
Hari ini adalah hari kedua dimana Waseso telah singgah di propinsi Watukelir, sebuah kota propinsi yang sebenarnya tidak begitu besar, namun dikarenakan kepala daerahnya cukup cerdik dalam mengatur strategi keamanan pada kota tersebut, membuat para gerombolan liar tidak berani bertindak semena-mena dalam kota tersebut. Hal ini mengakibatkan banyak orang kecil dari berbagai desa yang pergi mengungsi dari desanya, menjadikan kota yang kabar beritanya cukup aman ini, mereka jadikan sebagai tempat tujuan untuk berlindung demi menyambung hidup. Sayangnya si kepala daerah, termasuk semua bawahannya lebih asyik dengan gemilang harta yang mereka peroleh dari pungutan pajak keamanan yang besaran nilainya mereka berlakukan secara pukul rata sehingga menghasilkan respon yang berbeda-beda bagi masyarakatnya, yaitu murah bagi warga yang kaya, cukup mahal bagi warga menengah, sangat mahal bagi warga miskin, dan mencekik bagi para pendatang yang hanya tinggal di gubuk-gubuk kumuh. Dengan kondisi demikian, secara otomatis dan tanpa disadari memunculkan empat status sosial dalam kehidupan keseharian masyarakatnya. Yang paling bawah berjuang mati-matian agar mereka dan keluarganya bisa bertahan hidup. Yang ketiga dari bawah, selain berupaya bertahan hidup juga berusaha sebisa mungkin untuk bisa berada di posisi naik setingkat ke golongan diatasnya. Yang kedua mengeluarkan semua kemampuannya untuk tidak melorot ke level dibawahnya. Dan golongan yang pertama berusaha mengeluarkan semua jurus-jurus yang dimilikinya untuk bisa tetap bergaul dengan para elit di atas empat batas golongan tersebut. Rasa belas kasih terhadap sesama menjadi sesuatu yang langka dalam kehidupan masyarakat dan secara sukses mencerminkan ungkapan siapa kuat dapat, siapa lemah tak berdaya. Waseso adalah salah satu yang merasakan dampak langsung dari kondisi demikian. Karena sudah hari kedua ini, perutnya masih belum terisi. Memang di hari pertama kedatangannya dia masih takjub dan terbuai dengan jalan-jalan kota yang lebar dan bersih. Rumah-rumah yang baru kali ini dilihatnya ada yang bertumpuk dengan megah dan mewah di semua pinggir jalan kota. Anak-anak lelaki yang sepantaran dengannya nampak begitu mentereng dengan pakaiannya yang indah serta bebas bermain, baik di halaman depan rumah mereka maupun sedang berkeliling diatas punggung kuda mereka sambil menikmati suasana taman kota. Bahkan pada saat malam hari dia terpana dengan berbagai keramaian penduduk yang hilir mudik dibeberapa ruas jalan bahkan banyak diantara mereka nampak berkumpul sambil menikmati pertunjukan ataupun atraksi yang menyenangkan. Semua yang dilihatnya tadi sangat mencengangkan bagi si bocah hingga dia tidak mempedulikan pandangan sinis setiap orang terhadap dirinya saat berpapasan di jalan. Dia juga tidak merasa tersinggung sedikitpun saat dia sedang berdiri dan terkagum dengan keindahan tulisan bertinta warna emas pada salah satu papan nama TABIB SAKTI & RUMAH OBAT UNTUK SEGALA JENIS PENYAKIT . Baru saja dia selesai bergumam membaca tulisan yang tepampang, mendadak keluar seorang lelaki dari dalam rumah tersebut membawa pentungan di tangan kanannya sambil menghardik;
"mau apa kamu bocah miskin,....mau berobat untuk bahumu yang miring ? Hushhh,....pergi sana !"
Semua pengalaman menakjubkan tadi mendadak lenyap tak berbekas ketika dia berada di suatu jalan dan menghirup aroma sedap yang membuat perutnya meronta. Saat tiba dekat sumber aroma, dia melihat disetiap sisi kanan maupun kiri jalan, berjajar seperti tempat makan yang mewah dan megah hingga ke ujung jalan jauh disana dan tak satupun diantara tempat itu terlihat kosong karena saat itu memang adalah waktunya makan siang. Begitu banyak kuda-kuda tunggangan yang diparkir berjajar di setiap depan tempat-tempat makan tersebut. Hampir semua kuda juga terlihat sedang mengunyah makanan seperti sedang mengejek si bocah yang kelaparan. Secara reflek dia mendekat dan berdiri di depan salah satu tempat makan tersebut. Saat dia sedang memikirkan pekerjaan apa yang bisa dilakukannya dan ditawarkan kepada pemilik rumah demi mendapat ganti sepiring makan, mendadak orang yang barusan dibatinnya datang menemuinya dengan berbekal sebatang sapu lantai;
"mau apa kamu pengemis kecil,...pergi sana"
Panggilan pengemis kecil, bocah dekil, pengemis cacat, bocah sedeng, berulang kali didengarnya acap kali ketika dia beranjak dari satu tempat ke tempat lainnya. Akhirnya dengan menggerutu dia melangkah pergi dari tempat itu;
"siapa yang mau mengemis,....belum juga mendengar apa yang akan kutawarkan kalian sudah mengusirku. Ternyata orang-orang kota menyebalkan"
Saat menyusuri jalan sambil sesekali celingukan ke kanan-kiri demi menemui tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar dia bergumam;
"sungguh aneh,.....kenapa tidak ada satupun tanaman ubi atau singkong"
Dia tidak menyadari bahwa setiap jengkal tanah itu adà pemiliknya yang nantinya akan mereka jual ke pembeli yang bisa memberikan keuntungan berlipat ganda bagi mereka dan tanah tersebut memang sengaja dibiarkan kosong tanpa tanaman produktif. Dengan langkah mulai melemah, sementara beberapa orang yang sesekali berpapasan ataupun berjalan menyalipnya selalu menyingkir namun tak dihiraukannya. Mendadak dia mendengar satu suara dibelakangnya;
"woiii,....dik,...dik,....wooiiii"
Spontan dia berhenti dan berbalik serta melihat seorang pemuda kurus berwajah biasa serta berpakaian sederhana berusia sekitar dua puluhan tahun sedang melambaikan tangan ke arahnya. Saat Waseso menengok kebelakangnya tidak dilihatnya seorang pun dibelakang punggungnya.
"iya kamu dik,....kemari lah"
Batinnya sambil melangkah mendekat;
"sepertinya memang aku yang dimaksud"
Sesampai di depan halaman rumah yang terlihat cukup lapang namun banyak berserakan rontokan daun bercampur dengan rumput-rumput liar, dia seperti tertegun sebentar serta memperhatikan rumah kayu yang sederhana sangat kontras dengan bangunan lain disekitarnya. Letak rumah atau kedai tersebut agak menjorok ke dalam dan bentuk bangunannyapun tergolong sangat biasa namun bersih dengan empat jendela serta dua pintu depan yang terbuka lebar serta di atas pintunya terdapat papan nama KEDAI MAKAN KELUARGA - SEDERHANA.
Si pemuda yang memanggilnya tadi kini berdiri di depan pintu pada serambi yang ternaung tumpukan anyaman jerami cukup tebal sambil kembali menggapai padanya;
"jangan berdiri disitu apalagi ini matahari sedang terik,....kemarilah".
Saat tiba dekat dengannya, si pemuda tersenyum ramah namun dia mengurungkan mulutnya yang akan terbuka ketika mendengar suara lelaki dari dalam;
__ADS_1
"siapa nak ?"
"ini ada bocah pengembara tadi aku melihatnya dan kuminta kemari" jawab si pemuda.
"kalau begitu segeralah dijamu" lanjut si pemilik suara di dalam.
Baru akan menjawab, kini terdengar suara perempuan menyusul berkata;
"biar aku yang siapkan, kemarilah,..."
Si pemuda tidak segera menjawabnya, namun berkata pada si bocah sambil menunjuk sudut teras sana pada sebuah bangku dengan satu meja di depannya;
"duduklah disana dik dan tunggu sebentar ya,..."
Lanjutnya;
"iya bu, aku datang" lalu dia membalikkan badannya dan masuk ke dalam.
Sebelum duduk dia melihat ada gentong yang biasa dipakai buat menampung air di balik sudut rumah itu dan benarlah dugaannya, bahkan disampingnya terdapat sewadah kecil bubuk busa yang sepertinya lebih mahal dari yang dibawanya, karena aromanya lebih harum meski belum tercampur dengan air.
"ayo makanlah dik tentu engkau sangat lapar"
Namun jawaban yang diberikan si bocah membuat pemuda tersebut melongo;
"aku tidak sanggup membelinya, kecuali jika engkau mengijinkankan aku untuk membersihkan halaman rumahmu sebagai imbalannya"
Si pemuda menjawab;
"itu tidak perlu"
Namun buru-buru dia melanjutkan ketika dilihatnya tubuh si bocah akan beranjak berdiri;
"baiklah aku setuju, tapi kamu harus makan dulu"
Akhirnya si bocah mulai mengambil gelas air dan meminumnya beberapa tegukan lalu mulai makan. Sebenarnya si pemuda itu ingin menemani duduk disebelah si bocah namun ketika dilihatnya datang sepasang pelanggan lelaki perempuan datang masuk ke halamannya dia segera menyambut mereka dan mempersilahkan masuk ke dalam kedai. Sepasang tamu tadi hanya melirik sekilas ke arah bocah yang tampak makan begitu lahap sebelum akhirnya masuk ke dalam. Tidak begitu lama kemudian terdengar suara beradunya wajan dengan gagang pengaduk diikuti aroma masakan yang keluar dari dalam yang tentu saja aroma itu seketika membatalkan niat Waseso yang tàdinya sudah merasa kenyang hendak meletakkan piring nasi yang belum dihabiskannya. Setelah dirasa cukup waktu agar semua makanan yang barusan masuk dan ludes habis tadi menempatkan diri mereka secara pas di dalam perutnya, Waseso segera bangkit berdiri dan bergegas menuju halaman rumah bagian pojok depan lalu berjongkok dan mulai mencabuti rumput liar dengan kedua tangannya. Si pemilik rumah yang ternyata adalah seorang lelaki yang berumur sekitar enam puluh tahunan nampak mengekor dibelakang sepasang pelanggan yang sudah lebih dulu keluar dan pergi dari kedai. Sejenak dia memandang aktivitas yang dilakukan oleh si bocah, demi ingin melihat seperti apa wujud bocah pengembara seperti yang dikatakan oleh anak lelaki mereka yang menyebutnya sosok unik, karena katanya meski penampilannya dekil seperti pengemis, membawa buntalan kain, bahunya miring ketika berdiri maupun berjalan, namun yang paling aneh adalah menolak diberi makan secara gratis. Tidak lama berselang nampak istri si pemilik kedai menyusul keluar lalu berdiri disamping suaminya, adapun si pemuda juga segera bergabung dan nampak mereka seperti sedang mengobrol sambil menatap si bocah yang sedang beraktivitas, dan disusul si pemuda nampak menganggukkan kepalanya beberapa kali. Lalumereka segera membubarkan diri, demi melihat satu orang calon pelanggan yang masuk ke halaman rumah mereka. Si pemuda nampak keluar dari samping rumah dengan membawa sebuah sabit kecil serta datang menghampiri si bocah;
__ADS_1
"gunakan ini dik"
Selesai menyerahkan sabit tersebut, dia segera kembali masuk ke dalam rumah untuk membantu kedua orang tuanya melayani pelanggan.
Menjelang matahari terbenam, Waseso baru beranjak bangkit dan membasuh tangannya, itupun dikarenakan kedua pemilik rumah dan puteranya yang kini sedang berkumpul duduk di kursi teras depan harus berulang berteriak untuk meminta si bocah berhenti dari pekerjaannya. Selesai minum air dia datang mendekat ke arah mereka dan duduk serta menunduk begitu saja di lantai bawah menghadap mereka. Kembali mereka bertiga saling sahut menyahut menyuruhnya duduk di kursi, namun demi melihat keteguhan si bocah dan memahami dengan keadaan si bocah yang mungkin merasa minder akibat pakaian serta badannya yang kotor barulah mereka berhenti memaksa.
"namamu siapa nak?",......yang bertanya adalah si Ibu.
"saya waseso bude"
"berapa umurmu dan berasal dari mana?
"saya sembilan tahun dan saya lupa nama desa saya"
"sudah berapa lama kamu mengembara nak?",......kali ini si bapak yang turut bersuara.
Mereka melihat si bocah seperti menghitung jari-jarinya sebelum menjawab;
"sekitar sebelas bulan pakde"
(pakde adalah nama panggilan untuk laki-laki yang dirasa lebih tua dari ayah si pemanggil)
Begitu mendengar jawaban si bocah, mereka bertiga nampak saling pandang bahkan si ibu nampak mengelus dadanya. Lalu dia mengajukan pertanyaan selanjutnya;
"lalu kemanakah tujuanmu nak?"
Begitu mereka melihat si bocah menggelengkan kepala, mereka bertiga kembali saling tatap dan seperti memahami apa yang telah terjadi dengan si bocah. Karena kabar dan berita yang menyebar secara luas tentang keadaan yang terjadi di daerah-daerah pelosok sebagai akibat perang berkepanjangan telah mereka ketahui dan rasakan langsung. Bahkan sepasang suami istri tersebut dengan rela hati telah membayar uang demi memperoleh gelang tangan pengenal yang dikenakan putera mereka satu-satunya tersebut. Sejumlah uang yang sebenarnya sangat banyak bagi mereka, namun nilainya tidak sebanding dengan apabila harus berpisah dengan sang anak. Kali ini giliran si pemuda yang berkata;
"namaku wiguna dan mereka berdua ini adalah ayah ibuku. Kamu bisa memanggilnya pakde atau bude Temoto,....sekarang kamu ikut aku ke dalam dan akan aku tunjukkan kepadamu dimana kamu bisa mandi lalu kita makan malam bersama dan juga tempat dimana kamu bisa tidur"
Waseso seperti tidak percaya dengan pendengarannya barusan dan ketika dia akan membuka mulutnya untuk menolak sekejap dia hanya melongo dan tidak jadi mengeluarkan suara sedikitpun karena dilihatnya si bude sedang menatapnya dengan tajam dan begitu jelas terlihat raut muka yang menunjukkan tidak mau dibantah. Seketika Waseso bangkit berdiri kemudian membungkuk hormat ke arah pakde dan bude lalu membuntuti Wiguna masuk ke dalam rumah. Demikianlah akhirnya Waseso tinggal menumpang di rumah keluarga itu dan dia benar-benar menyenangkan hati ke tiga pemilik rumah, karena meskipun pendiam namun si bocah tersebut sangat rajin menjaga kebersihan baik dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar rumah. Tenaga anak-anak yang tidak seberapa, namun dirasakan sangat membantu mereka. Tanpa disuruh dia selalu bangun pagi, membersihkan halaman rumah, ruang kedai, membantu mencuci piring dan peralatan dapur bahkan jika terpaksa diminta untuk membeli beberapa bahan belanjaan kedai makan yang terlupa dibeli di pasar rakyat, si bocah tersebut tidak pernah melupakan satu jenispun dari daftar belanja yang diberikan, bahkan uang kembaliannya juga diberikan secara jujur.
Pernah suatu sore namun matahari belum tenggelam, selepas membantu menutup jendela kedai, dia meminta ijin kepada bude untuk berjalan-jalan ke taman. Sebenarnya dia sengaja berbohong dengan mengatakan tujuan ke taman, namun menurutnya itu lebih baik daripada dia harus berkata jujur bahwa dia ingin melepas rasa penasarannya. Telah beberapa kali setidaknya setiap dua minggu sekali dia selalu melihat sejumlah anak-anak kecil seusianya dan semuanya anak lelaki berbaju seperti seragam berlari kecil di jalan dan melintas di depan kedai ke arah taman kota. Kejadian tersebut juga baru saja terulang barusan, makanya dia memutuskan untuk mencari tahu. Cukup lama dia menyusuri jalan dan ketika dia hampir tiba di taman dia mendengar suara riuh seperti anak-anak yang sedang membuang napas bersamaan saat berlatih silat, karena dahulu dia juga pernah mendapat latihan dasar tersebut dari mendiang ayahnya. Segera dia berlari mendekat ke sebuah rumah yang sangat besar dan mewah namun berpagar tinggi dan rapat. Dengan sabar dia mencoba mencari lobang kecil di sela-sela papan pagar dan berusaha mengintip kedalam. Benar seperti dugaannya, dia melihat ada sekitar delapan anak lelaki yang seumuran dengannya, semuanya memakai baju seragam silat yang terlihat begitu keren dan semuanya juga terlihat mengenakan gelang pengenal di tangan kanan mereka, sedang berlatih formasi kaki kuda-kuda dan olah pernapasan. Karena dirasanya lobang yang dipakainya barusan kekecilan dia berusaha mencari lobang lain yang lebih besar dengan cara menggeser tubuhnya ke kanan, belum juga mendapat apa yang dicarinya dia dikejutkan dengan suara diatasnya seperti kelebatan pakaian yang beradu melawan angin. Ketika dia membalikkan badannya, persis di depannya saat ini telah berdiri seorang lelaki gagah dan tampan seumuran lebih muda dari mendiang ayahnya, berpakaian sama seperti yang dipakai oleh anak-anak di dalam, maka dia menyimpulkan bahwa ini adalah guru silat mereka. Dia berniat menyapa orang tersebut sekaligus untuk meminta maaf namun diurungkan, ketika dilihatnya si guru silat nampak sedang memperhatikannya dengan pandangan sinis, mulai dari pakaian yang dia pakai serta agak lama memelototi badannya yang berdiri miring. Tanpa menimbulkan suara dari mulutnya karena tahu diri, si bocah segera beranjak pergi dan kembali mengarah ke arah kedai. Itu adalah kali pertama dan terakhir bagi si bocah dalam menjalankan misi menonton latihan silat.
BERSAMBUNG.
__ADS_1