
"pokoknya kalau sudah dekat kota watureng, aku akan pergi kesana, siapa tahu bisa bertemu dengan jodohku,...pemuda tampan, kaya, dan terhormat" demikian kata Wulan sambil berjalan lenggak-lenggok begitu kenes dan menggemaskan sambil tangan kirinya memegang daun pisang untuk menutupi kepalanya agar terlindung dari sinar matahari. Melihat keceriaan gadis itu Kinda, Ni Luh dan Laksita saling tatap dan tersenyum.
"Bukankah kemarin waktu,.... di pulau sudah ketemu yang seperti itu" goda Kinda, dimana dia tadi sempat menghentikan ucapannya sambil celingukan ke arah kiri belakang, tempat dimana Werni tadi pergi menghilang untuk buang air kecil, sambil membawa kantong air. Dan demi melihat yang dimaksud belum muncul, diapun menyelesaikan ucapannya.
Wulan yang mengerti maksud Kinda berbalik sebentar dan segera menjawab, namun dengan lirih; "iya tampan sich,... tapi (dia membuat kode ibu jari menunjuk ke bawah) nggak jauh beda kayak (dia memonyongkan bibirnya ke arah yang dilihat Kinda barusan, maksudnya adalah suami Werni) huh membosankan"
Tentu saja jawaban itu membuat ketiga gadis lainnya tertawa geli.
"apa ada yang aku lewatkan?" teriak Werni yang muncul beberapa saat kemudian dari rerimbunan pohon di belakang sana sambil berlari mendekati mereka.
Laksita yang menyahut;
"biasa,... kayak nggak tahu aja kelakuan si centil satu ini" sambil dia melempar setangkai bunga kecil ke arah Wulan.
Demikianlah mereka melanjutkan perjalanan pagi itu. Wulan lagi-lagi melanjutkan celotehnya sambil jarinya menunjuk ke jauh di belakang sana, ke arah rombongan pedati yang dipimpin oleh Waseso seorang, yang jauh tertinggal;
"lihat tuh kak Waseso, tadi sebelum berangkat, udah dibelain Kinda untuk mengumpulkan rumput-rumput gemuk agar tidak selalu berhenti, eeee masih ada aja yang dilakukannya, malah memetik kelapa muda,.." Keempat gadis ikut menoleh ke belakang dan memang benar, si pemuda sedang nangkring di pucuk pohon kelapa sana.
Tentu saja mereka berlima serentak kembali tertawa geli.
Menjelang siang, mereka melewati area bekas sawah ladang disebelah kiri mereka, yang terlihat terbengkalai dipenuhi berbagai tanaman liar. Menandakan bahwa mereka, akan segera memasuki sebuah perkampungan penduduk. Dan benar saja, tidak beberapa lama kemudian, mereka melihat di sebelah kiri di balik rerimbunan pohon bambu dan pohon kelapa, nampak puluhan atap rumah-rumah penduduk. Saat mereka sudah tiba di pertigaan jalan yang kekiri adalah jalan masuk menuju perkampungan tersebut, Kinda berkata ;
"kakak sekalian tunggu disini sambil menanti kak Waseso tiba, biarlah aku periksa ke dalam" selesai berkata demikian Kinda melenting dan masuk ke dalam perkampungan atau lebih tepatnya bekas perkampungan, karena sebagian besar pintu serta jendela rumah-rumahnya terbuka melompong. Belum lagi dari sini, juga terlihat beberapa dinding rumah yang terbuat dari papan, banyak yang bolong. Kemudian Wulan dan Werni juga ikut menyusul Kinda.
Sekarang tinggal Ni Luh dan Laksita yang tersisa, nampak memandang ke kampung tersebut dengan pandangan prihatin. Beberapa saat kemudian, ketiga gadis tadi nampak berjalan kembali ke pertigaan.
"bagaimana?" Ni Luh yang bertanya setelah ketiganya mendekat.
"tidak ada tanda kehidupan" balas Wulan.
Kini Werni yang berkata ;
"sebaiknya kita tunggu saja, biar adik Waseso yang memutuskan".
Yang lain mengangguk tanda setuju. Kemudian lanjutnya seperti menggerutu, tapi sepertinya hanya untuk dirinya sendiri ; "bagaimana sich kakang Daruna,...kok ya nyelonong aja".
Yang lain hanya saling melirik namun tidak menanggapi.
Agak lama kemudian nampak di kejauhan, Waseso sudah mulai menampakkan tubuhnya. Dan dari depan juga terlihat, ke tiga gadis yang tadi ikut dengan rombongan pembuka jalan, sedang berlari balik ke arah mereka. Dan ketiga gadis ini yang sampai terlebih dahulu disitu dibandingkan Waseso, dimana Shinta yang langsung bertanya;
__ADS_1
"bagaimana, kenapa berhenti ? sepertinya kita sudah dekat dengan kota watureng"
Werni yang menjawab;
"kami tunggu kak waseso dulu kak shinta, biar dia yang memutuskan" sambil wajahnya mengarah ke kampung.
"tapi sepertinya kalau kita lihat kosong" lanjut Shinta, yang malah membuktikan bahwa rombongan pembuka jalan, dalam hal ini kang Daruna yang memimpin, tidak melakukan pemeriksaan tadi.
Dan akhirnya yang ditunggu pun tiba;
"bagaimana adik bau?" Waseso yang memang sudah melihat akan adanya perkampungan, bertanya kepada Kinda, yang langsung dijawab;
"sudah aku periksa dan kosong"
Waseso kemudian berdiri di samping Kinda dan menatap ke arah kampung. Kemudian dia mengarahkan pandangannya ke sekeliling tempat itu dan seperti termangu memandang ke arah rerimbunan ladang singkong di sebelah kiri, yang meskipun nampak lebat bercampur dengan tanaman liar, namun masih menampakkan secara samar adanya dua batang pohon yang rebah di tanah, seperti baru dua hari lalu di cabut. Penemuan pandangan seperti ini, hanya bisa dilakukan oleh orang yang teliti dan berpengalaman.
"kita tunggu saja di dalam" demikian kata si pemuda sambil menuntun kuda penariknya berjalan masuk ke arah perkampungan.
Semua gadis hanya memandang bengong ke Waseso, tetapi Laksita yang tadi sempat melihat ekspresi wajah si pemuda, saat menatap ke arah rerimbunan pohon singkong, mulai paham dan segera menunjukkan apa yang dilihatnya itu kepada gadis lain. Dan mereka pun tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap Waseso.
Akhirnya mereka ikut berjalan masuk ke perkampungan di belakang pedati terakhir. Apa yang menjadi dugaan Waseso terbukti benar, karena beberapa saat kemudian Shinta, Midya dan Widya melihat si pemuda, nampak keluar dari lubang persembunyian di dalam bekas kandang ternak, dimana dia sedang membopong seorang lelaki tua yang sangat kurus, dibelakangnya menyusul kemudian keluar dari lubang tersebut seorang perempuan tua juga, bertubuh kurus, lalu sepasang suami istri yang berusia sekitar empat lima puluh tahunan, juga gadis remaja. Mereka semua dalam keadaan mengenaskan dan memprihatinkan.
Lalu menyusul kemudian dari sebelah kirinya, Laksita juga membawa,...Werni juga demikian,... Kinda juga menemukan,....semua adalah pemandangan memilukan yang selama ini belum pernah disaksikannya secara langsung. Karena selama dalam pengembaraannya dia hanya menemukan desa kosong semata. Oleh karenanya, kejadian ini membuat Shinta merasa terpukul dan merasa malu, sehingga gadis ini hanya bisa terduduk lemas dan menangis demikian pilu. Adapun si kembar yang segera dapat mengatasi emosinya, langsung tanggap dan bergegas membantu sebisa mungkin, meski dengan kedua mata masih sembab.
Shinta juga menyaksikan sendiri bagaimana gesitnya Waseso bersama yang lain, melakukan penanganan.
Mulai dari penempatan mereka yang sakit, dimana disaksikannya Laksita begitu tangkas melakukan perawatan dan pemeriksaan, gadis lainnya menyiapkan barang-barang kebutuhan, selimut, pakaian, dan termasuk menyiapkan dapur umum. Benar-benar dia menjadi saksi hidup, atas tindakan kepahlawanan yang nyata oleh teman-teman yang baru ditemuinya beberapa hari lalu.
Menjelang sore hari, sudah mulai terlihat bahwa para pengungsi yang tadi terlihat tegang dan ketakutan, sudah mulai tenang. Mereka juga sudah memakan makanan bekal bawaan para pendekar, setdaknya cukup untuk mengganjal perut.
Mereka semua ditempatkan bersamaan, di dalam rumah kepala desa yang bangunannya cukup luas dan sudah dibersihkan, adapun yang sakit di tempatkan di rumah samping. Dapur beserta alat memasak sudah siap untuk digunakan, termasuk bahan-bahan masakan. Sumur dan dua kamar mandi juga telah digunakan oleh warga yang bergiliran mandi, serta telah memakai pakaian baru buatan Ni Luh.
Shinta juga sudah mulai tenang dan nampak dia sedang membantu Werni menyiapkan beras dan bahan-bahan sayuran. Waseso dan Wulan baru saja tiba membawa hasil buruan, berupa dua puluh lima ekor burung puyuh dan lima belas ekor kelinci liar. Kinda juga sibuk sedang memerah susu plentong. Ni Luh dibantu si kembar, sedang bahu membahu memakaikan baju ganti yang baru, kepada bocah-bocah yang habis selesai mandi.
Sementara, nampak berjalan memasuki kampung, kang Daruna sekalian bersama lima orang pendekar muda yang sepertinya baru saja turut serta bergabung dengannya.
Werni yang sekilas melihat kedatangan suaminya, bergegas menyambut;
"istriku,..dimanakah adik Waseso? Saya akan memperkenalkannya deng,...."
__ADS_1
Ucapannya langsung dipotong sang istri ;
"udah tidak perlu perkenalan segala,...." Werni langsung menjelaskan temuan mereka tadi siang dan karena itu dia meminta suaminya serta adik-adik seperguruan mereka, untuk segera mengatur pos pengamanan dan penjagaan sekeliling kampung, daripada mengganggu Waseso yang saat ini sedang sibuk. Mendengar itu, kang Daruna segera sigap, memberi instruksi dan membagi tugas, selayaknya seorang pemimpin. Akhirnya suasana yang dirindukan oleh Kinda dan gadis lainnya terkabul.
Ini adalah malam kedua, dimana Shinta sehabis mandi akan menikmati makan malam di salah satu rumah warga yang kosong ditinggalkan penghuninya. Rumah ini sangat sederhana, namun bagian dalamnya sudah dibersihkan dan di khususkan sebagai tempat makan malam para pendekar, dimana untuk para warga yang ditemukan bersembunyi tadi siang, diatur terpisah di rumah kepala desa yang juga sekaligus sebagai tempat mereka berkumpul serta beristirahat. Setelah duduk, Shinta memperhatikan satu persatu dua jenis sayuran, sebakul besar nasi, lauk dua jenis sebagai menu makan malam yang meskipun sederhana namun menurutnya pribadi, rasanya sangat enak. Sambil mendengarkan dan sesekali menanggapi pembicaraan kang Daruna, yang sambil makan sekaligus juga menceritakan kebanggaannya sebagai pembuka jalan, dimana tadi siang telah mengusir gerombolan pengacau yang ditemui, juga memberikan motivasi kepada para pendekar muda yang hadir disitu, yang juga sambil makan namun mendengarkan dengan serius, tentang bagaimana seharusnya para pendekar persilatan mesti bersikap dalam panggilannya untuk turut membantu perjuangan kekaisaran mereka memenangkan peperangan. Adapun topik tersebut, adalah yang ke tiga kalinya ini, di dengar lagi oleh Shinta, termasuk cerita perihal kebanggaannya terhadap pendahulu perguruan mereka yang dianggapnya sebagai pahlawan, dan lain sebagainya.
Sebenarnya Shinta hendak mengambil selembar daun pisang sebagai alas makan, namun diurungkannya, karena saat dia melihat ke satu pemuda pendekar yang sangat tampan, di ujung meja sebelah kanannya, dia tidak melihat adanya Wulan, yang kemarin dia lihat duduk di samping pemuda itu dan muda- mudi itu kemarin tampak akrab.
Dia juga baru ingat kalau tadi sebelum dia mandi, si kembar Midya dan Widya meminta ijin padanya untuk tidak turut makan malam dengannya.
Berpikir sampai disitu, dia bangkit berdiri dan mohon diri ke kang Daruna sekalian untuk bergabung dengan warga, dan tentu saja dipersilahkan oleh kang Daruna yang kembali melanjutkan pembicaraannya.
"benar kan,..mereka disini,.. ada Wulan juga" demikian Shinta membatin, lalu menggelengkan kepala tanda jawaban, saat Werni menanyakan apakah dirinya sudah makan.
Dilihatnya semua orang sedang duduk dilantai beralaskan kain yang dihamparkan sedemikian rupa, menutupi papan lantai rumah. Semua sedang makan makanan yang dibungkus daun pisang.
Sebelum ikut duduk dibawah, Shinta menerima uluran tangan Werni, yang memberinya sebungkus nasi. Lalu dia mulai membuka bungkusannya sambil mendengarkan Waseso yang kini mulai meneruskan pembicaraannya yang terpotong tadi akibat kedatangannya barusan.
Saat itu, Waseso sedang menceritakan bagaimana gusarnya dia terhadap si plentong yang entah kenapa tidak mau mengeluarkan air susunya dan bahkan Waseso hampir saja tersepak kaki belakangnya...pada bagian ini dilihatnya para warga yang kemarin dilihatnya begitu menderita serta wajahnya diliputi ketakutan,....nampak tertawa begitu lepas, karena mendengar cerita si pemuda, bahkan empat bocah kecil seusia kisaran tujuh sampai sepuluh tahun disana, nampak juga ketawa tiada henti, hingga hampir tersedak.
Juga dilihatnya semua gadis pendekar begitu lahap memakan makanannya masing-masing dan bahkan Kinda juga ikut menimpali cerita konyol si pemuda tadi dan malahan jelas-jelas membela si plentong,............"gerrrrrrrr" kembali disambut tawa semua orang, termasuk juga diliriknya si kembar yang salah satunya sedang menyuapi gelas minum ke bocah yang duduk disampingnya sana, juga terlihat tertawa geli.
Perlahan Shinta juga mulai turut larut dalam pembicaraan remeh temeh tersebut, bahkan juga ikut tertawa lepas.
Ketika semua sudah selesai makan dan saatnya duduk santai sambil menunggu makanan tercerna, tiba-tiba Ni Luh berkata ;
"ayo siapa dari warga yang mau bercerita ? aku punya hadiah baju baru buat yang mau cerita,.."
Pertanyaannya segera disambut oleh satu lelaki tua di sudut sana, yang ternyata dia bercerita tentang bagaimana dia mengalami kakinya yang bengkak keseleo, akibat terlalu buru-buru menuruni tangga persembunyian. Cerita yang sebenarnya memprihatinkan tersebut, namun disampaikan dengan kalimat polos sederhana,....termasuk dia menceritakan upayanya menghindari menginjak kepala istrinya yang berada dibawahnya dan juga sedang menuruni tangga, namun katanya terlalu lamban,... dan tanggapan spontan dari sang istri yang segera memotong pembicaraannya dan melakukan bantahan,... tentu saja membuat semuanya menjadi tertawa terpingkal-pingkal, hanya para pendekar tertawanya sambil meneteskan air mata, campuran antara rasa geli, kasihan dan memelas haru.
Bahkan pada bagian ini, yang paling banyak mengeluarkan air mata adalah Shinta,.....ya baru kali ini, dia bisa merasakan tertawa geli sekaligus menangis sedih secara bersamaan.
Dalam perjalanan mereka bertiga selama ini, sebenarnya mereka juga menyaksikan bagaimana penderitaan rakyat, namun pada kali ini dia bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda dan juga turut terlibat secara langsung.
Sejak saat itulah, dia dan juga si kembar selalu memilih makan bersama dengan para warga, walau dengan kondisi sekitarnya yang bagi mereka sebenarnya adalah sangat tidak layak. Suasana kebersamaan yang demikian, ternyata telah meracuni hati mereka bertiga dan membuat ketagihan, sebagaimana yang telah dirasakan juga oleh para gadis-gadis sebelumnya.
Upaya kang Daruna juga menampakkan hasil yang positif, kabar tentang keberhasilannya sebagai pelindung pengungsi dan mengusir pengacau segera menyebar luas, karena personil pendekar mereka juga bertambah dan kali ini, bukan hanya dari anak murid bekas perguruan Elang Biru saja. Tetapi, dari berbagai kalangan pendekar tua dan muda.
Pada hari ke lima, Waseso memutuskan untuk berangkat melanjutkan perjalanan, dimana semua warga yang kondisi fisik mereka sudah jauh lebih baik, meminta membonceng hingga nanti tiba di perkampungan yang lebih besar dan lebih aman. Tentunya hal ini sangat disetujui oleh si pemuda. Sehingga sejarah pun terulang, mereka kembali melakukan konvoi pelancongan dengan pengawalan keamanan, depan serta belakang.
__ADS_1
BERSAMBUNG.