengan senang hati, sehingga sambil berjalan pulang, ketujuh gadis tersebut bisa menceritakan diri mereka masing-masing secara lebih gamblang kepada Bening.
Tentu saja pada bagian dimana Shinta menceritakan perihal dirinya, Bening secara reflek akan membungkuk hormat tetapi demi dilihatnya Shinta bertolak pinggang dan mengancam untuk membencinya, Bening membatalkan niatnya tadi. Yang tentunya Shinta segera memeluk dan mencium kedua pipi Bening, sehingga gadis ini benar-benar merasakan ketulusan persahabatan dengan mereka semua.
Sesampainya di desa, mereka berdelapan di tunggu oleh Sari dan Werni yang terlihat cemas dan kebingungan.
"ada apa kak werni ?" Kinda bertanya.
"adik Waseso,...entah kenapa, semenjak pulang dari bukit ,.." kalian lihat sendiri saja di rumah sehat" Werni segera menjawab, namun tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Seketika itu juga, kedelapan gadis yang baru tiba dengan tergesa menuju ruangan dimaksud dan mereka semua melihat, saat itu si pemuda seperti sedang bersamadhi dan bertelanjang dada. Namun diatas kepalanya nampak seperti kabut atau asap putih, keluar dari seluruh bagian kepala si pemuda. Adapun wajahnya memerah seperti warna kepiting rebus, namun kini secara perlahan mulai memudar. Kesemua yang hadir tadinya merasa panik, namun bersamaan dengan warna kulit wajah yang telah normal, kabut diatas kepala pun perlahan sirna.
Kini semuanya bisa melihat tubuh pemuda itu dengan tenang dan mulai memandang dada, bahu dan lengan yang semuanya terlihat tidak kekar ataupun berotot, namun sehat dan nampak berisi.
Meski basah kuyup dengan keringat, namun kilatan pada kedua dada yang agak menonjol milik si pemuda itu tentu saja menimbulkan perasaan aneh ke semua gadis,... baru saja mereka melamun, mendadak di kejutkan oleh suara si pemuda yang kini telah membuka matanya ;
"kak Bening,...tolonglah kemari"
Tentu saja yang dipanggil kaget, namun dia berjalan mendekat. Kemudian lanjut Waseso ;
"selama engkau sakit, apakah ayahmu pernah menyalurkan tenaga dalamnya kepadamu ?"
"iya sering,...terutama jika aku merasa kedinginan sedikit saja"
Mendengar jawaban itu, Waseso terlihat menunjukkan raut muka gembira, lalu katanya ;
"baguslah, setidaknya kak bening sudah memiliki landasan untuk menerima limpahan tenaga dalam dariku,... sekarang tolong duduk didepanku seperti ini,..." dia mencontohkan cara duduknya kepada Bening, lalu dilanjutkan :
"adik laksita, tolong engkau beri minum ramuan bunga kembar kepada adik sari, dua tetes saja. Kemudian minta dia untuk duduk di samping kakak bening"
Lanjutnya ;
"setelahnya kalian semua harap bersiap, aku akan membagikan juga secara bergantian"
Laksita yang mendengar perintah si pemuda segera melakukan yang diminta, sekalian memberitahu Sari agar tidak perlu khawatir. Yang lain tentu saja merasa bergembira, karena bukankah itu yang di inginkan oleh semua orang persilatan.
Waseso, semenjak pulang dari bukit memang mulai merasakan keanehan yang amat sangat, terutama pada bagian tubuhnya diatas perut, pelan namun pasti, merasakan bahwa tenaga dalamnya demikian kuat dan berlipat seolah meronta keluar. Dalam kepanikannya dia sudah mencoba untuk mencebur ke dalam sumur, yang tentunya segera menimbulkan kepanikan bagi Werni dan beberapa warga yang melihatnya,... tujuannya adalah agar bisa meredam sumber gejolak tenaga dalamnya itu, namun sepertinya usaha itu sia-sia. Dan akhirnya dia teringat, kejadian saat dirinya mengeluarkan ilmu "Menghimpun Tenaga", saat menerima pukulan Malaikat Sadis, dimana inti sakti tenaga dalamnya yang bersumber dari gurunya Raja Iblis Puncak Es, menyedot tiga perempat bagian tenaga dalam Malaikat Sadis, makanya tadi Malaikat Sadis terlihat tak berdaya seperti kehilangan kekuatan. Menyadari hal tersebut, dia segera mengetahui langkah apa yang harus diambilnya, yaitu mengembalikan tenaga dalam hasil tarikannya kepada putri si pemilik tenaga dalam itu dengan cara mengeluarkan ilmunya "Membagi Tenaga".
Oleh karena itu setelah kembali naik dari sumur, dia segera berpesan kepada Werni, agar semua pendekar wanita segera menyusulnya ke rumah sehat, sementara dia sendiri berupaya untuk mengendalikan tenaga dalamnya yang bergolak sebagaimana yang di lihat oleh ke sepuluh gadis tadi.
Demikianlah, setelah dia selesai mengembalikan semua tenaga dalam rampasan kepada Bening, sebenarnya setelahnya dia telah merasa normal, namun pikirnya dia sekaligus ingin membagi juga kepada sembilan gadis sekalian, sehingga semuanya memiliki kekuatan tenaga dalam yang sama rata. Setelah Sari, yang mendapat porsi paling banyak, karena hanya gadis ini yang ibarat seperti gelas kosong, Waseso melanjutkan secara bergiliran : Kinda, Laksita, Ni Luh, Werni, Shinta, Midya, Widya, dan Wulan.
Atas kebaikannya itu, secara tidak langsung dia menuai hasil baik pula, yaitu ; dia bisa merasakan tidur yang lebih lama dari sebelumnya, menjadi tiga jam. Dan wajahnya juga menjadi terlihat lebih santai dan cerah, tidak lagi tegang atau berkerut.
__ADS_1
BERSAMBUNG.