
Dari semenjak berdirinya dinasti kaisar Muderakali yang pertama, negara ini banyak memiliki perguruan silat. Dan terus berkembang hingga dinasti ke lima belas. Selama rentang waktu tersebut, terdapat empat perguruan besar yang paling disegani, bahkan salah satu diantaranya, mencapai puncak kejayaannya selama dua generasi berturut-turut dan reputasinya bahkan meluas hingga ke negeri Gunumlatar. Namun, seiring berjalannya waktu, ke empat perguruan besar tersebut, satu persatu mengalami kemunduran akibat turut terlibat dalam perang untuk menunjukkan jiwa patriotisme membela kejayaan negara. Padahal kalau mau jujur, alasan diatas sebenarnya adalah merupakan kedok sempurna untuk menyelubungi maksud yang sebenarnya dari jiwa pendekar silat tulen, yaitu sebagai ajang nyata untuk memamerkan kelihaian ilmu sakti perguruan masing-masing. Selayaknya manusia kebanyakan, merasa paling jago jika sudah merasa memiliki sesuatu kelebihan dan melupakan bahwa diatas langit, masih ada langit.
Bila gurunya kalah, maka wakilnya menuntut balas. Yang merasa sahabat atau sanak saudara, lalu turut menuntut balas, murid-muridnya pun pasti juga kencing berlari, sahabat juga sanak saudara dari wakil yang tadi kalah, ikut tidak terima, dan juga menuntut balas, murid-murid dari sah,....... demikian seterusnya,..... masuk ke dalam sebuah keruwetan luar biasa, yang benang njelimet pun, belum seberapa jika dibandingkan dengan permasalahan dendam.
Pada masa Waseso ini diceritakan, ketiga perguruan besar tadi, sudah tidak ada lagi kabarnya, adapun yang tersisa hanyalah perguruan silat Elang Biru. Dimana kondisi kenyataan sekarang ini, siapapun juga pasti tidak akan percaya bahwa perguruan ini pernah menjadi perguruan yang paling disegani, karena sudah tidak lagi memiliki rumah ataupun padepokan, sehingga anak murid mereka tercerai-berai.
"apakah kalian ada melihat Kinda?" tanya Waseso kepada satu pemuda (usianya lebih tua dari Waseso) dan tiga orang gadis dusun, yang saat itu sedang sibuk memilih dan memetik berbagai jenis tanaman serta umbi-umbian untuk keperluan dapur umum kampung pengungsi. Tentu saja mereka berempat merasa terperanjat, karena mereka sama sekali tidak merasakan angin kedatangan ataupun suara pendahulu, mendadak di samping mereka sudah berdiri tuan tabib. *P*ara pengungsi baru, memang belum mengetahui kelihaian si pemuda dalam bidang olah kanuragan, mereka hanya mengenalnya lebih banyak sebagai tabib penolong berpakaian aneh.
"tadi memang dengan kami mengumpulkan beberapa batang tebu untuk bahan obat, tapi kemudian nona pendekar pergi ke arah sana" demikian jawab si pemuda, sambil jarinya menunjuk arah utara, ke sebuah bukit kecil di seberang embung yang lumayan luas.
"owh,...baiklah". Waseso akan melenting ke arah yang ditunjukkan, namun di urungkan karena telinganya mendengar sesuatu.
"ahhh,....ternyata cuma kosongan". demikian batinnya beberapa saat kemudian, sambil melirik ke arah barat yang pada saat itu, nampak lima orang pria berpakain asli selayaknya gerombolan perampok, sedang berjalan mendekat dari padang rumput terbuka ke arah mereka. Pemuda cerdas ini membatin demikian, karena pandangan matanya yang memang luar biasa itu sudah bisa melihat walau jaraknya jauh dan menyimpulkan: 1. Kelima laki-laki tersebut jalan kaki. Kalau punya kelebihan, melewati jalur orang persilatan yang mulai terasa panas ini, pastilah mereka akan memilih berlari dari pohon ke pohon. 2. Dari cara berpakaian serta aksesoris yang mereka pakai, terutama senjata yang mereka tenteng, adalah sebuah golok yang kelewatan besar pada bagian ujungnya yang menggembung, namun bahan yang digunakan adalah besi biasa yang tipis, persis seperti golok tukang jagal, hanya dua kali lipat lebih gembung. Kemudian di leher masing-masing mereka, nampak mengenakan liontin tengkorak kepala manusia, memang terlihat menyeramkan bagi orang-orang yang lemah. Tapi buat yang memiliki isi pasti akan geli, karena tengkorak kepala tersebut terbuat dari ukiran kayu. Dan jelas menunjukkan, bahwa mereka ini termasuk golongan rendahan, yang lazim : keroyokan, berteriak paling lantang dan berpenampilan paling sesuai dengan peran yang sedang dibawakan.
"lain kali kalau pergi dari perkampungan tanpa pengawalan, jangan terlalu jauh ya,...." kata Waseso kepada ke empat orang sekalian.
Dan suara langkah telah dekat.
Sambung si pemuda :
"bahan-bahan itu saya rasa sudah cukup,... sehabis selesai urusan dengan lima kunyuk, lekaslah kembali ke perkampungan"
"baik tuan tabib" jawab mereka berempat sambil menatap heran kepergian tuan tabib yang berjalan santai menuju arah utara. Tentu saja mereka heran, kenapa si pendekar malahan pergi meninggalkan mereka berempat, padahal jelas-jelas sudah di depan mata, kedatangan lima orang jahat yang sudah biasa mengobrak-abrik desa, memperkosa wanita, serta menculik bocah lelaki atau pemuda berbadan sehat ??.. Dari heran, berubah khawatir,....
"hei,...kamu anak muda sin,...." Salah satu dari ke lima orang itu sedang berteriak dan melambai ke arah punggung pemuda yang pakai celana dengan sarung dan sedang berjalan meninggalkan mereka......namun teriakannya tidak dilanjutkan karena disikut temannya dan menoleh, lalu,......didepan mereka, dilihatnya ada tiga gadis dan satu pemuda (pada jaman cerita ini, keberadaan bocah lelaki dan pemuda sehat dari rakyat jelata, memang lebih sulit dijumpai berkeliaran bebas dibandingkan menemui perempuan).
__ADS_1
"hahaha,....rejeki nomplok kita hari ini, ada empat ekor ayam,..." kalimat ini dilanjutkan dengan tawa ke empat rekan lainnya. Apalagi saat ini, dilihatnya salah satu ayam betina yang tadi berangkulan ketakutan dengan dua lainnya, sudah mulai memisahkan diri dan bahkan mulai pasang senyum.
Yang tadi berkata terakhir, kini membatin: "nahh,...yang itu lebih jinak,....ahhhh tidak,...ternyata malahan semuanya, termasuk si ayam jago juga sudah mulai jinak tuh,.... waduhhh,... itu ayam betina yang di tengah malah sekarang membuka aatu kancing bajunya yang paling atas dan seperti mengundangku mimik cucu,...glekkk,..kutubruk sekarang aja,....haitttt,.." Selesai membatin dan menelan ludah tanda kehausan, diapun berlari menubruk, dan ;
"waduuuuuhhhh,....." kali ini dia bukan lagi mengeluarkan suara batin,......tetapi benar-benar sebuah teriakan kesakitan luar biasa, yang bisa didengar oleh seluruh kampung, karena telor di selangkangannya telah pecah kena tendangan gadis yang dikiranya paling jinak.....dan seketika dia pingsan meringkuk di tanah.
Tentu saja, melihat satu kawannya yang dianggap sebagai pimpinan mereka ambruk, mereka berempat sempat terperangah dan saling pandang agak ketar-ketir,....tapi saat mereka menoleh ke calon korban mereka, dilihatnya dua ayam betina tadi malahan ikut membuka masing-masing satu kancing baju atasnya dan salah satunya malah kini jongkok menunduk memamerkan bagian atas dua buah pepaya segar yang kalau dimakan pada hawa panas-panas begini pasti lezat,.... Dan keempatnya maju berbarengan.....
"hiattttttt....."
"aduhhhhh....matii akuuuhhh,..."
"wadoowwww,....."
"haduwwww biyungggggg,...."
Keempatnya kompak berteriak kesakitan. Ada yang memegang ulu hatinya, ada yang mendekap selangkangannya, satu orang menangkupkan kedua telapak tangannya di hidung yang mengeluarkan darah segar, dan yang terakhir sedang duduk tersungkur dan menangis keras dengan membuka mulut lebar-lebar, untuk menunjukkan bukti bahwa semua gigi depannya atas bawah telah rompal,....
Tapi penderitaan mereka, ternyata belum berakhir, karena ke empat ekor ayam mereka, di mulai dari si pemuda memungut salah satu golok mereka dan berkata :
"aku masih bermurah hati,...tapi ini gantinya nyawa ayahku yang sudah engkau bunuh dengan kejam,.."
"kressss,..." satu tangan penjahat yang giginya ompong tadi telah terbabat kutung.
Disusul salah satu gadis mengambil golok yang sama dan menuju ke penjahat yang pecah telornya tadi dan sudah mulai menunjukkan tanda siuman.
__ADS_1
"itu tadi upahmu karena dulu sudah memperkosa aku,...dan ini adalah bonus dariku"
"kressss,...." satu kaki dibawah lutut si penjahat itu juga putus.
Demikianlah, satu persatu mereka melampiaskan dendam dan hanya memotong salah satu bagian tubuh kelima penjahat, namun bukan pada bagian leher. Dan ke empat orang yang tadi dihina sebagai empat ekor ayam, kini memandang lima penjahat yang sambil menenteng anggota tubuh mereka masing-masing, berjalan pergi meninggalkan mereka.
Saat ini Waseso, sedang memeriksa dan menotok jalan darah seorang laki-laki yang terbaring dengan luka sabetan pedang, setelah dilihatnya darah tidak lagi mengalir, diambilnya botol kecil di saku kirinya lalu ditaburnya merata pada luka tersebut. Kemudian dia membantu si korban untuk duduk dan menyuruhnya untuk segera mengatur napas pemulihan. Kemudian dia menuju ke korban kedua dari total lima orang yang juga tergeletak luka. Sambil melakukan pertolongan satu persatu secara bergiliran kepada ke limanya. Nampak bibirnya bergerak, menandakan si pemuda juga sekaligus sedang mengirimkan suara.
"ya begitu,....sekarang melompatlah ke belakang dan buka telapak tangan serta pintu tenaga dalammu,.."
"sekarang hadapi lawanmu sekaligus juga satu orang yang sedang berhadapan dengan si nyonya,....agar aku bisa memintanya mundur sebentar,.."
Kinda melakukan apa yang disuruh Waseso. (Tadi setelah membantu ke empat muda-mudi mencari bahan kebutuhan, dia merasa mendengar suara-suara teriakan orang yang sedang bertempur dari arah balik bukit kecil, maka dia segera pergi memeriksa. Dan benar dugaannya, saat itu dia melihat ada lima pria sedang tergeletak dan satu pria serta satu wanita, semuaya memakai pakaian warna biru seperti seragam anak murid perguruan Elang Biru, sedang kewalahan mendapat gempuran dari empat orang gagak tombak bersulam benang perak. Melihat keadaan tersebut, apalagi diketahuinya bahwa orang-orang perguruan dimaksud adalah para pendekar ber-aliran putih dan sekarang dalam keadaan genting, tentu saja Kinda turun membantu. Maka, Kinda langsung mengambil dua musuh sekaligus dan sesekali membantu sepasang laki-laki perempuan yang memang kondisinya sudah keteteran. Kondisi mereka bertiga sebenarnya sudah mulai diatas angin, namun dikarenakan Kinda tidak bisa fokus secara penuh dan sesekali ikut nimbrung membantu bergantian, sehingga menyebabkan pertarungan berjalan alot. Dan betapa girang hatinya, ketika tiba-tiba telinganya mendengar instruksi dari pemuda pujaan hatinya.
Adapun sepasang pendekar, dalam posisi mereka yang sedang kritis, dimana si pria juga sudah mulai terluka, tentu saja merasa tertolong dengan turunnya seorang gadis yang berpakaian pria, membantu mereka melawan dua orang sekaligus. Kini dilihatnya datang lagi seorang pemuda biasa dan berpakaian aneh, yang sepertinya sedang memberikan pertolongan kepada saudara seperguruan mereka. Bahkan mereka berdua, secara bergantian menerima nasehat penyempurnaan jurus, tentu saja mereka menuruti dan menjalankan semua yang dikatakan. Apalagi kini, saat merasakan ilmu tenaga dalam mereka masing-masing telah bertambah naik satu tingkat, sebagaimana lazimnya orang dunia persilatan, mereka tentu saja merasa bergembira seperti bertemu dengan dewa penolong.
"karena sekarang sudah beres, aku balik dulu ke perkampungan,...segeralah menyusul". Selesai menyampaikan ilmu mengirimkan suara kepada Kinda yang tampak sedang bersemangat menekan kedua musuhnya, Waseso segera berkelebat meninggalkan tempat itu.
Dan ketika kembali ke tempat dimana dia meninggalkan muda-mudi yang tadi sedang mencari bahan-bahan, namun tidak dijumpanya mereka. Tetapi ketika dilihatnya di tempat itu hanya tersisa lima buah golok besar berserakan dengan beberapa darah mengering di permukaan tanah, juga potongan kain kecil berwarna hitam. Maka dia menghembuskan napas lega.
Waseso kemudian berjalan santai menuju arah perkampungan pengungsi yang sudah mulai terlihat di depan, sambil membayangkan kejadian lima hari lalu saat dia, Kinda dan Ni Luh sedang duduk santai sehabis makan siang, di kejutkan dengan kembalinya Laksita ke perkampungan mereka, yang seolah melengkapi kebahagian mereka semua atas kesembuhan Ni Luh, sejak dua minggu yang lalu. Sayup-sayup di dengarnya suara teriakan dan tawa bocah-bocah yang sepertinya sedang bermain.
"sungguh menyenangkan,..." selesai bergumam, Waseso mengempos tenaga dan melenting,... ke arah perkampungan.
BERSAMBUNG.
__ADS_1