Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB V - JALUR DUNIA PERSILATAN


__ADS_3

Entah sudah berapa petak padang belantara maupun kerimbunan hutan alam dia lewati, namun tak kunjung dia menemui sebuah desa. Matahari telah demikian terik membakar kepala dan badannya hingga rasa haus yang sedari tadi di tahannya terasa semakin membakar tenggorokannya. Sambil tetap berjalan dia merogoh pinggangnya dan meneguk kantong air yang dibawanya. Ketika baru saja dia berbelok dan melewati jalan yang kanan kirinya terbentuk seperti jurang kebawah namun tidak dalam, dia menampakkan seutas senyum kecil dan bergumam;


"sepertinya didepan sana ada sungai, aku bisa mengisi penuh kantong airku serta istirahat sejenak"


Belum lama dia berjalan, dia melihat di ujung jalan nun jauh dihadapannya sana, nampak kepulan debu dan sekilas kibaran bendera yang menandakan satu kelompok berkuda akan melintas berlawanan arah dengannya. Segera terngiang nasehat ayahnya di waktu lalu bahwa ada banyak gerombolan orang jahat ataupun kelompok pasukan yang tidak segan-segan untuk membawa dan merampas anak-anak kecil laki-laki. Demi teringat hal ini dia segera berlari ketepi jalan berniat untuk menyembunyikan dirinya. Namun sayangnya, dikarenakan dia terburu-buru dalam kegugupannya secara tidak sadar dia hanya memegang salah satu batang pohon lunak dan kecil yang tidak sanggup menahan tarikan tubuhnya pada tanah yang berkontur miring tersebut, sehingga dia pun terpeleset dan jatuh berguling-guling kebawah pada tanah yang berkerikil dan curam tersebut. Entah berapa kali dia terguling, namun untungnya tumbuhan dan semak yang berada pada jalur luncurannya, tumbuh begitu rimbun sehingga insiden tersebut tidak mengeluarkan kepulan debu dan memancing perhatian gerombolan berkuda yang kini semakin dekat dan akhirnya melintas pada titik akhir dimana dia tadi terjatuh dari atas. Tubuh kecilnya akhirnya tertahan oleh sebuah batang pohon yang menghentikannya secara paksa untuk lebih jauh berguling ke bawah sana. Dengan perlahan akhirnya dia bangkit berdiri, namun dia merasakan rasa sakit dan nyeri pada punggung belakangnya tepatnya diatas pinggangnya sebelah kiri. Diapun terpaksa duduk ditanah ketika merasakan matanya mulai berkunang-kunang. Setelah dirasa mendingan kembali, dia mencoba berdiri namun demikian rasa nyeri tersebut masih belum hilang, tetapi dengan tekat kuat dia tahan sakit itu dan mulai memungut kantong kainnya juga bungkusan pisau yang tergeletak tidak jauh dari situ. Adapun kantong air miliknya masih tergantung di pinggang kanannya meski isinya sekarang sudah kosong berhamburan akibat tergencet tubuhnya yang tadi bergulingan. Setelah dilanjutkan dengan memeriksa sekujur badannya untuk melihat dan merasakan apakah terdapat luka luar yang ditimbulkan, dia pun bernapas lega karena yang dikhawatirkannya tidak terbukti, bahkan pada kepalanyapun  tidak ditemukan adanya benjolan.  Dengan gerakan perlahan lebih tepatnya merayap, akhirnya dia mencoba kembali ke atas meski rasa nyeri yang dia rasakan pada punggungnya tidak kunjung hilang. Setelah bersusah payah akhirnya dia bisa mencapai pinggir jalan dan segera dia berjalan ke arah sungai seperti yang dia duga sebelumnya.  Dan benar sekali di depannya kini terlihat sebuah jembatan kayu dengan air sungainya yang terlihat jernih dibawah sana. Tidak mau mengulang kejadian yang sama, dia beringsut merayap turun menuju sungai. Sesampainya di sungai yang tidak dalam tersebut dia mendongakkan kepalanya dan menyadari bahwa dirinya akan terlihat dengan jelas oleh siapapun diatas sana. Maka dia segera mengisi kantong airnya dan menyeberangi sungai tersebut serta dilanjutkan dengan berjalan menyisiri sungai yang berkelok-kelok searah dengan arus sungai tersebut mengalir. Dia baru menghentikan langkahnya ketika tiba di sebuah dam kecil dimana air sungai seperti tertampung dan berkumpul ditempat itu, pada bagian tengah arus air terlihat tenang yang mencerminkan kedalaman airnya. Sementara di ujung bawah bagian sana, terdengar suara gemericik air yang menandakan air sungai tersebut menghasilkan sebuah air terjun. Waseso kemudian berjongkok dan menangkupkan tangannya di air lalu mengangkatnya ke arah mulutnya dan melepas rasa haus dahaga yang dari tadi ditahannya. Mendadak terdengar bunyi kecipak air di sebelah kirinya yang tidak jauh dari tempatnya berjongkok. Suara tersebut  membuatnya sedikit kaget, namun baru disadarinya kemudian bahwa suara tersebut adalah suara ikan yang sedang berenang dan kalau ditinjau dari suara yang dihasilkan, pasti itu adalah ikan yang cukup besar demikian benaknya berkata. Perlahan-lahan dia berdiri dan menujukan pandangannya ke arah sumber suara. Dan benar seperti yang dia duga, nampak ada dua ekor ikan gabus yang sedang berebut mangsa entah ikan kecil ataupun udang pada bagian pinggir sungai yang dangkal. Seketika dia mempunyai ide bagus, maka dia beranjak mundur perlahan dari tempatnya lalu bergeser dan melihat daerah sekitar dimana dia berdiri. Lalu dia segera berjalan menuju arah serumpun pohon bambu yang tidak jauh dari situ dan mengeluarkan pisaunya lalu menebang satu batangnya yang tidak terlalu besar maupun kekecilan serta merautnya layaknya sebuah tombak. Dengan perlahan dia kembali ke tempat terakhir dimana ke dua ekor ikan tadi berada dan untungnya ke dua calon mangsanya tersebut masih berada di sekitar situ dengan kesibukan yang sama. Satu mangsa akhirnya berhasil di tombaknya, dilanjutkan dengan ikan kedua. Tanpa membuang waktu, menu makan sorenya tersebut segera dia bersihkan dan melumurinya dengan sedikit garam yang dibawanya lalu dilanjutkan dengan membakarnya diatas tumpukan kayu kering yang terbakar, dimana sebelumnya telah dia susun dan siapkan sedemikian rupa di sebuah tempat yang kering nyaman, di bawah sebuah batu kali yang begitu besar seukuran gajah. Ketika rasa kenyang telah mengusir rasa laparnya, barulah kembali dia merasakan rasa nyeri pada punggungnya. Kemudian dia berinisiatif untuk mengambil sebuah batu pipih yang berada didasar tumpukan kayu bakar. Setelah batu yang cukup panas tersebut  dibungkus dengan kain lalu dia menempatkan sedemikian rupa pada tempat yang akan dia gunakan untuk berbaring, lalu dia membaringkan tubuhnya dengan posisi batu pipih tersebut tepat tertindih oleh punggungnya yang sakit. Rasa nyaman akibat panasnya batu ditambah rasa pegal yang dirasakan pada kedua kakinya, serta keadaan perut kenyang menghasilkan rasa kantuk yang begitu hebat. Waseso akhirnya tertidur lelap dibawah naungan cahaya rembulan serta buaian alunan merdu gemeretak suara kayu yang terbakar. Entah sudah berapa lama dia tertidur, telinganya mendadak mendengar suara keriuhan dentingan senjata yang diadu. Spontan dia segera bangun, namun saat dia berdiri tegak rasa nyeri pada punggungnya kembali terasa menyengat, tetapi dia tidak memperdulikannya dan memperhatikan lingkungan sekitarnya yang gelap gulita terlebih api yang dia bakar tadi sudah lama padam bahkan arang sisa pembakarannyapun tidak lagi mengeluarkan asap. Segera dia memungut hartanya, yaitu buntalan kain, pisau dan kantong airnya, kemudian berjalan mengarah ke sumber suara. Baru beberapa langkah dia kembali merasakan nyeri, kemudian dia mencoba menggerakkan badan diatas pinggangnya kiri dan kanan. Begitu dirasakannya bahwa dengan menyendengkan sedikit badannya ke kiri rasa nyeri tersebut dirasa hilang. Bahkan saat dicobanya untuk jalan, masih sama alias tidak terasa sakit. Akhirnya dia memutuskan untuk selalu menyendengkan badannya ke kiri tapi bagian kepala tetap tegak normal ke depan. Dengan langkah perlahan menyeruak padang rumput tebal dengan bantuan seberkas cahaya benda-benda langit,  lambat laun dia semakin dekat dengan sumber suara, namun beberapa detik kemudian semua suara tadi mendadak senyap. Diapun segera menelungkupkan dirinya ke tanah dan samar-samar cukup jauh disana, dia melihat empat bayangan gelap sedang berjalan mondar-mandir. Lalu sepertinya mereka sedang berkumpul sebentar dan kemudian berkelebat menghilang ke arah kanan. Jantungnya segera berdegup kencang dalam ketakutan jika bayangan tadi melihat dirinya. Namun setelah beberapa saat ketakutannya sedikit mereda karena hingga saat itu, dia tidak mendengar dan melihat apapun. Akhirnya dengan penuh rasa ingin tahu, dia pun bangkit dan kembali dengan berjalan sedeng ke lokasi terakhir bayangan tadi berkumpul. Sesampainya disana dia terpaku diam, ketika melihat ada sekitar enam mayat manusia berbaju putih dan kuning dengan masing-masing masih menggenggam pedangnya rebah berserakan memenuhi area bekas pertempuran. Aroma anyir darah yang menusuk telinganya segera membuatnya sadar dan diapun segera berlari  ketakutan tanpa menghiraukan arah mana yang diambilnya. Dia hanya mengikuti penglihatan normalnya dan  menembus sela-sela rumput tinggi yang memungkinkan untuk dilalui. Langkah kakinya segera terhenti demikian juga nafasnya seperti terputus, ketika tiba-tiba di depannya sekarang berdiri tegak dua orang laki-laki berpakaian hitam. Mereka tampak memperhatikan bocah kecil yang kini berada di depan mereka yang terlihat sangat ketakutan. Satu suara mendadak muncul di balik kerimbunan pohon di sebelah kanan mereka;


"bagaimana ?"


Lalu yang menyahut pertanyaan tersebut adalah lelaki yang berdiri di sebelah kanan;


"cuma seorang bocah lelaki"

__ADS_1


"bernilai?",.....lanjut si penanya.


Sambil melangkah pergi ke arah kiri, si baju hitam yang satunya yang menjawah;


"nggak,... cuma bocah cacat"


Begitu juga si lelaki kedua juga bergerak melangkah pergi meninggalkan si bocah, yang kini merasa jauh lebih lega. Namun demikian dia tetap tak bergerak untuk membiarkan detak jantungnya kembali normal. Dalam hatinya dia membatin;


"ternyata rasa nyeri di punggungku malah menyelamatkan aku dari gerombolan penjahat"


Ketika hari telah terang, saat dia sedang sibuk melakukan penggalian berburu umbi tanah untuk mengganjal perutnya, matanya dikagetkan dengan dua bayangan putih dalam jarak yang lumayan jauh disana, terlihat seperti melaju terbang diatas pucuk ilalang dan hilang di kerimbunan pepohan seberangnya. Pernah juga saat dia sedang bermalam di sebuah bangunan kuil yang tidak terurus, dia di datangi sosok entah lelaki muda atau tua dengan menyelipkan sebilah golok pada pinggangnya. Semula dia kira sosok tersebut adalah hantu, karena datangnya pun mendadak dan tidak memgeluarkan suara sedikitpun. Dia mengetahui bahwa itu adalah manusia biasa saat dari mulutnya mengeluarkan suara bergumam dan masih sanggup di dengarnya;

__ADS_1


"hmmm,....cuma bocah sedeng" Selanjutnya sosok tersebut menghilang.


Bahkan tak lama berselang, datang lagi tiga orang berilmu yang begitu tiba mereka segera memperhatikan si bocah yang sedang duduk di lantai pojok dan demi melihat bahu kiri si bocah yang condong miring ke kiri persis seperti sayap burung yang sengkleh, dan mereka menyimpulkan bahwa itu bukanlah makhuk yang patut di waspadai, barulah mereka duduk berkumpul di ruangan lebih dalam sambil berbisik-bisik di dalam kegelapan seperti tengah membicarakan atau merencanakan hal serius. Baru saja dirinya berniat merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ke tiga orang tadi sudah berhamburan terbang keluar. Yang satu melompat ke atas genteng kuil, yang dua langsung menyerbu ke arah lima orang yang entah sejak kapan datangnya namun kini nampak sedang berdiri di halaman kuil dengan masing-masing menghunus pedang maupun golok mereka. Dalam sekejap terjadilah pertempuran sengit diantara mereka, dimana satu orang yang tadi terbang ke atas genteng telah mendarat kembali ke tanah dan bergabung dengan ke dua temannya melawan keroyokan lima orang sekaligus. Entah berapa jurus yang sudah mereka keluarkan, namun pepohonan di sekitar halaman kuil saat ini telah porak poranda. Sementara itu mata waseso semakin menjadi silau melihat kilatan sinar pedang silih berganti yang memantulkan sinar bulan serta merasakan desakan angin pertempuran menerpa badannya dan memilih beringsut masuk ke dalam kuil. Apalagi tempat disamping dia duduk tadi, kini mendadak hancur berantakan terkena sapuan tenaga dalam yang dilontarkan namun luput dari sasarannya;


"blammmm,....dhuarrrrr,...."


Dalam pandangannya, meski mereka kalah jumlah, namun ketiganya tidak menunjukkan sedikitpun keteteran bahkan pedang satu diantaranya baru saja terlihat berhasil menjatuhkan dua lawannya sekaligus. Tak lama kemudian disusul dengan satu suara teriakan;


"aaaargghhhh,......."


Ternyata satu diantara tiga orang lawan yang tersisa terlihat masih sempat berteriak sebelum jatuh ke tanah, sementara tubuh dua orang kemudian menyusul ambruk dengan kondisi kepala telah putus.

__ADS_1


Tanpa keinginan untuk mencari tahu seperti apa kelanjutannya, Waseso segera bergegas pergi melalui pintu belakang kuil dan berlari menghilang menjauh dari kuil tersebut sejauh mungkin. Kengerian pertempuran yang disaksikan langsung barusan membuat dirinya merasa mual dan sekaligus mendatangkan rasa pusing di kepalanya. Setelah dirasa cukup jauh dari lokasi kejadian, dia berhenti sejenak untuk mengatur napas. Lalu berjalan lagi sambil meminum air dari kantong yang dibawanya. Hampir semalaman dia berjalan, ketika hidungnya mencium aroma bau busuk memyengat di samping kanannya, dengan bantuan sinar bulan dia bergeser mendekat ke arah kanannya dimana bau tersebut semakin kuat, namun langkahnya tidak dia lanjutkan demi sekilas terlihat olehnya lambaian satu bendera panji yang tertiup angin malam dan seperti tersangkut di dahan pohon. Belum lagi dia menyaksikan gerakan bayangan seperti dua bentuk menyerupai entah anjing atau serigala dalam posisi berpencar seperti sedang mencabik-cabik sesuatu di bawah kerimbunan rumput ilalang yang tinggi. Dengan seketika karena menyadari apa yang sedang terjadi di tempat itu, dia segera bergerak menjauh secara pelan lalu kembali mengambil langkah seribu.


BERSAMBUNG


__ADS_2