Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB VI - JALUR ORANG BIASA


__ADS_3

Satu pagi hari, tibalah Waseso di sebuah sungai yang jernih airnya. Tanpa berpikir lama, dia segera melepas semua pakaian yang dikenakan lalu mandi. Merasa sudah puas bermain air dan merendam seluruh tubuhnya barulah dia mengambil bubuk busa dalam kantong kainnya dan dituangkan sekitar seperempat genggaman pada telapak tangannya. Lalu dengan satu tangannya yang lain dia mengambil air serta menangkupkan kedua tangannya dilanjutkan menggesekkan kedua telapak tangannya tersebut berulang-ulang. Ketika buih busa dan aroma wanginya keluar, barulah dia mengusapkannya secara merata dari mulai rambut, wajah serta kesemua badannya. Dia juga memungut satu stel pakaian yang berada di dalam kantong kain serta sepasang pakaian yang tadi dipakainya lalu mencuci dan membilasnya dengan air sungai. Setelah dirasa cukup barulah dia menjemur pakaiannya di bebatuan lalu melanjutkan menceburkan diri ke sungai dan asyik mandi. Ketika dia merasakan lapar, maka dia celingukan kesana kemari dan melangkah kanan kiri mencoba melihat keberadaan ikan, namun tidak dilihatnya seekorpun. Ketika disuatu lokasi tertentu dibawah batu sungai yang tidak begitu besar, demi melihat dua bayangan yang tidak begitu besar di dalam air dangkal, dia memutuskan untuk merubah target. Akhirnya sambil menunggu cuciannya benar-benar kering, dia selesai membakar lima belas ekor udang yang meski per-ekornya tidaklah terlalu besar, namun baru memakan sepuluh ekor saja membuat perutnya terasa kenyang dan segera tertidur dibawah naungan batu besar. Saat sinar matahari dirasakan membakar wajahnya, barulah dia terbangun dan segera memungut semua jemurannya. Satu stel dipakai dan satu stel dimasukkan kembali ke kantong kainnya. Sambil memakan satu persatu udang bakar yang masih tersisa tadi, dia melanjutkan perjalanannya dengan cara mengikuti arah aliran air sungai. Menjelang sore, dia tiba di sebuah jembatan kayu yang melintang diatas kepalanya. Sambil bergumam kepada dirinya sendiri, dia memutuskan mengambil arah menyimpang dan tidak melanjutkan langkahnya menyusuri pinggiran sungai, namun dia menerabas rumput tebal yang kontur tanahnya sedikit terjal ke atas menuju ke arah jalan;


"biarlah aku mengambil jalur manusia biasa, daripada harus selalu bertemu dengan hasil sisa perbuatan jahat orang persilatan"


Masih lanjutnya;


"lagipula dengan keadaan cacat tubuhku ini, tidak akan ada orang jahat yang berminat"


Baru saja selesai dia menggumam, kedua kakinya telah mencapai pinggir jalan yang tidak begitu lebar, dimana tanah di bagian tengah cukup keras dengan bagian pinggirnya kanan kiri sedikit di tumbuhi berbagai jenis rumput liar.


"hmmm,...jalan pedesaan.....biarlah aku mengambil arah ke kanan"


Selesai berpikir demikian, dia melangkahkan kakinya ke arah dimaksud. Menjelang matahari terbenam dia sudah berjalan memasuki sebuah desa yang jumlah rumahnya lebih banyak dibandingkan desanya dulu. Namun demikian, kondisi sekitarnya nampak sunyi. Beberapa jendela dan pintu rumah terlihat tertutup rapat meski disela-sela dinding papannya terpancar samar sinar lentera yang telah dinyalakan di dalam rumah. Perlahan dia melanjutkan berjalan menyusuri jalan desa tersebut dan tertarik untuk mendekati salah satu rumah yang terlihat lebih terang cahayanya dibandingkan rumah lainnya. Saat tiba di depan halaman rumah tersebut, namun masih dari pinggir jalan dia menoleh sebentar ke arah pintu rumah yang terbuka dan dilihatnya beberapa orang laki-laki dan perempuan yang sudah lanjut usia sedang duduk beralaskan tikar serta berkumpul, sepertinya mereka hendak makan malam bersama. Karena tidak ingin mengganggu kegiatan mereka, maka sambil menarik napas dia melanjutkan langkah kakinya untuk berjalan lewat. Kemungkinan besar salah satu atau beberapa orang yang di dalam rumah tadi melihat kelebat dirinya saat lewat, karena baru sekitar enam tapakan jalan, dibelakangnya terdengar suara langkah kaki yang menyusulnya berikut teriakan lirih;


"cu,...cucu....berhenti sebentar,..."


Waseso kemudian berhenti dan membalikkan badannya. Seorang kakek berjalan mendekat dan berhenti didepannya sejarak dua langkah. Si kakek nampak tertegun sebentar demi melihat lebih jelas si bocah, namun segera dia berkata;

__ADS_1


"benar sekali dugaanku, kamu bukan salah satu anak dari desa ini,..... ayo mari ikut aki ke rumah,....pastilah kamu letih dan lapar"


Si kakek kini melambaikan tangannya demi melihat keraguan dari si bocah. Lanjutnya sambil membalikkan badannya mengarah kembali ke rumah tadi;


"ayo...ayo,..."


Akhirnya Waseso mengekor dibelakang si kakek yang lalu membimbingnya masuk ke dalam rumah sambil berkata seperti menyampaikan sebuah pengumuman ke semua yang ada di dalam;


"apa tadi kubilang,...benarkan bukan salah satu anak dari desa kita ini"


Ucapan si kakek di respon dengan bergumamnya semua orang yang ada di dalam ruangan, terlebih saat ini Waseso terlihat sudah berdiri di dalam rumah. Nampak semua wajah mereka menunjukkan rasa belas kasihan, demi mengetahui seorang bocah dengan keadaan bahu sendeng ke kiri berjalan sendirian menjelang malam berbekal buntalan kain.


"cu...taruh bawaanmu, pergilah kebelakang dan cuci tangan kakimu lalu segera kembali kemari"


Belum selesai ucapan si kakek, nampak seorang perempuan yang berumur lebih tua dari mendiang ibunya menghampiri dan membantu meletakkan buntalan yang dibawa Waseso serta membimbingnya ke arah belakang.


Baru saja dia kembali ke dalam rumah dan duduk di tikar, si perempuan tadi menghampirinya dengan sepiring nasi dan sayur berkuah ditangannya lalu menyerahkanya kepada Waseso sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda perintah.

__ADS_1


Sambil makan, dia memperhatikan orang-orang sekalian yang berada di rumah tersebut. Hampir semuanya adalah orang-orang tua, hanya perempuan yang mengulurkan piring tadi yang termuda. Selain itu ada sekitar lima anak-anak yang lebih kecil dari dirinya terlihat sudah tidur bergerombol di sisi kiri dari rumah tersebut. Adapun si perempuan yang sepertinya adalah anak dari si kakek pemilik rumah tadi, setelah selesai makan nampak menyusun beberapa kain seperti dijadikan bantalan kepala, pada posisi disebelah gerombolan anak-anak kecil yang sedang tidur. Selanjutnya dia melambaikan tangannya kepada Waseso yang juga sudah selesai makan beberapa saat yang lalu dan sedang duduk diam.


Melihat lambaian tersebut serta tepukan-tepukan yang dibuatnya pada lantai tikar, Waseso segera menghampiri dan merebahkan kepala dan badannya. Demi merasakan rasa kenyang dan kembali bisa merasakan tidur di atas tikar serta beratapkan genteng, dia mulai merasakan hidup normal setelah hampir tiga minggu lamanya hidup mengembara di padang belantara. Spontan dia pun, berbisik lirih kepada si perempuan yang duduk membelakanginya dan sedang bercengkerama dengan yang lain;


"terimakasih bude"


(bude adalah panggilan untuk seorang wanita yang usianya dirasa lebih tua dari ibu si pemanggil)


Yang dimaksud sepertinya mendengar bisikan Waseso, karena setelahnya dia menoleh sebentar lalu tersenyum dan menepuk-nepukkan telapak tangan kirinya pada kaki Waseso, layaknya perlakuan seorang ibu yang sedang meninabobokkan sang anak. Tentu saja perbuatan bude tersebut dengan cepat membuat Waseso segera tertidur dan lebih lelap dari tidurnya terakhir semenjak kematian kedua orang tuanya. Pagi hari itu Waseso terbangun ketika mendengar seperti suara cangkul yang sedang menghantam tanah. Pelan matanya dibuka dan menoleh kanan-kirinya lalu dia segera bangkit demi dilihatnya ruangan tersebut sudah kosong. Dia lalu kebelakang dan selanjutnya menuju ke arah sumber suara dari balik rerimbunan ladang singkong di depannya. Setelah dia berjalan menyeruak tanaman-tanaman yang tumbuh rapat tersebut, benar saja dia melihat si bude nampak sedang mencangkul tanah, sementara si kakek tidak jauh di dekatnya sedang memotong-motong batang singkong untuk ditanam. Ini adalah kegiatan yang sangat biasa dikerjakan olehnya bersama dengan mendiang ayahnya dulu, maka dari itu dia segera menghampiri sang kakek lalu memungut beberapa batang yang sudah terpotong, semampu tangan kanannya menangkup dan segera menuju ke lubang bekas cangkulan yang dibuat serta menancapkan batang tersebut satu persatu sambil tidak lupa menutup sekitarnya dengan tanah dan memadatkannya lewat jejakan telapak kaki. Si bude nampak berhenti mencangkul dan menghampiri ayahnya lalu duduk disana sambil mengamati apa yang sedang dikerjakan oleh Waseso saat itu. Mereka berdua tampak saling pandang sejenak dan tersenyum seolah menyadari bahwa tamu mereka si bocah tersebut, meski badannya cacat namun memiliki pengalaman dalam berkebun dan mempunyai rasa tanggung-jawab.


Tak terasa sudah hampir tiga bulan lebih Waseso menumpang hidup di rumah si bude dan kegiatan rutin yang dilakukannya adalah bangun tidur setiap pagi, sarapan, mencuci pakaian, membantu berkebun, makan siang, membantu bersih-bersih rumah dan halaman, makan malam dilanjutkan tidur. Demikian rutinitas yang dilakoninya. Hanya sesekali, kemungkinan dua minggu sekali dia harus menggantikan si bude yang terpaksa bersembunyi dan membantu si kakek membawa hidangan makanan ke rumah kepala dusun yang sedang menjamu kehadiran gerombolan pasukan atau gerombolan tertentu yang kebetulan mampir dan merekapun dengan tangan terbuka menerima jamuan tersebut mengingat tidak ada hal berharga lain yang bisa mereka minta ataupun rampas dari desa yang bahkan tidak ada wanitanya atau anak-anak yang menurut mereka bernilai. Sebuah desa yang menurut mereka tidak berharga karena hanya dihuni para orang tua serta satu bocah cacat. Sebenarnya Waseso sudah mulai merasa kerasan hidup disana, hingga suatu hari dia secara sukarela menemani sang kakek untuk menguburkan jenazah budenya dikarenakan gigitan ular berbisa ketika bekerja di ladang. Saat si kakek mulai melihat mata si bocah berkaca-kaca, si kakek mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat si bocah selalu mengingat makna perkataan si kakek dan membuat tangisnya tidak lanjut pecah ;


"cu,....tidak perlu kamu menangis karena sekarang dia sudah terbebas dari semua kepedihan dan penderitaan"


Sejak kejadian tersebut, si bocah kembali menjadi anak pemurung. Dan tiga hari kemudian dia meminta permisi kepada si kakek untuk melanjutkan pengembaraannya. Sebenarnya si kakek secara spontan mau melarangnya, namun demi melihat sorot mata tekad bulat yang memancar dari kedua mata si bocah, akhirnya si kakek melepas kepergiannya bahkan menunjukkan arah jalan yang harus ditempuh oleh si bocah yang berkeinginan untuk melihat sebuah kota. Kembali Waseso menjadi penghuni sementara rumah-rumah atau bangunan kosong yang dilaluinya saat ingin melepas lelah ataupun tidur. Menggali, membakar dan memakan berbagai jenis umbi-umbian liar demi membungkam rasa lapar pada perutnya. Terbiasa seolah menjadi barang taksiran dari orang-orang ataupun gerombolan tertentu yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan namun akhirnya tidak mengabaikannya. Dan dia bisa menyimpulkan berdasarkan pengalamannya selama ini bahwa, jika nanti dia tiba di desa kecil manapun biasanya para penduduknya sangat murah hati memberikannya makan bahkan dengan kemampuan dan pengalaman berkebun yang dimilikinya, maka dia bisa dengan mudah juga untuk memperoleh upah makan, minum serta tempat bernaung gratis selama beberapa hari.


Pelan namun pasti, hasil dari langkah yang sedang dibuatnya tersebut, kini membawanya sedikit demi sedikit ke salah satu kota propinsi kecil di wilayah kekaisaran Gunumlatar.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2