Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB 24 - PENJAHAT PEMETIK BUNGA


__ADS_3

Pada generasi ke dua puluh empat, dinasti kekaisaran Muderakali dimana pada masa Waseso ini diceritakan, kursi singgasana kaisar diduduki oleh Kaisar Kamundrajagat. Berbeda dengan para pendahulunya, kaisar ini memiliki watak yang sabar dan budi pekerti yang luhur. Dan pada usia kepemimpinannya yang baru ke delapan tahun, kaisar yang baru berusia enam puluh delapan tahun ini, sudah berniat untuk mengundurkan diri dari singgasananya dan akan diserahkan kepada putra mahkotanya yang berusia tiga puluh tiga tahun, dan mewarisi watak sang ayah, yang juga cakap serta bijaksana. Sang putra mahkota, ternyata telah memerintahkan mata-mata rahasia, untuk mencari tahu yang sebenar-benarnya situasi peperangan yang sudah berjalan sekian generasi, namun tak kunjung mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. Hal itu dilakukannya, karena dia merasa bahwa ada sesuatu yang dia sendiri tidak yakin, berkaitan dengan laporan-laporan dari semua pejabat pemerintahan beserta semua pejabat dibawahnya yang melaporkan bahwa semua baik-baik saja, perang sebentar lagi akan dimenangkan, semua rakyat mendukung kaisar, dan sebagainya.


Kecurigaan putra mahkota, sebenarnya bukannya tanpa dasar. Hal itu diawali oleh kejadian, dimana salah satu, dari tiga penasehat kaisar meninggal secara mendadak, padahal sebelumnya diketahui sehat segar bugar, meski usianya sudah enam puluh sembilan tahun. Sudah begitu, mendiang penasehat ini terkenal paling vokal dan selalu memberikan saran-saran yang berseberangan dengan dua penasehat lain.


Dan ternyata pada saat putra mahkota melayat ke rumah duka, dilihatnya sendiri bahwa rumah mendiang penasehat tersebut sederhana meskipun besar, namun sama sekali jauh dari kesan mewah, sangat bertolak belakang dengan yang lainnya. Itulah mengapa hal tersebut disampaikannya langsung kepada ayahandanya kaisar melalui pertemuan empat mata saja.


Ternyata apa yang menjadi pikirannya tersebut, diterima dengan baik oleh kaisar, bahkan ketika kaisar menanyakan langkah apa yang sebaiknya di ambil. Sang putra mahkota memaparkan begitu panjang lebar dan sekaligus, kaisar dapat menyimpulkan bahwa putranya ini sangat cerdas, cakap dan bijaksana, bahkan melebihi dirinya sendiri. Oleh karena itu, kaisar memberinya ijin, untuk melakukan segala apa yang direncanakannya namun dengan diam-diam. Dan bahkan mengatakan, bahwa dia berniat untuk mundur dan memilih untuk menyepi, bersama dengan permaisuri dan lima selirnya. Sehingga tampuk kekuasaan akan dilimpahkan kepada putra mahkota itu.


Ternyata, kecurigaan yang dirasakan putra mahkota tadi satu persatu mulai terbuka, dimana dia menerima laporan tentang bagaimana semua pejabat tinggi hingga daerah hidup dalam gelimang harta dan kekayaan, dugaan penyelewangan terhadap keuangan kompensasi bagi rakyat karena kebijakan kaisar, besarnya pajak yang harus dibayar oleh rakyat demi untuk menutupi biaya perang, dan lain sebagainya. Namun sayangnya, satu persatu, mata-mata yang telah dia sebarkan menghilang atau dikabarkan mati. Padahal, mereka sudah semakin dekat dengan laporan akhir.


Sebagaimana biasanya, sebelum beranjak ke tempat pembaringan. Kaisar selalu menyempatkan menerima kedatangan putra mahkota, apabila dia ingin menyampaikan berita. Sebagaimana malam itu sekitar empat bulan yang lalu, terjadilah percakapan bisik-bisik ini;


"lalu engkau akan mengirim siapa? Tentunya untuk kali ini, engkau harus benar-benar menunjuk orang yang tepat ; harus yang berilmu silat sangat tinggi, bisa dipercaya, dan juga cerdas" demikian kaisar bertanya serta sekaligus menyampaikan pendapatnya.


Lalu putera mahkota menatap kaisar dengan pandangan serius ;


"ayahanda kaisar, saya rasa untuk kali ini, satu-satunya orang yang tepat untuk tugas ini adalah dia"


Sambil balik menatap puteranya, awalnya kaisar hendak bertanya, tapi ketika kaisar melihat sorotan mata sang putera, barulah dia mengerti yang dimaksud.


"apakah engkau yakin kalau dia sanggup dan siap?"


"saya rasa inilah saatnya buat dia, tentunya jika ayahanda memberikan restu"


Setelah kaisar menarik napas dan mengenang sosok dia yang dimaksud, kaisar berkata dengan mantab, namun masih berbisik;


"kalau itu menurutmu yang terbaik, cobalah kau ajak bicara, aku merestui rencanamu"


" baiklah ayahanda, anak mohon diri" lalu putera mahkota meraih tangan kanan ayahandanya dan menciumnya, serta berbalik keluar dari kamar kaisar.

__ADS_1


Waseso yang masih nampak berjalan santai sambil menuntun kuda penarik pedati melihat nun jauh di depan sana, kang Daruna beserta lima belas adik  seperguruannya seperti sedang ngobrol dengan tiga orang yang dari tempatnya sekarang belum jelas kelihatan, entah lelaki entah perempuan. Waseso menghentikan kudanya sejenak dan berjalan ke samping kirinya serta membabat serumpun rumput hijau dan gemuk lalu membaginya secara adil ke tiap kuda dan si plentong. Kemudian berjalan lagi, beberapa puluh langkah dilihatnya tiga rumpun juga, lalu dihentikannya kuda dan melakukan hal yang sama seperti tadi. Begitulah cara Waseso berjalan dari tadi, oleh karenanya kang Daruna sekalian, yang tidak sabar, memutuskan untuk berjalan ke depan lebih dahulu. Waseso kembali melanjutkan berjalan dan sekarang di lihat dari pakaian serta kuda mereka, ke lima gadis, terlihat sudah bergabung dengan kang Daruna sekalian, dan itu artinya bahwa mereka pasti sedang berkumpul di perempatan jalan. Ketika sudah dalam jarak pandang yang jelas, barulah Waseso bisa melihat bahwa tiga orang tadi adalah tiga pendekar wanita berbaju ringkas. Yang satu berambut hitam panjang, membawa payung, yang dua lainnya berambut pendek sedagu menggendong pedang di balik punggungnya , yang jika dilihat dari tempat Waseso saat ini sebenarnya kurang jelas apakah lelaki atau perempuan, tapi karena Waseso melihat dua gundukan di masing-masing dada mereka, maka si pemuda merasa yakin tebakannya tadi benar. Waseso melanjutkan langkahnya, namun kembali dilihatnya sebelah kiri dan berhenti lagi,...dan seterusnya, hingga kini setelah dekat, hanya tinggal ke lima gadis yang sedang duduk-duduk santai di atas rerumputan, sambil bertukar makan isi bungkusan kertas yang pasti adalah panganan.


Mereka semua lalu bangkit berdiri dan membereskan masing-masing tali kekang kuda, jelas menunjukkan bahwa kelimanya akan menuntun kuda tunggangannya dan berjalan kaki bersama Waseso.


"kak Waseso, itu tadi ada kak shinta dan si kembar kak midya dan widya, mareka juga sedang berkelana dan menerima tawaranku untuk jalan bersama" demikian Kinda berkata saat si pemuda sudah dekat.


Sebelum menjawab, Waseso sempat membatin sendiri, dasar anak bengal, siapapun juga kamu ajak serta. Tapi tentu saja bukan itu yang dikeluarkannya ;


"apakah mereka tidak buru-buru? Lagipula kita kan hanya berjalan tanpa arah?" demikian jawab Waseso sambil menuntun kudanya belok ke kiri.


Kini giliran Laksita yang menyahut,


"tadi kami juga sudah bilang, tapi ternyata mereka berminat tetap bergabung".


Kini Wulan yang menimpali ;


"iya bahkan, tadi mereka mengatakan bahwa sudah mendengar berita perihal rombongan pengungsi yang dikawal, karenanya mereka ingin bergabung dan membantu, tadi sich maunya kita kenalkan ke kak Waseso tapi di,.......mereka ingin ikut membuka jalan".


"ada bawa yang enak-enak nggak?"


Tidak ada yang menjawab, karena Werni langsung mengulurkan bungkusan kertas yang dipegangnya ke arah Waseso.


Di samping belakang Waseso, Ni Luh masih mencolek Wulan sekali lagi dan yang dicolek malah membalas lucu, memeletkan lidahnya ke arah Ni Luh, yang membatin ;


"untung anak ini nggak jadi kelepasan ngomong, kan nggak enak sama Werni".


Setelahnya saling bergantian baik Kinda maupun Laksita juga mencubit tangan atau pinggang Wulan. Jadilah mereka bertiga, seperti adegan lucu mengeroyok Wulan yang tadi hampir kepeleset lidah menyebutkan bagaimana kang Daruna dengan gaya khasnya, mengajak jalan duluan teman-teman baru mereka tanpa menunggu dan memperkenalkan langsung ke Waseso yang sebenarnya bisa dikatakan adalah ketua rombongan dan mereka termasuk kang Daruna sekalian hanyalah menumpang jalan.


Tapi tentunya mereka juga menjaga perasaan Werni istrinya, itulah tadi alasan kenapa Ni Luh mencolek Wulan tanpa sepengetahuan Werni dan Waseso.

__ADS_1


Dua gadis lainnya juga merasa lega dengan apa yang dilakukan Ni Luh, makanya kini mereka berdua bergabung dengan Ni Luh mengerubuti Wulan.


"kalau si penjahat pemetik bunga masih terbukti berkeliaran di kota Sarupan tadi, tentu kita meluangkan waktu tinggal disana barang semalam dua malam, buat ikut membantu meringkus" Werni membuka keheningan, yang langsung ditimpali oleh ke empat lainnya.


Dan demi melihat Waseso seperti melihat mereka seolah bertanya soal topik yang sedang dibicarakan, Kinda menjelaskan ke si pemuda, bahwa tadi saat mereka berlima berada di kota Serupan, untuk sekedar melihat-lihat kota. Mereka memperoleh informasi bahwa beberapa hari lalu, kota mereka didatangi penjahat pemerkosa gadis-gadis, bahkan hampir setiap malam terjadi hal yang sama seperti bergilir.


Padahal penjagaan sudah ditingkatkan begitu kasus pertama terjadi. Tetapi menurut informasi dari pemilik warung makan, kondisi kota tersebut sepertinya sudah normal kembali. Meski kegegeran selanjutnya, dua gadis yang jadi korban ditemukan mati mengenaskan, dengan cara bunuh diri akibat penderitaan yang dialaminya.


Mendengar cerita tersebut, hati Waseso merasa sedih dan prihatin, oleh karenanya dia berkomentar ;


"tidak ada salahnya, kita juga pasang mata dan telinga di sepanjang perjalanan nanti. Siapa tahu kita bisa turut membantu meringkus penjahat bejat itu".


Kelimanya menganggukkan kepala tanda setuju.


Saat matahari sudah mulai hendak menenggelamkan diri, nampak di depan kang Daruna sekalian, sedang berdiri di depan sebuah gubuk reyot, dan Waseso berpikir itu adalah tempat yang tepat untuk mereka menginap malam ini, terutama bagi para wanita.


Maka, setelah menempatkan kuda dan semua pedati. Mereka semua bahu membahu mengeluarkan barang-barang yang dibutuhkan, termasuk sebuah tenda yang kemudian di pasang masing-masing agak jauh sana, baik depan dan jalan belakang yang tadi di lalui,  sebagai tempat tidur sekaligus pos penjagaan bagi semua laki-laki. Adapun ke delapan gadis, juga segera bersih-bersih dan berbenah di ruangan gubuk yang meskipun reyot, namun dapat menampung mereka semua berdelapan tidur disitu.


Malam kali ini, Werni bertindak sebagai kepala dapur, dibantu Waseso dikarenakan bude Surjana tidak bersama lagi dengan mereka, dia membagi porsi sedemikian rupa dan membungkusnya dengan daun pisang, lalu membagi- bagikan masing-masing satu, ke semua orang.


Setelah selesai makan malam, para gadis berkumpul didalam gubuk sambil kembali membahas topik yang berkaitan dengan penjahat pemerkosa wanita, yang ternyata juga di ketahui oleh Shinta bertiga. Bahkan pembicaraan mereka dilanjutkan hingga larut malam dan mendengar penuturan Shinta tentang perjalanan pengembaraan mereka bertiga, yang katanya hanya sekedar ingin berkeliling negeri dan jika memungkin juga ingin melihat kondisi medan perang di garis depan.


Kinda dan teman-teman yang di awal perjumpaan mereka dengan ke tiga gadis sempat berasumsi bahwa Shinta yang berumur dua puluh tahun, adalah seorang gadis yang angkuh, namun setelah mereka berkesempatan ngobrol panjang lebar sedemikian rupa, segera mereka berlima menyukainya dan menyimpulkan, bahwa Shinta yang sepertinya adalah anak orang kaya dan berpendidikan tinggi, namun ternyata adalah seorang gadis yang memiliki hati yang lembut dan sangat menyenangkan sebagai teman ngobrol, karena selain memiliki wawasan dan pengetahuan luas, dia tetap menunjukkan kerendahan hati.


Adapun si kembar, ternyata adalah dua gadis yang dari penampilannya berkebalikan dengan Kinda, dimana mereka berdua memang berpakaian layaknya pria, memakai celana panjang yang agak ketat membungkus kedua kakinya yang seperti belalang. Namun diluarnya, mereka tidak mengenakan lagi jubah panjang sebagai penutup seperti Kinda. Sehingga selain bentuk kaki, bongkahan pantat, serta dada yang membusung, sangat tercetak dengan jelas. Rambut juga dipangkas pendek sedagu, sehingga sangat serasi dengan bentuk wajah keduanya yang cantik manis. Midya sang kakak  memiliki lesung pipit, adapun sang adik tidak, namun memiliki tahi lalat kecil di dagu kanan. Keduanya berumur dua puluh tahun kurang sedikit, adalah gadis ceria dan menyenangkan persis seperti Laksita, Kinda dan Wulan.


Demikianlah Waseso sekalian,  menikmati malam pertama mereka tanpa rakyat pengungsi.


Bagi Kinda, Ni Luh, Laksita dan Werni, yang pernah mengalami kebersamaan tersebut, hati mereka merasa seperti ada sesuatu kehangatan yang hilang.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2