Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB 16 -ROMBONGAN KECIL


__ADS_3

Siang itu rombongan keluarga Waseso berjalan meninggalkan perkampungan kosong yang baru saja mereka singgahi selama semalam. Berjalan memimpin didepan sejarak sepuluh tombak, adalah Waseso berjalan beriringan bersama dengan Kinda. Dibelakang mereka, juga berjalan sangat santai, sebuah pedati yang ditarik seekor kuda jenis ras unggulan milik Kinda, ditumpangi oleh pakde Sujarna sebagai kusir, bude bertindak sebagai navigator, serta Ni Luh. Berjalan di belakang pedati, seperti sepasang muda-mudi yang sedang pedekate, adalah Kestri gadis yang tempo hari ditolong Waseso didampingi oleh Kang Aji yang sangat jelas terlihat seperti sedang memberikan presentasi kepada calon investor, sambil menenteng tali rajutan bambu yang menuntun seekor sapi perah betina, berwarna belang hitam putih seperti sedang asyik mengunyah sesuatu yang nampaknya sangat lezat, sehingga tidak memperdulikan selingan suara tawa di depannya. Waseso juga nampak sesekali melirik ke belakang dan dilanjutkan dengan senyum-senyum sendiri sambil membatin "syukur aku bertindak cepat". Maksud yang dia ingin sampaikan adalah, sebenarnya sehari semenjak ditolongnya. Si gadis tersebut memperlihatkan rasa ketertarikan terhadap tuan penolongnya, dan rasa tersebut nyata sekali ditunjukkan saat mereka makan bersama, si gadis seperti memberikan perhatian lebih kepada pujaan hatinya dengan cara selalu menawarkan "tambah nasi kak?" atau "lauknya tambah kak?". Waseso yang memang masih polos dengan hal ikhwal lain jenis, awalnya tidak mengerti dengan tatapan Kestri kepadanya jika sedang membantu Waseso dan bude memasak menu makan. Hanya memang sekilas sang pemuda sempat berpikir dan merasa agak sedikit ge er,...."apa iya sich" begitu benaknya. Tapi demi mendapat perhatian lebih tersebut, dia menjadi sedikit yakin bahwa dugaannya tidak meleset. Namun setelah dia pikir, bahwa jika dia tidak segera bertindak benar maka urusan dikemudian hari bakalan rumit. Bukan karena dia tidak tertarik dengan Kestri wanita anggun sederhana yang seingatnya bahkan lebih cantik dibandingkan dengan mendiang ibunya. Namun dia merasa bahwa dia baru saja melangkah keluar untuk bisa menjadi berguna bagi banyak orang,... tiba-tiba tidak dilanjutkan dan berguna hanya bagi gadis ini dan keluarga binaannya di kemudian hari,...kan aneh? Apalagi diliriknya teman makan disampingnya sebelah kanan nampak menyunggingkan kayak senyum nyindir dan bahkan Ni Luh yang duduk diantara Kinda dan Kestri, jelas sekali bertindak sebagai suporter utama, karena dia selalu menggeser beberapa menu makan mereka ke dekat Kestri yang tentu saja dengan senang hati menawarkannya kepada pujaan hatinya seperti tadi. Apakah dia salah? tentu saja tidak,...siapa sich gadis yang tidak jatuh hati kepada pemuda yang baik hati, bahkan dalam kasus ini telah menyelamatkan satu-satunya harta berharga yang dimiliki? Itulah mengapa baik Kinda maupun Ni Luh sebagai sesama wanita, sangat berlaku bijak menemui hal tersebut.


Tiba-tiba Waseso seperti memperoleh ide;


"bude,...saya mau tanya mengapa dulu bude lebih memilih pakde dan bukannya pendekar silat? karena semasa mudanya dulu,...bude yang cantik ini pasti lah di taksir banyak pemuda dari kalangan manapun,....tapi jangan sebutkan alasan ketampanan pakde loh,...?". Yang ditanya tentu saja kaget dan ketika melirik suaminya dilihatnya juga sedang melihatnya dengan senyum kecil ingin tahu, demikian juga Kang Aji dan Kestri nampak menghentikan kunyahan mulut mereka dan seolah ingin mendengarkan pelajaran berharga. Hanya Kinda dan Ni Luh yang keduanya nampak saling berpandangan seperti sudah bisa menebak arah pertanyaan si pemuda.


Maka dengan tersipu bude pun menjawab;


"selain wajah apa ya ?,...yaaaa karena saat itu bude tertarik dengan kerja keras pakde yang sudah mulai terlihat seperti sedang berjuang untuk membuat dirinya mapan secara ekonomi, karena gadis-gadis kan suka dengan kemapanan, bukan harta loh ya karena itu sifatnya relatif,..."


"benar juga ya bude, coba kalo bude lebih memilih pendekar,...pasti akan selalu merasa was-was ditinggal pergi mengelana atau kalau ikut mengembara akan selalu melihat pertempuran bahkan kematian "


"itu dia,....bude mah ngeri lihat darah" demikian jawab bude sambil terlihat seperti bergidik dan menutup obrolan mereka. Adapun Waseso, Kinda dan Ni Luh, langsung melirik ke arah Kestri yang badannya juga sangat jelas terlihat bergidik ngeri dan seperti sudah tidak berniat lagi untuk menghabiskan isi piringnya. Dan dikemudian hari, Waseso akan selalu mengeluarkan jurus andalan ini, jika menemui situasi yang sama.


Itulah mengapa Kinda paham betul dengan kelakuan temannya yang sesekali dilihatnya senyum-senyum sendiri setelah melirik ke arah belakang.


Di depan mereka kini, nampak bayangan beberapa atap bangunan perkampungan kosong karena suasananya sangat sunyi. Saat mereka masuk perkampungan tersebut dan berniat langsung lewat, Waseso yang sedari tadi sedikit meraaa tidak enak dengan perubahan sikap Kinda yang banyak diam seperti sedih, langsung membuka pertanyaan;


"adik bau, apakah ada yang membuatmu sedih,...dari tadi banyak diam, sudah begitu tangan kananmu sering kamu masukkan ke saku jubahmu kayak ada yang di sembunyikan"


"kesayanganku sakit tua,...dari tadi pagi aku sudah menaruh curiga padanya"


Sambil menjawab, Kinda mengeluarkan tangan kanannya dan membuka genggamannya di depan si pemuda.


"loh,... bukankah itu burung kenari yang,.. owh kirain burung liar, karena beberapa kali aku melihat burung kecil itu dan sempat curiga karena bentuk badannya sama dan warnanya juga sama begitu,... ternyata dia mengikuti majikannya"


Namun demi dilihatnya kedua mata Kinda berkaca-kaca, sambil menatap pada genggaman tangannya, seekor burung kecil berwarna kuning cerah yang terlihat hanya mendekam dengan kedua sayapnya lemas jatuh kebawah serta kedua kakinya tertekuk, matanya hanya sesekali terbuka,...maka Waseso teringat kejadian dulu, saat secara tidak sengaja dia menemui seekor burung camar laut, juga sedang berposisi seperti itu dan saat tangan Waseso terulur bermaksud mau memegang burung tersebut, secara naluri si burung mematuk jari tangannya yang saat itu masih mengeluarkan darah sedikit, akibat tertusuk seekor duri landak laut yang baru saja tadi, hendak akan di pungutnya dari dalam Laguna.


Dan mengingat kejadian itu, Waseso segera memegang burung tersebut dan berkata kepada Kinda;


"mari kita lihat apa yang bisa aku lakukan padanya,...tapi hanya untuk kali ini saja kasihan dirinya sendiri kalo keterusan, maukah engkau berjanji?"


"ya aku berjanji,.." Kinda langsung meng- iyakan karena dia terlalu mengkhawatirkan kondisi si burung kecil dan juga tidak mengerti maksud perkataan temannya itu. Yang dilihat selanjutnya adalah Waseso berteriak ke rombongan belakang untuk minta istirahat sebentar, lalu si pemuda nampak menusukkan jari telunjuknya ke pisau kecil yang diselipkan pada pinggangnya yang tentu saja ujung jarinya segera meneteskan darah dan dia tidak melihat kelanjutannya, karena dia segera sibuk menjalankan perintah si pemuda dan segera meraba kantong air yang ada digantungkan di belakang pinggangnya sendiri, serta menuangkan sedikit air ke telapak tangannya dan lalu meneruskannya ke dalam telapak tangan si pemuda, terus si pemuda seperti melolohkan dua tetes air ke paruh si burung dan,...... mata Kinda seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, karena burung kecil itu perlahan berdiri tegak, lalu menggocangkan badan, menaikkan kedua sayapnya agar menempel ketat di badannya dan..... "brrrrrr,......."


Burung kesayangannya kini telah hinggap di ranting pohon jambu biji liar, menggesekkan paruhnya sebentar pada ranting pohon yang dijadikannya tempat berpijak,....lalu;


"triittttt.....tit tit tit...tiiirrrrr,....triiiittt...."


si burung langsung berbunyi nyaring,... dan semakin kencang suaranya layaknya dia sedang melakukan audisi bernyanyi, karena dilihatnya sang majikan sedang duduk ndeprok di tanah dibawahnya memandang dirinya dengan terpesona.


"adik bau, aku pergi memeriksa ke depan ya,....". Karena yang dituju tidak menjawab dan malahan asyik berpose layaknya seorang juri idol, si pemuda langsung lari terbang ke arah depan dan keluar dari perkampungan kosong sambil berdumel;


"dasar si bau kuda,.. bilang terimakasih enggak,...di ajak bicara juga diam aja,...."


Malam ini terlihat Waseso sendirian saja, persis seperti orang yang sedang menunggu pesanan makanan tiba, duduk bersila diatas lantai papan kayu ruangan yang cukup luas, yang tadi sudah dibersihkannya sendirian. Matanya seperti memandangi sekeliling hasil kerjanya dan ketika dilihatnya pada bagian sudut atas persis di bawah atap, masih terlihat banyaknya ketebalan sarang laba-laba, dia hanya menggumam;


"ahhh aku tadi lupa bagian itu,...tapi biarlah,...ini aja sudah syukur nemuin satu-satunya bekas rumah yang masih layak buat tinggal semalam ini dari pada beratap langit, kan kasihan mereka,.."

__ADS_1


Sampai di kata mereka,.. nampak sekilas senyum kecut di bibir Waseso, bagaimana tidak ;


Sejak kembali meneruskan perjalanan dari kampung kosong yang terakhir kali mereka jumpai tadi siang, tempat dimana dia menyembuhkan penyakit si burung kenari, dia merasakan keanehan pada mereka, yaitu:




Kinda tidak mau berjalan di depan bersamanya dan mengatakan kalau sebaiknya ai pemuda berjalan di depan sendiri saja, namun dengan menjaga jarak lebih jauh sedikit lagi dari rombongan pedati dibelakangnya. Katanya itu untuk lebih mengamankan posisi mereka. Tapi Kinda ? selalu berjalan paling jauh dibelakang sana sendirian lagi, yang jika pada saat dirinya serta rombongan pedati sudah melewati tikungan jalan, saat dia menoleh ke belakang, tubuh Kinda pun belum terlihat, barulah pada saat berada di trek lurus dan panjang, badannya baru nampak berjalan di kejauhan sana, demikian santainya dan yang menyebalkan adalah saat Waseso sedang menolehkan kepalanya kebelakang, Kinda hanya melambaikan tangannya yang terlihat samar-samar akibat betapa jauhnya dia mengambil jarak. Sudah begitu, setiap kali Waseso berhenti, rombongan kedua juga ikut berhenti, seolah-olah tidak sudi lagi berjalan disampingnya.




Baru kali ini, bude melarangnya ikut turun tangan di dapur mempersiapkan makanan, padahal sudah jelas dan terbukti sangat efektif jika dibandingkan yang lainnya, bahkan Kinda maupun pakde, maupun kang Aji yang jelas-jelas belum pernah di lihatnya berkeliaran di sekitar tungku, kok ya dengan semangatnya mereka menyingsingkan lengan membantu bude dan malahan menyuruhnya untuk berposisi sebagai petugas kebersihan dan penyiapan ruang makan ?




Ketika makanan dihidangkan di tengah-tengah mereka duduk bersila dan tidak dilihatnya Kestri duduk bersama dengan mereka, maka habislah kesabaran Waseso dan membuka percakapan sebelum salah satu diantara mereka menyentuh hidangan;




Tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaannya.... Dan itu membuat kecurigaan Waseso semakin bertambah.


Lalu dia melanjutkan;


"Kestri kenapa tidak ikut makan bersama kita?"


Jelas sekali Waseso melihat wajah kepanikan yang ditunjukkan oleh kang Aji, bude, Ni Luh dan Kinda. Bahkan wajah pakde diliriknya malah berubah pucat. Tapi pakde segera berkata;


"nak Waseso, ini adalah kes,...."


"Kestri menemani makan saudara jauhnya kak,..." suara Kinda memotong kalimat yang mau dikatakan pakde. Panggilan "kak" yang pertama kali di dengarnya dari Kinda itu, membuat ketegangan dalam suara Waseso tadi segera mendingin akibat kecurigaannya yang terlalu berlebih. Dan dia pun hanya menyahut;


"ohhh,...."


Mendengar kata itu wajah pakde seketika segar kembali, demikian juga yang lain nampak menarik lapas lega. Namun itu hanya sebentar saat Waseso melanjutkan ;


"ajaklah mereka kemari, biar kita makan malam bersama"


Kalau tadi yang pucat hanya pakde, sekarang malahan semuanya. Bude yang jelas terlihat ingin segera mengakhiri sandiwara mereka menjawab;


"apakah semua,..."

__ADS_1


"iya bude di ajak aja semua kemari" sambil Waseso membatin;


"benarkan dugaan ku, pasti lebih dari satu orang"


Begitu bude bangkit berdiri, semua yang tersisa malah juga ikut berdiri dan pergi bersama menjadi pengawal bude. Waseso yang tidak terlalu menaruh perhatian, karena dia tertarik sekali dengan warna keemasan tempe goreng di satu piring didepan sana, segera mengulurkan tangannya dengan kilat dan mencuil pinggirannya sedkiiiitt saja dan memasukkannya ke mulut "hmmmm,... untung Kestri bertemu dengan saudara jauhnya dan mau membagi makanan ini kepada kita semua".... saking nikmatnya dia mengunyah secuil tempe yang membuatnya kini merasa seolah-olah sudah setahun tidak makan, dikejutkan oleh suara pakde,


"nak Waseso mereka sudah datang,.."


"diajak masuk pakde,...". Tanpa menoleh, kembali Waseso mencopet secuil lagi tempe goreng, namun ini yang di sudut satunya. Setelah hasil copetnya habis ditelan, Waseso tersadar karena tak ada seorangun yang masuk,.maka dia menoleh ke belakang. Demi melihat yang kini berdiri di luar sana (dinding depan bekas rumah itu sudah jebol bolong) masih cukup diterangi oleh empat lampu suluh, maka Waseso segera bangkit berdiri, lalu berjalan mendekat dan baru berhenti disampingnya pakde sambil menatap apa yang ada di depan matanya saat itu dan segera menunjukkan ekspresi wajah yang sangat sulit ditebak, sehingga terlihat seperti percampuran antara terkejut dan heran, akibatnya seperti wajah orang yang sedang menahan emosi. Pakde yang melihat perubahan wajah tersebut ditambah sikap diamnya si pemuda, tentu saja membuat badannya gemetar dan sambil membungkukkan badannya dia berkata namun terputus di tengah jalan;


"ini semua sal,...."


"kami menga,....."


"kak aku jelas,...."


Baik suara pakde, suara bude juga perkataan Kinda yang keluar berbarengan sekaligus, tidak mereka lanjutkan ketika mereka melihat telapak tangan Waseso diangkat, yang berarti mereka diminta diam. Namun Waseso masih juga tetap terpaku sambil menatap ke depan;


Ni Luh yang sudah tidak tahan lagi dan berada di samping Waseso, segera menjatuhkan dirinya tersungkur ditanah sambil terisak;


"kak Waseso, aku mohon,..." dia tidak melanjutkan perkataannya dan segera bangun karena Waseso segera menarik lengannya ke atas.


Kalimat pertama yang di keluarkan oleh Waseso berikut ini ibarat mengalahkan suara guntur yang mengagetkan, baik Kinda, Ni Luh, pakde, bude, dan semua yang mendengarnya bahkan membuat mereka diam terpaku seperti patung;


"ayo,...ayo,...semua masuk,..silahkan,... ayo,...ayo,..." bahkan nampak dia memapah seorang ibu lanjut usia dan mendudukkannya di dalam.


"Kinda, Ni Luh,....ayo bantu mereka semua masuk ke dalam"


Berdua yang di sebut masih tetap diam tak bergerak dari tempatnya, bahkan Ni Luh yang tadi sempat terisak, sekarang kedua matanya telah kering tapi pipinya masih basah dan tidak segera di usap. Hanya pakde, bude, kang Aji dan Kestri yang malahan segera menjalankan yang diminta Waseso.


Inilah yang sebenarnya terjadi:


Kinda yang akhirnya tersadar dari rasa takjub dikagetkan oleh tarikan tangan Ni Luh yang membawanya ke halaman belakang salah satu rumah yang tidak terlihat dari jalan dan dilihatnya selain yang sudah dikenalnya, bertambah ada 8 pasang orang tua, 3 pasang suami istri dan dua bocah lelaki seusia 8 tahun dan satu bocah perempuan usia 9 tahunan. Ni Luh yang secara tidak sengaja awalnya menemukan sepasang suami istri dan satu anaknya perempuan. Setelah dia, termasuk pakde, bude, kang Aji dan Kestri berhasil meyakinkan bahwa mereka saat ini aman, barulah mereka membujuk semua yang bersembunyi untuk keluar. Akhirnya karena bingung mereka sepakat melibatkan Kinda. Dasarnya, Kinda adalah wanita yang mempunyai watak murah hati langsung mengajak mereka semua untuk ikut bergabung dengan rombongannya. Baik pakde maupun bude, merasa takut soal masalah yang satu ini, karena akan berpengaruh semakin membebani perjalanan Waseso. Sementara Ni Luh juga merasa kasihan kalau mereka ditinggalkan begitu saja. Akhirnya Kinda lah yang mengambil keputusan, untuk turut membawa serta mereka semua dengan strategi dan skenario seperti diatas. Soal kemungkinan keberatan si pemuda biarlah dipikirkan nanti. Sayangnya strategi tersebut tercium gelagatnya oleh si pemuda, ditambah dengan kesalahan teknis soal kepergoknya takaran beras yang sedang dicuci. Dari semua keruwetan atas kepanikan tersebut, apalai dengan reaksi tak terduga dari Waseso, tentu saja membuat mereka aemua seperti takjub.


Adapun Waseso, demi dilihatnya serombongan tua dan anak-anak dengan pakaian dan kondisi memprihatinkan, terlihat berdiri ketakutan, tentu saja dia langsung teringat dengan kondisi desanya dulu, apalagi ditambah dengan dilihatnya bocah-bocah cilik yang juga berdiri ketakutan di belakang orang tua mereka, membuatnya seolah sedang menatap sebuah cermin bagaimana masa kecilnya dulu. Inilah tadi yang membuatnya terlihat terdiam pucat namun diartikan lain oleh teman-teman seperjalanannya.


Kinda juga Niluh, yang saat ini telah ikut duduk berkumpul kembali bersama-sama yang lain, dimana semua hidangan akhinya dikumpulkan jadi satu di depan mereka sekalian ,... dibuat terpana oleh kalimat sambutan yang disampaikan oleh Waseso;


"saya bersyukur,...karena malam ini adalah makan malam saya bersama dengan semua keluarga besar, dalam kondisi yang saya pastikan sejak malam ini hingga perjalanan kita besok akan selalu aman,.....mari kita makan"


Tentu saja kalimat Waseso yang tidak panjang namun sangat membuat mereka lega,....karena rasa aman itulah yang mereka cari selama ini.


Adapun Kinda, yang mendengar kalimat barusan yang menurutnya sekedar bonus atas 2 rasa takjub yang dialaminya sekaligus dalam sehari ini, menjadi semakin mengenal dan suka dengan sifat dan watak teman masa kecilnya itu. Dan kini percikan api di hatinya dari yang sebelumnya 20% kini berubah jadi 70%. Sayangnya Kinda tidak menyadari, mungkin karena yang dimaksud ini terlalu lihai dalam memyembunyikan perasaannya, bahwa prosentase pencapaiannya telah disalip oleh Ni Luh yang langsung nangkring di 80%, hanya karena kejadian menegangkan yang sangat tidak disangkanya tadi ditambah kalimat sambutan yang didengarnya barusan.


Namun kalau soal kelihaian dalam menyembunyikan perasaan hati, keduanya dalam posisi seimbang, tiada orang lain yang tahu, orang yang dituju tidak tahu dan pesaing mereka juga tidak bisa merasakan.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2