
"Grrrrrrrr,....."
"iya aku keliru..." Selanjutnya Waseso seperti mengulang apa yang barusan dilakukannya. Gerakan langkahnya kini dibuatnya lebih lambat namun tumpuan berat badannya dia pindahkan ke sisi dalam, pada kedua telapak kakinya. Demikian seterusnya hingga dia telah bergerak maju sejauh lima langkah dari tempat dia tadi memulai latihan jurus terakhir, dari dua belas jurus langkah dewa yang dipadukan secara bersamaan dengan dua belas teknik napas dewa. "selesai,..." gumamnya.
Demi tidak didengarnya satupun suara geraman ataupun dengusan dari si kucing besar, spontan saja dirinya melompat-lompat kegirangan meluapkan kegembiraan atas keberhasilannya mempelajari, sekaligus mempraktekkan dua puluh empat coretan dan gambar yang setahun lalu dilihatnya pada dinding gua. Memang satu keberhasilan yang patut dirayakannya, karena saat pertama kali ditunjukkan oleh sahabatnya ini;
PERTAMA. Waseso adalah anak kecil yang secara pendidikan tidak terurus dengan baik. Dia hanya mengandalkan ingatannya atas pelajaran membaca yang diperolehnya dari mendiang ibunya. Belum lagi, bisa dikatakan sudah hampir dua tahun lamanya dia tidak pernah melatih sedikitpun ilmu bacanya tersebut, akibat kesibukannya melakukan perjalanan pengembaraan dan lebih mengutamakan bagaimana caranya mengisi perut serta menjaga agar selembar nyawanya tidak melayang.
KEDUA. Coretan atau tulisan serta gambar tersebut telah berusia sangat lama, sehingga disamping harus secara teliti mengamati, akibat beberapa bagian kabur atau kurang jelas, gaya sang penulis dalam membentuk huruf terbilang sedikit berbeda dengan bentuk yang diajarkan oleh ibunya dulu, sehingga si bocah harus meneliti perhuruf dengan tepat.
KETIGA. Pembimbingnya dalam hal ini si kucing besar sebatas membantunya dengan bunyi "grrrrrrrr" atau "shhhhhhttt" jika dia melakukan kesalahan. Dan jika si bocah melakukannya dengan benar, si kucing besar hanya diam saja. Sehingga Waseso beberapa kali kembali mengulangi gerakan ataupun pernapasan yang sebenarnya tadi sudah benar, malah menjadi salah,.....membingungkan bukan?. Andai saja si kucing berkomentar:
"ya betul,....", maka tentunya bisa lebih menyingkat waktu.
KEEMPAT. Waseso juga memerlukan makan, entah itu ikan, makan buah atau memakan burung puyuh liar yang banyak ditemukannya di surga tersembunyi tersebut. Bahkan Waseso juga menemukan sepasang batu api di dekat tebing barat saat dirinya meminta waktu istirahat, sehingga sekali tempo dia bisa memakan ikan atau puyuh bakar. Waseso juga telah berhasil membuat beberapa jenis bubuk busa berbahan dasar daun-daun atau bunga untuk melengkapi koleksinya, mengingat si bocah ini ternyata suka menjaga kebersihan tubuh. Artinya, si bocah ternyata juga melakukan berbagai aktivitas dan tidak melulu terpaku hanya untuk berlatih.
Ke empat uraian ini mengakibatkan proses belajarnya menjadi lebih molor, yaitu satu tahun. Dan selama setahun lebih dia bergaul dengan si kucing besar ada hal-hal yang diketahuinya;
SATU. Sahabatnya ini sepertinya tidak pernah tertidur sedetikpun dan tidak pernah juga terlihat menguap atau meletakkan kepalanya di tanah. Kalau sedang menunggu di samping Waseso, hanya ada tiga posisinya: berdiri, duduk dengan kaki belakang di tekuk namun kedua kaki depan tegak menopang kepalanya yang juga tegak, serta yang terakhir berbaring diatas perut namun kepala tetap tegak menatap ke depan.
DUA. Pembawaan si kucing besar selalu terlihat serius, ekornya tidak pernah sekalipun mengibas-ngibas layaknya menunjukkan kegembiraan, serta tatapan matanya juga selalu menyorot tajam.
TIGA. Si kucing besar tidak pernah sekalipun membiarkan si bocah berada sendirian di dalam gua tanpa keberadaanya dan Waseso seperti dijauhkan dari lokasi altar atas, dimana si kucing besar selalu berada di situ, seolah ada sesuatu yang dia sembunyikan.
EMPAT. Waseso tidak pernah memperoleh keterangan hal lain bahkan nama si kucing besar, nama pembuat coretan dan gambar, serta seperti apa rupa lantai altar kedua dari tempat dirinya berlatih saat ini yang merupakan lantai dasar. Pernah satu waktu dirinya menginjakkan satu kakinya mengarah tapakan diatasnya, namun respon si kucing besar sangat menakutkan. Dia seperti menggeram dan membuka mulutnya memamerkan deretan gigi serta taring-taringnya. Sejak saat itu, Waseso tidak pernah mengulangi perbuatannya.
__ADS_1
Niatnya untuk membaringkan tubuh dan menikmati rasa kenyang sehabis memakan dua ekor ikan yang tadi dibakar, diurungkan oleh Waseso demi melihat si kucing besar bangkit berdiri dan langsung berbalik dan bergerak menuju gua sambil mengeluarkan geraman halus. Si bocah yang kini berusia sebelas tahun dan sudah hapal setiap gerak-gerik sahabatnya itu segera berlari mengikutinya ke arah gua. Pada saat sudah di dalam, ditemuinya si kucing besar sedang diam berdiri dengan ke empat kakinya dan menghadap ke tempat yang mirip lantai kedua. Demi melihat perilaku aneh sang sahabat yang baru kali ini bersikap seperti itu, dia segera berdiri disampingnya. Kejadian aneh kedua terjadi, si kucing membengkokkan tubuhnya kearah belakang tubuh Waseso dan mendorong Waseso ke arah depan yang tentu saja membuat si bocah kurus ini menjadi terhuyung beberapa langkah, untuk mengimbangi badannya yang seperti akan tersungkur jatuh. Dia merasa ketakutan ketika mengetahui ke dua kakinya kini telah berada di tanah tanjakan yang lebih tinggi. Tapi anehnya, kini kepala si kucing besar mendorong tubuhnya seperti menyuruhnya untuk tetap melangkah maju. Akhirnya si bocah mengerti dan melangkah naik selangkah, dua langkah, tiga langkah, hingga di langkah ke lima dia telah berdiri di lantai kedua yang datar dan menyadari bahwa diatasnya seperti masih ada lantai ke tiga, karena dari sebelah kirinya dimana biasanya sahabatnya selalu berbaring di tempat itu, dia melihat seperti ada jalan menapak ke atas. Kini dirasakannya dorongan berikutnya masih di punggung belakangnya seperti disuruh melangkah ke tengah. Begitu berjalan ke tengah, akhirnya dia melihat ada seperti meja kayu yang kecil, dengan dua buku terletak diatasnya. Ketika sudah sampai di depan meja tersebut, Waseso duduk bersimpuh. Kini dia bisa melihat dengan jelas satu ke unikan di depan matanya. Ternyata persis di bawah kedua buku, terdapat seperti batu pipih selayaknya di bentuk sedemikian tipis. Pada bagian tengahnya di topang oleh satu-satunya batu persegi kecil yang membujur persis di letakkan ditengah, seperti membagi dua secara adil antara satu buku di sebelah kiri dengan satu buku lain di sebelah kanan. Baik kedua buku, memiliki warna sampul yang sama, bentuk sama serta ketebalan yang sama, sehingga menandakan bahwa keduanya memiliki berat yang sama persis. Sehingga kedua buku tersebut seperti diletakkan diatas timbangan neraca, yang apabila satu buku diambil, maka yang sisa akan jatuh ke tanah. Ketika si bocah menoleh ke belakang, dilihatnya bahwa si kucing besar sedang berdiri menjulang pada ke empat kakinya persis di belakang punggungnya dan kaki kanannya seperti menggaruk tanah yang bisa diartikan Waseso diminta untuk mengambil. Saat kembali memikirkan maksud sebab diletakkan seperti neraca, maka Waseso memahami bahwa dia harus memilih salah satu. Sesaat dia perhatikan buku sebelah kiri. Pada sampulnya tertulis dengan motif yang indah, bahkan tinta yang digunakan berwarna emas: "ilmu silat penggapai langit".
Sampai disini, dia membatin "benar seperti dugaanku, bahwa si kucing ini adalah peliharaan manusia sakti yang telah meninggalkan coretan dan gambar pada dinding"
Kemudian dia melihat yang disebelah kanan, motif tulisannya sangat biasa dengan tinta hitam:
"kedamaian jiwa".
Belajar dari pengalaman hidupnya dengan segala penderitaan yang dialami semenjak kematian kedua orang-tuanya, pertarungan orang-orang dunia persilatan yang dilihatnya secara langsung, berikut hasil yang ditimbulkan, termasuk kenangan terakhir dirinya yang telah sengaja di lecehkan dan disakiti, maka seolah-olah dua pilihan yang berada di depannya ini sangat mudah untuk di tentukannya. Maka tanpa berpikir panjang lagi, dia segera memungut buku yang kanan dan meninggalkan sisanya benar,......jatuh ke tanah.
Ya, dia memilih yang kanan, karena dia merasa bahwa kehidupan di luar sana demikian rumit. Bahkan pikirnya, jika dia memiliki ilmu silat setinggi langitpun, dia tetap tidak akan pernah bisa mengembalikan ke dua orang tuanya.
Dia juga sudah merasa puas dan bersyukur tiba dan tinggal di tempat ini, oleh karena itu dia ingin tahu apakah ada kedamaian lain yang bisa mengalahkan rasa damai yang sudah didapatnya selama setahun ini.
Setelah memungut buku yang diinginkannya, dia menoleh ke si kucing besar yang masih berdiri, kemudian si bocah mendongakkan kepalanya menatap kepala si kucing besar. Dilihatnya pada mata tersebut, kini menyiratkan sorot mata yang sayu dan menyejukkan. Kemudian dia melihat secara langsung bagaimana ekor sahabatnya itu mengibas kanan-kiri tiada henti, bahkan disusul sahabatnya begitu saja rebah ke tanah dan kepalanya disodorkannya ke arah pangkuan Waseso, yang tentu saja dia heran setengah mati dengan perilaku sahabatnya ini.
"krekkk,.....krekkk,...." Hanya dengan dua sabetan, kini seluruh coretan dan gambar pada dinding juga sudah hilang.
Dalam sekejap dia melompat keluar, namun berlari lagi ke dalam, menuju kearah Waseso dan membuat gerakan seolah mengajaknya turut keluar. Tentu saja si bocah mengerti maksud tersebut. Setelah meletakkan buku pilihannya ke atas meja, dia juga segera berlari keluar dan menyusul kucing besar yang kali ini berlari lurus mengarah ke kolam biru dan bergulung-gulung disana. Saat Waseso juga menceburkan dirinya pertama kali ke kolam biru, barulah dia tahu bahwa air laut ternyata asin.
Pagi ini si kucing besar kembali bertingkah aneh, tadi sewaktu si bocah akan pergi keluar mencari sesuatu untuk mengisi perutnya, dia seperti melarang dan mencegatnya di pintu keluar. Kemudian dia juga mendorong tubuh si bocah dengan kepalanya, seolah memintanya untuk kembali masuk dan begitu dituruti kemauannya, barulah terlihat si kucing besar lah yang pergi keluar.
Sebuah perilaku yang pertama kali dilakukannya, yaitu membiarkan si bocah berada di gua tanpa dirinya, seolah kini kepercayaan telah diberikan.
Waseso segera berjalan menuju altar ke dua, lalu memungut buku yang dipilihnya kemarin yang masih berada diatas meja. Setelahnya dia duduk dengan memangku bukunya, tapi demi dilihatnya satu buku lain yang tergeletak di tanah, timbullah rasa penasaran. Setelah di tolehnya pintu masuk dan tidak nampak kehadiran si kucing besar, dengan cepat tanpa memindahkan atau mengangkat buku dimaksud, ujung jarinya membuka sampul depan halaman buku itu,.....kosong hanya lembaran putih,....dia tertegun, lalu kali ini jarinya menyusup ke bagian halaman agak tengah dan,......juga kosong. Ternyata hingga sampai halaman akhir juga kosong tidak ada tulisan sedikitpun. Kemudian tangan nya ditariknya kembali dan membatin;
__ADS_1
"ternyata yang kulakukan kemarin adalah menjalankan satu ujian. Aku tidak bisa membayangkan jadinya, jika aku memilih yang kiri"
Baru saja selesai dengan pikirannya itu, mendadak mendekat hembusan angin dari arah luar dan si kucing besar telah berada di sampingnya dengan membawa satu tangkai berisi tiga buah apel merah dan segera meletakkannya ke dekat pahanya.
Sambil mengunyah satu apel pemberian, segera dia membuka halaman depan buku yang berada di pangkuannya. Disitu tertulis : "di atas langit masih ada langit, itulah inti utama sebuah ilmu silat". Selesai membaca kalimat tersebut dia mengalihkan pandangannya ke tembok, sambil mengunyah apel dan larut dalam pikirannya, seolah mencoba merenungi kalimat tersebut.
Tidak terasa, dua buah apel telah dia habiskan. Halaman pertama buku tersebut ternyata hanya berisi kalimat diatas. Dia buka halaman ke dua :
"Dengan memilih buku ini, berarti engkau telah membebaskan tugas berat yang dipikul oleh sahabat kami, Harimau Sakti Puncak Salju"
Sampai disini Waseso melongok ke sampingnya dan memandang si Harimau Sakti Puncak Salju yang juga sedang duduk menghadap si bocah serta menatap dengan pandangan lembut lalu gantian kembali menatap ke halaman buku yang sedang di baca si bocah. Akhinya Waseso melanjutkan bacaannya di baris ke dua:
"Dan engkau harus segera melepaskan segala penderitaan yang ditanggungnya dan menerima pembuka pintu pengetahuan dari kami empat orang tua yang tidak berguna"
Hanya dua baris kalimat tersebut yang tertulis pada halaman ke dua. Waseso mendongak dan menatap langit-langit sekian lama dan mencerna kalimat tersebut. Dia teringat perkataan seorang kakek yang bersama dengannya dahulu saat menguburkan anak perempuannya yang mati karena digigit ular berbisa.
"berarti kalau harimau ini adalah sahabat empat orang kakek sakti, tentunya dia juga sudah tua,......lalu apakah maksud melepaskan penderitaan,.....? apakah aku harus membunuh kakek harimau,...?" pembuka pintu pengetahuan,.....?" apa maksudnya"
Sejenak sambil berpikir, dia menggaruk kepalanya, tanpa menyadari bahwa saat ini sang kakek harimau sedang membuka mulutnya lebar-lebar ke arah Waseso. Demi si bocah seperti tidak melihatnya, maka sang kakek harimau menyodokkan kaki depannya ke paha si bocah. Tentu saja Waseso kaget melihatnya, tapi karena si kakek harimau juga tidak bergerak sama sekali maka si bocah hanya berpikir bahwa si harimau hanya bercanda. Kembali si bocah mendongak ke atas, tapi kaki si harimau juga menyenggolnya kembali dan saat Waseso menoleh, si harimau mengulang membuka mulutnya lebar. Dan barulah Waseso memahami, lalu memperhatikan bahwa di dalam mulut si harimau ada sebutir benda kecil kira-kira sekecil buah ceri. Benda tersebut seperti menempel di langit-langit mulut si harimau, namun anehnya benda bulat tersebut berpendar seperti mengeluarkan sinar redup.
Demi melihat satu kaki depan harimau melakukan gerakan menggaruk, Waseso paham bahwa dia diminta mengambilnya. Waseso pun berdiri lalu menatap mata si harimau yang seolah menyuruhnya segera melakukan yang diminta. Maka Waseso segera mengulurkan tangan kanannya dan meraih benda tersebut, yang setelah dipegangnya ternyata terasa kenyal.
Saat dia mencoba menarik benda tersebut ternyata pegangannya meleset. Waseso kemudian mencoba lagi, namun kali ini hanya dengan menggunakan tiga jarinya saja, yaitu jempol, telunjuk dan jari tengahnya. Setelah hitungan ketiga, maka ditariknya benda tersebut dan di genggamnya. Sementara, begitu tangan si bocah dilihatnya sudah keluar dari mulutnya, segera dia melesat keluar dan disusul dengan terdengarnya suara auman yang demikian dahsyat bagaikan suara halilintar. Maka si bocah sadar bahwa dia telah melukai si harimau. Beberapa saat kemudian, si harimau kembali melesat masuk dan langsung mendekatinya dan menggesek-gesekkan pipinya ke badan si bocah seolah menyatakan terimakasih. Karenanya membuat hati Waseso menjadi lega. Demi dilihatnya tangan si bocah masih menggenggam sesuatu, harimau tersebut menatap si bocah sambil menggerakkan mulutnya seperti mengunyah, padahal yang dimaksud oleh si harimau adalah menempelkan benda tersebut di langit-langit mulut si bocah, sama seperti posisi miliknya tadi.
Tetapi mana si bocah mengerti dan,.... huppp,..... sekejap saja benda tersebut di gigit oleh Waseso dan pecahan benda itu ternyata melelehkan campuran rasa antara manis dan harum yang tentu saja serta merta di telan habis olehnya. Sekilas nampak sorot mata harimau seperti terkejut, tetapi berubah lembut dan dia segera bergerak melompat ke altar ke tiga dan berbaring disana dengan dagunya menjulur ke tanah. Posisi yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Dan begitu menelan benda tadi, hal pertama yang dirasakan oleh Waseso adalah bahwa pelan-pelan perutnya terasa hangat, lalu dari perutnya tadi menyebar seperti udara yang awalnya dikiranya perasaan akan buang angin. Tetapi ini berbeda, hawa hangat tersebut terasa sangat nyaman, kemudian menjadi sedikit panas dan tiba-tiba dirasakannya proses penyebaran hawa ini mulai terasa seperti membobol ke arah ke dua kakinya, lalu *********** hingga ke ujung, terus turun ke arah lutut, tumit, hingga ke semua ujung jari kakinya. Proses tersebut juga sama dan berbarengan naik ke dadanya lalu kedua bahu, menyebar ke dua tangan hingga ke semua ujung jarinya, naik ke leher dan kini memenuhi semua bagian dalam kepalanya hingga kedua bola mata. Proses menjalarnya begitu cepat. Tapi ternyata tidak sampai disitu saja. Kini seluruh badan dirasakannya panas, disusul semua ruas persendian tulangnya berkeretak,... sampai disini Waseso merasakan kesakitan yang amat sangat hingga dia roboh ketanah dan berguling-guling. Semua tulangnya serasa berderak termasuk ruas tulang anunya,... juga dirasakannya berderak. Punggungnya juga demikian dan ajaib,.. ternyata, kini letak bahu Waseso juga telah pulih dan kembali normal, tetapi hal tersebut tidak dirasakan Waseso karena kesadarannya keburu hilang. Uniknya semua proses tersebut, hanya di saksikan oleh kakek harimau secara santai.
__ADS_1
BERSAMBUNG.