
Hal pertama yang di rasakan oleh Waseso adalah, badannya seperti berayun-ayun depan, belakang, kiri, kanan berulang secara acak. Kedua telinganya juga seperti tertiup hembusan angin. Sejenak dia mengumpulkan ingatannya terakhir, saat dia dikerjain oleh tiga bocah pongah temannya berlatih silat. Mereka dengan sebelumnya menunjukkan pedang kecil yang mereka selipkan di pinggang masing-masing dan mengancam akan mengeroyok dan membacok dua bocah kecil yang sedang mandi dengannya, bahkan katanya akan menangkap dan menyiksa Kinda. Ancaman batal di lakukan dan bahkan mereka berjanji akan memberi uang kepadanya. Syaratnya adalah Waseso harus mampu bertahan sepuluh hitungan, sambil memasukkan anu nya ke dalam kantong kecil yang mereka bawa. Karena merasa tidak punya pilihan lain, serta saat itu dia juga sedang mandi telanjang sementara anunya juga sedang nggak ngapa-ngapain, maka Waseso setuju. Jangankan sepuluh hitungan, baru saja memposisikan anunya di mulut kantong yang barusan dibuka dan hitungan belum dimulai, dia merasakan ujung anunya seperri disambar petir sebanyak tiga kali. Sementara ketiga teman biadabnya tertawa senang. Dalam kesakitannya dia segera membuang kantong tersebut, namun lima sampai enam ekor penghuni di dalamnya segera keluar dan menyerang perut serta dadanya. Ketika melihat si bocah kelojotan di tanah, tentu saja ketiga temannya langsung kabur ketakutan. Setelah itu Waseso tidak ingat yang terjadi. Anehnya, kini dia tidak merasakan rasa sakit luar biasa yang serasa membakar anu serta perut dan dadanya. Saat si bocah merasakan hentakan dan membuat tubuhnya berayun kembali, segera dia membuka matanya pelan. Namun menjadi terbelalak demi melihat tubuhnya terbebat oleh jaring dan ketika melihat ke bawah ternyata pijakan bumi terletak lumayan jauh dibawah sana, segera dia menyadari sedang bergerak atau lebih tepatnya dibawa jalan pada dahan pohon yang besar. Saat kepalanya mendongak ke atas dan sedang menerka warna putih berbulu, juga ada bentuk seperti dagu bawah dengan sebelah kanan dan kiri banyak sekali rambut mencuat berbentuk seperti kumis kucing namun jauh lebih buesar dan puanjang,... maka Waseso pingsan yang kedua kali.
Waseso siuman ketika wajahnya merasa tersiram air dan suara gemuruh di sebelah kanan bawahnya seperti suara air tumpah. Demi melihat ke bawah dan menyadari bahwa dia sedang dibawa melintas sebuah sungai besar dengan cara melompat dari satu batu ke batu lain, adapun di pinggir bibir sebelah kanan bawahnya ternyata adalah air terjun, kembali Waseso jatuh pingsan untuk yang ketiga kali.
Merasakan satu tangannya yang dia gerakkan sedikit terasa bergesek dengan pasir yang lembut, disusul tangan kanan juga merasakan hal yang sama, kemudian punggung, semua kakinya juga merasakan hal yang sama pula. Akhirnya semua kesadarannya berangsur pulih serta menyadari bahwa saat ini dia sedang terbaring telanjang bulat di hamparan pasir. Dia tidak merasakan baik di dada, perut maupun,.....segera dia meraba yang dimaksud dan memang tidak lagi terasa sakit. Dia hanya merasa ada yang aneh dengan ukurannya yang masih bengkak serta merasakan ada yang berbeda dengan bentuk ujungnya yang sekarang seperti tak terbungkus kulit luar lagi, namun akhirnya tak dipedulikannya karena yang terpenting baginya adalah bagian tersebut sudah tidak merasakan sakit. Telinganya mendengar sayup-sayup seperti entah suara air atau entah suara angin. Hidungnya mencium kesegaran udara aneh menyejukkan yang belum pernah sama sekali di hirupnya. Perlahan dia membuka pelupuk matanya serta melihat langit-langit batu tinggi diatas sana yang pada bagian tertentu terlihat runcing mengarah ke bawah. Kepalanya dia angkat,.. dan lagi dia melihat di depannya sejarak tiga langkah adalah dinding batu. Dia miringkan kepalanya ke kiri dan juga melihat dinding batu sejarak enam langkah, namun pada bagian atasnya terdapat seperti lubang alam memanjang kanan kiri seukuran dua kali panjang tubuhnya dan segera dia mengetahui saat ini adalah pagi hari, kerena melihat sangat jelas bias sinar matahari yang menembus masuk. Ketika dia menengok ke kanan ternyata masih dengan bentuk yang sama, namun jarak dinding yang ini lebih jauh yaitu sekitar dua belas langkah dimana bagian tepi sebelah kiri sana, terdapat sebuah lobang selebar enam langkah dan tingginya sama dengan langit-langit, tentunya bisa disimpulkan bahwa disanalah letak pintu masuk atau keluar ruangan ini. Akhirnya Waseso mencoba bangun dan duduk. Setelah beberapa saat dia memutar badannya dengan posisi pantat masih ditempat yang sama untuk melihat satu-satunya sisi belakang yang belum dilihatnya. Kini dia melihat sejauh delapan langkah disana terdapat seperti pelataran yang lebih tinggi dari tempatnya sekarang sehingga dalam posisinya dia tidak bisa melihat lantainya karena dari depannya mulai satu langkah terlihat kontur tanahnya mulai menanjak naik dan tidak tertutup oleh pasir lembut berwarna putih keemasan, sama warnanya dengan dinding batu dalam ruangan yang cukup luas ini. Saat kepalanya menoleh ke kiri, kontan membuat dadanya berdegup kencang, aliran darahnya seperti mengalir lebih cepat, tenggorokannyapun langsung terasa kering dan bibirnya juga merasa pucat. Bagaimana tidak, nampak di sudut sana, matanya melihat sebentuk makhluk yang menurutnya persis menyerupai kucing yang sedang dalam posisi semua badan bawahya menyentuh lantai, dua kaki depannya terjulur selonjor ke depan dan kepala serta kedua matanya menatap ke arah luar. Badannya sebesar kuda dan diam tak bergerak sedikitpun. Hanya bagian ekornya yang panjang, sesekali mengibas seolah menunjukkan bahwa dia bukanlah patung. Seluruh badannya diselimuti bulu tebal berwarna putih seperti salju. Sungguh baru pertama kali inilah Waseso bertemu langsung dengan seekor kucing yang begitu besar sekali, maklumlah telinganya belum pernah mendengar nama harimau sedikitpun. Saat kepala si kucing besar menoleh ke arahnya, sontak membuat badan si bocah gemetar dan tanpa bangun sedikitpun, dimana pantatnya masih tetap menempel di tanah dia bergerak mundur hingga punggungnya membentur dinding di belakangnya. Ketika si kucing kembali menatap keluar, Waseso menjadi sedikit tenang. Bila si kucing menengok dirinya kembali, si bocah menjadi tegang tak bergerak. Begitu terus menerus terjadi berulang sangat lama, hingga bias matahari sekarang giliran masuk ke dalam gua melalui celah dinding sebelah atas si kucing besar, menandakan waktu sudah beranjak ke sore hari. Diam-diam Waseso menatap dinding yang tegak namun rata di samping depan si kucing besar, ada seperti coretan-coretan warna putih serta gambar-gambar juga warna putih yang dari tempatnya sekarang tidak begitu jelas tulisan dan gambar apa. Tiba-tiba si kucing besar bangkit berdiri, sontak membuat Waseso semakin mepet ke dinding di belakangnya, seolah si bocah hendak menenggelamkan badannya kesitu. Dengan pelan si kucing besar melangkah ke arah luar, namun belum sampai sepuluh langkah, dia diam berdiri sambil menatap si bocah agak lama. Karena Waseso masih tetap diam, si kucing mengeluarkan suara seperti mendesis lirih namun matanya masih tetap menatap Waseso dan desisan yang tadi keluar kini berubah menjadi suara seperti dengkuran panjang namun tetap lirih;
"hhrrrrrrr....."
Kontan saja membuat si bocah bangun dari duduknya. Dan anehnya dengkuran tadi berhenti dan si kucing pun melangkah, tapi berhenti lagi sambil menatap si bocah dan kembali mengeluarkan dengkuran, tapi kali ini ujung kaki kirinya bergerak seperti menggaruk dan kepalanya menoleh ke pintu lalu balik lagi menatap si bocah dan menoleh lagi ke pintu. Suara dengkurannya sekarang sedikit lebih keras;
__ADS_1
"hhrrrrrrrr,....."
Saat itu juga Waseso mempunyai firasat bahwa si kucing besar tersebut sedang mengajaknya berkomunikasi, apalagi kedua mata si kucing besar tersebut menyorot lembut tidak mencorong marah. Akhirnya Waseso mencoba melangkahkan satu kakinya, lalu kaki berikutnya dan,.......si kucing kembali berjalan pelan keluar tanpa melanjutkan suara dengkurannya, sementara si bocah juga berjalan di belakangnya agak jauh menjaga jarak. Sambil tetap berjalan, si kucing besar kembali menengok ke belakang dan dengkuran lirih kembali dikeluarkannya. Kini Waseso mulai memberanikan diri melangkah agak cepat dan benar saja yang di depan menghentikan suara dengkurannya. Saat tiba di luar, kucing besar belok ke kanan dan terus melangkah lurus, sementara Waseso segera menatap pemandangan di luar gua. Dihadapannya kini terhampar begitu indah dari kiri ke kanan lautan pasir putih. Dari tempat dia berdiri yang letaknya lebih tinggi tampak selanjutnya disisi depan menurun dan terus melandai ke arah nun jauh disana berbatasan dengan garis air kebiruan yang terlihat seperti kolam alam yang begitu tenang dan sangat luas membentang. Adapun dari jauh di seberang kolam biru itu dia masih bisa melihat banyak sekali bentuk seperti batu karang yang berserakan menyembul keluar dari dalam tanah dan tegak berdiri dengan ujungnya runcing, persis seperti kulit buah durian. Tiba-tiba di dengarnya lagi suara dengkuran yang menyadarkan si bocah untuk kembali mengikuti langkah si kucing besar. Demi melihat cakrawala di sisi sebelah barat daya dari tempatnya kini berjalan dan nampak seolah-olah mengambang di permukaan kolam biru nan luas serta memberikan pantulan lembut sinar matahari yang akan tenggelam, Waseso demikian merasa takjub dan menyadari, kiranya sekarang dia berada di sebuah pantai yang begitu indah, yang dia sendiripun tidak pernah berani bermimpi bakal melihatnya secara langsung seperti saat ini. Sepasang air mata haru yang keluar dan mengalir di pipinya dia biarkan begitu saja dan tetap melangkah mengikuti si kucing besar. Kini pandangannya melihat sisi kanan yang menampakkan dinding rendah seperti batu karang, tetapi terus ke arah barat laut, jauh sana semakin terlihat tinggi menjulang laksana pagar benteng raksasa. Sejauh lima langkah di depannya kini terlihat si kucing besar sedang mendudukkan pantatnya dengan kedua kaki depan tegak lurus menopang tubuh atas dan kepalanya. Si Waseso dengan berani menghampirinya dan kini berhenti serta berdiri disebelah kiri si kucing besar. Dengan posisi demikian pun, ternyata Waseso masih tetap harus mendongakkan kepalanya jika ingin menatap hidung si kucing yang memang bertubuh begitu besar tersebut. Dihadapannya kini mengalir sangat tenang dari sisi kanannya yang lebih tinggi sedikit, kearah kirinya dan bermuara ke kolam air nan luas tadi. Sungai ini lebarnya hanya sekitar lima langkah kakinya dan dasarnya yang berbatu kerikil hitam nampak jelas kelihatan. Di dalam air terlihat segerombolan ikan yang rata-rata besarnya nyaris sama yaitu seukuran lengan, berenang sangat tenang dan seperti tidak takut dengan kehadiran mereka berdua di dekatnya. Nampak kaki kanan si kucing besar membuat gerakan seperti menggaruk-garuk pasir dan dilanjutkan dengan gerakan mulutnya seperti mengunyah sambil wajahnya menatap sang bocah. Segera Waseso tanggap, bahwa dia meminta dirinya untuk menangkap ikan untuk makan mereka berdua, karena Waseso mengira bahwa tentulah sewajarnya si kucing takut air. Tanpa ragu dia segera melangkah ke sungai dan dengan tangkas menangkap satu ikan yang melintas di dekat kakinya. Setelah di genggamnya kuat, barulah diangkat dan dia sodorkan kepada si kucing besar. Namun dilihatnya dia hanya membuat gerakan mulut seperti mengunyah. Meski agak ragu, apalagi dia tidak pernah memakan ikan mentah-mentah, namun akhirnya Waseso memegang erat bagian bawah tubuh ikan di dekat pangkal ekornya lalu membenturkan kepala ikan ke sebuah batu kali yang menyembul dari air di dekatnya hingga dirasakannya si ikan tidak lagi meronta. Kemudian dengan pelan mulai digigitnya bagian tubuh ikan. Demi merasakan hidung dan mulutnya sama sekali tidak merasakan bau amis atau bahkan anyir dari si ikan, juga entah kenapa daging tersebut dirasakan asin gurih dan sedikt ada rasa manis pada lidahnya, maka selanjutnya dia membuat gigitan yang lebih lebar. Kini si kucing dilihatnya sedang bergeser turun ke kiri dan melangkah tiga tapak lalu masuk ke tengah sungai dan begitu saja langsung bergulung- gulung di dalam air. Waseso pun tertawa lepas melihatnya. Setelah akhirnya selesai menghabiskan satu ikan yang sudah membuat perutnya terasa kenyang serta kemudian melempar durinya jauh ke seberang pinggir sana, Waseso juga segera ikut berendam dan mandi di tengah sungai.
Merasa mukanya menjadi hangat Waseso membuka matanya dan segera bangkit duduk. Alam disekitarnya sudah mulai terlihat terang, dia mendongakkan kepalanya dan memandang langit biru begitu indah. Taburan jutaan bintang yang semalam begitu membuai mata dan membiusnya hingga tertidur pulas, juga sudah menghilang tak berbekas, hanya samar-samar masih dilihatnya bentuk bulan yang membulat utuh menandakan perputaran waktu dunia. Suara burung-burung laut yang beterbangan di atas kejauhan hamparan kolam biru disana begitu riuh dan sayup-sayup bercampur dengan aroma udara pagi membuat semangat hidup dalam diri Waseso terasa membara. Disebelah kirinya sekitar tiga langkah, sahabat baruya nampak hanya duduk diam menatap hamparan kolam juga. Waseso pun bangkit dan berniat untuk mandi. Uniknya baru berjalan dua tapakan sahabatnya juga bangkit dan membuntuti si bocah. Sesampainya di sungai jernih Waseso segera jongkok dan menciduk air kemudian membasuh mukanya. Setelah selesai, masih dengan posisi berjongkok dia menoleh ke kanan sungai sambil bergumam;
"sungai ini airnya sangat jernih dan segar, darimana asalnya ya,..."
"membuat bubuk busa perlu waktu, jadi langsung pakai yang segar saja"
__ADS_1
Selesai bergumam, dia segera memetik beberapa lembar daun dan langsung berlari ke tengah kolam jernih yang ternyata ketinggian airnya sepundak bocah tersebut.
Suara desisan sahabat barunya, segera menyadarkan si bocah dari kekaguman berekelanjutan yang menghinggapinya ketika sesaat tadi begitu puas memandang kesekeliling alam sekitar tempat tersebut dimana dia berdiri saat ini adalah merupakan dataran tertinggi dari surga alami. Dia juga bisa menyimpulkan bahwa satu-satunya pintu masuk atau keluar dari tempat indah ini adalah dari sisi utara. Karena sebelah selatan membujur dari ujung tenggara hingga barat daya adalah hamparan biru samudera. Sementara sebelah barat, meski tidak begitu jelas apakah itu hamparan air kehijauan mendekati warna hitam ataukah hamparan rumput namun juga berwarna gelap pekat dan diatasnya seperti keluar kabut gelap menggantung. Sebelah timur juga sama kondisinya seperti sebelah barat. Hanya sisi utaralah pada sebagian kecil ada satu tempat yang kabutnya tidak begitu tebal dan warna dasar dibawah kabut tersebut tidak terlalu gelap. Waseso berpikir bahwa tempat seluas ini seperti layaknya berada di dalam benteng alam. Disamping tanahnya subur, air melimpah serta banyak terdapat pohon-pohon buah yang beberapa petik telah mengisi perutnya barusan.
"ghrrrrrrrr,....."
Suara sahabatnya dari desisan kini menjadi menggeram dan berjalan pelan menuruni bukit tersebut. Sebenarnya Waseso merasa berat untuk meninggalkan puncak bukit tersebut, namun demi dilihatnya sorotan kedua mata sahabatnya seolah menunjukkan keseriusan, barulah dia mengikuti berjalan turun sambil bergumam;
"sang pemandu wisata mengajak pulang"
__ADS_1
Dan benar dugaan Waseso, karena jalan yang ditempuh oleh si kucing besar adalah mengarah kembali ke gua.
BERSAMBUNG.