Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB 22 - KEMBALINYA PEDANG MUSTIKA


__ADS_3

Telah dua hari ini Kinda merasakan hati yang begitu gembira, melanjutkan kembali perjalanan melancong bersama keluarga beusarrrnya. Dia berjalan, mengunyah panganan, juga sambil sesekali melihat atas pohon ke arah si burung kecil berwarna kuning yang terbang dari dahan ke dahan, dalam rangka mengikuti perjalanan majikannya. Kinda yang biasanya paling cerewet, kali ini dikalahkan oleh keceriaan Laksita yang terlihat sangat lincah, bergerak kesana kemari memetik berbagai bunga cantik yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Hasil petikannya, sebagian besar diselipkannya ke telinganya sendiri, bahkan secara paksa ke telinga Ni Luh, Werni, bahkan juga Kinda. Sesekali terdengar ketawa geli dari ketiga wanita tersebut. Bagaimana tidak, jika masing-masing telinga mereka, baik yang kanan maupun kiri, sudah terpasang dua jenis bunga berbeda, namun Laksita masih juga memaksakannya lagi dengan bunga jenis lain, tentu saja mereka semua merasa geli dengan kelakuan gadis itu. Tetapi mereka menyadari, bahwa selama di dalam perkampungan, hanya Laksita yang sangat jarang keluar dari gubuk-gubuk pengobatan pengungsi, karena pasiennya banyak. Keluar hanya untuk makan siang, itupun sesekali, melakukan rutinitas kebutuhan pribadinya sendiri, seperti mandi, mencuci pakaian, dll. Waktu paling longgarnya hanya ikut makan malam bersama, setelah itu tidur, besok paginya kembali lagi dilanjutkan seperti hari sebelumnya. Oleh karenanya, mereka maklum dan turut terbawa energi keceriaan gadis cantik jelita itu. Sekarang, dia tidak lagi mengenakan pakaian adatnya yang telah disimpan. Dan kini telah memakai baju adat wanita bangsa ini. Baju tersebut, dibuatkan oleh Ni Luh, yang menjahitnya sangat pas dan cantik membungkus tubuh dan kulit Laksita yang berwarna putih susu namun juga ada warna semburat kemerahan.


Kegembiraan juga ditunjukkan oleh Ni Luh, yang selalu tersenyum bahagia.


Sambil berjalan, dia merangkai bunga-bunga hasil petikan Laksita yang telah kewalahan dengan panennya. Dalam aktivitasnya tersebut, dia mengingat kejadian seminggu yang lalu, ketika dia mencoba mendekatkan Laksita kepada salah satu adik seperguruan Kang Daruna, pemuda yang sebaya dengan si gadis, gagah dan tampan, serta jelas menunjukkan rasa tertariknya kepada Laksita. Namun hasilnya, Ni Luh malah diomeli oleh Laksita. Ingat hal tersebut, dia senyum-senyum sendiri dan bersumpah tidak akan mengulanginya.


Werni juga demikian, dia berlaku layaknya ibu muda, yang membawa satu kantong berisi makanan ringan hasil buatannya. Dia sibuk berteriak dan memanggil Laksita jika gadis itu tak menampakkan batang hidungnya karena berseliweran kesana-kemari, setelah dia datang dan menghampiri, Werni segera menyuapi si gadis dengan tangan kanannya. Bahkan, aksinya menyuapi ini, juga dilakukannya terhadap Ni Luh dan Kinda.


Kelompok empat wanita cantik ini, adalah rombongan ke dua terdepan. Dimana rombongan pertama dan jauh paling depan sana, adalah kakang Daruna beserta adik-adik seperguruannya. Mereka berperan sebagai pembuka dan pembersih jalan, jika bertemu dengan pengganggu.


Kelompok ketiga, adalah pemuda-pemudi pengungsi, serta beberapa orang-orang tua yang sehat dan ingin berjalan kaki. Kadang ada yang bergantian menggendong bocah kecil pada bahu mereka, yang jika si bocah sudah terlihat mengantuk, diserahkan ke pedati belakang yang ditarik oleh kuda. Disusul adalah pedati yang mengangkut ibu-ibu, dibelangkangnya, pedati lagi, juga termasuk pedati khusus orang sakit, terus pedati lagi, mengular, pedati yang mengangkut barang-barang dan terakhir pedati yang mengangkut sapi perah betina, bernama plentong.


Terakhir dan paling belakang adalah Waseso, berjalan santai sambil kadang-kadang celingukan bila melihat pohon kelapa. Bila ada buahnya yang menggiurkan, langsung saja si pemuda terbang keatas, petik dan ditawarkannya ke kelompok depan, demikian seterusnya. Hingga.....


"suiitttttttttt,......" didengarnya kode siul dari depan dan tentu saja si pemuda segera merangsek maju. Kini dilihatnya Kang Daruna bersama adik-adik seperguruannya, sedang berdiskusi dengan para pendekar wanita, di sebuah perempatan jalan.


Begitu melihat kedatangan si pemuda, kang Daruna langsung berkata ;


"adik Waseso, ke kanan adalah jalan mengarah ke kota kecil Serupan, lurus terus mengarah ke kota besar Watureng dan arah kiri saya tidak tahu mengarah kemana". Yang ditanya diam saja, karena juga tidak tahu dan malah menatap ke arah Kinda yang juga nampak sedang berpikir sambil celingukan kanan-kiri- depan, seolah sedang mencari sesuatu.


Mereka dikagetkan suara Laksita yang sedang berdiri membelakangi mereka, di seberang perempatan sana sebelah kiri mereka, sambil tangan kanannya menyibakkan dahan pohon tanaman liar, serta membaca pelan ke arah sebuah batu hitam dibalik dedaunan penutup, seperti batu penunjuk jalan ;


"telaga panca warna,...."


Kinda langsung berteriak menyahut;


"Nah...itu dia yang disebutkan oleh Wulan....telaga panca warna, berarti kita ke kiri"


Tanpa dikomando dua kali, rombongan pengawal pembuka jalan, bergerak ke kiri disusul rombongan belakang dan seterusnya.


Tidak sampai satu jam kemudian, ketika baru saja melewati sebuah tikungan jalan, mereka melihat ada sebuah danau yang sangat luas menghampar dan pada bagian tengahnya terdapat sebuah pulau yang juga sangat luas. Sinar matahari yang memantul pada riak air danau laksana emas yang mencair. Dan pada sisi sebelah kanan yang agak teduh berwarna kehijauan. Adapun sisi kiri terlihat seperti berwarna biru serta kemerahan. Sebagian besar pulau masih menampakkan kelebatan seperti hutan kecil, jika diperhatikan dari jauh. Sisi depan pulau, tampak jelas petak-petak sawah ladang menghijau, serta puluhan rumah tinggal penduduk dan terlihat sedemikian rapi berjajar.


Satu-satunya jalan untuk menyeberangi pulau tersebut, adalah dengan cara melewati sebuah jembatan kayu yang lumayan lebar, dimana ujung pintu masuk harus melewati dua buah menara kayu yang cukup tinggi dengan bagian atas dibuat sedemikian rupa menyerupai gubuk penjagaan. Sungguh sebuah perkampungan dengan benteng pengaman yang bagus.


Saat sudah dekat dengan jalan masuk dan menemukan tempat yang cukup lumayan lebar serta datar. Rombongan berhenti. Lalu Waseso sekalian, berjalan mendekat ke arah delapan orang laki-laki dan seorang perempuan, yang berdiri menghadap mereka, dimana pada bagian punggung belakang masing- masing tersembul gagang pedang.


Diantara mereka ada seorang lelaki, berumur sekitar tujuh puluh tahun, bertubuh sedang, rambutnya telah putih semua dan diikat dengan kain yang melingkar diatas pelipisnya. Meski sudah lanjut usia, namun wajahnya terlihat segar dan masih terlihat tampan. Disampingnya, nampak berdiri seorang wanita, yang juga seusia dengan laki-laki tersebut, sepertinya adalah sang istri. Wajahnya segar bersinar dan juga masih menyisakan kecantikan di masa mudanya dulu.


Pada masing-masing pos penjagaan atas, terdapat enam orang laki-laki dengan senjata busur panah. Saat sudah dekat, dan baru saja Kang Daruna sebagai pria tertua dalam rombongan Waseso, hendak membuka mulutnya untuk menyampaikan salam perjumpaan, mendadak terdengar teriakan gembira suara perempuan, dari arah pulau ;


"kindaaaaa....kakak Ni Luhhhh,...."

__ADS_1


"Wulannn,..."


"Adik Wulannn,...."


Hampir bersamaan, Kinda dan Ni Luh serentak berteriak serta melompat- lompat senang. Sepasang suami istri pendekar yang sudah lanjut usia itu, kini seperti mulai mengerti apa yang terjadi, karena mereka berdua segera tersenyum kepada rombongan Waseso sekalian.


Tentu saja hal ini segera mencairkan rasa canggung bagi kedua belah pihak. Bayangan tubuh seorang gadis muda yang sedang berlari kesurupan, nampak datang mendekat dan begitu sampai di depan mereka;


"brukkk,....." langsung menubruk dan memeluk Kinda dan Ni Luh sekalian.


Dan membuktikan, bahwa memang gadis itu adalah Wulan;


"Kinda, Kak Ni Luh, apa kabar.....kalian cantik sekali,....apakah sudah dari tadi,.... bla,...bla,...bla,...." sekali membuka mulut, pertanyaan yang keluar layaknya sebuah kereta barang. Laksita dan Werni langsung merasa suka dengan gadis tersebut. Sepasang suami istri yang sepertinya adalah ayah serta ibu kandungnya, nampak hanya tersenyum sambil geleng kepala, melihat adat kelakuan anak gadisnya.


Akhirnya satu persatu merekapun saling berkenalan dan diajak masuk ke pulau. Saat Waseso sedang akan menjawab ragu, sambil menoleh ke belakang ke arah rombongan pengungsi, lelaki tua tadi segera berkata;


"jangan khawatir anak muda, mereka semua, juga kami undang masuk ke pulau" selesai berkata, dia segera memerintahkan kang Suryo yang ternyata adalah kakak lelaki Wulan, untuk segera mengurus perihal dimaksud.


Maka malam itu, di sebuah padang rumput yang cukup luas, diadakan malam malam bersama besar-besaran. Semua rombongan pengungsi dan juga semua penduduk pulau, berbaur jadi satu sambil menyalakan api unggun.


Tuan Pendekar Pedang Ufuk Timur sendiri yang membuka acara tersebut, dengan mengatakan untuk menyambut kedatangan tamu sekaligus untuk merayakan kelahiran cucu laki-laki pertamanya dari anak sulungnya, yaitu Kang Suryo.


Diantara mereka, Kang Daruna adalah salah satu orang yang juga terlihat sangat senang, bagaimana tidak? bisa bertemu langsung dengan seorang tokoh pendekar persilatan yang amat dikaguminya, apalagi duduk satu meja. Maka, seperti biasanya jika sedang berkumpul makan malam, kembali Kang Daruna menjadi satu-satunya orang yang paling aktif berbicara tentang segala topik perjuangan membela negara, keadaan dunia persilatan beserta ***** bengeknya, dimana hal tersebut bagi Kinda, Ni Luh dan Laksita menjadi risih, karena sangat berbeda dengan keadaan sebelum kedatangan yang bersangkutan. Dimana waktu itu, acara makan malam selalu terasa begitu hangat dengan cara Waseso yang lebih suka membicarakan hal-hal ringan keseharian yang kadang membuat semuanya tergelak tawa, bahkan setiap pengungsi diharuskan bercerita secara bergiliran. Tentu saja, dengan cara mereka masing-masing dalam polosnya bertutur kata dan kalimat belepotan,...namun justru membuat suasana makan malam, terasa menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu setiap orang, bahkan bagi anak-anak pengungsi.


Adapun ketiga gadis, hanya menjaga perasaan Werni agar tidak merasa tersinggung dengan kebosanan mereka terhadap kang Daruna yang mereka anggap paling sok tahu. Padahal tanpa mereka ketahui, Werni sendiri sebagai istri juga mulai merasa bosan dengan perilaku suaminya tersebut, bahkan dia yang pertama kali menginterupsi pembicaraan sang suami dan mengajukan ijin permisi kepada sang tuan rumah untuk melihat si bayi beserta ibunya. Tentu saja mendengar hal ini, Kinda, Laksita dan Ni Luh sangat senang dan ikut meminta ijin serta menarik tangan Wulan untuk memimpin mereka berempat.


Hari beranjak siang ketika Waseso baru saja pergi meninggalkan rumah kang Suryo, untuk mencari keberadaan Kinda sekaligus mencoba untuk bertemu langsung dengan pendekar Pedang Ufuk Timur dan berbicara secara pribadi perihal silsilah keluarga gurunya Dewa Pedang. Namun ternyata, kedua orang tua dan adiknya Wulan tidak tinggal serumah dengan kang Suryo, melainkan tinggal di rumah terpisah yang terletak diatas perkampungan serta dekat dengan persawahan.


Sambil berjalan santai, melihat pemandangan sekitar dan dilihatnya kemudian sebuah rumah sederhana namun begitu asri dengan berbagai jenis tanaman hias maupun beberapa tanaman buah, dirinya berjalan mendekat dan membatin ;


"kenapa terlihat sepi ya,...bahkan para wanita tidak terlihat sama sekali,..owh ternyata ini jalan ke arah belakang rumah,..." lanjut batinnya dan tetap berjalan mendekat, niatnya menuju depan rumah. Namun, saat tiba dekat dinding samping rumah yang semua jendelanya tertutup, dimana posisinya berdiri saat itu hanya dipisahkan oleh pagar bambu setinggi lutut serta halaman kecil yang ditanami bunga-bungaan. Waseso yang memang pendengarannya sangat tajam, serta berilmu tinggi, tidak memperdengarkan sedikitpun suara tapak langkah kaki, sementara si pemilik rumah sayangnya sedang dalam kondisi paling lemah bagi seorang pendekar persilatan,....


Waseso mendengar suara dari dalam balik dinding, yang menurutnya mencurigakan, karena dia belum pernah mendengar suara seperti itu sama sekali. Lalu dia berkelebat ke arah sumber suara dan mepet kedinding ;


"aduhhh,....jangan dilepasin kiii,..."


"iya bentar nini bawel, ini juga salahmu memberi pelicin terlalu banyak,.."


"namanya juga buru-buru tadi,...udah ah cepetan,....nah begitu,..ssshhhh"


"seperti inihh ?,..."

__ADS_1


"iya begitu,...jangan sampai lepas,..... aduhhhh......ssshhhhhh,......."


Waseso yang memang benar-benar berjiwa polos hanya membatin;


"sepertinya mereka sedang sibuk mencabut duri di kaki si nyonya,... nahhh lebih baik aku mencari keberuntungan mencari belut" selesai membatin, dia berkelebat ke arah pandang yang menarik perhatiannya dan segera berlari menuju ke sebuah sawah yang seperti baru saja dibajak, berjarak sekitar delapan tombak dari rumah itu dan langsung asyik membungkuk, lalu jongkok dan melakukan apa yang dikatakannya dalam batin. Cukup lama dia melakukan kegiatannya, ketika dia mendengar panggilan Laksita ;


"kak Waseso,...."


Yang dipanggil segera bangkit dan melihat Laksita, Kinda, Ni Luh dan Werni sedang mengangkat dan memamerkan berbagai jenis sayuran, dengan Wulan paling depan, sedang berjalan ke arah jalan menuju halaman depan rumahnya, yang semua jendelanya kini sudah terlihat terbuka entah sejak kapan.


Lalu Waseso segera mencuci bersih semua tangan dan kakinya sampai bersih dan memungut benda yang panjangnya selengan namun dibalut dengan kain sedemikian rupa, beserta tidak dilupakannya, seuntai jerami panjang dan tebal dengan sekitar dua puluh satu ekor belut yang gemuk-gemuk bergelantungan di jerami itu.


",....jadi begitulah,...beliau Dewa Pedang Ufuk Timur adalah kakek dari kakeknya kakek buyut saya",..... ayah Wulan pun menutup cerita sejarah dan silsilah keluarganya.


Ibu Wulan, Waseso, kang Suryo, Wulan, Kinda, Ni Luh, Laksita dan Werni terlihat saling menghela napas mendengar cerita yang cukup panjang namun padat tersebut. Perut terasa kenyang sehabis makan siang bersama, hati senang ditambah mendengar penuturan, terasa begitu menyenangkan.


Adapun Kinda dan Ni Luh hanya saling lirik dan seolah mereka mengerti, kenapa Waseso waktu tempo lalu, meminta mereka berdua untuk tidak perlu menceritakan hubungan Dewa Pedang dengan si pemuda yang adalah guru-murid. Membayangkan bagaimana nanti Waseso memanggil ayahnya Wulan : "adik seperguruan cucu cucu cucu cucu buyut,.." atau sebaliknya, ayah Wulan memanggil Waseso : "kakak seperguruan kakek kakek kakek kakek buyut,...." sungguh membuat mereka berdua mendadak pusing. Kini mereka berdua, menunggu strategi apa yang akan dikeluarkan oleh Waseso.


Setelah mereka semua, agak lama berada dalam keheningan, Waseso menarik napas kemudian berkata kepada Pendekar Pedang ;


"tuan pendekar,...kedatangan saya kemari sebenarnya secara khusus ingin menyerahkan mandat yang telah diberikan oleh guru saya, untuk diserahkan kepada ahli waris Dewa Pedang Ufuk Timur "


"siapakah gurumu anak muda?"


"mengenai hal ini, saya tidak bisa menceritakannya, jadi saya memohon diberikan maklum"


"owh tidak masalah, saya bisa mengerti sifat pendekar silat itu bagaimana, tidak apa-apa anak muda"


Lalu, Waseso memungut benda terbungkus kain, yang dia letakkan di atas meja sampingnya dan berdiri serta membuka kain pembungkus.


Demi melihat isi nya, segera pendekar pedang, istri, dan kedua anaknya duduk tegak mematung dan langsung menunjukkan wajah sepucat mayat ;


"pedang pembelah langit,.. kakek buyut"


Bersamaan dengan teriakan itu, pendekar pedang, jatuh tersungkur hingga jidatnya menyentuh lantai sambil terisak haru mengeluarkan air mata. Demikian juga istri dan kedua anaknya. Bagaimana tidak, pedang itu bagi mereka sekeluarga adalah benda wasiat keluarga, yang hanya mereka dengar turun temurun dan selama ini hanya bisa melihat dari lukisannya saja yang terpajang pada dinding ruang tamu mereka.


Kini malahan wujud aslinya, berada di kedua tangan seorang pemuda sederhana dan sedang berdiri menunggu sambil mengulurkan benda wasiat tersebut di dalam rumah mereka? Kesemua yang hadir menyaksikan berlinangan air mata, terutama Laksita sungguh menjadi jatuh hati secara penuh terhadap si pemuda yang memang sudah membuatnya tertarik, sejak pertama mereka berdampingan melakukan pertolongan pengobatan kepada rakyat kecil yang menderita, apalagi kini dia menyaksikan sendiri ketulusan dan kejujuran luar biasa si pemuda.


Sungguh pemandangan yang demikian haru dan membahagiakan.


Malam itu, kembali Pendekar Pedang menggelar acara makan malam yang bahkan lebih meriah dari sebelumnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2