Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB VIII - PERTAMA KALI BERTEMU TEMAN SEBAYA


__ADS_3

Sambil mengupas ubi kedua yang selesai dibakarnya di dalam tumpukan kayu yang masih menyala kecil dengan tersisa satu ubi terakhir yang digalinya dari belakang rumah kosong dimana saat ini dia gunakan buat bermalam, Waseso menggumam lirih;


"lumayan dari pada tidur dengan perut kosong"


Saat kunyahan ke lima, dia merasa rindu suasana makan bersama dengan mendiang kedua orang tuanya. Baginya makan bersama adalah saat membahagiakan hatinya, karena dalam kesempatan tersebut dia bisa mendengar langsung baik ayah maupun ibunya bercerita, berceloteh hal apapun bahkan menyelipkan banyak sekali nasehat-nasehat yang bisa dia dapatkan. Oleh karenanya dia juga sangat menikmati kebersamaannya dengan keluarga Temoto, terutama saat makan malam bersama, karena pada waktu tersebut semua aktivitas keseharian telah selesai dilakukan, sehingga semua orang berada dalam suasana hati yang tenang seperti tidak harus dikejar waktu. Dia sangat menikmati dirinya yang berperan sebagai pengamat sekaligus pendengar. Dia menyukai saat pakde Temoto berceloteh tentang salah satu pelanggan yang rewel. Dia sangat suka melihat cara bude (karena momen ini mengingatkan kenangan indahnya terhadap ibunya) mengomeli kang Wiguno jika kedapatan tertidur di kursi depan padahal tugasnya adalah menyambut tamu. Dia selalu tersenyum kecil melihat kang Wiguno selalu menganggukkan kepalanya secara santun seolah-olah akan mematuhimya padahal besoknya terjadi dan terjadi lagi. Semua hal yang dilihat dan dialaminya tersebut, selalu membuat hatinya merasa damai dan tenteram.


Pelan dia mengusap masing-masing setetes air di kedua matanya dengan punggung tangannya dan segera merebahkan diri. Meski telah berpisah dengan keluarga Temoto baru empat bulan yang lalu, namun dia merasa seperti telah berpuluh tahun. Dia mengingat dengan jelas betapa bude Temoto meneteskan air matanya sambil memeluk erat dirinya. Bude juga yang paling menentang permintaannya untuk melanjutkan pengembaraan, meski dengan alasan bahwa dia telah tinggal cukup lama dengan mereka yaitu sepuluh bulan dan oleh karenanya dia tidak ingin membebani mereka lebih lama. Namun alasan paling kuat yang dia sampaikan dan berhasil meluluhkan hati sang bude adalah ketika dia mengatakan bahwa kini dia telah mengetahui tujuan yang benar-benar di inginkannya yaitu adalah demi bisa melihat Kotaraja (dalam pertemuan pertama mereka, Waseso tidak bisa menjawab pertanyaan bude Temoto; tempat yang hendak dia tuju) akhirnya sang bude mengijinkannya dan memberinya bekal untuk diperjalanan.


Sinar matahari bersinar sangat terik di jalan yang cukup lebar serta berdebu itu. Dengan langkah yang diatur lambat, sambil berhenti sesekali untuk memperbaiki posisi buntalan kain yang dia selempangkan di bahunya serta sekaligus mengganti tangan yang terasa pegal karena memegang satu gagang pelepah daun pisang yang dia gunakan untuk menudungi kepala serta badannya dari sengatan matahari. Dari arah depannya dia melihat empat orang pengendara kuda. Seperti biasa dia mengacuhkannya dan tidak berniat untuk menyembunyikan diri. Saat tinggal terasa beberapa tombak berpapasan, dari seragam serta gagang pedang yang menyembul dari punggung mereka, Waseso menyimpulkan bahwa ke empat orang tersebut pastilah rombongan kecil prajurit yang sedang melakukan patroli. Dan menurut pengalamannya selama ini, hal tersebut menandakan bahwa dirinya sudah mulai dekat dengan kota. Akhirnya menjelang dekat berpapasan, mereka melambatkan kudanya sambil memperhatikan si bocah yang tetap berjalan pelan dengan kepala menunduk. Ketika mereka bisa melihat dengan jelas bahwa itu hanyalah seorang anak pengungsi cacat dan tidak perlu dicurigai, merekapun berlalu melanjutkan perjalanannya. Namun belum begitu jauh, Waseso mendengar jelas teriakan salah satu diantara mereka memaksa kudanya untuk berhenti dan tentu saja ketiga temannya juga ikut berhenti. Waseso secara reflek menghentikan langkahnya dan membalikkan badan untuk melihat gerangan yang terjadi. Kini satu diantara mereka, memacu kudanya ke arah Waseso serta berteriak;


"hei bocah,......diam ditempat"


Sungguh perintah yang sangat aneh, jelas-jelas dilihatnya bahwa si bocah kini sedang berdiri tak bergerak seperti termangu melihat ke arahnya masih juga disuruhnya diam di tempat.


"woii,....ayolah jangan buang waktu"


demikian teriakan salah satu diantara tiga orang prajurit yang juga berhenti dan heran dengan perilaku temannya. Namun ketiganya ingin tahu apa yang akan diperbuat rekan mereka.


"cepat turunkan buntalanmu, aku mau memeriksa"


Inilah kalimat pertama yang prajurit itu katakan setelah turun dari kudanya. Demi melihat prajurit yang masih terlihat muda namun bertampang di sangat-sangarkan sedemikian rupa, sambil menunjuk buntalan kain di balik punggungnya, tentu saja membuat si bocah menjadi takut. Tanpa diperintah dua kali dia melorotkan kain buntalannya dan melemparkannya ke tanah. Tanpa membuang waktu, si prajurit lekas jongkok dan membuka serta benar-benar melakukan penggeledahan. Demi ditemukannya ikatan kain kecil sejenis ikat kepala sebesar satu kepalan genggaman tangannya, segera dia mengurai simpulnya dan sontak tertawa terbahak-bahak demi dilihatnya sejumlah delapan koin repes dan enam keping peces didalamnya. Masih dia tertawa, sementara si bocah keluar keringat dingin demi menyadari apa yang bakal terjadi terhadap uang bekal sisa pemberian bude.


"kamu kecil-kecil sudah berani mencuri,..ayo pergi sana,"


Lanjutnya kemudian;


"eih bocah,...nih buatmu. Ingat ya, aku masih berbaik hati padamu"


Sambil dilemparkannya enam keping peces di depan kaki si bocah.


(100.000 keping peces \= 1 koin repes dan 1 keping peces \= senilai 1 bh kerupuk).


Sambil memungut enam keping peces yang berserakan di tanah, si bocah melongok si prajurit yang sudah menaiki kudanya dan menghampiri kawan-kawannya, sambil melanjutkan tawa riang seolah membanggakan kecerdikannya. Ketiga temannya bergiliran menerima pembagian yang diberikan oleh sang kawan sementara yang paling depan kini sudah mulai menghela kudanya sambil berkata;


"harus kuakui, kamu sungguh jeli,...."


Komentar tersebut langsung dibalas ketiganya dengan suara tertawa terbahak-bahak nyaring dan bergerak melanjutkan perjalanan mereka, meninggalkan sang bocah yang kini juga sedang berjalan pelan, namun dengan mengeluarkan umpatan terhadap dirinya sendiri dan malahan seperti tidak menyalahkan si prajurit yang reseh tadi;


"goblok,....dungu,...kenapa aku dungu sekali,..."


Mendadak si bocah berhenti, lalu menanggalkan begitu saja semua baju dan celananya yang memang terlihat sangat jelas masih baru pertama kali dipakainya.


Kini dengan telanjang bulat di tengah jalan, si bocah nampak membanting-banting sepasang baju yang baru dilepasnya bahkan kini di injak-injaknya baju tersebut dan yang terakhir kali dipungutnya semua lalu sebelum dibuang jauh dia mengumpat;


"gara-gara kamu baju baru sialan,...aku bernasib naas"


Benar, sepasang baju tersebut adalah baju baru yang di belinya saat tiba di salah satu kota kecil yang di lewatinya sekitar sebulan yang lalu dengan menggunakan uang bekal hasil pemberian bude. Padahal dia sudah benar-benar berlaku irit dalam penggunaan uang bekal. Alasan dia membeli baju tersebut adalah sebagai cadangan dua baju lamanya, meski ketertarikan utama yang mendasari mengapa dia membeli sepasang baju baru yang bagus dan mahal itu sejatinya dia ingin merasakan sensasi berpakaian seperti anak-anak kota. Dan tadi pagi dia sudah tidak sanggup lagi menahan hatinya sehingga untuk pertama kali sejak dibeli, akhirnya dia mengenakan si penghuni tetap buntalan kainnya tersebut. Namun ternyata nasib berkata lain, dimana sang prajurit yang jeli telah membongkar keanehan ini : seorang bocah cacat pengembara berjalan sendiri, muka dan rambut kucel, tanpa gelang penanda, buntalan kain juga kumal serta kotor namun mengenakan pakaian mahal dan terlihat baru ?!!


Beberapa hari kemudian.


Dengan sedikit kasar, Waseso yang berdiri di pinggir melemparkan jala yang meskipun bekas dan buluk, namun masih sangat kuat dan tidak ada yang koyak, ke arah tengah sungai dimana kedalamannya hanya setinggi dada. Dia tidak memperdulikan celananya bagian bawah yang meskipun telah digulungkan hingga diatas lututnya sudah mulai bayah kuyup.


Setelah jala ditarik namun tak satupun ikan terlihat tersangkut di dalamnya, diapun menyerah kemudian menarik, menggulung dan membawa jala ke pinggir sungai.


"aku belum beruntung siang ini"


Selesai menggumam dia menaruh jala yang tadi ditemukannya di tumpukan pembuangan sampah kota dan dia bawa sebagai senjata untuk mencari ikan ke sungai yang juga di temuinya siang kemarin. Lalu diapun berjalan ke arah tempat teduh di bawah pohon flamboyan liar. Sambil menuju tempat dimaksud dia menoleh kepalanya kanan-kiri untuk melihat kemungkinan ditemukannya tanaman ubi dan singkong yang tiba-tiba saja muncul dalam semalam, karena sejatinya kemarin sore dia telah berputar-putar ke sekeliling tempat itu untuk mencari tahu kemungkinan yang sama dan tak ditemukannya satupun tumbuhan dimaksud yang layak digali (tandanya batang pohon besar + cukup tinggi, daunnya berwarna hijau tua).


Memang ada sekumpulan kecil tanaman singkong di dekat pinggir sungai, namun dia tahu bahwa mereka masih terlalu muda dan belum berisi.


"sudah uangku dirampas, sisa enam peces aja langsung ludes buat menyogok penjaga gerbang kota, masih lagi nyari ikan nggak dapat,.....haduhhh beberapa hari ini kenapa aku serasa sial melulu"


Demikian dia menggerutu lalu duduk di bawah pohon. Niatnya untuk membaringkan tubuhnya dibatalkan begitu dia mendengar seperti suara keras gesekan tanaman ilalang serta dengusan kuda. Badannya seketika bangun dan melihat ke arah kanan. Benar saja dilihatnya sejarak enam tombak ada seekor kuda sedang bergerak pelan menuju arahnya sambil sesekali kepalanya menunduk seolah mencari rumput segar untuk dikunyah. Nalurinya sebagai seorang bocah demi melihat binatang tentu saja segera muncul dan mengalahkan rasa lapar yang dirasakannya tadi. Dengan senyuman lebar, dia berjalan mendekati kuda tersebut dan anehnya si kuda juga nampak jinak dan sama sekali tidak kaget dengan kehadirannya. Waseso segera menyadari pastilah kuda ini ada pemiliknya, karena selain ada tali kekang, bagian punggungnya juga berpelana.


"kemari tuan kuda,...mari-mari aku punya apa yang kamu suka,..."

__ADS_1


Sambil berkata kepada sang lawan bicara dia memegang tali kekang di bagian kepalanya dan menuntun si kuda ke arah pinggir sungai. Sesampainya disana dia segera memetik semua daun singkong yang tumbuh pada batangnya dan menyorongkannya ke mulut si kuda yang tentu saja langsung melahap habis.


"wahhh,....belum cukup ya tuan kuda,.... tenang aku ambilkan rumput gemuk buatmu"


Sambil berkata dia juga berjongkok dan menarik rumput-rumput yang terlihat segar dan gemuk di sekitar tempat itu.


Kemudian setelah beberapa saat, Waseso menyadari bahwa dirinya tidak sendirian. Dilihatnya ada seorang anak lelaki yang sepertinya sebaya dengannya, sedang duduk santai dibawah kerimbunan pohon di dekat mereka (waseso & kuda).


Waseso segera berjalan mendekati si pendatang dan dia menebak bahwa tentunya anak itulah sang pemilik kuda dilihat dari jenis pakaian yang dikenakannya tentunya mahal, gelang penanda, serta sebuah tas kain yang melingkar di bahunya .


Setelah dekat, sambil meletakkan pantatnya di dekat sang pendatang namun tidak memandang wajah si pendatang dengan teliti dia berkata;


"maaf aku hanya bermaksud memberinya makan"


"aku tahu" jawab si pemilik kuda.


Begitu mendengar jawaban tersebut, Waseso seperti terkejut. Dia segera melihat ke wajah lawan bicaranya;


"maaf,...aku tadi mengira kamu anak laki-laki"


Demi dia tidak mendengar sahutan, Waseso melanjutkan;


"sepertinya si tuan kuda kelaparan"


Bukan jawaban yang menjadi balasan perkataan Waseso barusan, tapi malahan tawa cekikikan seorang anak perempuan;


"hihihihi....kikikikikk,......ahahaha"


Dari cekikikan kini berubah tawa terpingkal-pingkal seperti tawa ejekan, tentu saja Waseso menjadi bingung. Namun anehnya dia sama sekali tidak merasa tersinggung atau marah sedikitpun. Malahan baginya tawa yang seolah ditujukan padanya tersebut terdengar sangat merdu sehingga dia hanya diam saja. Akhirnya tawa si anak reda dan lalu katanya;


"berarti kamu sudah membuat dua kesalahan sekaligus. Tadi kamu menyangka aku anak laki-laki, kemudian barusan kamu menyebut tuan kuda, padahal dia kuda betina"


Reaksi yang ditunjukkan Waseso adalah menjadi kaku dan bisu seketika, namun demi si anak perempuan disampingnya ini masih menyisakan suara mengikik, spontan saja Waseso segera tertawa terbahak-bahak menyadari ketololannya yang tidak melihat bagian perut bawah si kuda.


"tentu saja aku mendugamu sebagai anak laki-laki apalagi dengan rambutmu yang awut-awutan juga pakaian yang kamu pakai,.....bahkan,....."


Dia berhenti seperti ragu-ragu melanjutkannya.


"bahkan apa?,...ayo teruskan,..."


Perintah lawan bicaranya.


Akhirnya dia melanjutkan;


"bau mu seperti kuda"


Yang dituju bukannya marah atau tersinggung namun sesaat dia seperti mengendus badannya, tapi tidak dilanjutkan lebih jauh.


"biarin,.... daripada kamu sedeng,.. kayak memedi sawah......"


Dia melanjutkan dengan bangkit dari tanah dan menirukan cara berdiri Waseso yaitu; bahu miring ke kiri namun kepala lurus ke depan ditambah dengan gerakan-gerakan lucu yang dibuat-buat seolah seperti yang dikatakannya tadi.


Melihat gaya yang di praktekkan barusan, ditambah dua prasangka keliru yang dibuatnya, membuat Waseso tertawa terpingkal- pingkal, bahkan bergulingan di tanah.


"dasar sedeng"


"si bau kuda"


Demikianlah bersahutan mereka saling mengejek sambil ngakak bareng.


Bila ada orang disektar mereka saat itu pasti menyangka bahwa terdapat dua anak gila. Bagaimana tidak, di tengah siang bolong nan terik, dua anak kecil sedang tertawa terbahak-bahak, bahkan yang satu suara ketawanya lebih keras itupun masih ditambah dengan badannya sampai berguling di tanah. Hanya si kuda yang terlihat paling waras, dia masih sibuk mengendus rumput dan memakan tumbuhan yang sesuai dengan seleranya.


Setelah merasa sedikit nyeri di perut masing-masing, mereka berdua hanya terlentang diam di tanah.


"aku adalah anak yang paling menderita di dunia ini,....maukah engkau menjadi temanku?"

__ADS_1


Si bocah perempuan mulai pembicaraan sambil mengusap kedua matanya mengeringkan sisa air mata yang keluar saat tertawa tadi sambil bangkit duduk.


Waseso juga menyusul duduk dan mengulurkan tangannya;


"aku waseso"


"aku kinda"


Demikianlah mereka berjabat tangan, dan dilanjutkan waseso bertanya;


"apa maksudmu paling menderita?"


"karena sebulan yang lalu aku baru saja ikut upacara penguburan ayahku, dia menyusul ibuku yang juga sudah pergi waktu aku berumur enam tahun"


"upacara? apakah ayahmu prajurit?"


"iya diatasnya prajurit, periwa,..prewira,.. perwira atau apa,......owhya, kenapa sich bahumu aneh"


Mendapat pertanyaan itu dan tadi sekilas dia merasakan suara bergetar saat Kinda menjelaskan kehilangan kedua orang tuanya, Waseso menceritakan sejarah dirinya untuk tujuan menghiburnya dan agar Kinda tidak lagi merasakan sebagai anak yang paling menderita. Diceritakan masa kecilnya, kepergiannya dari desa, hingga bagaimana dia memperoleh cacatnya. Namun saat dia melihat perubahan mimik muka Kinda yang seperti menunjukkan rasa belas kasihan padanya hingga dilihatnya pula mata teman barunya mulai berkaca-kaca, dengan cerdik Waseso menceritakan keuntungan yang di dapat akibat cacat tersebut, termasuk langsung memperagakan dua peran sekaligus, yaitu sebagai dirinya sendiri saat berdiri miring diam ketakutan dan memerankan sosok orang jahat yang berdiri memeriksa atau menaksir dirinya, tentu saja dengan ekspresi kocak yang dibuat-buat. Kontan saja, drama kecil yang dibuatnya itu membuat Kinda tertawa. Kemudian dia juga menceritakan pertemuannya dengan bude yang meninggal digigit ular, dengan bude Temoto dan keluarganya bahkan penolakannya untuk memperoleh pengobatan dari tabib yang akan didatangkan oleh pakde Temoto, karena baginya cacat ini adalah penolongnya. Sambil selalu memperhatikan setiap raut muka Kinda, dia terus berceloteh. Kembali jika terlihat kisahnya seperti menyedihkan karena menahan lapar di perjalanan hingga bagaimana naasnya dia saat di rampok oleh prajurit, segera dia membelokkan alur cerita sedemikian rupa menjadi bahan tertawaan. Sampai akhirnya dia tiba di tempat ini dan melihat kudanya dia jabarkan sebagai penutup.


Merasakan bahwa Waseso sudah menyelesaikan ceritanya, Kinda segera membuka tas selempang yang dibawanya. Dikeluarkannya sepotong roti isi, berukuran besar serta dua buah apel merah. Nampak dia memotong roti tersebut serampangan dan potongan terbesar segera diserahkannya ke Waseso. Demi yang disodori tidak bereaksi, dengan cerdik Kinda berkata;


"ini sebagai imbalan perbuatan baikmu yang telah memberi makan nona kuda"


Mendengar perkataan Kinda, barulah Waseso menerima potongan kue tersebut termasuk sebuah apel merah. Entah dia yang terlalu lapar atau memang roti tersebut memang istimewa, namun Waseso tidak mempedulikan bahwa dialah pemenang tercepat makan roti, bahkan sisa roti di tangan Kinda yang memang dia sodorkan ke Waseso karena melihat betapa lahapnya dia makan, juga dihabiskan dalam waktu sekejap. Demikian juga setengah potongan apel merah milik Kinda yang juga diulurkan padanya, dia kunyah habis sebagai bonus penutup.


"ewh sedeng,....umurmu berapa? kalau aku tujuh tahun"


"aku sepuluh tahun"


"terus kamu tinggal dimana?"


"ayo kita ke tempat tinggalku,..."


Selesai berkata demikian, Waseso bangkit berdiri.


Kinda segera memungut tasnya, mengambil kantong minumnya dan ditenggak sedikit lalu diulurkannya ke Waseso yang menerima dan meminumnya sambil berjalan memimpin ke lokasi tempat tinggalnya.


"inilah tempat tinggalku,..."


Demikian nada bangga Waseso ketika sampai ditempat yang dimaksud, sambil membuka tirai alam berupa tanaman merambat pada dinding tanggul penyangga tepat dibawah jembatan alias kolong jembatan. Dasar jiwa anak-anak yang mempunyai naluri petualangan, si Kinda juga tidak merasa risih atau jijik atas kondisi tersebut, malah dia menambahkan;


"besok aku akan membawa tikarku untuk mengganti alas kain jelek itu"


Sambil menunjuk ke arah beberapa lembar bendera panji yang sudah terlihat luntur dan kumal.


"boleh,....bahkan jika engkau mempunyai sejumput bubuk busa, aku akan senang menerimanya"


Demikian jawab Waseso sambil berlagak laksana seorang pemimpin pengelana.


"apakah disini ada kamar mandinya?"


"owh tentu ada,....disini,..."


Sambil berkata, tanpa basa-basi Waseso segera memelorotkan celana dan membuka bajunya lalu langsung berbalik dan;


"byuuurrrrr"


Anehnya demi melihat Waseso dibawah sana sedang berdiri di tengah sungai jernih sedalam dadanya, Kinda juga tanpa rasa malu sedikitpun mengikuti yang diperbuat Waseso sekaligus membuktikan bahwa dia adalah anak perempuan sejati, dan;


"byuuurrrrr,....."


Mereka berdua mandi di sungai selayaknya bocah.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2