
Hari yang masih pagi, namun Waseso sedang duduk bersandar pada dinding gua menghadap ke pintu keluar dan dia sudah paham dampak akibat racun, setelah dua hari lalu dia telah mengunyah benda bulat seperti madu beku namun mengeluarkan cahaya berpendar, benda itu sebesar buah ceri. Setelah di kunyah terasa ada cairan meleleh yang akhirnya ditelannya, karena rasa maupun aromanya seperti madu segar. Saat merasakan panas menyengat, sebelum jatuh pingsan, dia sempat berpikir bahwa dia telah menkonsumsi racun. Namun, begitu sudah sadar dan dia juga merasakan bahwa seluruh badannya terasa sangat segar dan ringan,.... bahu kirinya yang sengkleh telah berbalik normal,... punggungnya juga nyaman,... Serta keanehan lain adalah, kini dia mampu melihat benda-benda yang tersembul dari dalam tanah yang seperti berserakan nun jauh diseberang kolam biru.... Bahkan dia juga bisa membedakan bahwa kini saat malam, pandangan matanya dirasakan seperti bisa menembus kegelapan.... Oleh karenanya, dia segera menghapus kata racun tadi dari dalam pikirannya. Meski demikian, dia sempat merasa ada kejanggalan lain pada tubuhnya, tetapi dia tidak merasa yakin, karena dia seperti merasa badannya sedikit panjang alias lebih tinggi sedikit. Sudah begitu, anunya yang dulu berbentuk bengkak bulat seperti bola dibawahnya, sekarang dilihatnya juga telah berubah menjadi lebih panjang, sehingga kesan bengkak tidak ada lagi dan saat dilihat ataupun dipegangnya pun semakin memperjelas perbedaan mana burung dan yang mana telor. Namun hal tersebut tidak lagi di gubrisnya, tanpa menyadari bahwa nantinya, itu akan mempengaruhi dirinya dan bakalan membawanya dalam masalah rumit nan pelik dalam kehidupan pribadinya di kemudian hari.
Saat ini, dia sedang membiarkan pikirannya mengembara setelah membaca isi buku pada halaman ke tiga dan ke empat, yang menjelaskan bahwa sang penulis buku adalah seorang kakek yang semasa hidupnya bergelar Dewa Obat Dari Selatan. Beliaulah yang sebenarnya bisa dikatakan pemilik tempat ini, karena memang sudah menetap disitu sejak dia mundur dan mengasingkan diri dari dunia persilatan. Diterangkan dalam buku tersebut, bahwa dia satu-satunya orang yang tersisa dari total empat orang lainnya. Ketiga sahabatnya sudah mendahuluinya, akibat usia mereka masing-masing yang sudah terlampau tua. Yang pertama berjuluk Dewa Maut Langit Barat. Yang kedua berjuluk Dewa Pedang Ufuk Timur dan ketiga Raja Iblis Puncak Es (majikan awal dari Harimau Sakti Puncak Salju). Awalnya, pada saat ke empat manusia sakti bertemu pertama kali adalah untuk menentukan siapa diantara meeka yang lebih unggul dan hasilnya: tidak seorangpun dinyatakan sebagai pemenang, karena ternyata masing-masing pihak memiliki kekuatan yang berimbang, padahal mereka telah berminggu-minggu saling bertempur bergantian. Barulah sejak saat itu, mereka sepakat untuk mengadakan pertemuan empat tahun sekali dan tempatnyapun di tentukan secara bergiliran di lokasi yang dikuasai oleh masing-masing pihak. Dan pada pertemuan yang terakhir kali, diadakan lah di tempat ini. Namun nyatanya juga tidak berhasil menentukan siapa pemenangnya. Malahan, ketiga kakek lainnya merasa betah di tempat ini, apalagi dengan terbukanya hati Raja Iblis Puncak Es yang telah bertobat dan berubah menjadi orang yang baik. Maka sang pemilik tempat, membujuk mereka bertiga untuk tinggal menetap yang akhirnya di kemudian hari, ke empatnya menjadi bersahabat dan membuat kesepakatan bersama, serta berhasil mempersatukan ke empat ilmu mereka, sebagaimana rangkumannya tertulis dan tergambar pada dinding.
Meski begitu semua ilmu sakti tersebut bisa dikatakan percuma, apabila tidak memiliki TENAGA DALAM INTI SAKTI yang merupakan sari perpaduan tenaga dalam dari ke empat kakek sakti tadi. Dikatakan, bahwa Kakek Dewa Obat Dari Selatan, menginjak usia yang ke seratus delapan puluh lima tahun ketika dia mendapat penglihatan bahwa sebentar lagi dia akan menyusul ketiga sahabatnya. Dalam beberapa kali kesempatan dahulu, mereka telah mencoba mencari seseorang yang dirasa tepat dan layak menerima limpahan warisan mereka, namun belum mendapatkan kecocokan. Bahkan hingga ketiga kakek saling menyusul menginjak garis finish. Akhirnya kakek terakhir sebelum turut serta menyentuh garis akhir, memiliki ide membuat tulisan dan coretan di dinding, termasuk menitipkan benda warisan terpenting mereka, pada langit-langit rongga mulut Harimau Sakti meski dengan resiko, sang Harimau belum akan kembali normal selayaknya makhluk hidup lainnya, jika benda yang membuatnya mampu hidup ratusan tahun lamanya itu belum tercabut dari rongga mulutnya. Sang Harimau, yang sejak kepergian kakek terakhir, juga telah berkali-kali berupaya mencari sang kandidat dengan cara, pergi mengembara dan menculik kandidat yang dirasakannya sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh majikannya. Sayangnya kesemuanya tidak berhasil lulus ujian. Hal ini dibuktikan dengan temuan banyaknya kerangka manusia, dimana pada semua tengkorak kepala bagian atas, terdapat empat lubang kanan-kiri seperti bekas hujaman taring dari Harimau Sakti. Waseso membuktikan hal tersebut, ketika dia secara tidak sengaja menemukan jurang kecil yang tersembunyi, satu-satunya tempat yang tidak pernah diperlihatkan oleh sang Harimau kepada Waseso, ketika sahabatnya tersebut berperan sebagai pemandu mengajaknya berkeliling pengenalan tempat. Di dasar jurang itu, Waseso menjumpai delapan kerangka dewasa dan tiga kerangka bocah setinggi Waseso,. Yang akhirnya si bocah menguburkan ke sebelas kerangka tersebut, sambil membatin;
"tentu aku akan menjadi seperti mereka, jika kemarin memungut buku sebelah kiri".
Masih dengan lamunannya, dia memikirkan juga, bahwa perilaku aneh sahabatnya Kakek Harimau berlanjut menjadi lebih suka tiduran dan bermalas-malasan semenjak memberikan mustikanya kepada Waseso. Raut wajahnya pun seperti menunjukkan kelelahan yang amat sangat, namun demikian sorot matanya tetap menunjukkan senyum yang meneduhkan.
Sampai disini, Waseso mendongak ke belakang kiri sebelah atasnya, pada bibir altar ke tiga, nampak kepala si Harimau diletakkan nyaman pada satu kaki depannya yang menjulur, dimana ke dua matanya terpejam dan mukutnya juga tertutup membentuk secara jelas sebuah baris panjang senyum lebar.
"kek,....bagaimana kalau siang ini kita makan daging burung puyuh bakar? aku sudah merasa bosan, dengan buah - buahan yang engkau bawa kemari"
Demikian Waseso berkata kepada lawan bicaranya...... Namun tidak ada respon.
"bagaimana kek,...yah malah tidur,.." Masih juga tidak ada reaksi.
"kek,...?" pada panggilan ini, hati Waseso mulai merasa dingin,....dan secepat kilat dia terbang ke atas dan kini telah jongkok disamping tubuh kakek sahabatnya serta menggoyang badan sahabatnya yang begitu besar. Dan benar dugaannya, satu-satunya sahabatnya itu, kini telah pergi meninggalkannya dalam posisi tidur tersenyum. Inilah kedua kalinya Waseso merasakan duka paling dalam, rasanya sama persis saat dia memandang jasad kedua orang tuanya.
Lama setelahnya, kedua matanya telah kering. Barulah Waseso berdiri, lalu membalikkan badannya memandang sekitar tempat dimana dia berada saat ini, yaitu altar teratas dari gua. Demi dilihatnya pada bagian tengah altar, ada satu lubang yang sangat besar dengan bekas tanah galiannya teronggok disamping kiri, seperti telah dipersiapkan. Kemudian di samping kanan lubang besar itu berjajar empat gundukan tanah layaknya makam, dimana pada gundukan ke dua pada atasnya, juga terbaring sebuah pedang yang ukurannya tidak terlalu panjang dan seperti sengaja di letakkan disana.
Seluruh badannya mendadak merasakan dingin, bahkan bulu tengkuknya juga berdiri, serta semua rambut di kedua kulit tangannya berdiri, demi menyadari apa yang telah dilihatnya tersebut.
Segera saja dia berlari ke depan empat makam tersebut, serta menjatuhkan dirinya tersungkur dengan jidat menyentuh ke tanah;
__ADS_1
"hamba Waseso menghaturkan sembah sujud kepada ke empat guru,....."
Teriakan parau si bocah memecah kesunyian gua, apalagi dicampur dengan suara isak tangis sesenggukannya, menjadikan suasana haru melingkupi gua tersebut.
Kini dengan duduk bersila dihadapan lima gundukan tanah, dimana gundukan terbesar yang paling kiri baru saja selesai dikerjakannya, Waseso duduk bersila serta diam terpekur dan jatuh ke dalam alam khidmat.
Dia tidak menghiraukan keadaan sekitarnya, hingga di hari yang ketiga, barulah dia kembali ke alam sadar akibat di kagetkan dengan suara guntur yang menggelegar disusul jatuhnya rintik air hujan di seluruh bagian luar gua. Selanjutnya dia menyentuhkan jidatnya ke tanah, lalu beranjak turun dan kembali ke lantai altar dibawahnya, serta menjumpai bukunya masih tergeletak. Setelah duduk bersila dengan buku pilihan berada diatas pangkuannya, dia membuka dan mencari halaman ke lima. Segera seluruh perhatian dan pikirannya tenggelam kedalam gambar seperti tubuh manusia, namun dengan beberapa garis-garis kecil dan sangat tipis yang berpusat pada satu tanda silang di dada kiri, kemudian semua garis tadi melintang dan membujur sedemikian rupa di seluruh bagian tubuh gambar. Juga dilihatnya banyak sekali tanda bulatan kecil-kecil seperti halnya sebuah titik pada huruf, namun ukurannya lebih besar dan diletakkan pada setiap ujung garis kecil tadi berakhir. Pada bagian bawah gambar terdapat tulisan yang menguraikan secara ringkas dan jelas, apa makna masing-masing detail gambar.
Waseso mempelari dan menghapal baik gambar maupun penjelasannya hingga dirasakannya perutnya berteriak minta di isi. Merasa lembar halaman ke lima telah dihapalnya diluar kepala, barulah dia meletakkan bukunya, bangkit berdiri dan dengan menghentakkan kedua kakinya ke tanah, dia telah berlari namun seperti terbang, keluar dari dalam gua.
Demikianlah rutinitas yang dilakukan oleh Waseso sejak saat itu. Kembali masuk kedalam gua selama beberapa hari sampai dia telah berhasil menghapalkan pelajarannya, kemudian keluar gua pergi mencari makan, persis seperti manusia purba jaman dahulu kala. Entah hujan, basah atau kering dan panas, dia tidak memperdulikan kondisi badannya yang telanjang bulat, berkeliaran di luar mencari makan. Yang membedakannya dengan manusia purba hanyalah, kebiasaanya mandi dengan bubuk busa koleksinya selalu dilakukan, bahkan membersihkan semua giginya pun, dengan menggunakan ranting pohon jenis khusus, juga selalu dijalankan sehabis selesai makan atau pada saat mandi.
Barulah pada saat memulai pelajaran yang membutuhkan adanya gerakan-gerakam tertentu dari pelajaran yang menitik beratkan pada kegiatan mempraktekkan jurus, Waseso akan lebih lama lagi bertahan di dalam, bisa selama lima bahkan tujuh hari pun juga pernah.
Karena dilihatnya kolam tersebut begitu luas seolah tak bertepi, bahkan ujung tepian seberang sanapun tak terlihat. Sejenak dia celingukan dan begitu melihat sebatang pohon pinus yang paling tinggi, tumbuh di padang rumput di belakang punggungnya, dia segera tersenyum dan dengan sekali hentakan dia telah terbang keatas dan tiba di puncaknya. Akhirnya sekarang dia bisa melihat bahwa sejarak delapan tombak dari tepian bibir kolam, terdapat daratan kering seperti batu gunung yang permukaannya rata, hanya seluas sepuluh orang dewasa berbaring, yang sangat pas dan lapang untuk dijadikan sebagai tempat mendarat dan melenting. Disebelah depannya sana juga demikian, sebelah sananya lagi juga terlihat sama, sehingga sepertinya membentuk suatu jembatan pijakan bagi orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi.
Waseso segera melompat turun dan tanpa ragu melompat ke target yang sudah dilihatnya dari atas tadi. Begitu mendarat, diapun melanjutkan lentingannya, demikian terus menerus hingga setelah dia hitung ada tiga puluh enam lentingan, ke dua kakinya kini telah menginjak tanah berumput yang tumbuh jarang-jarang dan sekaligus merupakan tepi dunia luar.
Sebelum melangkah pergi, dia yang memang memiliki otak encer, berhenti sejenak dan memperhatikan sekitarnya seperti mengamati dan menandai ciri-ciri jalan pulang karena keadaan sekitarnya dilihatnya hampir nyaris sama, bahkan warna air kolam beracun disitu dan sekitarnya pun juga persis sama.
Sejenak dia garuk kepala sebentar, lalu kemudian dia tersenyum kecil dan mencabut Pedang Pembelah Langit yang dia bawa:
"sretttt......srettt,....srettt,...."
Hanya tiga kali suara tersebut dia hasilkan, lalu berbalik melanjutkan perjalanannya. Namun baru berjalan sekitar dua puluh tombak, dia berhenti dan bergumam:
__ADS_1
"bagaimana kalau nanti Kinda tidak mengenaliku lagi,......atau mungkin kini dia sudah enggan berteman denganku,......atau,....."
Demi otaknya dilintasi berbagai "atau", mulailah timbul ke engganan dalam benaknya, apalagi dia melihat keadaan alam sekitar nya saat ini yang meskipun terlihat lumayan subur, namun entah mengapa dia seperti di ingatkan oleh suasana suram saat pengembaraan pertamanya dulu,...... Akhirnya,... :
"sllapppppp,........."
Dia kembali berbalik pulang dan tidak melanjutkan langkah terjauhnya di dunia luar.
Pada tahun kedua semenjak percobaan nya untuk pergi ke dunia luar tadi, inilah salah satu kegiatan bermalas-malasan yang dilakukan oleh pemuda yang kini berusia dua puluh tahun itu. Nampak terlihat Waseso sedang merendam perutnya di kolam biru dengan cara duduk bersandar dengan santainya pada sebuah batu karang yang tidak begitu besar. Kalau diperhatikan dari jauh terlihat beberapa kali kepalanya tertunduk ke bawah, tapi setelahnya mendongak sambil tertawa geli,.... menunduk lagi, terus mendongak lagi dan ketawa lagi,...demikian berulang-ulang,... Nyata sekali kalau pemuda kita ini sangat bergembira dan bahagia.
"ahahaha,.......rumputnya sudah kubabat habis, jadi sebaiknya kalian lekas pergi ke tempat lain,...ahahaha,..." Waseso nampak tertawa geli, melihat empat ekor ikan badut berenang menjauh dan seperti mengerti apa yang dikatakannya. Ketika dilihatnya lagi dua ekor ikan badut lain datang dan mendekati selangkangannya sebentar, lalu pergi menjauh, dia pun ketawa lagi. Ternyata dia sedang menikmati hari kemenangannya atas ikan-ikan badut (ikan hias yang hidupnya di laut, berwarna orange cerah dengan belang warna putih di tubuhnya, serta garis hitam tebal melingkari tiap ujung sirip-siripnya, rata-rata ukurannya antara satu hingga lima jari).
Sebelum ini, setiap kali Waseso berendam di kolam biru (bahasa kerennya sekarang adalah : Laguna), ikan-ikan terutama jenis ini, selalu mendekati tubuhnya dan demikian santainya tanpa rasa takut, mereka selalu bermain dengan kerimbunan rambut dibawah perut Waseso, oleh karena itu si pemuda selalu merasa risih terganggu. Hingga tadi pagi, saat dia mencukur kumis dan rambut tipis di dagunya, dia seperti teringat sesuatu dan segera juga membabat habis yang bagian bawah. Oleh karena itulah saat ini, dia terlihat seperti orang tidak waras.
Saat dia mendongak keatas dan meletakkan kepala belakangnya ke batu serta baru saja memejamkan matanya. Dia segera menegakkan badannya namun masih dalam posisi duduk. Nampak dia memicingkan telinganya dan benar saja, dia sama sekali tidak mendengar suara deburan ombak di kejauhan sana dan keheningan seperti ini jarang pernah terjadi, setidaknya saat si pemuda sedang memperhatikan. Karena memang garis batas dinding alam pemecah ombak, terletak jauh sekali di selatan laguna tersebut.
Seketika Waseso bangkit berdiri dan berlari seperti terbang ke arah selatan, dia terlihat melenting-lenting ke atas dan menjadikan setiap tonjolan batu karang disana, sebagai pijakan lompatannya. Sungguh sebuah demonstrasi ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, yang tidak bisa sembarangan dilakukan oleh seorang ahli silat manapun.
Hanya dalam lima kedipan mata normal, sampailah Waseso dibatas garis akhir deretan batu karang pemecah ombak dan memang ditemuinya tidak ada satupun ombak yang menghantam. Hamparan samudera terlihat begitu teduh dan tenang. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat dengan jelas dasar laut nya yang pada lokasi pinggir laut tersebut, memang kedalamannya hanya maksimal sekitar sepuluh meter saja, barulah semakin ke selatan, semakin dalam. Dengan jelas dilihatnya serombongan ikan-ikan kecil. Mulanya dia hanya tersenyum senang demi melihat pemandangan dibawahnya. Akhirnya dia seperti terpaku diam, ketika dilihatnya beberapa ekor ikan kecil tadi, terutama mereka yang berada di pinggir nampak selalu segera memisahkan diri dari rombongan dan seperti menyerang satu ikan yang ukurannya lima kali lebih besar dari mereka, setelah ikan besar pergi, kawanan yang menyerang tadi kembali kepada kelompoknya. Dan jika ada ikan besar lain datang dari sebelah kiri, kembali muncul kawanan pengawal mereka, entah dari depan atau belakang sekalipun seperti bahu membahu mengusir si pengganggu. Inilah tadi yang dilihat oleh Waseso dan membuatnya tertegun. Pada kali ketiga terulang hal yang sama, barulah Waseso menegakkan kepalanya serta memandang hamparan samudera di depannya sambil bergumam:
"ikan kecilpun tahu bagaimana harus saling melindungi dan menjaga temannya, apalagi aku seorang manusia, mestinya bisa menjadi berguna bagi sesamaku... itulah makna dari janji terakhir yang dipesankan mendiang ayah ibu serta inti ilmu sakti guru,..."
Selesai dengan kalimat ini, nampak mata si pemuda menjadi mencorong. Dan segera dia membalikkan badannya dan melesat cepat meninggalkan tempat itu.
BERSAMBUNG.
__ADS_1